Minggu, 14 Juli 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 9"



The Shop Nine-Tailed Fox

Chapter 9
Nama yang Keren dan Berfilosofi

“Belum…. Coba basuh lagi!” dan Iqbal pun membasuhnya lagi.
“Sekarang?”
“Mana, jangan tutupi wajahmu terus dong, aku tidak bisa melihatnya.”
“Aku malu….”
“jangan begitu… mana cepat….”
“Tapi….”
“Tidak… aku bercanda. Spidolnya tidak permanen kok.” Kata Widiya sambil tertawa kecil. “Ayo, kita pulang.”
“Kau ini, buat ku panik saja. Ya sudah, ayo.” Dan Iqbal pun membonceng Widiya kembali, meneruskan perjalanan mereka menuju rumah sang Nona.
Sementara itu di pihak lain, tepatnya di rumah Dipa. Rupanya mereka sedang bersiap-siap untuk santap siang, mereka duduk dengan posisi belingkar di karper itu. Tapi kelihatannya mereka hanya memandangi makanan yang dimasak Bu Hesti.
“Hey, kapan kita mulai makan siang ini? Aku sudah lapar sekali.” Kata Dika yang dari tadi terus-menerus menelan ludahnya itu.
“Sabarlah sedikit, mungkin dia sedang dalam perjalanan pulang.” Kata Rona dengan tampang sok tenang. ‘Aku jiga lapar, tau..’ gumam Rona.
“Sabar katamu, kita sudah menunggunya hampir setengah jam.”
“Ya sudah, kita makan duluan saja, tapi kita pisahkan dulu nasi dan lauk untuknya. Aku rasa itu cukup adil.” Kata Dipa sambil mulai mengambilkan nasi untuk Iqbal.
“Kenapa tidak dari tadi saja, kalau begitu mari kita makan…” ucap Dika dengan semangat dan merekapun mulai santap siang bersama.
Selang tak beberapa lama Iqbal pun datang, dia melihat semuanya sedang makan siang, tapi dia tak melihat ada bagian tersisa untuknya.
“Hey, dari mana kau lama sekali?” Tanya Demil.
“Mana bagianku?” kata Iqbal tanpa basa-basi.
“Sudah habis, habisnya kau lama sekali.”
“Apa, sudah habis??? (-_-)  Teganya kalian.”
“Hanya tersisa nasi saja, kau masak sendiri sendiri saja. Aku rasa di dapur masih ada telur yang tersisa.” Kata Dipa dengan wajah yang tampa beban itu.
“Loh kak, bukannya tadi….” Kata Winda yang terpotong oleh Dipa.
“Tadi sayuran sudah habis, tinggal telur saja.” Katanya sambil memberikan isyarat.
“O-oh begitu ya….”
“Ya sudah kalau begitu, aku masak sendiri saja. Kalian begitu tega paadaku yang sedang kelaparan ini..” Iqbal pun beranjak ke dapur dengan sedikit kesal pada teman-temannya yang dia kira tidak solid itu.
“Lebay kau.” Ucap Mahmud dengan datar. Tak lama mereka pun selesai makan dan bu Hesti segera membereskan semua piringnya kecuali piring Iqbal yang disembunyikan oleh Dipa.
“Aku kenyang, aku ingin tidur sebentar. Tolong bangunkan jika ada yang harus aku kerjakan ya.” Kata dika yang mulai berbaring di karpet.
“Kau ini, tidur saja kerjamu. Nanti lama-lama perutmu itu buncit tau.” Kata yuda yang juga ikut berbaring.
“Biar saja, lalu kenapa kau ikut-ikutan tidur seperti itu?”
“Aku ingin memejamkan mataku sebentar.”
“Kalian berdua sama saja…” kata demil. “Dipa, aku pinjam komputermu. Aku ingin melihat dekorasi toko dan harga pasaran yang saat ini.” Dia pun mulai memakai kacamatanya
“Ya, pakai saja.” Jawab Dipa dan Demil mulai menyalakan computer yang ada di depannya itu. Sebenarnya Demil lebih tertarik dengan hal-hal yang berbau teknologi terkini, jadi wajar saja saat ini dia memakai kaca mata. Setiap hari yang dia hadapi itu hanya monitor computer.

“Hey, mana nasi yang tadi?” Tanya Iqbal yang tiba-tiba saja datang dengan membawa telur dadar di piringnya.
“Sudah dihabiskan oleh Dika.” Jawab Dipa.
“A-apa? Lalu aku makan dengan apa?”
“Ya dengan piring dan sendok. Memangnya kau mau makan dengan daun?”
“KALIAAAAANN….. Ya sudah kalau begitu, aku tidak jadi makan siang saja. Winda, mana cemilan yang kau beli di sekolah?”
“A-anu. Tadi dimakan oleh Kak Mahmud semuanya.” Jawab Winda sambil menahan tertawa.
“AAPAAAA??!!” Kini Iqbal mulai terduduk pasrah. “Aku lapar sekali, baik lah tak ada jalan lain lagi. Aku makan saja telur dadar ini. Awas kalian…..” kata Iqbal sambil mulai mengigit telur dadarnya, kini telur dadar itu telah habis di makan oleh Iqbal, tapi tiba-tiba saja Dipa menaruh piring berisi nasi dan lauk di dipan Iqbal.
“Ini, untukmu. ” Kata dipa dengan dingin.
“KAU!! Apa ini?”
“Tentu saja ini nasi, memangnya ini apa? Tadi aku sembunyikan agar tidak ada yang memakannya.”
“………” kini Iqbal memandangi dipa dengan sangat sinis.
“Kenapa diam saja, kau mau memakannya atau tidak?”
“…………….” Lagi-lagi Iqbal tak menjawab.
“Ya sudah kalau begitu, aku akan membuangnnya saja….” Dipa pun berniat mengambil piring itu. Tapi……
“Yaa….. yayaya…. Aku makan, aku makan sekarang. Kau puas!”
“Nah begitu, itu kan lebih baik.” Kata dipa sambil menepuk bahu Iqbal.
‘tak apa lah, yang penting saat ini aku tidak kelaparan. MENYEBALKAN…….’ Gumam Iqbal sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
Ya, begitulah cara delapan sekawan ini bercana. Siapa saja akan bisa menjadi korban dan pelaku, merek tidak akan berhenti menjahili si korban bila si korban itu belum benar-benar merasa tersiksa. Tapi sayangnya kejahilan mereka hari ini harus berakhir sampai di sini.
“Hey, kakak. Aku pulang dulu ya.” Kata Winda yang mulai menggendong tas birunya itu.
“Pulang? Masih jam 4 sore kenapa buru-buru sekali?” Tanya Dipa.
“Justru itu aku ingin pulang.”
“mengerjakan tugas bagianmu saja belum.”
“Tugas, tugas apa?”
“Buat pamphlet untuk toko kita.”
“Pamphlet? Kenapa baru beri tahu sekarang?”
“Aku lupa…” kata Dipa dengan datar.
“LUPA KATAMU???”
“Tapi, bagai mana kita mau buat pamphlet nama toko saja kita belum punya.” Kata Dika yang sepertinya mengigau itu.
“Diam kau, teruskan saja tidurmu sana!” kata Dipa yang sedikit terganggu dengan igauan Dika.
“Benar juga, bagai mana kalau namanya Fire Boy saja?” kata Mahmud.
“Tapi kan aku ini perempuan.” Ucap Winda.
“Oh, kau ini perempuan ya. Aku baru tahu…” ejek Iqbal.
“Diam kau!”
“Lion King?” Mahmud pun member saran lagi.
“Tidak. Memangnya tempai ini hutan belantara apa?” kata dipa.
“Dragon Shop?”
“Tidak.”
“Blue Dragon?”
“Tidak. kita tidak menjual naga.”
“Fire Moon?”
“Tidak.”
“Sailormoon?”
“Tidak… a-apa?” (0_o)
“Lalu apa?”
“Apa kalian punya suatu nama yang keren dan bisa memfilosofikan kita semua?”
“Bagai mana kalau Nine-Tailed Fox. Aku rasa cukup keren, kita semua kan ada Sembilan orang dan menrurt artikel-artikel yang aku baca ini rubah ekor Sembilan itu sangat legensaris di beberapa negera.” Kata demil sambil terus memandangi layar monitor di depannya.
“Ya, cukup keren dan terdengar legendaris juga.” Kata Rona.
“Apa hanya Nine-Tailed Fox saja, apa tak ada keterangan lain lagi?” Tanya Winda.
“Aku rasa sedikit menambahkan The Shop akan memberikan keterangan.”Kata Iqbal.
The Shop Nine-Tailed Fox, ya aku rasa aku setuju.” Kata Dipa.
“Aku juga, dari pada nama tokonya seperti anime itu nanti bisa-bisa aku harus di kucir dua.” Kata Iqbal sambil memperagakan kucirnya itu.
“Ya, aku rasa kita semua akan setuju dengan nama dan filosofinya.” Kata Winda.
“Setuju apa?” Tanya Yuda yang tiba-tiba saja bangun.
“Lanjutkan saja tidurmu..! baiklah, nanti aku akan membuat pamlpletnya di rumah. Aku pulang dulu semuanya….” Kata Winda yang mulai menuruni anak tangga itu.

Keesokan harinya……
“Bu, aku berangkat ya….” Kata Winda sambil mencium tangannya.
“Ya, kenapa bibirmu?” Tanya Ibunya yang keheranan mendapati ujung bibir anaknya memerah.
“A-anu. Kemarin aku terbentur pegangan pintu toilet sekolah bu, hehehe. Aku berangkat dulu ya, daaah…” Winda pun melambaikan tangannya dan berlari-lari kecil menuju mobil kakaknya itu. Dia pun masuk ke dalamnya.
“Kau habis berkelahi kan?” Tanya Yogi yang tanpa basa-basi dan busu itu.
“Ti-tidak….”
“Jangan bohong…..”
“Kakak tahu dari mana?”
“Memangnya sudah berapa lama aku jadi kakakmu? sangat tidak masuk akal sekali jika kau berbentur pegangan pintu toilet.”
TIID….TIIID… Yogi pun menyalakan kelakson mobilnya dan mobilnya pun mulai melaju.
“Jangan bilang Ayah dan Ibu ya!”
“Ya, tapi aku tidak janji.”
“Uuh, selalu begitu….”
“Memangnya kemarin kau berkelahi dengan siapa?”
“Dengan kakak kelas yang centil dan menyebalkan.”
“A-apa, kakak kelas? Memangnya kau berkelahi gara-gara apa?”
“Karena mereka telah menyekiti pacarnya kak Iqbal.”
“Memangnya apa hubungannya denganmu, sampai-sampai kau berani berkelahi demi dia.”
“Dia itu temanku, kak. Mereka telah membuat keningnya berdarah. Apa aku harus menonton saja? Kakak juga pasti akan melakukan hal yang sama kan, jika aku diposisinya.”
“Hn…. Lalu Iqbal?”
“Dia dan yang lain memisahkan kami.”
“Ya, baiklah kalau begitu. Jika nanti kau dipanggil oleh kesiswaan biar Ayah atau Ibu yang akan datang.”
“Aah, kakak.. jangan begitu….. kau tega sekali…..” kini Winda mulai kesal dengan kakanya yang sama sekali kurang mendukung aksinya itu. Tak berapa lama, mereka telah sampai di sekolah Winda. Winda pun segera turun dari mobil itu.
“Hey, tunggu dulu.” Kata Yogi sambil membuka kaca mobilnya.
“Apa?”
“Kau masih marah?”
“Hn…”
“Bilang pada semuanya nanti sore, mungkin sekitar jam 3 aku akan datang ke rumah Dipa. Sekalian aku bawa baju gantimu dan juga aku akan bawa beberapa contoh barang dan beberapa brosur tempat nanti kita akan memesan stok barang kita.”
“Ya.. aku mengerti.” Winda pun mulai membalikan badannya.
“Eh.. satu lagi…”
“Apaaaa….”
“Jangan bekelahi lagi, kau tu anak perempuan.”
“Iya…iya.. aku tahu..” dan Winda pun masuk ke sekahnya itu dan Yogi juga beranjak dari sana.
Dihari ke dua gadis itu sekolah, rasanya jam-jam pelajaran pun cepat berlalu. Dan seperti hari pertamanya sekolah, dia dan yang lainnya kembali berkumpul di rumah dipa yang sebentar lagi akan disulap menjadi sebuah toko.
“Kakak, ini aku sudah membuatnya. Kau tinggal memeriksanya dan memprintnya.” Kata Winda dan diapun menyerahkan sebuah flashdisk pada Dipa.
“Ya, terimakasih.” Kata Dipa. “Demil, periksa ini.”
“Yo.. oh ya. Dika kemari sebentar..!”
“Ada apa?” Tanya Dika.
“Aku telah memprint beberapa contoh dekor toko. Sekarang giliranmu, kau tinggal memilih dan menyesuaikannya dengan tempat ini.”
“Baiklah…. Tapi kenapa kau menyerahkan ini padaku?”
“Aku rasa kau berbakat jadi pendekor ruangan. Ingat waktu kita mendekor gudang panti?”
“Ou yeah.. hhaha setidaknya gudang itu menjadi sebuah ruangan yang berguna kan sekarang.” Kata Dika yang sangat bangga sekali mendengar perkataan Demil. Jika dilihat bakat Dika mendekor ruangan memang lebih menonjol dari pada yang lain yang dapat dibuktikan pada saat mereka masih tinggal tersembunyi panti. Tak sengaja 9 sekawan ini menemukan ruangan kosong tersembunyi di lingkungan panti. Mereka berinisiatif untuk menyulap ruangan kosong itu menjadi sebuah markas yang tidak diketahui oleh siapa pun, walau akhirnya ketahuan juga oleh Bunda Tika. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah karpet tua, lemari tua, kursi-kursi yang rusak dan beberapa barang buangan lain. Karena waktu itu mereka mempunyai keinginan yang kuat untuk mempunyai sebuah markas rahasia, mereka mulai membersihkan barang-barang yang masih layak pakai dan memperbaiki benda-benda yang masih mereka bisa perbaiki. Dan saat itulah Dika menuangkan kreatifitasnya dalam sebua kertas, lalu mereka semua kagum dengan hasil seni Dika. Kemudian mereka mulai mengerjakan semuanya hingga markas rahasia mereka menjadi kenyataan.
TID…TIIID….
“Itu kakakku…” Lalu gadi itu pun segera turun ke lantai 1 dan memantu kakanya membawa beberap barang. “Hey lihat aku bawa apa?”
“Apa itu…?” Tanya Mahmud.
“Cemilaaaan……” jawab gadis itu sambil menurunkan cemilan-cemilan itu.
“Lalu kakamu mana?”
“Sedang bawa barang-barang, nanti juga dia akan ke sini.”

“Hey semuanya, apa kabar?” sapa Yogi yang baru saja datang.
“Tentu saja baik. Kenapa baru kali ini kau mampir?” kata Dipa.
“Maaf akhir-akhir ini aku sibuk.”
“Oh, begitu ya. Apa itu yang kau bawa?”
“Contoh barang-barang dan beberapa brosur. Mungkin nanti kita bisa mengambil stok barang dari sini.
“Wah mana? Mana, coba aku lihat!” kata Rona yang terlihat antusias melihat barng-barang yang dibawa oleh Yogi. Ternyata si kakak cool ini cukup berbakat juga ya kalau masalah fashion.
“Ini.. Winda, coba lihat aksesoris dan baju-baju anak perempuan ini. Kau yang bertugas untuk memilihnya.”
“HAAAHH…. Aku?? Aku tidak berbakat masalah itu.” Jawab Winda.
“Lalu ini bagaimana?”
“Besok saja. Nanti aku bawa beberapa temanku.”
“Temanmu?” Tanya Iqbal dengan nada bahasa yang kaget.
“Memangnya kenapa?? Oh aku tahu, tenang saja pasti Widiya aku ajak.”
“Aaah kalau Widiya, serahkan saja padaku.”
“Serahkan saja padamu? Jangan-jangan dia,,,, dia sudah jadi pacarmu ya…? Wahahahaha”
“Heh… pelankan suara mu itu!!”
“Aku menunggu traktirannya besok ya…. Hahaha”
“Haaaah Kalian ini makan saja yang ada di otak kalian. Winda aku pinjam pulpenmu, aku mau menandai beberapa barang yang akan kita ambil dari agen-agen ini.” Kata Yogi.
“Ya… sebentar.” Winda pun mengambil kotak pensil yang ada di tasnya dan membuka kotak pensil itu, tapi dia mendapati secarik kertas biru di dalamnya. ‘kertas apa ini? Rasanya aku tidak pernah memasukan kertas apa pun dalam kotak pensilku.’ Gumam Winda.
“Hey, mana pulpennya??”
“Iya, ini.”Winda pun memberikan pulpen itu pada Yogi. Karena penasaran, lalu dia pun membuka kertas biru yang terlipat rapi di dalam kotak pensilnya. ‘ada tulisannya.’ Dan inilah tulisan singkat dalam kertas itu

Hi, Winda. Namamu Winda kan?
Kemarin kau sangat SADIS  sekali,
Menghajar kakak kelas
Sampai babak belur begitu.

Tapi kau tidak apa-apa kan? ya mudah-mudahan saja tidak.

From : X

“Siapa X itu?” Tanya Yuda, ternyata dia juga ikut membaca surat itu  dari belakang Winda.
“A-anu…”

---To Be Continued---



Tidak ada komentar:

Posting Komentar