Sabtu, 29 Juni 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 6"



The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 6
Nona Keranjang Bunga

“Oh.. Iya. Apa yang kau bilang barusan?” kini Iqbal memperhatikan lagi orang yang berada di belakang Winda.
“Kau ini sedang memperhatikan siapa sih?” lalu Winda menengok ke belakannya, dia hanya lihat murid-murid sebayanya yang duduk di kursi mereka.
“Kau sekelas dengannya?”
“Dengan siapa?”
“Kau tahu toko bunga yang ada di sebrang jalan itu?”
“Iya aku tahu, memangnya kakak mau membeli bunga?”
“Bukan… kau tahu gadis seusiamu yang suka ada di sana?”
“Gadis seusia ku? Em, sebentar…..Oh, Widi…..” kata-katanya terpotong karena mulutnya ditutup oleh tangan Iqbal dan Iqbal pun menarik tangannya menjauh dari pintu kelas.
“Ssssst..!! jangan keras-keras!” Lalu Iqbal menengok gadis itu dari jendela di dekatnya. Ternyata benar saja, gadis berambut ikal itu sedang menengok ke sana kemari seperti orang yang kebingungan.
“Memangnya kenapa, apa akalian sudah saling kenal?”
“Belum, jangan beri tahu dulu dia kelasku ada di sana ya!”
“Kenapa?” nampaknya sekarang Winda tampak sangat kebingungan.
“Karena…….” Kini Iqbal mulai menjelaskannya dengan panjang lebar tentang alasannya.
Dipihak lain, tepatnya di kelas X-1. Terlihat tiga gadis yang sedang duduk di bangku mereka, nampaknya mereka sedanga asik mengobrol. Maklum anak perempuan, pagi-pagi sudah asik mengobrol.
“Hey Rin, kenapa Winda jam segini belum datang ya? Apa dia akan terlambat?” Tanya Widiya.
“Entahlah, aku tidak tahu.” Jawab Rina.
“Aku rasa dia sedang dapat masalah di gerbang belakang.” Kata Tias.
“Ah yang benar?” Tanya Widiya lagi.
“Mungkin, karena tadi aku lihat dia masuk lewat gerbang belakang. Lalu katanya, disana ada kakak-kakak yang berwajah seram yang suka memalak siswa-siwa yang lewat sana.”
“Apa benar? Jika dia lewat sana, harusnya dia sudah sampai dari tadi. Gerbang itu kan tidak jauh dari sini.” Jelas Rina
“Benar juga, kalau begitu sekarang di mana dia?” Tanya Tias.
“Mungkin dia sedang menunggu bell masuk di luar.”
Oh….. Widi…” kata seseorang di luar sana. Tenyata benar saja apa yang dikatakan oleh Rina.
“Seperti suara Winda.” Kata Widiya yang sambil menengok kesana kemari. “Aku rasa dia ada di luar, aku akan memeriksanya dulu.” Lalu Widiya beranjak dari bangkunya dan menuju ke luar kelas.
Semmentara itu, di luar kelas Iqbal masih menjelaskan alasannya pada Winda. Dia berusaha agar Winda mendengarkan apa yang dikatakannya.
“Jadi kau mau kan?”
“Iya-iya.”
“Tapi jangan secara langsung kau bilang padanya.”
“Hi, selamat pagi.” Kata seseorang dari arah pintu kelas X-1.
“Widiya? Selamat pagi.” Jawab Winda, tapi nampaknya Iqbal yang kaget hanya bisa diam saat ini.
“Ternyata ada kakak ya, bagaimana bunganya? Apa sudah mekar?” Tanya Widiya.
“Su-sudah.” Nampaknya Iqbal kini mulai gugup.
“Benarkah? Pasti bunganya cantik.”
“Kalian sudah saling kenal?” Tanya Winda.
“Ya, begitulah. Seminggu yang lalu dia datang ke toko ku.”
“Oh, begitu. Katanya……” kata-kata winda kini terpotong oleh Iqbal.
“Kau satu kelas dengan Winda?” Tanya Iqbal mengalikan perhatian
“Tentu saja. Waktu MOPD pun kamu satu team.” Jawab Widiya.
“Em maaf, aku rasa sebentar lagi akan ada bell masuk. Sebaiknya aku masuk dulu ya, kak.” Lalu Winda segera beranjak dari sana, sebenarnya Winda mengerti kenapa Iqbal memotong  perkataanya tadi. Dia berusaha mengalihkan obrolan agar tidak menjadi berkepanjangan dan berharap Widiya tidak mendengarkan obrolan mereka berdua tadi.
“Aku juga akan masuk ke kelas dulu ya kak.”
“Iya.” Kata Iqbal. Lalu mereka berdua beranjak dari sana, tapi….
“Em, maaf.” Kata Iqbal sambil memagang tangan Widiya dan langkah Widiya pun berhenti.
“Iya?”
“Terimakasih ya, Nona Keranjang Bunga.”
“Iya, sama-sama.” Jawab Widiya sambil tersenyum dan sukses membuat wajah Iqbal menjadi merah. Lalu Iqbal pun beranjak ke kelasnya.
‘Nona Keranjang Bunga, apa maksudnya? Terimakasih untuk apa? Ah sudah lah, jangan terlalu dipikirkan.’ Gumam  Widiya, lalu Widiya pun segera berjalan ke bangkunya.
“Hey, kenapa jam segini kau baru datang?” taya Rina.
“Tadi aku dikejar preman sekolah.” Jawab Winda.
“Tuh kan, benar apa yang aku bilang.” Kata Tias .
“Tapi bagaimana kau bisa lolos?” Tanya Widiya.
“Tadi kakak-kakak ku datang menolong.”
“Kakak? Kau punya kakak di sini?”
“Tentu.”
“Aku kira hanya Kak Yogi kakak mu itu.” Kata Rina.
Winda pun tersenyum. “Jadi begini, dulu aku tinggal di panti asuhan, kak Yogi juga dan sisanya Kak Yuda, Kak Demil, Kak Dika, Kak Rona, Kak Mahmud, Kak Dipa dan juga Kak Iqbal. Dari awal kami berpisah kami sudah berjanji tidak akan saling melupakan dan memisahkan, karena kami semua adalah saudara.”
“Kak Iqbal?” kata Widiya seolah tak percaya.
“Ya, benar. Tapi tolong jangan dulu ceritakan ini pada siapa-siapa ya!”
“Tentu, kami tidak akan menceritakannya pada siapa-siapa.” Kata Rina
“Ya, aku juga.” Kata Tias.
“Jadi, kau ini adalah yang paling muda? Tapi aku ingin bertanya satu hal padamu.” Kata Widiya.
“Apa?” Tanya Winda yang menanggapi pertanyaan Widiya.
“Jika kau benar-benar bersaudara dengan Iqbal, pasti kau tahu. Tadi dia menyebut Nona Keranjang Bunga. Kenapa dia bilang begitu, apa wajahku ini terlihat seperti keranjang bunga?”
“Hahaha, benarkah? Hahhaa, panggilan yang lucu.”
“Aduh kau ini, jangan tertawa dulu.”
“Iya, maaf-maaf. Aku rasa dia menemukan sesuatu yang mudah diingat dari mu.”
“Mudah diingat?”
“Ya, bahkan dia telah menemukah hal yang istimewa dan tak mau melewatkannya.”
“A-apa maksudmu tak mau melewatkannya?”
“Seperti itu.?” Winda pun menunjuk seseorang di luar kelas, serentak mereka bertigapun menoleh kearah itu. Ternyata benar saja, disana terlihat Iqbal sedang memperhatikan mereka berempat dari jendela kelasnya sambil menahan dagunya. “Ayo lambaikan tanganmu!”
“A-apa? Untuk apa aku melakukannya?”
“Sudah lakukan saja!” lalu Widiya pun melambaikan tangannya dan apa yang terjadi? Iqbal pun tersipu malu dibuatnya, dia trsenyum dan mengangkat salah satu tangannya, menandakan dia menanggapi apa yang Widiya lakukan. Tapi tak lama, dia langsung duduk di bangkunya karena malu.
“Hahahahahhahahah…..” Mereka bertiga tertawa melihat tingkah mereka berdua.
“Benar-bernar tidak mau melewatkan. Hahaha…” Kata Rina sambil tertawa.
“Iya-iya,, aku bisa merasakan sesuatu yang istimewa itu. Hahaha.” Tias pun menabakan.
“Em, kalian semua…. Aku mohon hentikan!!” kata Widiya yang wajahnya kini meulai memerah.
TEEEEEEEEEET…..
Nampaknya bell masuk telah berbunyi, tak lama kemudian ada seorang guru masuk ke sana. Dia membawa beberapa buku di tangannya dan menyapa mereka semua.
“Selamat pagi anak-anak.” Kata guru itu.
“Selamat pagi pak.” Anak-anak pun menjwabnya dengan serempak.
“Bagaimana kabar kalian pagi ini?”
“Baik pak…”
“Baik langsung saja saya akan memperkenalkan diri. Nama saya adalah Fadhila Fitriadi, kalian bisa memanggil saya Pak Fadhila atau Pak Fadhil…..” dan bla..bla…bla….. ya begitulah, di hari pertama ini seperti biasa semua guru yang masuk memperkenalkan diri mereka. Pak Fadhila ini adalah guru matematika, pelajaran yang benar-benar membuat jengkel sebagian murid. Tapi untung saja Pak Fadhila ini merupakan salah satu guru terbaik di sini, jadi anak-anak tidak terlalu kebingungan dengan pelajaran ini. [AMIN deh ya] oh iya, satu lagi. Pak Fadhil ini adalah guru kesiswaan juga. Jadi, untuk beberapa murud yang nakal akan tidak menyukainya.
TEEEEEET,,,,,
Bell pun kembali berbunyi, saatnya istirahat. Semua murid pun berhamburan keluar, tak terkecuali dengan mereka berempat yang langsung saja menuju kantin. Sementara Iqbal dan teman-temannya pergi ke lapangan sekolah untuk bermain bola, maklum saja anak laki-laki.
Mereka berempat pun tiba di kantin, nampaknya sekarang kantin sekolah sedang menuh, hampir tidak ada tempat duduk untuk mereka.
“Ya ampun, penuh sekali. Kita duduk di mana?” Tanya Tias.
“Em, sepertinya disana ada yang kosong.” Kata Rina sambil menunjuk satu bangku kosong yang berada paling ujung dekat dengan lapangan sekolah itu.
“Ya sudah kita duduk di sana saja.” Kata Widiya. Lalu mereka pun merjalan menuju bangku yang kosong itu dan duduk di sana.
“Aku dan Rina akan memesan makanan, kalian berdua duduk saja di sini! Agar tidak ada yang menempatinya. Kalian mau pesan apa?” Tanya Winda
“Mie instan saja.” Kata Widiya.
“Ya, aku juga.” Kata Tias.
“Kuah atau goreng?” Tanya Rina
“Goreng saja lah.” Kata Widiya
“Minumnya?”
“Kalau soal minum yang seperti biasa saja, tapi biar aku yang mengambilnya.” Kata Tias. Lalu mereka bertiga pun langsung mengerjakan tugas masing-masing dan tinggal Widiya saja yang ada di sana.
Sementara itu di lapangan sekolah iqbal sedang asik bermain bola dengan teman-temannya. Dia berlari dengan kencang dan berusaha memasukan bola pada gawang, tapi nampaknya bola itu keluar dari lapangan.
“Bolanya keluar, Iqbal ayo ambil! Tadi kau kan yang menedannya.” Kata Dipa.
“Iya, sebentar.” Iqbal pun mengejar bola itu, tapi bola itu terus menggelinding dan berhenti di dekat bangku kantin yang Widiya tempati.
‘Bola siapa itu?’ gumam Widiya. Iqbal yang melihat bolanya berhenti di sana, segera menghentikan langkahnya.
“Hey Nona Keranjang Bunga, tolong lemparkan bolanya kemari!” kata Iqbal yang sedikit berteriak. Widiya yang mendengarnya pun segera beranjak dari tempatnya dan melemparkan bola itu pada Iqbal. “Terimakasih ya.” Kata Iqbal.
“Iya” jawab Widiya. Iqbal pun langsung berlari ke lapangan lagi.
“Cie….. cie……” kata Rina yang datang sambil membawa makanan dengan Winda.
“Nampanya Nona Keranjang Bunga ini sangat baik hati telah mengambilkan bolanya.” Kata Tias yang membawa minuman lalu mereka duduk di tempat masing.
“Kalian ini kenapa sih?” kata Widiya yang berusaha membela dirinya.
“Sudah-sudah, lebih baik kita makan saja. Kelihatannya Nona Keranjang Bunga ini sudah kelihatan lapar sekali.” Kata Winda.
“Awas ya, kau.”
“Iya-iya maaf.” Lalu merekapun menyantap makanan itu, tak lama merekapun telah selesai dan memutuskan untuk kembali ke kelas. Mereka pun segera beranjak dari sana, tapi Widiya memisahkan diri, katanya dia ingin ke perpustakaan. Dia ingin meminjam beberapa buku pelajaran.
“Ya sudah, kalau begitu kami ke kelas duluan ya.” Kata Tias.
“Iya.” Widiya pun berjalan ke perpustakaan. Beberapa menit kemudian dia keluar dari sana sambil membawa beberapa buku. Tanpa pikir panjang lagi dia pun langsung pergi ke kelasnya. Tapi pada saat di tengah jalan……
Duk, BRUK….
Nampaknya ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Buku Widiya pun jatuh berantakan.
“Aduh.” Kata Widiya yang kesakitan.
“Ya ampun, aku bantu bereskan ya.” Kata orang itu dan mereka berdua pun langsung berjongkok.
“Ya ampun, Iqbal apa yang kau lakukan? Aku duluan ya, kau bereskan saja sendiri. Hahaha.” Kata Dipa sambil melangkah meninggalkan mereka berdua. Sebenarnya tadi Iqbal menabrak Widiya karena dikejar Dipa.
“Awas kau.” Ancam Iqbal. Lalu mereka berdua pun mengambil buku-buku itu, dan entah apa yang mereka pikirkan, tiba-tiba saja mereka mengambil buku yang sama sampai-sampai tangan mereka bersentuhan. Sebenarnya masih banyak buku-buku yang berantakan di sana. [sekenario yang sudah tidak asing lagi, tapi romantis, kan?]
“Maaf.” Kata Iqbal dengan singkat Dia pun segera melepaskan tangannya dan membiarkan Widiya yang mengambilnya.
“Tidak apa-apa.” Jawab Widiya.
“Ini buku mu, aku benar-benar minta maaf ya. Bukumu jadi berantakan.” Kata Iqbal sambil menyerahkan buku ditangannya.
“Iya, lagi pula aku tidak apa-apa.”
“Kau mau kembali ke kelas kan?”
“Iya.”
“Ayo, aku antar sampai pintu kelas.” Ajak Iqbal, lalu mereka berdua pun berjalan menuju jelas X-1 bersama.
Dipihak lain, tak disangka ternyata ada yang memperhatikan mereka berdua sedari tadi. Nampaknya gadis itu merasa kesal dengan apa yang dilihatnya, karena secara kebetulan kejadian itu terjadi di depan kelas XII-2.
“Kurang ajar, ternyata ada yang ingin merebut Iqbal dari ku.” Kata gadis itu dengan kesal. Dia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke luar.
“Hey, kau mau ke mana?” Tanya teman sebangkunya itu, tapi sepertinya tidak digubris sama sekali. “Hey kau, hey!!”

---To Be Continued---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar