The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 9
Nama yang Keren dan
Berfilosofi
“Belum…. Coba
basuh lagi!” dan Iqbal pun membasuhnya lagi.
“Sekarang?”
“Mana, jangan
tutupi wajahmu terus dong, aku tidak bisa melihatnya.”
“Aku malu….”
“jangan begitu…
mana cepat….”
“Tapi….”
“Tidak… aku
bercanda. Spidolnya tidak permanen kok.” Kata Widiya sambil tertawa kecil.
“Ayo, kita pulang.”
“Kau ini, buat
ku panik saja. Ya sudah, ayo.” Dan Iqbal pun membonceng Widiya kembali,
meneruskan perjalanan mereka menuju rumah sang Nona.
Sementara itu
di pihak lain, tepatnya di rumah Dipa. Rupanya mereka sedang bersiap-siap untuk
santap siang, mereka duduk dengan posisi belingkar di karper itu. Tapi
kelihatannya mereka hanya memandangi makanan yang dimasak Bu Hesti.
“Hey, kapan
kita mulai makan siang ini? Aku sudah lapar sekali.” Kata Dika yang dari tadi
terus-menerus menelan ludahnya itu.
“Sabarlah
sedikit, mungkin dia sedang dalam perjalanan pulang.” Kata Rona dengan tampang
sok tenang. ‘Aku jiga lapar, tau..’ gumam Rona.
“Sabar katamu,
kita sudah menunggunya hampir setengah jam.”
“Ya sudah, kita
makan duluan saja, tapi kita pisahkan dulu nasi dan lauk untuknya. Aku rasa itu
cukup adil.” Kata Dipa sambil mulai mengambilkan nasi untuk Iqbal.
“Kenapa tidak
dari tadi saja, kalau begitu mari kita makan…” ucap Dika dengan semangat dan
merekapun mulai santap siang bersama.
Selang tak
beberapa lama Iqbal pun datang, dia melihat semuanya sedang makan siang, tapi
dia tak melihat ada bagian tersisa untuknya.
“Hey, dari mana
kau lama sekali?” Tanya Demil.
“Mana
bagianku?” kata Iqbal tanpa basa-basi.
“Sudah habis,
habisnya kau lama sekali.”
“Apa, sudah
habis??? (-_-) Teganya kalian.”
“Hanya tersisa
nasi saja, kau masak sendiri sendiri saja. Aku rasa di dapur masih ada telur
yang tersisa.” Kata Dipa dengan wajah yang tampa beban itu.
“Loh kak,
bukannya tadi….” Kata Winda yang terpotong oleh Dipa.
“Tadi sayuran
sudah habis, tinggal telur saja.” Katanya sambil memberikan isyarat.
“O-oh begitu
ya….”
“Ya sudah kalau
begitu, aku masak sendiri saja. Kalian begitu tega paadaku yang sedang
kelaparan ini..” Iqbal pun beranjak ke dapur dengan sedikit kesal pada
teman-temannya yang dia kira tidak solid itu.
“Lebay kau.”
Ucap Mahmud dengan datar. Tak lama mereka pun selesai makan dan bu Hesti segera
membereskan semua piringnya kecuali piring Iqbal yang disembunyikan oleh Dipa.
“Aku kenyang,
aku ingin tidur sebentar. Tolong bangunkan jika ada yang harus aku kerjakan
ya.” Kata dika yang mulai berbaring di karpet.
“Kau ini, tidur
saja kerjamu. Nanti lama-lama perutmu itu buncit tau.” Kata yuda yang juga ikut
berbaring.
“Biar saja,
lalu kenapa kau ikut-ikutan tidur seperti itu?”
“Aku ingin
memejamkan mataku sebentar.”
“Kalian berdua
sama saja…” kata demil. “Dipa, aku pinjam komputermu. Aku ingin melihat
dekorasi toko dan harga pasaran yang saat ini.” Dia pun mulai memakai
kacamatanya
“Ya, pakai
saja.” Jawab Dipa dan Demil mulai menyalakan computer yang ada di depannya itu.
Sebenarnya Demil lebih tertarik dengan hal-hal yang berbau teknologi terkini,
jadi wajar saja saat ini dia memakai kaca mata. Setiap hari yang dia hadapi itu
hanya monitor computer.
“Hey, mana nasi
yang tadi?” Tanya Iqbal yang tiba-tiba saja datang dengan membawa telur dadar
di piringnya.
“Sudah
dihabiskan oleh Dika.” Jawab Dipa.
“A-apa? Lalu aku
makan dengan apa?”
“Ya dengan
piring dan sendok. Memangnya kau mau makan dengan daun?”
“KALIAAAAANN…..
Ya sudah kalau begitu, aku tidak jadi makan siang saja. Winda, mana cemilan
yang kau beli di sekolah?”
“A-anu. Tadi dimakan
oleh Kak Mahmud semuanya.” Jawab Winda sambil menahan tertawa.
“AAPAAAA??!!”
Kini Iqbal mulai terduduk pasrah. “Aku lapar sekali, baik lah tak ada jalan
lain lagi. Aku makan saja telur dadar ini. Awas kalian…..” kata Iqbal sambil
mulai mengigit telur dadarnya, kini telur dadar itu telah habis di makan oleh
Iqbal, tapi tiba-tiba saja Dipa menaruh piring berisi nasi dan lauk di dipan
Iqbal.
“Ini, untukmu.
” Kata dipa dengan dingin.
“KAU!! Apa
ini?”
“Tentu saja ini
nasi, memangnya ini apa? Tadi aku sembunyikan agar tidak ada yang memakannya.”
“………” kini
Iqbal memandangi dipa dengan sangat sinis.
“Kenapa diam
saja, kau mau memakannya atau tidak?”
“…………….”
Lagi-lagi Iqbal tak menjawab.
“Ya sudah kalau
begitu, aku akan membuangnnya saja….” Dipa pun berniat mengambil piring itu.
Tapi……
“Yaa…..
yayaya…. Aku makan, aku makan sekarang. Kau puas!”
“Nah begitu,
itu kan lebih baik.” Kata dipa sambil menepuk bahu Iqbal.
‘tak apa lah,
yang penting saat ini aku tidak kelaparan. MENYEBALKAN…….’ Gumam Iqbal sambil
menyuapkan nasi ke mulutnya.
Ya, begitulah
cara delapan sekawan ini bercana. Siapa saja akan bisa menjadi korban dan
pelaku, merek tidak akan berhenti menjahili si korban bila si korban itu belum
benar-benar merasa tersiksa. Tapi sayangnya kejahilan mereka hari ini harus
berakhir sampai di sini.
“Hey, kakak.
Aku pulang dulu ya.” Kata Winda yang mulai menggendong tas birunya itu.
“Pulang? Masih
jam 4 sore kenapa buru-buru sekali?” Tanya Dipa.
“Justru itu aku
ingin pulang.”
“mengerjakan
tugas bagianmu saja belum.”
“Tugas, tugas
apa?”
“Buat pamphlet
untuk toko kita.”
“Pamphlet?
Kenapa baru beri tahu sekarang?”
“Aku lupa…”
kata Dipa dengan datar.
“LUPA
KATAMU???”
“Tapi, bagai
mana kita mau buat pamphlet nama toko saja kita belum punya.” Kata Dika yang
sepertinya mengigau itu.
“Diam kau, teruskan
saja tidurmu sana!” kata Dipa yang sedikit terganggu dengan igauan Dika.
“Benar juga,
bagai mana kalau namanya Fire Boy saja?” kata Mahmud.
“Tapi kan aku
ini perempuan.” Ucap Winda.
“Oh, kau ini
perempuan ya. Aku baru tahu…” ejek Iqbal.
“Diam kau!”
“Lion King?”
Mahmud pun member saran lagi.
“Tidak.
Memangnya tempai ini hutan belantara apa?” kata dipa.
“Dragon Shop?”
“Tidak.”
“Blue Dragon?”
“Tidak. kita
tidak menjual naga.”
“Fire Moon?”
“Tidak.”
“Sailormoon?”
“Tidak… a-apa?”
(0_o)
“Lalu apa?”
“Apa kalian punya
suatu nama yang keren dan bisa memfilosofikan kita semua?”
“Bagai mana
kalau Nine-Tailed Fox. Aku rasa cukup
keren, kita semua kan ada Sembilan orang dan menrurt artikel-artikel yang aku
baca ini rubah ekor Sembilan itu sangat legensaris di beberapa negera.” Kata
demil sambil terus memandangi layar monitor di depannya.
“Ya, cukup
keren dan terdengar legendaris juga.” Kata Rona.
“Apa hanya Nine-Tailed Fox saja, apa tak ada
keterangan lain lagi?” Tanya Winda.
“Aku rasa
sedikit menambahkan The Shop akan memberikan
keterangan.”Kata Iqbal.
“The Shop Nine-Tailed Fox, ya aku rasa
aku setuju.” Kata Dipa.
“Aku juga, dari
pada nama tokonya seperti anime itu nanti bisa-bisa aku harus di kucir dua.” Kata
Iqbal sambil memperagakan kucirnya itu.
“Ya, aku rasa
kita semua akan setuju dengan nama dan filosofinya.” Kata Winda.
“Setuju apa?”
Tanya Yuda yang tiba-tiba saja bangun.
“Lanjutkan saja
tidurmu..! baiklah, nanti aku akan membuat pamlpletnya di rumah. Aku pulang
dulu semuanya….” Kata Winda yang mulai menuruni anak tangga itu.
Keesokan
harinya……
“Bu, aku
berangkat ya….” Kata Winda sambil mencium tangannya.
“Ya, kenapa
bibirmu?” Tanya Ibunya yang keheranan mendapati ujung bibir anaknya memerah.
“A-anu. Kemarin
aku terbentur pegangan pintu toilet sekolah bu, hehehe. Aku berangkat dulu ya,
daaah…” Winda pun melambaikan tangannya dan berlari-lari kecil menuju mobil
kakaknya itu. Dia pun masuk ke dalamnya.
“Kau habis
berkelahi kan?” Tanya Yogi yang tanpa basa-basi dan busu itu.
“Ti-tidak….”
“Jangan
bohong…..”
“Kakak tahu
dari mana?”
“Memangnya
sudah berapa lama aku jadi kakakmu? sangat tidak masuk akal sekali jika kau
berbentur pegangan pintu toilet.”
TIID….TIIID…
Yogi pun menyalakan kelakson mobilnya dan mobilnya pun mulai melaju.
“Jangan bilang
Ayah dan Ibu ya!”
“Ya, tapi aku
tidak janji.”
“Uuh, selalu
begitu….”
“Memangnya
kemarin kau berkelahi dengan siapa?”
“Dengan kakak
kelas yang centil dan menyebalkan.”
“A-apa, kakak
kelas? Memangnya kau berkelahi gara-gara apa?”
“Karena mereka
telah menyekiti pacarnya kak Iqbal.”
“Memangnya apa
hubungannya denganmu, sampai-sampai kau berani berkelahi demi dia.”
“Dia itu
temanku, kak. Mereka telah membuat keningnya berdarah. Apa aku harus menonton
saja? Kakak juga pasti akan melakukan hal yang sama kan, jika aku diposisinya.”
“Hn…. Lalu
Iqbal?”
“Dia dan yang
lain memisahkan kami.”
“Ya, baiklah
kalau begitu. Jika nanti kau dipanggil oleh kesiswaan biar Ayah atau Ibu yang
akan datang.”
“Aah, kakak..
jangan begitu….. kau tega sekali…..” kini Winda mulai kesal dengan kakanya yang
sama sekali kurang mendukung aksinya itu. Tak berapa lama, mereka telah sampai
di sekolah Winda. Winda pun segera turun dari mobil itu.
“Hey, tunggu
dulu.” Kata Yogi sambil membuka kaca mobilnya.
“Apa?”
“Kau masih
marah?”
“Hn…”
“Bilang pada
semuanya nanti sore, mungkin sekitar jam 3 aku akan datang ke rumah Dipa.
Sekalian aku bawa baju gantimu dan juga aku akan bawa beberapa contoh barang dan
beberapa brosur tempat nanti kita akan memesan stok barang kita.”
“Ya.. aku
mengerti.” Winda pun mulai membalikan badannya.
“Eh.. satu
lagi…”
“Apaaaa….”
“Jangan
bekelahi lagi, kau tu anak perempuan.”
“Iya…iya.. aku
tahu..” dan Winda pun masuk ke sekahnya itu dan Yogi juga beranjak dari sana.
Dihari ke dua
gadis itu sekolah, rasanya jam-jam pelajaran pun cepat berlalu. Dan seperti hari
pertamanya sekolah, dia dan yang lainnya kembali berkumpul di rumah dipa yang
sebentar lagi akan disulap menjadi sebuah toko.
“Kakak, ini aku
sudah membuatnya. Kau tinggal memeriksanya dan memprintnya.” Kata Winda dan
diapun menyerahkan sebuah flashdisk pada Dipa.
“Ya,
terimakasih.” Kata Dipa. “Demil, periksa ini.”
“Yo.. oh ya.
Dika kemari sebentar..!”
“Ada apa?”
Tanya Dika.
“Aku telah
memprint beberapa contoh dekor toko. Sekarang giliranmu, kau tinggal memilih
dan menyesuaikannya dengan tempat ini.”
“Baiklah…. Tapi
kenapa kau menyerahkan ini padaku?”
“Aku rasa kau
berbakat jadi pendekor ruangan. Ingat waktu kita mendekor gudang panti?”
“Ou yeah..
hhaha setidaknya gudang itu menjadi sebuah ruangan yang berguna kan sekarang.”
Kata Dika yang sangat bangga sekali mendengar perkataan Demil. Jika dilihat
bakat Dika mendekor ruangan memang lebih menonjol dari pada yang lain yang
dapat dibuktikan pada saat mereka masih tinggal tersembunyi panti. Tak sengaja
9 sekawan ini menemukan ruangan kosong tersembunyi di lingkungan panti. Mereka
berinisiatif untuk menyulap ruangan kosong itu menjadi sebuah markas yang tidak
diketahui oleh siapa pun, walau akhirnya ketahuan juga oleh Bunda Tika. Di
dalam ruangan itu terdapat sebuah karpet tua, lemari tua, kursi-kursi yang rusak
dan beberapa barang buangan lain. Karena waktu itu mereka mempunyai keinginan
yang kuat untuk mempunyai sebuah markas rahasia, mereka mulai membersihkan
barang-barang yang masih layak pakai dan memperbaiki benda-benda yang masih
mereka bisa perbaiki. Dan saat itulah Dika menuangkan kreatifitasnya dalam
sebua kertas, lalu mereka semua kagum dengan hasil seni Dika. Kemudian mereka
mulai mengerjakan semuanya hingga markas rahasia mereka menjadi kenyataan.
TID…TIIID….
“Itu kakakku…”
Lalu gadi itu pun segera turun ke lantai 1 dan memantu kakanya membawa beberap
barang. “Hey lihat aku bawa apa?”
“Apa itu…?”
Tanya Mahmud.
“Cemilaaaan……”
jawab gadis itu sambil menurunkan cemilan-cemilan itu.
“Lalu kakamu
mana?”
“Sedang bawa
barang-barang, nanti juga dia akan ke sini.”
“Hey semuanya,
apa kabar?” sapa Yogi yang baru saja datang.
“Tentu saja
baik. Kenapa baru kali ini kau mampir?” kata Dipa.
“Maaf
akhir-akhir ini aku sibuk.”
“Oh, begitu ya.
Apa itu yang kau bawa?”
“Contoh
barang-barang dan beberapa brosur. Mungkin nanti kita bisa mengambil stok
barang dari sini.
“Wah mana?
Mana, coba aku lihat!” kata Rona yang terlihat antusias melihat barng-barang
yang dibawa oleh Yogi. Ternyata si kakak cool ini cukup berbakat juga ya kalau
masalah fashion.
“Ini.. Winda,
coba lihat aksesoris dan baju-baju anak perempuan ini. Kau yang bertugas untuk
memilihnya.”
“HAAAHH…. Aku??
Aku tidak berbakat masalah itu.” Jawab Winda.
“Lalu ini
bagaimana?”
“Besok saja.
Nanti aku bawa beberapa temanku.”
“Temanmu?”
Tanya Iqbal dengan nada bahasa yang kaget.
“Memangnya
kenapa?? Oh aku tahu, tenang saja pasti Widiya aku ajak.”
“Aaah kalau
Widiya, serahkan saja padaku.”
“Serahkan saja
padamu? Jangan-jangan dia,,,, dia sudah jadi pacarmu ya…? Wahahahaha”
“Heh… pelankan
suara mu itu!!”
“Aku menunggu traktirannya
besok ya…. Hahaha”
“Haaaah Kalian
ini makan saja yang ada di otak kalian. Winda aku pinjam pulpenmu, aku mau
menandai beberapa barang yang akan kita ambil dari agen-agen ini.” Kata Yogi.
“Ya… sebentar.”
Winda pun mengambil kotak pensil yang ada di tasnya dan membuka kotak pensil
itu, tapi dia mendapati secarik kertas biru di dalamnya. ‘kertas apa ini?
Rasanya aku tidak pernah memasukan kertas apa pun dalam kotak pensilku.’ Gumam
Winda.
“Hey, mana
pulpennya??”
“Iya,
ini.”Winda pun memberikan pulpen itu pada Yogi. Karena penasaran, lalu dia pun
membuka kertas biru yang terlipat rapi di dalam kotak pensilnya. ‘ada
tulisannya.’ Dan inilah tulisan singkat dalam kertas itu
Hi, Winda. Namamu
Winda kan?
Kemarin kau sangat
SADIS sekali,
Menghajar kakak kelas
Sampai babak belur
begitu.
Tapi kau tidak apa-apa
kan? ya mudah-mudahan saja tidak.
From : X
“Siapa X itu?”
Tanya Yuda, ternyata dia juga ikut membaca surat itu dari belakang Winda.
“A-anu…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar