The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 6
Nona Keranjang Bunga
“Oh.. Iya. Apa
yang kau bilang barusan?” kini Iqbal memperhatikan lagi orang yang berada di
belakang Winda.
“Kau ini sedang
memperhatikan siapa sih?” lalu Winda menengok ke belakannya, dia hanya lihat
murid-murid sebayanya yang duduk di kursi mereka.
“Kau sekelas
dengannya?”
“Dengan siapa?”
“Kau tahu toko
bunga yang ada di sebrang jalan itu?”
“Iya aku tahu,
memangnya kakak mau membeli bunga?”
“Bukan… kau
tahu gadis seusiamu yang suka ada di sana?”
“Gadis seusia
ku? Em, sebentar…..Oh, Widi…..” kata-katanya terpotong karena mulutnya ditutup
oleh tangan Iqbal dan Iqbal pun menarik tangannya menjauh dari pintu kelas.
“Ssssst..!!
jangan keras-keras!” Lalu Iqbal menengok gadis itu dari jendela di dekatnya.
Ternyata benar saja, gadis berambut ikal itu sedang menengok ke sana kemari
seperti orang yang kebingungan.
“Memangnya
kenapa, apa akalian sudah saling kenal?”
“Belum, jangan
beri tahu dulu dia kelasku ada di sana ya!”
“Kenapa?”
nampaknya sekarang Winda tampak sangat kebingungan.
“Karena…….”
Kini Iqbal mulai menjelaskannya dengan panjang lebar tentang alasannya.
Dipihak lain,
tepatnya di kelas X-1. Terlihat tiga gadis yang sedang duduk di bangku mereka,
nampaknya mereka sedanga asik mengobrol. Maklum anak perempuan, pagi-pagi sudah
asik mengobrol.
“Hey Rin,
kenapa Winda jam segini belum datang ya? Apa dia akan terlambat?” Tanya Widiya.
“Entahlah, aku
tidak tahu.” Jawab Rina.
“Aku rasa dia
sedang dapat masalah di gerbang belakang.” Kata Tias.
“Ah yang
benar?” Tanya Widiya lagi.
“Mungkin,
karena tadi aku lihat dia masuk lewat gerbang belakang. Lalu katanya, disana
ada kakak-kakak yang berwajah seram yang suka memalak siswa-siwa yang lewat
sana.”
“Apa benar?
Jika dia lewat sana, harusnya dia sudah sampai dari tadi. Gerbang itu kan tidak
jauh dari sini.” Jelas Rina
“Benar juga,
kalau begitu sekarang di mana dia?” Tanya Tias.
“Mungkin dia
sedang menunggu bell masuk di luar.”
“Oh….. Widi…” kata seseorang di luar
sana. Tenyata benar saja apa yang dikatakan oleh Rina.
“Seperti suara
Winda.” Kata Widiya yang sambil menengok kesana kemari. “Aku rasa dia ada di
luar, aku akan memeriksanya dulu.” Lalu Widiya beranjak dari bangkunya dan
menuju ke luar kelas.
Semmentara itu,
di luar kelas Iqbal masih menjelaskan alasannya pada Winda. Dia berusaha agar
Winda mendengarkan apa yang dikatakannya.
“Jadi kau mau
kan?”
“Iya-iya.”
“Tapi jangan
secara langsung kau bilang padanya.”
“Hi, selamat
pagi.” Kata seseorang dari arah pintu kelas X-1.
“Widiya?
Selamat pagi.” Jawab Winda, tapi nampaknya Iqbal yang kaget hanya bisa diam
saat ini.
“Ternyata ada
kakak ya, bagaimana bunganya? Apa sudah mekar?” Tanya Widiya.
“Su-sudah.”
Nampaknya Iqbal kini mulai gugup.
“Benarkah?
Pasti bunganya cantik.”
“Kalian sudah
saling kenal?” Tanya Winda.
“Ya, begitulah.
Seminggu yang lalu dia datang ke toko ku.”
“Oh, begitu.
Katanya……” kata-kata winda kini terpotong oleh Iqbal.
“Kau satu kelas
dengan Winda?” Tanya Iqbal mengalikan perhatian
“Tentu saja.
Waktu MOPD pun kamu satu team.” Jawab Widiya.
“Em maaf, aku
rasa sebentar lagi akan ada bell masuk. Sebaiknya aku masuk dulu ya, kak.” Lalu
Winda segera beranjak dari sana, sebenarnya Winda mengerti kenapa Iqbal
memotong perkataanya tadi. Dia berusaha
mengalihkan obrolan agar tidak menjadi berkepanjangan dan berharap Widiya tidak
mendengarkan obrolan mereka berdua tadi.
“Aku juga akan
masuk ke kelas dulu ya kak.”
“Iya.” Kata
Iqbal. Lalu mereka berdua beranjak dari sana, tapi….
“Em, maaf.”
Kata Iqbal sambil memagang tangan Widiya dan langkah Widiya pun berhenti.
“Iya?”
“Terimakasih
ya, Nona Keranjang Bunga.”
“Iya,
sama-sama.” Jawab Widiya sambil tersenyum dan sukses membuat wajah Iqbal
menjadi merah. Lalu Iqbal pun beranjak ke kelasnya.
‘Nona Keranjang
Bunga, apa maksudnya? Terimakasih untuk apa? Ah sudah lah, jangan terlalu
dipikirkan.’ Gumam Widiya, lalu Widiya
pun segera berjalan ke bangkunya.
“Hey, kenapa
jam segini kau baru datang?” taya Rina.
“Tadi aku
dikejar preman sekolah.” Jawab Winda.
“Tuh kan, benar
apa yang aku bilang.” Kata Tias .
“Tapi bagaimana
kau bisa lolos?” Tanya Widiya.
“Tadi
kakak-kakak ku datang menolong.”
“Kakak? Kau
punya kakak di sini?”
“Tentu.”
“Aku kira hanya
Kak Yogi kakak mu itu.” Kata Rina.
Winda pun
tersenyum. “Jadi begini, dulu aku tinggal di panti asuhan, kak Yogi juga dan
sisanya Kak Yuda, Kak Demil, Kak Dika, Kak Rona, Kak Mahmud, Kak Dipa dan juga
Kak Iqbal. Dari awal kami berpisah kami sudah berjanji tidak akan saling
melupakan dan memisahkan, karena kami semua adalah saudara.”
“Kak Iqbal?”
kata Widiya seolah tak percaya.
“Ya, benar. Tapi
tolong jangan dulu ceritakan ini pada siapa-siapa ya!”
“Tentu, kami
tidak akan menceritakannya pada siapa-siapa.” Kata Rina
“Ya, aku juga.”
Kata Tias.
“Jadi, kau ini
adalah yang paling muda? Tapi aku ingin bertanya satu hal padamu.” Kata Widiya.
“Apa?” Tanya Winda
yang menanggapi pertanyaan Widiya.
“Jika kau
benar-benar bersaudara dengan Iqbal, pasti kau tahu. Tadi dia menyebut Nona
Keranjang Bunga. Kenapa dia bilang begitu, apa wajahku ini terlihat seperti
keranjang bunga?”
“Hahaha,
benarkah? Hahhaa, panggilan yang lucu.”
“Aduh kau ini,
jangan tertawa dulu.”
“Iya,
maaf-maaf. Aku rasa dia menemukan sesuatu yang mudah diingat dari mu.”
“Mudah diingat?”
“Ya, bahkan dia
telah menemukah hal yang istimewa dan tak mau melewatkannya.”
“A-apa maksudmu
tak mau melewatkannya?”
“Seperti itu.?”
Winda pun menunjuk seseorang di luar kelas, serentak mereka bertigapun menoleh kearah
itu. Ternyata benar saja, disana terlihat Iqbal sedang memperhatikan mereka
berempat dari jendela kelasnya sambil menahan dagunya. “Ayo lambaikan tanganmu!”
“A-apa? Untuk apa
aku melakukannya?”
“Sudah lakukan
saja!” lalu Widiya pun melambaikan tangannya dan apa yang terjadi? Iqbal pun
tersipu malu dibuatnya, dia trsenyum dan mengangkat salah satu tangannya,
menandakan dia menanggapi apa yang Widiya lakukan. Tapi tak lama, dia langsung
duduk di bangkunya karena malu.
“Hahahahahhahahah…..”
Mereka bertiga tertawa melihat tingkah mereka berdua.
“Benar-bernar
tidak mau melewatkan. Hahaha…” Kata Rina sambil tertawa.
“Iya-iya,, aku
bisa merasakan sesuatu yang istimewa itu. Hahaha.” Tias pun menabakan.
“Em, kalian
semua…. Aku mohon hentikan!!” kata Widiya yang wajahnya kini meulai memerah.
TEEEEEEEEEET…..
Nampaknya bell
masuk telah berbunyi, tak lama kemudian ada seorang guru masuk ke sana. Dia membawa
beberapa buku di tangannya dan menyapa mereka semua.
“Selamat pagi
anak-anak.” Kata guru itu.
“Selamat pagi
pak.” Anak-anak pun menjwabnya dengan serempak.
“Bagaimana
kabar kalian pagi ini?”
“Baik pak…”
“Baik langsung
saja saya akan memperkenalkan diri. Nama saya adalah Fadhila Fitriadi, kalian
bisa memanggil saya Pak Fadhila atau Pak Fadhil…..” dan bla..bla…bla….. ya
begitulah, di hari pertama ini seperti biasa semua guru yang masuk
memperkenalkan diri mereka. Pak Fadhila ini adalah guru matematika, pelajaran
yang benar-benar membuat jengkel sebagian murid. Tapi untung saja Pak Fadhila
ini merupakan salah satu guru terbaik di sini, jadi anak-anak tidak terlalu
kebingungan dengan pelajaran ini. [AMIN
deh ya] oh iya, satu lagi. Pak Fadhil ini adalah guru kesiswaan juga. Jadi,
untuk beberapa murud yang nakal akan tidak menyukainya.
TEEEEEET,,,,,
Bell pun
kembali berbunyi, saatnya istirahat. Semua murid pun berhamburan keluar, tak
terkecuali dengan mereka berempat yang langsung saja menuju kantin. Sementara Iqbal
dan teman-temannya pergi ke lapangan sekolah untuk bermain bola, maklum saja
anak laki-laki.
Mereka berempat
pun tiba di kantin, nampaknya sekarang kantin sekolah sedang menuh, hampir
tidak ada tempat duduk untuk mereka.
“Ya ampun,
penuh sekali. Kita duduk di mana?” Tanya Tias.
“Em, sepertinya
disana ada yang kosong.” Kata Rina sambil menunjuk satu bangku kosong yang berada
paling ujung dekat dengan lapangan sekolah itu.
“Ya sudah kita
duduk di sana saja.” Kata Widiya. Lalu mereka pun merjalan menuju bangku yang
kosong itu dan duduk di sana.
“Aku dan Rina
akan memesan makanan, kalian berdua duduk saja di sini! Agar tidak ada yang
menempatinya. Kalian mau pesan apa?” Tanya Winda
“Mie instan
saja.” Kata Widiya.
“Ya, aku juga.”
Kata Tias.
“Kuah atau
goreng?” Tanya Rina
“Goreng saja
lah.” Kata Widiya
“Minumnya?”
“Kalau soal
minum yang seperti biasa saja, tapi biar aku yang mengambilnya.” Kata Tias. Lalu
mereka bertiga pun langsung mengerjakan tugas masing-masing dan tinggal Widiya
saja yang ada di sana.
Sementara itu
di lapangan sekolah iqbal sedang asik bermain bola dengan teman-temannya. Dia
berlari dengan kencang dan berusaha memasukan bola pada gawang, tapi nampaknya
bola itu keluar dari lapangan.
“Bolanya
keluar, Iqbal ayo ambil! Tadi kau kan yang menedannya.” Kata Dipa.
“Iya, sebentar.”
Iqbal pun mengejar bola itu, tapi bola itu terus menggelinding dan berhenti di
dekat bangku kantin yang Widiya tempati.
‘Bola siapa
itu?’ gumam Widiya. Iqbal yang melihat bolanya berhenti di sana, segera
menghentikan langkahnya.
“Hey Nona
Keranjang Bunga, tolong lemparkan bolanya kemari!” kata Iqbal yang sedikit
berteriak. Widiya yang mendengarnya pun segera beranjak dari tempatnya dan
melemparkan bola itu pada Iqbal. “Terimakasih ya.” Kata Iqbal.
“Iya” jawab
Widiya. Iqbal pun langsung berlari ke lapangan lagi.
“Cie….. cie……”
kata Rina yang datang sambil membawa makanan dengan Winda.
“Nampanya Nona
Keranjang Bunga ini sangat baik hati telah mengambilkan bolanya.” Kata Tias
yang membawa minuman lalu mereka duduk di tempat masing.
“Kalian ini
kenapa sih?” kata Widiya yang berusaha membela dirinya.
“Sudah-sudah,
lebih baik kita makan saja. Kelihatannya Nona Keranjang Bunga ini sudah
kelihatan lapar sekali.” Kata Winda.
“Awas ya, kau.”
“Iya-iya maaf.”
Lalu merekapun menyantap makanan itu, tak lama merekapun telah selesai dan
memutuskan untuk kembali ke kelas. Mereka pun segera beranjak dari sana, tapi
Widiya memisahkan diri, katanya dia ingin ke perpustakaan. Dia ingin meminjam
beberapa buku pelajaran.
“Ya sudah,
kalau begitu kami ke kelas duluan ya.” Kata Tias.
“Iya.” Widiya
pun berjalan ke perpustakaan. Beberapa menit kemudian dia keluar dari sana
sambil membawa beberapa buku. Tanpa pikir panjang lagi dia pun langsung pergi
ke kelasnya. Tapi pada saat di tengah jalan……
Duk, BRUK….
Nampaknya ada
seseorang yang menabraknya dari belakang. Buku Widiya pun jatuh berantakan.
“Aduh.” Kata Widiya
yang kesakitan.
“Ya ampun, aku
bantu bereskan ya.” Kata orang itu dan mereka berdua pun langsung berjongkok.
“Ya ampun,
Iqbal apa yang kau lakukan? Aku duluan ya, kau bereskan saja sendiri. Hahaha.” Kata
Dipa sambil melangkah meninggalkan mereka berdua. Sebenarnya tadi Iqbal
menabrak Widiya karena dikejar Dipa.
“Awas kau.” Ancam
Iqbal. Lalu mereka berdua pun mengambil buku-buku itu, dan entah apa yang
mereka pikirkan, tiba-tiba saja mereka mengambil buku yang sama sampai-sampai
tangan mereka bersentuhan. Sebenarnya masih banyak buku-buku yang berantakan di
sana. [sekenario yang sudah tidak asing
lagi, tapi romantis, kan?]
“Maaf.” Kata Iqbal
dengan singkat Dia pun segera melepaskan tangannya dan membiarkan Widiya yang
mengambilnya.
“Tidak apa-apa.”
Jawab Widiya.
“Ini buku mu,
aku benar-benar minta maaf ya. Bukumu jadi berantakan.” Kata Iqbal sambil
menyerahkan buku ditangannya.
“Iya, lagi pula
aku tidak apa-apa.”
“Kau mau
kembali ke kelas kan?”
“Iya.”
“Ayo, aku antar
sampai pintu kelas.” Ajak Iqbal, lalu mereka berdua pun berjalan menuju jelas
X-1 bersama.
Dipihak lain,
tak disangka ternyata ada yang memperhatikan mereka berdua sedari tadi. Nampaknya
gadis itu merasa kesal dengan apa yang dilihatnya, karena secara kebetulan
kejadian itu terjadi di depan kelas XII-2.
“Kurang ajar,
ternyata ada yang ingin merebut Iqbal dari ku.” Kata gadis itu dengan kesal. Dia
pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke luar.
“Hey, kau mau
ke mana?” Tanya teman sebangkunya itu, tapi sepertinya tidak digubris sama
sekali. “Hey kau, hey!!”
---To Be Continued---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar