Sabtu, 06 Juli 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 7"



The Shop Nine-Tailed Fox

Chapter 7
Bukan Dia, Tapi Aku

“Kurang ajar, ternyata ada yang ingin merebut Iqbal dari ku.” Kata gadis itu dengan kesal. Dia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke luar.
“Hey, kau mau ke mana?” Tanya teman sebangkunya itu, tapi sepertinya tidak digubris sama sekali. “Hey kau, hey!!”
“Apa yang dia lakukan?” Tanya Annisa.
“Aku rasa dia akan suatu hal yang konyol.” Jawab Mila.
“Ayo cepat kita hentikan dia!” lalu mereka berdua pun beranjak dari temat mereka dan mengejar Latifah.
“Hey apa yang akan kau lakukan?” kata Mila sambil menarik tangan Latifah yang hampir berhasil keluar kelas.
“Lepaskan aku!” kata latifah.
“Dengar, jangan kau kejar mereka. Jika kau kejar mereka, kau sama saja mempermalukan dirimu sendiri. Mau ditaruh di mana muka mu nanti?” kata Annisa, ternyata kata-kata Annisa tadi bisa membuat Latifah diam.
“Jika aku jadi kau, aku akan melakukan ini.” Lalu Mila pun membisikan sesuatu pada Latifah, lalu latifah pun tersenyum mendengar sesuatu yang dibisikan Mila itu.
“Ya, kau benar juga. Kita lakukan nanti pada saat pulang sekolah.” Kata Latifah.
“Hey, apa yang kalian bicarakan?” Tanya Annisa.
“Nanti kau juga akan tahu.” Jawab Mila.
“Ah, tidak bisa. Aku juga harus tahu apa yang akan kita lakukan.”
“Haaah, kau ini. Ya sudah, sini!” lalu Mila pun membisikan suatu hal yang sama pada Annisa. “Kau mengerti kan?”
“Iya baik lah. Aku mengerti.”
Sementara itu dipihak lain, Iqbal dan Widiya kini telah sampi di depan pintu Kelas X-1, nampaknya mereka masih ingin lama- lama mengobrol.
“Oh iya, sepertinya kita sudah sampai di kelasmu.” Kata Iqbal.
“Iya, em kak aku mau bertanya sesuatu.” Kata Widiya.
“Apa?”
“Tadi pagi, kau berterimakasih untuk apa?”
“Oh itu, aku berterimakasih karena bantuan mu bunga mawar itu telah mekar dengan sangat cantik.”
“Benarkah? Rasanya aku tidak melakukan apa-apa?”
“Tentu saja kau melakukannya, kau mengajariku bagaimana merawat tanaman dengan baik.”
“Seberarti itukah saran dariku waktu itu?”
“Ya, tentu saja.” Kata Iqbal. Setelah itu tak ada kata-kata yang keluar dari dari mulut mereka. Mereka hanya saling bertatapan satu sama lain. Entah apa yang mereka pikirkan, tapi sepertinya mereka sangat menikmati saat-saat seperti ini.
“Bunganya sangat cantik ya?” Tiba-tiba saja terdengar suara itu.
“Iya.” Kata Iqbal dengan setengah sadar.
 “Jika dibandingkan dengannya lebih cantik mana, Widiya atau bunganya?”
“Tentu saja lebih cantik Wid….” Kata Iqbal yang tiba-tiba saja sadar dengan apa yang akan dia ucapkan. “Kau… kau menguping pembicaraan kami ya?” Kini mereka berdua benar-benar sadar, dan wajah mereka berubah menjadi merah.
“Ya, bisa dibilang begitu.” Kata Winda yang tiba-tiba saja muncul dari pintu kelas X-1. “Jadi lebih cantik Widiya yah?”
“Diam kau!”
“Hey, Nona Keranjang Bunga. Kau tadi dengar itu kan?”
“A-aku.. aku….” Kini Widiya benar-benar bingung akan bicara apa.
“AWAS KAU…..” Iqbal benar-benar merasa malu, dan dia pun berniat membalas Winda dengan suatu jitakan di kepalanya.
“WAHAHAHAHHAAAAAAA……” teriak Winda. Kini Winda berlari menjauh dari sana.
“JANGAN LARI KAU, HEY!!” Iqbal pun mengejar Winda yang sudah lari lebih dulu, sedangkan Widiya hanya tersenyum melihat mereka berkejar-kejaran. Tapi tak berapa lama mereka berkejaran, Winda pun berhasil dia tangkap dan Iqbal pun membawanya kembali dengan posisi tangannya mengunci leher Winda.
“Akhirnya ku tangkap juga kau. Hey Nona, kau ingin tahu apa balasannya orang yang suka menguping pembicaraan orang lain? Kau lihat ini ya!” kata Iqbal, tapi Widiya hanya tersenyum merespon kata-kata dari Iqbal. “Yang pertama ini, karena kau telah berani menguping.” Iqbal pun menyentil telinga Winda.
“Aaw.” Kata winda yang merasakan sakitnya disentil.
“Yang kedua ini, karena kau telah bertingkah yang menyebalkan.” Iqbal pun menjitak kepala Winda.
“Aw, Kak Iqbal…. Ampun..!”
“Ampun? Enak saja kau bilang. Yang ketiga, kau telah berkata sembarangan tadi.” Sekarang Iqbal menyentil hidung Winda.
“Aw… hey, yang salah itu kan mulutku. Kenapa kau menyentil hidungku?”
“Lalu kau mau aku apakan mulutmu itu? Oh, aku tahu sekarang. Nona, aku pinjam satu bukumu.!” Lalu Iqbal mengambil salah satu buku dari tangan Widiya.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Kau mau tahu apa yang akan aku lakukan? Baiklah, ini dia…” Iqbal pun mendaratkan buku itu tepat di muka Winda dan menekan kannya beberapa detik.
“Em….KAK IQBAL……..” kini winda berteriak dan dia pun melakukan perlawanan. Dia menginjak kaki Iqbal dan menjambak rambutnya dengan salah satu tangan yang masih bebas.
“AW….AAAWW..!!” Teriak Iqbal, lalu dia pun melepaskan tangannya dan Winda pun berhasil bebas. Lalu Winda berlari ke dalam kelas. “Awas kau nanti.!!”
“Kau tidak apa-apa kan kak?” Tanya Widiya.
“Tidak, aku tidak apa-apa?” Jawab Iqbal.
“Jelas saja dia tidak apa-apa, tapi aku yang kenapa-kenapa…” Kata Winda dari dalam kelas.
“Awas kau….!” Ancam Iqbal.
“Sudah-sudah, jangan di dengarkan.” Kata Widiya.
“Iya, sepertinya sebentar lagi bell masuk berbunyi. Sebaiknya aku kembali ke kelas.”
“Iya..” jawab Widiya. Lalu Iqbal pun kembali ke kelasnya sambil mengelus-elus kepalanya, dan Widiya juga masuk ke kelasnya.

Beberapa jam kemudian…….

TEEEEETTT……. Bunyi bell pulang.
“Baiklah, sampai di sini perjumpaan kita kali ini. Selamat siang.” Kata guru B.Iindonesia itu. Lalu anak-anak pun segera membereskan buku-buku mereka.
“Hey, aku duluan yah.” Kata Tias.
“Aku juga.” Susul Rina.
“Iya.” Jawab Widiya. “ Win, apa kau mau pulang bersamaku.?”
“Em, bagaimana ya. Sepertinya tidak bisa, aku di tunggu kakak-kakakku di gerbang belakang.”
“Oh, kalau begitu kita ke sana bersama saja.”
“Maaf, bukannya tidak mau. Tapi mereka menyuruhku membeli makanan dulu di kantin. Maaf ya..”
“Beguitu ya, ya sudah kalau begitu. Aku duluan ya.” Kata Widiya sambil beranjak meninggalkan kelas.
“Iya.” Kata winda yang saat ini masih sibuk membereskan buku-bukunya. “Akhirnya beres juga, sebaiknya aku segera ke kantin saja.” Winda pun beranjak ke kantin sekolah dengan agak terburu-buru.

Sementara itu dihak lain, nampaknya 3 sekawan yang suka membuat masalah ini sudah bersiap di gerbang belakang. Namaknya mereka sedang menunggu seseorang dan kini seseorang yang mereka tunggu telah datang.
“Mau ke mana kau?” kata Mila yang kini menghalangi langkah gadis itu.
“Maaf kak, saya mau lewat.” Widiya pun menggeserkan langkahnya.
“Enak saja kau mau lewat.”
“Tapi saya…”
“Tapi-tapi… tapi apa?” kata Annisa.
“Hey kau, tadi kau kan yang berpura-pura menjatukan bukumu agar Iqbal mau mengambilkan bukumu?” Tanya Latifah dengan nada yang sinis.
“Maaf, tapi tadi buku saya memang benar-benar terjatuh.”
“Alah,,,, jangan bohong kau! Sini kau!!” Lalu Latifah menarik tangannya dan memokokkannya di tembok. “KAU TADI SENGAJA KAN MENJATUHKAN BUKU MU?” Bentak Latifah.
“Kak, saya ini tersenggol Kak Iqbal. Saya sama sekali tidak sengaja menjatuhkan buku saya.” Kata Widiya yang membela dirinya.
“Jangan mengada-ada kau! Tampang segini saja mana mungkin Iqbal mau menyenggolmu.” Kata Annisa.
“AKU BENAR-BENAR TERSENGGOL OLEH KAK IQBAL…!”
Plaaak…
Tamparan yang lumayan keras itu sangat mengerjutkan Widiya.
“Kau menantang kami, HAH?! BERTERIAK-TERIAK DI DEPAN KAMI” kata Mila yang tadi menamparnya. Kini mata Widiya mulai berari dan tangannya mulai meraba pipinya yang sakit.
“Dasar cengeng kau! JANGAN-JANGAN KAU INGIN MEREBUT IQBAL DARI KU, IYA?” Tanya Latifah dengan nada yang Tinggi.
“Kak, kau sama sekali tidak ada maksud apa-apa.”
“OH… BEGITU….” Lalu latifah menjambak Rambut Widiya. “DENGAR YA, IQBAL ITU TIDAK AKAN TERTRIK DENGAN GADIS BERTAMPANG SEPERTIMU. JADI JANGAN HARAP KAU BISA MENDAPATKAN HATINYA!”
“A-ampun kak, aku tidak…..”
“MASIH BERANI BICARA KAU YA..??!!!!”
DUK!!!
“AAW!!”
Latifah mendorong kepala Widiya dengan keras. Ternyata kepalanya terbentur pintu gerbang belakang yang ada di dekatnya dan kening Widiya mulai mengeluarkan darah.
“HEY, APA YANG KALIAN LAKUKAN.?” Kata seseorang dari belakang mereka, lalu Winda pun berlari menghampiri mereka dan dijambaknya rambut Latifah sampai dia terguling ke belakang.
“Aduh..!! kurang ajar.” Kata Latifah.
“Widiya, kau tidak apa-apa? Ya ampun kening mu..” kata Winda
“Hey kau, berani sekali kau melakukan itu?!” Kata Annisa.
“Kenapa? Memangnnya kenapa aku lakukan itu padanya? Itu setimpal kan?”
“Hari pernama kau sekolah saja kau sudah buat masalah dengan kami.” Kata Mila.
“MEMANGNYA MASALAH UNTUKMU?”
“KAU MAU MENCARI MASALAH DENGAN KAKAK KELAS, HAH?” Kata Latifah sambil mendorong Winda.
“MEMENGNNYA KENAPA KALAU KALIAN KAKAK KELAS?”
“OH, KAU MENANTANG KAMI?” Latifah pun mendorong Winda dan Winda juga balas mendorong dan mereka pun terlibar perkelahian.
Dipihak lain, terlihat sekumpulan anak laki-laki bersepeda. Mereka sedang menunggu seseorang yang namapknya sangat terlambat.
“Hey, mana Winda? Kenapa dia belum juga datang?” kata Dika.
“Mungkin dia masih di kantin.” Kata Demil.
“MEMANGNNYA KENAPA KALAU KALIAN KAKAK KELAS?”
“Kalian dengar itu?” Tanya Rona.
“Dengar apa?” kata Mahmud.
“Ya, aku dengar. Itu seperti suara Winda.” Kata Dipa.
“Jangan-jangan dia berkelahi dengan preman sekolah tadi pagi.” Kata Yuda yang mulai cemas.
“APA? Jangan sembarangan bicara kau!” kata Iqbal yang juga mulai cemas.
“Sudah, jangan banyak bicara. Kita lihat saja.!” Kata Mahmud yang kini turun dari sepedanya dan beranjak ke sumber suara itu. Lalu yang lain pun mengikutinya.
Ternyata benar saja itu adalah suara Winda yang kini berusaha mengalahkan Latifah yang terus mencoba menyerangnya.
“Hey, apa yang kalian lakukan? Sudah hentikan.” Kata Mahmud sambil melerai mereka berdua. “Winda, apa yang kau lakukan?”
“Mereka menyakiti Widiya.” Kata Winda sambil terengah-engah.
“DIAM KAU BOCAH!” Teriak latifah yang kini ditahan oleh Yuda.
“APA KAU BILANG?!”
“Winda sudah, jaga emosimu!” Mahmud pun mencoba menahan Winda yang akan menyerang Latifah lagi. “Kalian berdua juga, kenapa kaian membiarkan mereka berdua berkelahi.?” Tanya Mahmud, tapi mereka berdua hanya diam saja.
“Widiya?” kata Iqbal yang langsung memeluk Widiya yang sedang menangis. “Kenapa keningmu?” tapi Widiya hanya menggelengkn kepalanya.
“Dia yang melakukannya.” Kata Winda sambil menunjuk Latifah.
“A-apa?” kata Iqbal, dia tak percaya ternyata Latifah tega melakukan itu. “Apa yang kau lakukan padanya?”
“Apa yang aku lakukan padanya?? APA YANG TELAH DIA LAKUKAN PADAMU?” Kata Latifah sambul menunjuk Widiya yang saat ini masih menangis di pundak Iqbal.
“Apa maksudmu?”
“Apa yang telah dia lakukan padamu sampai-sampai kau lebih membela dia dari pada aku?”
“Aku membela dia karena kau yang salah.”
“Kau bilng aku yang salah? Apa benar aku yang salah? Lihat dia! apa kau buta, dia itu tidak pantas untukmu.”
“Lalu kau merasa pantas, begitu?” kata Winda.
“Tentu saja aku lebih pantas, aku lebih dulu dan lebih lama mengenal Iqbal dibandingkan dengan dia.”
“Tapi kau sama sekali tidak pantas melakukan semua ini padanya.” Kata Iqbal.
“………” latifah terdiam mendengar kata-kata dari Iqbal.
“Aku benar-benar kecewa padamu. Mulai sekarang, siapapun yang berurusan dengan Widiya harus berurusan dulu denganku.”
“A-apa? Kenapa kau bicara seperti itu, memangnya siapa dia?”
“Dia, dia….”
---To Be Continued---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar