The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 1
Janji Bersama
Minggu pagi
adalah waktu yang tepat untuk anak-anak bermain, saling berkejaran ke sana ke
mari atau hanya duduk saja dan bermain permainan yang asik bagi perempuan.
“Hey, apa aku
boleh ikut bermain?” tanya gadis kecil berambut panjang itu.
“Tidak....”
jawab Ochi dengan ketus.
“Kenapa tidak
boleh?”
“Biasanya kau
kan suka main permainan anak laki-laki.”
“Tapi aku juga
kan anak perempuan.”
“Sudah lah
jangan ganggu kami! Kau tidak lihat apa kami sedang asik bermain?” usir Santi.
“.......” Winda
hanya bisa diam dan menatap santi dengan perasaan sebal.
“Kenapa kau
diam saja? Ayo sana pergi!!” Santi pun berdiri dan mendorongnya hingga
terjatuh. Yogi yang melihat kejadian itu segera menghampirinya dan
membangunkannya.
“Ya ampun apa
yang kau lakukan?” Dia pun membangunkan Winda.
“Dia mengganggu
kami bermain.” Ochi pun berdiri dan menunjuknya. Tapi Yogi hanya menggelengkan
kepalanya saja.
“Kau tidak
apa-apa kan?” Tanya Yogi sambil membersihkan bajunya, dan gadis itu hanya
menggelengkan kepalanya. “Ya sudah kau bermain bersamaku saja, ayo!” Mereka
berdua pun pergi menuju bangku taman yang kosong dan mereka berdua pun duduk di
sana.
“Kak yogi,
terimakasih.”
“Iya,
sama-sama. Sudah ku bilang kan, kau jangan mendekati mereka. Mereka itu anak-anak
nakal. Kau lihat sendiri kan apa yang barusan mereka lakukan padamu?”
“Maaf, aku
tidak akan mengulanginya lagi.”
“Ya sudah. Oh
iya, aku membawakan sesuatu untukmu.”
“Apa?” Tanya
Winda. Yogi hanya tersenyum lalu dia segera mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Ini ada boneka
beruang yang ku dapatkan dari lotre kemarin. Aku bingung harus pada siapa aku
memberikannya, tapi aku rasa sebaiknya dia diberikan pada mu saja. Mungkin dia
bisa menjadi teman bermain mu.”
“Waaah,
terimakasih. Bonekanya bagus sekali. Apa boleh aku yang memberikannya nama?”
“Tentu saja.”
“Em......
em,,,,,,, sepertinya nanti saja aku berikan nama. Aku bingung.”
“Kau ini.” Yogi
tersenyum kecil sambil mengacak-acak rambutnya. “Sekarang kau bermain dengan
bonekamu saja, aku ingin bermain bola dulu.”
“Iya.” Kata
gadis itu sambil tersenyum manis.
Sebenarnya
taman bermain ini adalah taman panti asuhan. Mereka yang bersada di sini adalah
anak-anak yatim piatu, begitu juga dengan Yogi, Winda, Ochi dan Santi.
Winda adalah
seorang anak perempuan yang baru berusia 6 tahun. Sekak bayi dia sudah tinggal
di sini. Yogi adalah anak laki-laki berusia 9 tahun, dia juga yang terbilang
cukup sering melindungi Winda seperti tadi. Baginya dia sudah seperti adik
sendiri. Yogi sering mengajak Winda bermain dengan 7 anak laki-laki lainnya,
mereka semua juga cukup akrab. Itu sebabnya Winda kadang terlihat bertingkah
seperti anak laki-laki. 7 anak itu adalah Yuda, Dipa, Iqbal, Rona, Demil,
Mahmud dan Dika. Mereka berusia 7-8 tahu, ya bisa dibilang Yogi adalah yang
paling tua dan Winda adalah anak yang paling muda.
“Haaah....
haaaah..... haaa.... aku cape sekali.” Kata Yuda sambil duduk selonjor di
rumput. Dia mulai mengelap-ngelap
keringat yang bercucuran dari kepalanya, lalu di susul dengan teman-teman yang
lainya.
“Hey Wind, tas
siapa itu?” Tanya Dika.
“Ini? Ini tas
Kak Yogi.”
“Apa di
dalamnya ada air minum?”
“Entah lah...”
“Wind, tolong
ambilkan air di tasku!” Kata Yogi. Lalu dia membuka tasnya.
“Waw, besar
sekali botol air ini. Em...... berat.” Gadis kecil itu berusaha mengangkat
botol besar itu.
“Sini, biar aku
saja.” Kata Rona. “Ya ampun, Botol apa ini, besar sekali? Apa ini air galon?”
“Hey, aku sudah
berbaik hati pada kalian. Air itu juga untuk kalian.” Kata Yogi sambil
mengerutkan keningnya.
“Iya... iya....
terimakasih sudah repot-repot membawakan kami air galon. Hahaha” Ejek Demil.
“Em.... (¬_¬)” Yogi sekarang
mulai kesal.
“Dipa, apa kau
juga ingin minum?” tanya Mahmud.
“Iya.” Kemudian
diminum lah air dalam botol besar itu dengan sesekali dia tampak melamun
termenung.
“Hey, apa kau
ada masalah?” Tanya Iqbal.
“Tidak..”
“Benarkah? Lalu
kenapa dari tadi aku perhatikan kau melamun terus?”
“Benar, pada
saat permainan berlangsung pun kau tampak tidak fokus sama sekali.” Mahmud pun
menambahkan.
“Jika kau ada
masalah, bagilah masalah itu dengan kami.” Kata Yuda.
“Ya baiklah,
baik. Aku akan bilang. Tapi sebelumnya aku akan bertanya pada kalian. Apa
menurut kalian 10 tahun lagi kita akan terus berasama seperti ini?”
“Apa maksudmu?”
Tanya Demil.
“Ayo jawab
saja!”
“Bukankah kita
ini saudara, saudara itu selalu bersama sampai kapanpun kan?” jawab Rona.
“Apa ucapan mu
itu bisa aku pegang?”
“Hey…. Hey….
Sudah, jangan bertele-tele seperti itu. Langsung saja pada intinya!” pinta
Demil.
“Ya baiklah,
aku dengar kemarin ada sepasang suami istri datang ke mari. dia ingin
mengadopsi salah satu anak di panti ini. Aku hanya khawatir, jika salah satu
diantara kita diadopsi, kita tidak bisa bertemu dan berkumpul seperti hari
ini.”
“Kapan mereka
akan kembali lagi?” Tanya Mahmud.
“Besok……”
“Berpisah
adalah hal yang sangat berat, tapi bukankah mempunyai orang tua adalah impian
kita semua?” kata Yogi.
“Itu benar.
Bunda Tika bilang, persaudaraan itu adalah suatu ikatan yang tidak akan
terpisahkan meskipun jarak diantara mereka saling berjauhan. Jadi kita jangan
terlalu khawatir jika diantara kita harus ada yang diadopsi.” Winda pun juga
menambahkan.
“Aku rasa
kalian setuju dengan apa yang dikatakan Winda, kan? Jika memang kita semua ini
saudara, berjanjilah pada diri kalian sendiri untuk tidak saling memisahkan dan
melupakan!” seru Yogi.
“Aku berjanji.”
Kata Rona sambil menujukan jempolnya itu. So keren ¬_¬ .
“Aku juga.”
Kata Yuda.
“Kami juga”
kata Demil dan Mahmud.
“Kami bertiga
juga berjanji.” Kata Dipa, Iqbal dan Dika.
“Apa kau juga
mau berjanji, Wind?”
“Apa Kak Yogi
juga sudah?”
“Iya, aku
berjanji.”
“Kalau begitu
aku juga akan berjanji tidak akan saling memisahkan dan melupakan.”
Keesokan Harinya
Terlihat sebuah
mobil bagus terparkir di depan panti, ternyata benar saja yang dikatakan oleh
Dipa. Mereka datang hari ini untuk mengadopsi salah satu dari mereka. Sepasang
suami istri itu kemudian masuk ke ruangan Bunda Tika, mereka bercakap-cakap mengenai
anak yang mereka inginkan. Mereka melihat-lihat foto anak-anak yang ada di sana
dan nampaknya mereka pun telah menentukan pilihannya. Mereka bertiga pun keluar
dari ruangan dan Bunda Tika meminta anak-anak berbaris rapi di depan kamar
mereka.
“Baiklah
anak-anak, hari ini kita kedatangan tamu yang akan mengadopsi salah satu dari
kalian. Ini adalah ibu Iis dan bapak Andi.” Kata Bunda Tika, terlihat mereka pun
tersenyum. “Sepertinya ibu dan bapak bisa mulai sekarang.” Bunda Tika
mempersilahkan mereka.
“Oh, iya.
Terimakasih Bu.” Kata Pak Andi. Mereka berduapun mulai berjalan diantara
mereka, menatap mereka satu persatu. Tiba-tiba saja mereka menghentikan
langkah. Mereka menatap satu anak yang mereka pikir cocok untuk dijadikan anak
mereka.
“Boleh aku tau
siapa namamu?” Tanya Bu Iis pada anak itu.
“Namaku?
Namaku……..”
---To
Be Continued---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar