Minggu, 28 Juli 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 11"



The Shop Nine-Tailed Fox

Chapter 11
Kau Menyebalkan!

 “Hey, yang baju merah ini kau?”
“I-iya memangnya kenapa?”
“Aku sampai tidak mengenalinya. Sudah kubilangkan kau lebih manis jika rambutmu di urai seperti itu.”
“A-apa?” Winda pun sangat kaget mendengar apa yang dia ucapkan. “Jadi kau……”
“Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengejekmu.”
“Tidak-tidak, maksudku bukan itu. Kemarin kau menaruh kertas biru di….”
“Sssssttt!! Sudah jangan diterusakn, suaramu itu terlalu kencang jika bicara.”
“Tapi kak Deri….”
“Ok,, ok, aku mengeku aku orangnya. Nanti akan ku jelaskan sepulang sekolah. Akan ku temui kau di kantin, tapi jangan bawa siapapun.”
“Kenapa?”
“Karena ini hanya urusan kau dan aku. Kau mengerti kan?” dan gadis berkucir satu itu pun mengenggukan kepalanya.

Singkat cerita, sepulang sekolah Winda menunggu orang itu di kantin. Menunggunya memang luayan lama, tapi karena dia sudah janji ya mau bagai mana lagi.
‘Kenapa lama sekai dia? cemilanku sudah hampir habis tapi dia belum juga datang.’ Gumam gadis itu, dia pun meneguk munuman yang ada di hadapannya.
“Winda, maaf ya kau menunggu lama.” Kata Deri.
“Ya, tidak apa-apa.” Ujar Winda, Deri pun duduk di depannya. “Jadi bagaimana sekarang?”
“Bagaimana? Oh iya, sebelumnya aku minta maaf sudah membuatmu repot dengan kertas-kertasku. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku lihat saja.”
“Apa yang kau lihat?”
“Ya, sebenarnya aku mulai memperhatikanmu pada saat kau menghajar Latifah. Aku baru melihat anak perempuan berani menghajar kakak kelasnya dengan sangat,, ya begitu lah. Tanpa ampun.”
“Lalu? Apa dia itu temenmu?”
“Em, ya mungkin lebih tepatnya dia adalah teman sekelasku.”
“Lalu kau ingin membatunya, begitu?”
“Bukan-bukan, aku sama sekali tidak ingin membantunya. Sudah ku bilangkan aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku lihat.”
“Tapi kenapa kau harus pergunakan cara seperti itu?”
“Ya karena aku suka cara klasik.”
“Cara klasik ya?” kata Winda. Deri pun tersenyum melihat tingkahnya. “Ada apa, apa ada yang lucu?”
“Tidak, hanya saja kau ini sangat cuek sekali.”
“Mungkin hanya perasaanmu saja.”
“Ya baiklah, aku tahu. Bagimu mungkin alasanku tadi sama seklai tak masuk akal.”
‘Dari mana dia tahu aku berfikir seperti itu?’ gumam Winda.
“Hey, aku punya rahasia. Tapi jangan katakana pada siapa pun!”
“Ya baiklah.” Kata Winda. ‘Dia mudah sekali percaya dengan orang.’ gumam Winda. Deri pun berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Winda. Dia pun mulai mendekatkan wajahnya. “Kau ini mau apa sih?” Gadis itu pun sedikit menjauh.
“Aku hanya ingin membisikan sesuatu.” Deri pun mulai membisikannya. “Aku menyukai mu, anak tomboy.”
“………” Winda tak bisa mengetakan apa pun dan kini pipinya mulai kemerahan.
“Jangan bilang pada siapa-siapa ya!” Deri pun tersenyum. “Kenapa kau? Kau sakit ya?”
“Bukan urusanmu.” Winda pun memalingkan wajahnya.
“Kau ini, ayo pulang!” Deri pun memegang tangannya, dia menuntunnya dari depan. Sementara Winda hanya bisa diam dengan pipi yang benar-benar merah.

Kini mereka telah sampai di gerbang depan, karena saat ini Winda tidak membawa sepedanya dan dia tak di jemput oleh Yogi, jadi dia harus naik bus. Tapi sayang, halte bus cukup jauh dari sana. Jadi mereka berdua harus berjalan kaki dulu.
“Lihat ada tukang Ice cream. Kau suka Ice ceram tidak?” Tanya Deri. Winda pun menganggukan kepalanya dan mereka pun segera menghampiri mobil ice cream yang sedang terparkir pinggir jalan. “Kau mau rasa apa?”
“Vanilla..”
“Tolong Vanillanya dua ya.” Deri pun memesan, tak lama pedagang itu pun menyerahkan 2 buah Ice cream.
“Ini..”
“Terimakasih.” Mereka pun kembali berjalan menuju halte.
“Kau sangat suka vanilla ya?”
“Iya, kenapa?
“Tidak, aku hanya bertanya saja. Oh iya, ngomong-ngomong tentang rahasiaku, bagaimana menurutmu?”
“Menurutku?”
“Iya, apa menurutmu kau juga menyukaiku?.”
“………….” Tiba-tiba saja langkah gadis itu terhenti.
“Kenapa? Apa ada yang salah?”
“Tidak, tapi aku rasa.... ini…..”
“Ya, aku rasa aku bertanya begitu cepat. Tapi jika hanya bertanya saja tidak apa-apa kan?”
“Hm…”
‘Aku tahu dia adalah tipe orang yang sangat berisik, tapi gadis ini benar-benar dingin padaku. Bahkan dari tadi aku berhatikan tak ada senyum yang keluar dari raut wajahnya.’ Gumam Deri.
“Kenapa kau melihatku seperti itu, aku aneh?”
“Ti-tidak, kau tidak aneh.”
“Lalau kenpa?”
“Tidak, bukan apa-apa. Itu, busnya datang. Cepat kita naik!” lalu mereka pun naik ke bis tersebut.

Keesokan harinya, gadis berkucir satu itu terlihat menunggu bus di tempat kemarin. Nampaknya dia juga membawa 1 keresek berukuran sedang yang berisi cemilan pesanan kakak-kakanya.
Kring….Kring….
“Winda, ayo naik!” kata laki-laki bersepeda itu.
“Kak Deri?”
“Kau mau pulang kan? ayo ku antar kau pulang.”
“Tidak, hari ini aku harus ke rumah Kak Dipa.”
“Begitu ya, ya sudah aku antar kau ke sana. Cepat naik!”
“Iya.” Gadis itu pun tersenyum dan dia juga mulai mulai menginjakan kakinya di poros roda belakang.
“Eh jangan-jangan, jangan di belakang. Nanti kau bisa jatuh, kau di depan saja!”
“Tapi….”
“Tak usah tapi-tapi, aku tak mau dibuat repot oleh 8 antek-antekmu hanya gara-gara kau jatuh dari sepeda. Cepat!”
“Ya…. Baiklah.” Gadis itu pun langsung turun dan berpindah tempat. Tanpa basa-basi lagi, sepeda itu pun melaju.

“Hey, aku mau Tanya.” Kata Deri.
“Tanya apa?” Tanya Winda.
“Kau tidak ingat padaku?”
“Maksudnya?”
“Aku ini kakak kelasmu waktu SMP. Ternyata benar-benar tidak ingat ya?”
“Em, apa iya?”
“Tentu saja, sekarang aku tanya. Kau pernah membuat wajah seseorng tersiram air minumnya sendirikan?”
“Tersiram air minum?”

Flashback
Saat ini adalah menit-menit terakhir dari jam istirahat, terlihat segerombol anak laki-laki sedang berselonjor ria di pingir lapangan. Pada saat itu juga bola yang tadi mereka mainkan tergelinding tepat ke depan kelas Winda dan kebetulan saat itu Winda berada di depan pintu kelasnya.
“Bola siapa itu?” Tanya Winda, dia pun melihat ke pinggir lapangan yang teduh. Disana terdapat segerombolan anak laki-laki yang sedang beristirahat. “Aku kembalikan saja bolanya.” Winda pun menghampiri bola itu dan dia pun menendannya.
Wiiiiiiing….. BUK!!! Byurrrrr…..
Nampaknya ada anak laki-laki yang tiba-tiba saja wajah dan bajunya basah karena terkena tendangan bola dari Winda. Sebenarnya anak laki-laki tadi itu sedang memegang gelas plastic yang terisi penuh dengan air minum.
“Hey, siapa yang berani melakukan ini?” kini anak itu sangat marah.
“HAHAHAHHAHAAAHAHA…..” teman-temnnya juga mentertawakan kejadian itu. Sememntara Winda, dia langsung kabur ke kelasnya.
 “Diam kalian!”
“Oops….!!” Gadis itu pun berlari.
‘Ternyata ulah anak itu, aku jadi basah kuyup begini.’ Gumam Deri.

End Flashback

“Ja-jadi Itu kak Deri?”
“Ya. Kau membuat aku malu di depan teman-temanku.”
“Maaf, aku tidak sengaja. Tadinya aku hanya ingin mengembalikan bolanya, sungguh.”
“Hm… ya baiklah. Lagi pula itu kan kejadian 3 tahun lalu. Oh iya, rumahnya ada di perumahan ini kan?”
“Iya benar.” Saat ini mereka telah sampai di depan gerbang perumahan elit.
“Lalu sekarang kemana?”
“Tinggal masuk saja, rumah yang pertama adalah rumahnya.”
“Begitu ya.” Mereka pun mulai masuk ke kawasan Peumahan dan tak lama mereka berhenti di sebuah rumah yang cukup megah. Gadis itu pun turun dari sepedanya.
“Terimakasih telah mengantar.”
“Ya sama-sama.”
“Kau mau masuk?”
“Em, mungkin lain kali saja. Aku pulang dulu, sampai jumpa.”
“Ya, sampai jumpa.” Kini deri mulai mengayuh sepedanya kembali, sedangkan Winda segera  masuk ke dalam rumah.

Di lantai 2, gadis itu baru saja sampai di sana. dia langsung saja menyerahkan keresek yang berisi cemilan itu pada Dika.
“Ini.” Kata Winda.
“Ya, terimakasih.” Dika pun menerimanya.
“Winda, tadi itu siapa?” Tiba-tiba saja Yuda langsung bertanya.
“Oh, tadi itu Kak Deri.”
“Oh, jadi namanya Deri?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku kurang suka dengan orang itu.”
“Kenapa?”
“Sudah ku bilangkan aku kurang suka.” Kini nada bicaranya mulai tinggi dan sukses membuat Winda terdiam. Dia pun mulai merebahkan dirinya kembali di karpet. “Bangunkan…..”
“Iya aku tahu,” Winda pun memotong pembicaraan Yuda dengan nada yang mulai tinggi juga. Yuda pun terdiam, memandangi Winda dari tempat dia merebahkan badannya.
“Kau kenapa?”
“Kau yang kenapa, kenapa kau hobi sekali bersikap seperti ini? Kau selalu saja bertingkah menyebalkan. Dengar ya, ini adalah ketiga kalinya kau bertingkah seperti ini di depanku.”
“Apa maksudmu aku ini menyebakan?” kata Yuda dan dia pun duduk kembali.
“Apa, kau tidak sadar? Semenjak kertas-kertas biru itu ada di tasku kau beringkah menyebalkan dan sangat tidak karuan. Kau tak pernah memberikan alasan yang jelas dan setelah itu kau langsung berbaring dan berharap aku tidak bertanya apa-apa lagi padamu.”
“Dengar ya, jika kau ingin tahu dia itu adalah teman sekelas dari Latifah.”
“Ya aku sudah tahu hal itu, lalu kenapa?”
“Dia itu bekerja sama dengan Latifah.”
“Apa maksudmu?”
“Kau percaya kertas-kertas itu darinya kan? Cih,.. sangat ironis sekali. Aku beri tahu ya, kertas itu diberikan oleh Latifah padanya, dan dia yang menyimpan kertas itu di tasmu?”
“Apa, kau tahu dari mana hal itu?”
“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Itu lah alasanku, kenapa aku bersikap seperti itu padamu.”
“Kau jangan bicara yang tidak-tidak di depanku!”
“Silahkan saja jika kau tidak percaya padaku. Tapi aku, tidak akan pernah membiarkanmu terjerumus pada jebakan mereka.”
“Lalu aku harus percaya padamu dan membeci Kak Deri sama halnya denganmu, begitu?”
“……..”
“Dengar ya, mungkin bagimu sangat mudah memponis orang dengan kacamata kebencianmu itu. Tapi aku, tidak akan mudah percaya pada siapa pun aku belum melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Apa lagi orang itu sepertimu.”
“Hey jaga bicaramu!”
“Jaga bicaraku? Kau yang harusnya menjaga bicaramu!”
“APA KAU BILANG?!!”
“Sudah-sudah! Hentikan! Apa yang kalian lakukan? Kalian berdua sama saja, jaga bicaramu itu, Win!” Kata Dika yang berusaha melerai mereka. “Kau juga Yuda, kau juga jangan langsung menyumpulkan apa yang kau lihat. Ingat, aku juga melihatnya.”
“Tapi aku sangat yakin dengan apa yang aku lihat.” Yuda pun membela dirinya.
“Sudah ku bilang jangan langsung menyimpulkan! Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu.” Dika pun mengelah nafas. “Winda, ayo minta maaf pada Yuda!” kini nada bicara Dika sedikit turun.
“Tidak mau.” Jawab Winda sambil memalingkan mukanya.
“Kenapa kau tidak mau?”
“Dia yang memulainya, dia juga yang harus mengakhiri semuanya.”
“Ya ampun. Yuda, kau minta maaf padanya.!”
“Enak saja kau bilang, aku melakukan ini demi kebaikannya. Harusnya dia berterimakasih padaku.” Kata Yuda.
“Cih! Berterimakasih padamu, apa aku tidak salah dengar?” Kini Winda mulai memperpanas suasana lagi.
“Suda-sudah! Kalian berdua ini sama saja. Keras kepala!” ujar Dika.
“Terserah! Aku tidak peduli.” Gadis itu pun menggedong tasnya lagi, dia berniat untuk pergi dari tempat itu. Lalu dia pun menuruni anak tangga yang ada di depannya.
“Winda, mau kemana kau?” Tanya Dika, tapi sayang Winda sama sekali tidak menggubrisnya.
“WINDA, DENGAR! JIKA ITU MAUMU, BAIK AKU JUGA TIDAK AKAN PEDULI LAGI DENGANMU!!!” Teriak Yuda.

Mungkin ini adalah awal ujian hidup yang harus mereka lalui, rasa ego yang tinggi memang menjadi topik terhangat untuk mereka yang berusia remaja. Sebenarnya, setiap orang pasti akan melewati ujian seperti ini. Hanya saja bedanya, bagaimana orang-orang itu dapat memecahkannya, jalan apa yang mereka tempuh dan apakah orang itu berperan sebagai orang yang jahat atau sebaliknya. Untuk lebih jelas, mari kita lanjut.

Hari ini adalah hari yang cerah, begitu banyak hal-hal yang bisa Winda perhatikan dari balik kaca mobilnya. Dia berharap, mungkin dengan memperhatikan hal-hal yang tidak penting di jalan dapat membantunya melupakan hal yang kemarin terjadi. Tak lama, dia sudah sampai di gerbang belakang sekolahnya dan dia pun beranjak turun dari mobil kakaknya.
“Winda, tunggu!” Kata Yogi sambil membuka kaca mobilnya.
“Apa?” Tanya Winda.
“Kenapa dari tadi kau terlihat murung, kau ada masalah?”
“Tidak, aku hanya sedikit pusing saja.” Winda berbohong.
“Kau sakit, apa kau mau pulang?”
“Tidak, aku masih bisa menahannya. Jangan terlalu mempedulikanku!” Gadis bekucir satu ini pun langsung masuk ke dalam area sekolahnya. Seperti biasa, di gerbang belakang ini 3 preman sekolah sedang memalaki siswa yang lewat sana.
“Hey, jika kau mau lewat kau harus bawar dulu.” Tiba-tiba saja Ridwan menghalangi langkah Winda.
“Minggir kau!”
“Apa?”
“Aku bilang minggir!”
“Ridwan.” Kata Wisnu si ketua preman sambil memberikan isyarat untuk memperbolehkan gadis itu lewat. Entah apa yang membuat mereka seperti ini, sepertinya mereka sudah mendengar kabar gadis itu pernah menghajar orang yang lebih tua darinya. Ditambah lagi wajah gadis itu sedang kusut. Winda pun melanjukan perjalanannya menuju kelas, tapi……
“Winda,,,” Seseorang memanggilnya, Winda pun menoleh ke arahnya. “Selamat pagi.” Kata Deri.
“Pagi.” Jawab Winda dengan singkat.
“Kau kenapa, kau sakit?”
“Tidak.”
“Lalu, kenapa kau…..”
“Sudah, cukup!” Winda pun mengelah nafas. “Dengar, aku sedang tidak ingin diganggu. Jadi, tolong!”
“Kau punya masalah? kau mau bercerita padaku?”
“Baiklah jika itu maumu, aku akan bercerita padamu. Ternyata kertas biru itu bukan pemberian dari seorang laki-laki. Puas?!” Winda pun melangkah pergi meninggalkannya.
“Win, apa maksudmu?”
“……………”
“Winda.” Deri pun mengejar Winda. “Apa maksudmu?”
“…………..” lagi-lagi Winda tidak menjawabnya.
“Win, bicaralah!”

---To Be Continued---



Minggu, 21 Juli 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 10"



The Shop Nine-Tailed Fox

Chapter 10
Toko Kami

Hi, Winda. Namamu Winda kan?
Kemarin kau sangat SADIS  sekali,
Menghajar kakak kelas
Sampai babak belur begitu.

Tapi kau tidak apa-apa kan? ya mudah-mudahan saja tidak.

From : X

“Siapa X itu?” Tanya Yuda, ternyata dia juga ikut membaca surat itu  dari belakang Winda.
“A-anu…”
“Em…???”
“Aku tidak tahu. Kakak tadi membacanya ya?”
“Hn….” Kata Yuda dengan singkat, kini wajahnya menunjukan sedikit rasa sebal.
“Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa wajahmu jadi…” kata-kata Winda terpotong oleh Yuda.
“Aku ngantuk. Bangunkan aku jika ada yang harus aku kerjakan.” Lalu Yuda pun berbaring di karpet yang di gelar itu.
‘Kenapa dia? apakah suatu hal yang salah jika ada yang mengirim surat padaku? Dan dia juga, siapa itu X dan apa maksudnya aku sadis?’ gumam gadis itu dan dia pun memasukan kembali secarik kertas biru itu pada kotak pensilnya.
“Hey apa itu yang kau masukan dalam kotak pensilmu?” Tanya Rona.
“Bekas bungkus bala-bala.” Jawab Winda dengan dingin.
“A-apa?”

“Demil, bagaimana dengan pamlpetnya?” Tanya Dipa.
“Ya, aku rasa konsepnya sudah bagus. Kita tinggal memasukan nama-nama barangnya saja.” Jawab Demil.
“Aku juga sudah menemukan dekorasi ruangan yang pas untuk tempat ini dan aku juga sudah menyesuaikannya pada sketsa ini.” Kata Dika.
“Oh iya, aku punya ide. Jika kita bergerak di bidang seperti ini, bagaimana jika kita mempromosikan pada anak-anak band yang ada di lingkungan ini dan yang ada di sekolah.” Kata Mahmud.
“Memangnya kita mau jualan apa sih?” Tanya Yuda yang tiba-tiba saja bangun.
“Kau ini, kita ini membuka toko aksesoris dan pakaian remaja.”
“Ooooh…. Seperti apa?”
“Makannya jangan cuma tidur saja. Untuk laki-laki kita akan menjual beberapa baju kaos dan beberapa aksesoris seperti gelang dan jam tangan. Untuk perempuan juga sama, oh iya aku ingin Tanya apa ayahmu masih menggeluti usaha baju sablon?”
“Tentu saja, memangnya kenapa?”
“Bagus kalau begitu. Hahahaha” Mahmud pun tertawa sendiri.
“Hey jika kau punya ide, jangan kau simpan sendiri.” Tegur Rona.
“Ya iya. Aku beri tahu, begini…..” Mahmud pun menjelaskan apa idenya itu pada semua. Hari ini mereka semua bekerja cukup keras. Mempersiapkan segala keperluan dan juga barang-barang yang akan mereka jajakan di toko mereka.

“Baiklah kalau begitu, kita semua sudah putuskan barang yang akan dijual untuk anak laki-laki.” Kata Yogi sambil memegang secarik kertas seperti Ir. Soekarno akan membacakan Teks Proklamasi. “Untuk yang pertama adalah pakaian, kita akan menjual kaos-kaos dan jaket. Untuk aksesorisnya kita akan mejual jam tangan sebagai percobaan kita simpan dulu 10 buah, topi 5 buah, gelang-gelang 10 set. Lalu yang di usulkan Mahmud tadi kita akan menjual pesanan kaos sablon couple, sweeter couple, dan jika ada kita juga akan menerima pesanan kaos sablon dengan tulisan-tulisan yang diinginkan oleh pelanggan.”
“Apa aku boleh menembahkan?” kata Yuda.
“Ya.”
“Dirumah aku memiliki beberapa contoh sepatu yang kulukis sendiri dan juga aku jual sendiri. Aku juga ingin memasukan barangku ke toko ini?”
“Tentu saja, apa ada lagi?” Tanya Yogi, tapi mereka semua hanya diam. “Ya baiklah, aku rasa sudah tidak ada yang akan menambahkannya. Winda besok ajak teman-temamu itu ya, aku rasa kita akan membutuhkan mereka.”
“Ya baik lah, tapi sebelumnya… senyuuuum…”
Ckreek..!! Winda pun memfoto mereka yang berada tepat di depannya. Terlihatlah wajah-wajah mereka yang kaget dengan sinar yang keluar dari kamera Winda. “Hahahahha…. Kalian semua lucu sekali….. hahhahaha”
“Apa yang kalu lakukan? Cepat hapus!” kata Iqbal.
“Tidak mau, ini kan dokumentasi.”
“Dokumentasi apanya? Cepat!!” Iqbal pun berusaha merebut kameranya.
“Enak saja.”
“Aku rasa aku dapat ide dari kamera itu.” Kata Rona dan tiba-tiba saja ada lampu menyala di atas kepalanya. [SILLLAU MAN]
“Hey matikan lampumu itu.! Besok saja idenya, ini sudah sore.” Kata Yuda, mereka semua pun pamit pulang pada si tuan rumah.

Ya, begitu lah usaha mereka yang begitu keras mendirikan toko kecil-kecilan di sana. Jelas ini adalah usaha yang mereka bangun betul-betul dari nol. Sebenarnya pasti ada fikiran negative tentang usaha ini, yaitu sebuah resiko kebangkrutan. Tapi, jika kita hanya berfikir tanpa melakukan apa-apa, kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya kan?

Keesokan harinya, di ruang kelas X-1

“Widiya, kau sudah diberi tahu Kak Iqbal belum?” Tanya gadis berkucir satu itu.
“Beri tahu apa?” Widiya pun bertanya balik.
“Itu, yang hari ini kita akan….” Kata-kata Winda terpotong oleh Widiya.
“Oh, iya sudah, dia sudah memberi tahunya.” Kata Gadis berbando pink sambil mengacungkan telunjuknya itu. “Hey kalian, kalian juga ikut ya.”
“Ikut ke mana?” Tanya Rina.
“Ke rumah Kak Dipa, mereka mengundang kita.”
“Mengundang kita untuk apa? Apa ada acara ulang tahun?” Tanya Tias dengan polos.
“Bukaaaan, mereka meminta bantuan kita. Katanya mereka akan mendirikan sebuah toko di rumahnya.”
“Apa di sana ada Kak Mahmud juga.”
“Tentu saja ada.”
“Kyyaaaaa….” Kini Tias mulai menjerit-jerit gaje. “Kalau begitu aku akan ikut, Rina, kau juga ikut ya!”
“Ya, baiklah aku juga akan ikut.”
“Bagus kalau begitu, apa kalian bawa sepeda? Tanya Winda.
“Tentu…” kata Rina dan Tias dengan sangat kompak.
“Ta-tapi aku…” kata Widiya yang kelihatannya dia sama sekali tidak membawa sepeda.
“Kau kan bisa dibonceng kak Iqbal.”
“Kak Iqbal, mereka sudah jadian?” Tanya Rina.
“Tentu saja sudah, sejak kejadian hari itu mereka kan….” kata-kata Winda terpotong oleh Widiya.
“Ssssttt…. Aku mohon, pelan kan suaramu!”
“Kkyyaaaaaa!! Kenapa kau tidak beri tahu kami?” Tias pun kembali menjerit-jerit gaje.
“Ka-karena aku……….”
“Aaah, ya sudah kalau begitu. Kami bertiga menunggu PJ-mu ya.” Ucap Rina.
“PJ, apa itu PJ?” Ternyata Tias masih polos, pemirsa.
“Pajak Jadian,.”
“Oooooh….”

Tteeeett..!! nampaknya bel puang sudah di bunyikan, mereka pun membereskan buku mereka yang masih berantakan di meja. Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung saja pergi menuju gerbang belakang, ternyata di sana sudah ada Iqbal yang menunggu mereka.

“Chieeee….. Chieee…” kata Rina dan Tias
“Kalian berdua, diam lah…” kini Pipi Widiya sudah seperti kepiting rebus karena diejek mereka.
“Ayo, kita langsung ke sana saja. Mereka telah menunggu kalian di parkiran.” Kata Iqbal dan merekapun menuju ke tempat di mana mereka memparkirkan sepeda mereka. Tanpa basa basi lagi mereka pun pergi ke lokasi.

Di rumah Dipa…..
“Kakak, barang-barang yang dibawa kak Yogi kemarin mana??” Tanya Winda.
“Ada di sana.” Dipa pun menunjuk suatu ruangan yang bersebelahana dengan kamarnya. “ Ambil saja, ruangannya tidak aku kunci.” Winda pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke ruangan itu, tak lama dia pun kembali dengan beberapa barang di tangannya.
“Win, apa itu?” Tanya Rina.
“Ini, ini baju-baju, aksesoris dan beberapa brosur.” Lalu Winda pun menaruh barang-barang itu di depan mereka. “Tolong pilihkan model-model yang bagus ya!”
“Serahkan saja pada kami.”
“Oh iya, memangnya kalian ini mau buat toko apa?” Tanya Tias.
“Kami ingin buat toko baju dan aksesoris, oh iya jika ada yang modelnya bagus, tolong lingkari dengan pensil dulu!.”
“Iya, tenang saja.”
“Tapi kenapa kau mengundang kami kemari.” Tanya Rina.
“So-soal itu……”
“Soalnya Winda tidak bisa memilih model pakaian dan aksesoris utnuk perempuan.” Kata Iqbal yang memotong ucapan Winda.
“Apa?? Tapi kau ini kan perempuan?” Ternyata Rina kaget dengan alasan itu.
“Apa kelihatannya dia seperti peremuan?? Aku ragu dia itu perempuan.”
“Diam kau!!!” ucap Winda.
“Itu benar kan?”
“Aku bilang DIAAAAAM!!!” Teriak Winda, ternyata setelah sekian tahun terpisah mereka ini belum juga bisa akur. Tetap saja saling ejek.
“Kalian berdua, diamlah! Kalian ini berisik sekali.” Tegur Yuda, seketika mereka berdua pun berhenti.

“Winda, apa kau bawa kamera yang kemarin?” Tanya Rona.
“Iya bawa, sebentar.” Lalu Winda mengambil kamera dalam tansnya. “Ini.” Winda pun memberikan kamera itu pada rona. Tapi nampaknya ada sebuah benda yang jatuh tepat di hadapan gadis berkucir satu itu.
“Apa itu?” Tanya Rona.
“Haaaaaah….Sepertinya ada yang mengirim bungkus bala-bala lagi.” Kata Winda yang langsung memungut secarik kertas biru yang terlipat rapi itu. Winda pun memasukan kembali kertas itu ke dalam tasnya. “Bukan apa-apa. Memangnya kau mau memotret apa?”
“Tidak, aku hanya ingin melihat seberapa bagus hasil gambar dari kameramu.”
“Oh..”

 Kini mereka pun mengerjakan tugas mereka masing-masing. Tapi, beberapa jam bekerja dengan serius membuat gadis berkucir satu itu menjadi jenuh. Dia pun mulai memikirkan apa isi dari secarik kertas biru itu. Karena penasaran, diapun mengeluarkannya dan membacanya.

Hi, Winda.
Penampilanmu hari ini sangat simple dan menarik.
Tapi aku lebih suka penampilanmu pada saat hari pertama itu.
Coba uraikan lagi rambut panjangmu!
Pasti sangat manis.

From : X

“Memang benar-benar manis.” Kata sesorang yang berada tepat di belakang Winda.
“Kakak??” Winda pun terkejut dan segera menurunkan kertas itu.
“……….” Tak ada kata-kata yang di ucapkan Yuda, dia hanya memandanginya dengan dingin.
“Jangan menatapku seperti itu.”
“Hn….” Kata Yuda dengan singkat dan lagi-lagi Yuda pun berbaring seperti biasa biasa. “Bangunkan jika ada yang harus aku kerjakan!”
“Lagi-lagi…..”

“Winda, ini kami sudah selesai.” Kata Widiya sambil memberikan brosur itu.
“Terimakasih.”
“Hey, kakakmu itu kenapa?”
“Aku juga tidak tahu, akhir-akhir ini dia seperti itu. Mungkin dia tidak suka dengan ini.” Winda pun memberikan secarik kertas yang sering dia sebut bungkus bala-bala itu.
“Apa ini?” Widiya pun mengambilnya dan segera membaca surat itu.  “KYAAAAA ini kan….”
“Jangan berteriak-teriak seperti itu!!!” Winda pun menutup mulut Widiya.
“Maaf. Siapa itu X?”
“Aku juga tidak tahu. Dia sudah dua kali mengirimiku surat seperti ini dan lagi-lagi kak Yuda membacanya dari belakang. Jadi dia…..”
“Oh…. Aku tahu. Kemari!” Widiya pun berbaksud membisikan sesuatu pada Winda. “Pada saat istirahat tadi, aku lihat ada anak laki-laki yang mondar-mandir di depan pintu kelas kita.”
“Hah?? Apa benar, siapa?”
“Aku tidak tahu dan aku rasa kakakmu itu ……….” Widiya pun kembali membisikan seseuatu.
“A-apa?? Itu tidak mungkin… mana mungkin dia….” kata-kata Winda terpotong oleh Iqbal.
“Hey kalian, kalian ini sedang apa sih. Dari tadi bisik-bisik terus?” Tanya Iqbal.
“Bukan urusanmu. Ayo cepat teruskan!” kata Winda, lalu Widiya pun kembali membisikan sesuatu pada telinga Winda.

Sekarang sudah jam 5.30 sore, ketiga gadis itu berniat untuk pamit pulang. Tapi hari ini 8 sekawan yang ada di sana enggan untuk pulang, mereka berencana akan berbenah toko nanti malam karena barang-barang yang kemarin di pesan sudah datang, dan sisanya akan di ambil malam ini. Malam ini juga mereka berencana untuk menginap karena kebetulan besok adalah tanggal merah.

Keesokan harinya.
TIID..TIID…. Terdengat klakson mobil Yogi dari halaman rumah, tapi namaknya di toko terlihat sepi-sepi saja. Yogi pun berniat untuk melihat toko yang mereka tata kemarin dan hasilnya sangat mengejutkan. Semuanya tertata rapi, hanya saja ada beberapa kardus yang belum di bereskan di lantai. Yogi pun penasaran kenapa tak ada orang di lantai 1 padahal ini sudah hampir tengah hari. Dia pun beranjak ke lantai 2, alangkah terkejutnya dia melihat semuanya masih tidur di kasur lantai yang mereka gelar.
“Ya ampun, hey bangun! Ayo cepat bangun, sudah jam berapa ini?”
“Kakak, aku masih ngantuk…” kata Winda sambil mengucek matanya.
“Memangnya kalian membereskan semuanya sampai jam berapa?”
“Jam 2 malam.” Jawab Mahmud.
“Apa? Cepat bangu, ayo bangun. Ini sudah hampir tengah hari.” Kata Yogi dan mereka semua pun terbangun. Satu per satu dari mereka pun segera pergi mandi.

“Rona, mana model-modelnya?” Tanya Yogi.
“Model apa?” Dipa pun terkejut mendengar kata model yang di ucapkan Yogi.
“Tenang saja, sebentar lagi mereka akan datang.” Jawab Rona.
“Memangnya untuk apa?” Tanya Winda.
Ting tong…. Bell pun berbunyi dan bu Hesti pun segera membukakan pintunya,
“Nah itu mereka datang.” Kata Rona, ternyata mereka yang di maksud adalah teman-teman Winda yang kemarin.
“Selamat siang semuanya.” Kata Tias.
“Ka-kalian? Kalian modelnya?”
“Sebenarnya aku hanya tukang make up saja.”
“Iya benar, kemarin Kak Rona meminta kami untuk datang lagi. Yang mana modelnya?”
“A-apa maksudnya ini?” Tanya Winda
“Lihat dan saksikan saja. Baiklah semuanya, segera berkumpul!” kata Rona, mereka semua pun berkumpul dan mendengarkan rencana Rona untuk hari ini.
“Baik lah, sudah di putuskan. Untuk juru Maku Up dan kostum adalah Tias dan Rina, utnuk editor foto adalah Demil, untuk Couple model adalah Widiya dan Iqbal.”
“Hey, hey, hey… apa maksudnya aku?” Tanya Iqbal yang kaget dengan keputusan itu.
“Diam! Untuk model laki-lakinya adalah Rona, Dika, Dipa, Mahmud dan Yuda, Untuk model perempuan Winda dan Widiya.”
“Kakak apa kau bercanda?” Kini Winda ikut-ikutan kaget.
“Aku bilang diam! Jika diperlukan Rina dan Tias juga akan menjadi model. Untuk juru potretnya tentu saja aku. Aku sudah berpengalaman di beberapa acara di kampus.”
“Maaf, aku rasa kita harus menambah untuk couple model.” Usul Demil
“Aku rasa kau benar. Rina kau juga ikut ya, kau dipasangkan dengan Rona. Tias juga, kau dipasangkan dengan Mahmud dan terakhir Winda dipasangkan dengan Yuda.”
“Yaaaa… baiklah. Terserah padamu saja.” Kata Winda dengan pasrah. Mereka pun mulai mengerjakan tugas mereka masing masing. Saat ini Rina dan Tias lah yang paling sibuk mendandani para model dadakan tersebut.

“Winda kau sudah pakai bajumu belum?” teriak Tias.
“Iya sudah.” Jawab Winda yang sedang asik makan cemilan.
“Sekarang giliranmu, ayo cepat!”
“Yang lain saja dulu!” kelihatannya dia sedikit malas untuk didandani seperti boneka.
“Kau yang berakhir, ayo cepat!”
“Haaaaah. Iya-iya aku datang.” Winda pun beranjak dari tempatnya dan menuju ruangan yang Tias pakai sebagai tempat riasnya. Lalu Tias pun segera mendandaninya ala Barbie.

Di tempat pemotretan.
“Winda! Ayo cepat giliranmu! Kemana anak itu?” gerutu Yogi.
“Iya sebentar, aku datang.” Lalu Winda pun datang sambil menjinjing sepatu hak tingginya dan pada saat dia datang, seuanya kaget dengan apa yang mereka lihat. Gadis yang selama ini mereka kenal sangat tomboy dan enggan sekali berdandan ini kini benar-benar berubah total. “Kalian Lihat apa?”
“Kau ini anak perempuan?” Tanya Iqbal.
“Dari dulu aku ini anak perempuan.”
“Apa benar? Ya ampun…. Nona keranjang bunga, aku sekarang benar-benar bingung. Dia itu perempuan atau bukan? Jika dia perempuan kenapa dia menjinjing sepetunya seperti itu?” Tanya Iqbal pada pacarnya itu, tapi pacarnya hanya senyum-senyum saja tak mengatakan apa-apa.
“TUTUP MULUTMU ITU, ATAU AKU AKAN MELEMPARMU DENGAN CEMILAN!!!!!”
“Sudah-sudah hentikan! Cepat pakai sepatumu, sekarang giliranmu.” Kata Yogi.
“Apa kau gila? Aku tidak mau memakai sepatu yang tinggi ini. Nanti aku bisa….”
“Sudah pakai saja, ini hanya sebentar.” Apa boleh buat, jika sang tertua sudah bicara sangat susah sekali dilawan.

 Begitulah suasana pemotretan amatir itu berlangsung. Serius tapi santai dan penuh dengan candaan-candaan khas mereka. Kini sore mulai menjelang, mereka semua beristirahat dari hari melelahkan ini. Dan untuk merayakan kesuksesan hari ini, mereka menutup hari dengan sebuah makan malam yang sederhana di sana.

Keesokan harinya, saatnya membagikan pamphlet. Mereka semua membagi tugas utntuk membagikan pamphlet ini, ada yang membagikannya pada anak-anak band, para pasangan-pasangan dan murid-murid yang ada di kantin. Sementara Winda CS. membagi kannya di taman sekolah.
“Hey, sekarang giliranmu.” Kata Rina.
“Iya-iya aku tahu.” Lalu Winda pun mendekati anak laki-laki yang sedang duduk santai di kursi taman itu. “Permisi, boleh aku duduk?”
“Si-silahkan.” Anak itu pun menoleh dan memandang Winda dengan tatapan sedikit terkejut. Lalu tanpa basa-basi lagi, Winda pun segera duduk di sebelahnya.
“Kakak, maaf aku menggamnggu waktumu sebentar. Aku hanya ingin memberikan ini.” Winda pun memberikan selembar pamphlet pada anak itu dan dia pun mendemonstrasiknannya. Anak laki-laki itu terus saja menganggukan kepalanya sambil membaca kertas di hadapannya, tapi…..
“Hey, yang baju merah ini kau?”
“I-iya memangnya kenapa?”
“Aku sampai tidak mengenalinya. Sudah kubilangkan kau lebih manis jika rambutmu di urai seperti itu.”
“A-apa?” Winda pun sangat kaget mendengar apa yang dia ucapkan. “Jadi kau……”

---To Be Continued---