The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 7
Bukan Dia, Tapi Aku
“Kurang ajar,
ternyata ada yang ingin merebut Iqbal dari ku.” Kata gadis itu dengan kesal.
Dia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke luar.
“Hey, kau mau
ke mana?” Tanya teman sebangkunya itu, tapi sepertinya tidak digubris sama
sekali. “Hey kau, hey!!”
“Apa yang dia
lakukan?” Tanya Annisa.
“Aku rasa dia
akan suatu hal yang konyol.” Jawab Mila.
“Ayo cepat kita
hentikan dia!” lalu mereka berdua pun beranjak dari temat mereka dan mengejar
Latifah.
“Hey apa yang
akan kau lakukan?” kata Mila sambil menarik tangan Latifah yang hampir berhasil
keluar kelas.
“Lepaskan aku!”
kata latifah.
“Dengar, jangan
kau kejar mereka. Jika kau kejar mereka, kau sama saja mempermalukan dirimu
sendiri. Mau ditaruh di mana muka mu nanti?” kata Annisa, ternyata kata-kata Annisa
tadi bisa membuat Latifah diam.
“Jika aku jadi
kau, aku akan melakukan ini.” Lalu Mila pun membisikan sesuatu pada Latifah,
lalu latifah pun tersenyum mendengar sesuatu yang dibisikan Mila itu.
“Ya, kau benar
juga. Kita lakukan nanti pada saat pulang sekolah.” Kata Latifah.
“Hey, apa yang
kalian bicarakan?” Tanya Annisa.
“Nanti kau juga
akan tahu.” Jawab Mila.
“Ah, tidak
bisa. Aku juga harus tahu apa yang akan kita lakukan.”
“Haaah, kau
ini. Ya sudah, sini!” lalu Mila pun membisikan suatu hal yang sama pada Annisa.
“Kau mengerti kan?”
“Iya baik lah.
Aku mengerti.”
Sementara itu
dipihak lain, Iqbal dan Widiya kini telah sampi di depan pintu Kelas X-1,
nampaknya mereka masih ingin lama- lama mengobrol.
“Oh iya,
sepertinya kita sudah sampai di kelasmu.” Kata Iqbal.
“Iya, em kak
aku mau bertanya sesuatu.” Kata Widiya.
“Apa?”
“Tadi pagi, kau
berterimakasih untuk apa?”
“Oh itu, aku
berterimakasih karena bantuan mu bunga mawar itu telah mekar dengan sangat
cantik.”
“Benarkah?
Rasanya aku tidak melakukan apa-apa?”
“Tentu saja kau
melakukannya, kau mengajariku bagaimana merawat tanaman dengan baik.”
“Seberarti
itukah saran dariku waktu itu?”
“Ya, tentu
saja.” Kata Iqbal. Setelah itu tak ada kata-kata yang keluar dari dari mulut
mereka. Mereka hanya saling bertatapan satu sama lain. Entah apa yang mereka
pikirkan, tapi sepertinya mereka sangat menikmati saat-saat seperti ini.
“Bunganya
sangat cantik ya?” Tiba-tiba saja terdengar suara itu.
“Iya.” Kata
Iqbal dengan setengah sadar.
“Jika dibandingkan dengannya lebih cantik mana,
Widiya atau bunganya?”
“Tentu saja
lebih cantik Wid….” Kata Iqbal yang tiba-tiba saja sadar dengan apa yang akan
dia ucapkan. “Kau… kau menguping pembicaraan kami ya?” Kini mereka berdua
benar-benar sadar, dan wajah mereka berubah menjadi merah.
“Ya, bisa
dibilang begitu.” Kata Winda yang tiba-tiba saja muncul dari pintu kelas X-1. “Jadi
lebih cantik Widiya yah?”
“Diam kau!”
“Hey, Nona
Keranjang Bunga. Kau tadi dengar itu kan?”
“A-aku.. aku….”
Kini Widiya benar-benar bingung akan bicara apa.
“AWAS KAU…..” Iqbal
benar-benar merasa malu, dan dia pun berniat membalas Winda dengan suatu jitakan
di kepalanya.
“WAHAHAHAHHAAAAAAA……”
teriak Winda. Kini Winda berlari menjauh dari sana.
“JANGAN LARI
KAU, HEY!!” Iqbal pun mengejar Winda yang sudah lari lebih dulu, sedangkan
Widiya hanya tersenyum melihat mereka berkejar-kejaran. Tapi tak berapa lama
mereka berkejaran, Winda pun berhasil dia tangkap dan Iqbal pun membawanya
kembali dengan posisi tangannya mengunci leher Winda.
“Akhirnya ku
tangkap juga kau. Hey Nona, kau ingin tahu apa balasannya orang yang suka
menguping pembicaraan orang lain? Kau lihat ini ya!” kata Iqbal, tapi Widiya
hanya tersenyum merespon kata-kata dari Iqbal. “Yang pertama ini, karena kau
telah berani menguping.” Iqbal pun menyentil telinga Winda.
“Aaw.” Kata
winda yang merasakan sakitnya disentil.
“Yang kedua
ini, karena kau telah bertingkah yang menyebalkan.” Iqbal pun menjitak kepala
Winda.
“Aw, Kak
Iqbal…. Ampun..!”
“Ampun? Enak
saja kau bilang. Yang ketiga, kau telah berkata sembarangan tadi.” Sekarang
Iqbal menyentil hidung Winda.
“Aw… hey, yang
salah itu kan mulutku. Kenapa kau menyentil hidungku?”
“Lalu kau mau
aku apakan mulutmu itu? Oh, aku tahu sekarang. Nona, aku pinjam satu bukumu.!”
Lalu Iqbal mengambil salah satu buku dari tangan Widiya.
“Apa yang akan
kau lakukan?”
“Kau mau tahu
apa yang akan aku lakukan? Baiklah, ini dia…” Iqbal pun mendaratkan buku itu
tepat di muka Winda dan menekan kannya beberapa detik.
“Em….KAK
IQBAL……..” kini winda berteriak dan dia pun melakukan perlawanan. Dia menginjak
kaki Iqbal dan menjambak rambutnya dengan salah satu tangan yang masih bebas.
“AW….AAAWW..!!”
Teriak Iqbal, lalu dia pun melepaskan tangannya dan Winda pun berhasil bebas.
Lalu Winda berlari ke dalam kelas. “Awas kau nanti.!!”
“Kau tidak
apa-apa kan kak?” Tanya Widiya.
“Tidak, aku
tidak apa-apa?” Jawab Iqbal.
“Jelas saja dia
tidak apa-apa, tapi aku yang kenapa-kenapa…” Kata Winda dari dalam kelas.
“Awas kau….!”
Ancam Iqbal.
“Sudah-sudah,
jangan di dengarkan.” Kata Widiya.
“Iya,
sepertinya sebentar lagi bell masuk berbunyi. Sebaiknya aku kembali ke kelas.”
“Iya..” jawab
Widiya. Lalu Iqbal pun kembali ke kelasnya sambil mengelus-elus kepalanya, dan
Widiya juga masuk ke kelasnya.
Beberapa jam kemudian…….
TEEEEETTT…….
Bunyi bell pulang.
“Baiklah,
sampai di sini perjumpaan kita kali ini. Selamat siang.” Kata guru B.Iindonesia
itu. Lalu anak-anak pun segera membereskan buku-buku mereka.
“Hey, aku
duluan yah.” Kata Tias.
“Aku juga.”
Susul Rina.
“Iya.” Jawab
Widiya. “ Win, apa kau mau pulang bersamaku.?”
“Em, bagaimana
ya. Sepertinya tidak bisa, aku di tunggu kakak-kakakku di gerbang belakang.”
“Oh, kalau
begitu kita ke sana bersama saja.”
“Maaf, bukannya
tidak mau. Tapi mereka menyuruhku membeli makanan dulu di kantin. Maaf ya..”
“Beguitu ya, ya
sudah kalau begitu. Aku duluan ya.” Kata Widiya sambil beranjak meninggalkan
kelas.
“Iya.” Kata
winda yang saat ini masih sibuk membereskan buku-bukunya. “Akhirnya beres juga,
sebaiknya aku segera ke kantin saja.” Winda pun beranjak ke kantin sekolah
dengan agak terburu-buru.
Sementara itu
dihak lain, nampaknya 3 sekawan yang suka membuat masalah ini sudah bersiap di
gerbang belakang. Namaknya mereka sedang menunggu seseorang dan kini seseorang
yang mereka tunggu telah datang.
“Mau ke mana
kau?” kata Mila yang kini menghalangi langkah gadis itu.
“Maaf kak, saya
mau lewat.” Widiya pun menggeserkan langkahnya.
“Enak saja kau
mau lewat.”
“Tapi saya…”
“Tapi-tapi…
tapi apa?” kata Annisa.
“Hey kau, tadi kau
kan yang berpura-pura menjatukan bukumu agar Iqbal mau mengambilkan bukumu?”
Tanya Latifah dengan nada yang sinis.
“Maaf, tapi
tadi buku saya memang benar-benar terjatuh.”
“Alah,,,,
jangan bohong kau! Sini kau!!” Lalu Latifah menarik tangannya dan memokokkannya
di tembok. “KAU TADI SENGAJA KAN MENJATUHKAN BUKU MU?” Bentak Latifah.
“Kak, saya ini
tersenggol Kak Iqbal. Saya sama sekali tidak sengaja menjatuhkan buku saya.”
Kata Widiya yang membela dirinya.
“Jangan
mengada-ada kau! Tampang segini saja mana mungkin Iqbal mau menyenggolmu.” Kata
Annisa.
“AKU
BENAR-BENAR TERSENGGOL OLEH KAK IQBAL…!”
Plaaak…
Tamparan yang
lumayan keras itu sangat mengerjutkan Widiya.
“Kau menantang
kami, HAH?! BERTERIAK-TERIAK DI DEPAN KAMI” kata Mila yang tadi menamparnya.
Kini mata Widiya mulai berari dan tangannya mulai meraba pipinya yang sakit.
“Dasar cengeng
kau! JANGAN-JANGAN KAU INGIN MEREBUT IQBAL DARI KU, IYA?” Tanya Latifah dengan
nada yang Tinggi.
“Kak, kau sama
sekali tidak ada maksud apa-apa.”
“OH… BEGITU….”
Lalu latifah menjambak Rambut Widiya. “DENGAR YA, IQBAL ITU TIDAK AKAN TERTRIK
DENGAN GADIS BERTAMPANG SEPERTIMU. JADI JANGAN HARAP KAU BISA MENDAPATKAN
HATINYA!”
“A-ampun kak,
aku tidak…..”
“MASIH BERANI
BICARA KAU YA..??!!!!”
DUK!!!
“AAW!!”
Latifah
mendorong kepala Widiya dengan keras. Ternyata kepalanya terbentur pintu
gerbang belakang yang ada di dekatnya dan kening Widiya mulai mengeluarkan
darah.
“HEY, APA YANG
KALIAN LAKUKAN.?” Kata seseorang dari belakang mereka, lalu Winda pun berlari
menghampiri mereka dan dijambaknya rambut Latifah sampai dia terguling ke
belakang.
“Aduh..!!
kurang ajar.” Kata Latifah.
“Widiya, kau
tidak apa-apa? Ya ampun kening mu..” kata Winda
“Hey kau,
berani sekali kau melakukan itu?!” Kata Annisa.
“Kenapa?
Memangnnya kenapa aku lakukan itu padanya? Itu setimpal kan?”
“Hari pernama
kau sekolah saja kau sudah buat masalah dengan kami.” Kata Mila.
“MEMANGNYA
MASALAH UNTUKMU?”
“KAU MAU
MENCARI MASALAH DENGAN KAKAK KELAS, HAH?” Kata Latifah sambil mendorong Winda.
“MEMENGNNYA
KENAPA KALAU KALIAN KAKAK KELAS?”
“OH, KAU
MENANTANG KAMI?” Latifah pun mendorong Winda dan Winda juga balas mendorong dan
mereka pun terlibar perkelahian.
Dipihak lain,
terlihat sekumpulan anak laki-laki bersepeda. Mereka sedang menunggu seseorang
yang namapknya sangat terlambat.
“Hey, mana
Winda? Kenapa dia belum juga datang?” kata Dika.
“Mungkin dia
masih di kantin.” Kata Demil.
“MEMANGNNYA KENAPA KALAU KALIAN KAKAK KELAS?”
“Kalian dengar
itu?” Tanya Rona.
“Dengar apa?” kata
Mahmud.
“Ya, aku
dengar. Itu seperti suara Winda.” Kata Dipa.
“Jangan-jangan
dia berkelahi dengan preman sekolah tadi pagi.” Kata Yuda yang mulai cemas.
“APA? Jangan
sembarangan bicara kau!” kata Iqbal yang juga mulai cemas.
“Sudah, jangan
banyak bicara. Kita lihat saja.!” Kata Mahmud yang kini turun dari sepedanya
dan beranjak ke sumber suara itu. Lalu yang lain pun mengikutinya.
Ternyata benar
saja itu adalah suara Winda yang kini berusaha mengalahkan Latifah yang terus
mencoba menyerangnya.
“Hey, apa yang
kalian lakukan? Sudah hentikan.” Kata Mahmud sambil melerai mereka berdua.
“Winda, apa yang kau lakukan?”
“Mereka
menyakiti Widiya.” Kata Winda sambil terengah-engah.
“DIAM KAU
BOCAH!” Teriak latifah yang kini ditahan oleh Yuda.
“APA KAU
BILANG?!”
“Winda sudah,
jaga emosimu!” Mahmud pun mencoba menahan Winda yang akan menyerang Latifah
lagi. “Kalian berdua juga, kenapa kaian membiarkan mereka berdua berkelahi.?” Tanya
Mahmud, tapi mereka berdua hanya diam saja.
“Widiya?” kata
Iqbal yang langsung memeluk Widiya yang sedang menangis. “Kenapa keningmu?”
tapi Widiya hanya menggelengkn kepalanya.
“Dia yang
melakukannya.” Kata Winda sambil menunjuk Latifah.
“A-apa?” kata
Iqbal, dia tak percaya ternyata Latifah tega melakukan itu. “Apa yang kau
lakukan padanya?”
“Apa yang aku
lakukan padanya?? APA YANG TELAH DIA LAKUKAN PADAMU?” Kata Latifah sambul
menunjuk Widiya yang saat ini masih menangis di pundak Iqbal.
“Apa maksudmu?”
“Apa yang telah
dia lakukan padamu sampai-sampai kau lebih membela dia dari pada aku?”
“Aku membela
dia karena kau yang salah.”
“Kau bilng aku
yang salah? Apa benar aku yang salah? Lihat dia! apa kau buta, dia itu tidak
pantas untukmu.”
“Lalu kau
merasa pantas, begitu?” kata Winda.
“Tentu saja aku
lebih pantas, aku lebih dulu dan lebih lama mengenal Iqbal dibandingkan dengan
dia.”
“Tapi kau sama
sekali tidak pantas melakukan semua ini padanya.” Kata Iqbal.
“………” latifah
terdiam mendengar kata-kata dari Iqbal.
“Aku
benar-benar kecewa padamu. Mulai sekarang, siapapun yang berurusan dengan
Widiya harus berurusan dulu denganku.”
“A-apa? Kenapa
kau bicara seperti itu, memangnya siapa dia?”
“Dia, dia….”
---To Be Continued---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar