Jumat, 21 Juni 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 1"



The Shop Nine-Tailed Fox

Chapter 1
Janji Bersama

Minggu pagi adalah waktu yang tepat untuk anak-anak bermain, saling berkejaran ke sana ke mari atau hanya duduk saja dan bermain permainan yang asik bagi perempuan.
“Hey, apa aku boleh ikut bermain?” tanya gadis kecil berambut panjang itu.
“Tidak....” jawab Ochi dengan ketus.
“Kenapa tidak boleh?”
“Biasanya kau kan suka main permainan anak laki-laki.”
“Tapi aku juga kan anak perempuan.”
“Sudah lah jangan ganggu kami! Kau tidak lihat apa kami sedang asik bermain?” usir Santi.
“.......” Winda hanya bisa diam dan menatap santi dengan perasaan sebal.
“Kenapa kau diam saja? Ayo sana pergi!!” Santi pun berdiri dan mendorongnya hingga terjatuh. Yogi yang melihat kejadian itu segera menghampirinya dan membangunkannya.
“Ya ampun apa yang kau lakukan?” Dia pun membangunkan Winda.
“Dia mengganggu kami bermain.” Ochi pun berdiri dan menunjuknya. Tapi Yogi hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Yogi sambil membersihkan bajunya, dan gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. “Ya sudah kau bermain bersamaku saja, ayo!” Mereka berdua pun pergi menuju bangku taman yang kosong dan mereka berdua pun duduk di sana.
“Kak yogi, terimakasih.”
“Iya, sama-sama. Sudah ku bilang kan, kau jangan mendekati mereka. Mereka itu anak-anak nakal. Kau lihat sendiri kan apa yang barusan mereka lakukan padamu?”
“Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi.”
“Ya sudah. Oh iya, aku membawakan sesuatu untukmu.”
“Apa?” Tanya Winda. Yogi hanya tersenyum lalu dia segera mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Ini ada boneka beruang yang ku dapatkan dari lotre kemarin. Aku bingung harus pada siapa aku memberikannya, tapi aku rasa sebaiknya dia diberikan pada mu saja. Mungkin dia bisa menjadi teman bermain mu.”
“Waaah, terimakasih. Bonekanya bagus sekali. Apa boleh aku yang memberikannya nama?”
“Tentu saja.”
“Em...... em,,,,,,, sepertinya nanti saja aku berikan nama. Aku bingung.”
“Kau ini.” Yogi tersenyum kecil sambil mengacak-acak rambutnya. “Sekarang kau bermain dengan bonekamu saja, aku ingin bermain bola dulu.”
“Iya.” Kata gadis itu sambil tersenyum manis.

Sebenarnya taman bermain ini adalah taman panti asuhan. Mereka yang bersada di sini adalah anak-anak yatim piatu, begitu juga dengan Yogi, Winda, Ochi dan Santi.
Winda adalah seorang anak perempuan yang baru berusia 6 tahun. Sekak bayi dia sudah tinggal di sini. Yogi adalah anak laki-laki berusia 9 tahun, dia juga yang terbilang cukup sering melindungi Winda seperti tadi. Baginya dia sudah seperti adik sendiri. Yogi sering mengajak Winda bermain dengan 7 anak laki-laki lainnya, mereka semua juga cukup akrab. Itu sebabnya Winda kadang terlihat bertingkah seperti anak laki-laki. 7 anak itu adalah Yuda, Dipa, Iqbal, Rona, Demil, Mahmud dan Dika. Mereka berusia 7-8 tahu, ya bisa dibilang Yogi adalah yang paling tua dan Winda adalah anak yang paling muda.

“Haaah.... haaaah..... haaa.... aku cape sekali.” Kata Yuda sambil duduk selonjor di rumput.  Dia mulai mengelap-ngelap keringat yang bercucuran dari kepalanya, lalu di susul dengan teman-teman yang lainya.
“Hey Wind, tas siapa itu?” Tanya Dika.
“Ini? Ini tas Kak Yogi.”
“Apa di dalamnya ada air minum?”
“Entah lah...”
“Wind, tolong ambilkan air di tasku!” Kata Yogi. Lalu dia membuka tasnya.
“Waw, besar sekali botol air ini. Em...... berat.” Gadis kecil itu berusaha mengangkat botol besar itu.
“Sini, biar aku saja.” Kata Rona. “Ya ampun, Botol apa ini, besar sekali? Apa ini air galon?”
“Hey, aku sudah berbaik hati pada kalian. Air itu juga untuk kalian.” Kata Yogi sambil mengerutkan keningnya.
“Iya... iya.... terimakasih sudah repot-repot membawakan kami air galon. Hahaha” Ejek Demil.
“Em.... ­­­­­­(¬_¬)” Yogi sekarang mulai kesal.
“Dipa, apa kau juga ingin minum?” tanya Mahmud.
“Iya.” Kemudian diminum lah air dalam botol besar itu dengan sesekali dia tampak melamun termenung.
“Hey, apa kau ada masalah?” Tanya Iqbal.
“Tidak..”
“Benarkah? Lalu kenapa dari tadi aku perhatikan kau melamun terus?”
“Benar, pada saat permainan berlangsung pun kau tampak tidak fokus sama sekali.” Mahmud pun menambahkan.
“Jika kau ada masalah, bagilah masalah itu dengan kami.” Kata Yuda.
“Ya baiklah, baik. Aku akan bilang. Tapi sebelumnya aku akan bertanya pada kalian. Apa menurut kalian 10 tahun lagi kita akan terus berasama seperti ini?”
“Apa maksudmu?” Tanya Demil.
“Ayo jawab saja!”
“Bukankah kita ini saudara, saudara itu selalu bersama sampai kapanpun kan?” jawab Rona.
“Apa ucapan mu itu bisa aku pegang?”
“Hey…. Hey…. Sudah, jangan bertele-tele seperti itu. Langsung saja pada intinya!” pinta Demil.
“Ya baiklah, aku dengar kemarin ada sepasang suami istri datang ke mari. dia ingin mengadopsi salah satu anak di panti ini. Aku hanya khawatir, jika salah satu diantara kita diadopsi, kita tidak bisa bertemu dan berkumpul seperti hari ini.”
“Kapan mereka akan kembali lagi?” Tanya Mahmud.
“Besok……”
“Berpisah adalah hal yang sangat berat, tapi bukankah mempunyai orang tua adalah impian kita semua?” kata Yogi.
“Itu benar. Bunda Tika bilang, persaudaraan itu adalah suatu ikatan yang tidak akan terpisahkan meskipun jarak diantara mereka saling berjauhan. Jadi kita jangan terlalu khawatir jika diantara kita harus ada yang diadopsi.” Winda pun juga menambahkan.
“Aku rasa kalian setuju dengan apa yang dikatakan Winda, kan? Jika memang kita semua ini saudara, berjanjilah pada diri kalian sendiri untuk tidak saling memisahkan dan melupakan!” seru Yogi.
“Aku berjanji.” Kata Rona sambil menujukan jempolnya itu. So keren ¬_¬ .
“Aku juga.” Kata Yuda.
“Kami juga” kata Demil dan Mahmud.
“Kami bertiga juga berjanji.” Kata Dipa, Iqbal dan Dika.
“Apa kau juga mau berjanji, Wind?”
“Apa Kak Yogi juga sudah?”
“Iya, aku berjanji.”
“Kalau begitu aku juga akan berjanji tidak akan saling memisahkan dan melupakan.”

Keesokan Harinya
Terlihat sebuah mobil bagus terparkir di depan panti, ternyata benar saja yang dikatakan oleh Dipa. Mereka datang hari ini untuk mengadopsi salah satu dari mereka. Sepasang suami istri itu kemudian masuk ke ruangan Bunda Tika, mereka bercakap-cakap mengenai anak yang mereka inginkan. Mereka melihat-lihat foto anak-anak yang ada di sana dan nampaknya mereka pun telah menentukan pilihannya. Mereka bertiga pun keluar dari ruangan dan Bunda Tika meminta anak-anak berbaris rapi di depan kamar mereka.
“Baiklah anak-anak, hari ini kita kedatangan tamu yang akan mengadopsi salah satu dari kalian. Ini adalah ibu Iis dan bapak Andi.” Kata Bunda Tika, terlihat mereka pun tersenyum. “Sepertinya ibu dan bapak bisa mulai sekarang.” Bunda Tika mempersilahkan mereka.
“Oh, iya. Terimakasih Bu.” Kata Pak Andi. Mereka berduapun mulai berjalan diantara mereka, menatap mereka satu persatu. Tiba-tiba saja mereka menghentikan langkah. Mereka menatap satu anak yang mereka pikir cocok untuk dijadikan anak mereka.
“Boleh aku tau siapa namamu?” Tanya Bu Iis pada anak itu.
“Namaku? Namaku……..”


---To Be Continued---



Tidak ada komentar:

Posting Komentar