Minggu, 28 Juli 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 11"



The Shop Nine-Tailed Fox

Chapter 11
Kau Menyebalkan!

 “Hey, yang baju merah ini kau?”
“I-iya memangnya kenapa?”
“Aku sampai tidak mengenalinya. Sudah kubilangkan kau lebih manis jika rambutmu di urai seperti itu.”
“A-apa?” Winda pun sangat kaget mendengar apa yang dia ucapkan. “Jadi kau……”
“Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengejekmu.”
“Tidak-tidak, maksudku bukan itu. Kemarin kau menaruh kertas biru di….”
“Sssssttt!! Sudah jangan diterusakn, suaramu itu terlalu kencang jika bicara.”
“Tapi kak Deri….”
“Ok,, ok, aku mengeku aku orangnya. Nanti akan ku jelaskan sepulang sekolah. Akan ku temui kau di kantin, tapi jangan bawa siapapun.”
“Kenapa?”
“Karena ini hanya urusan kau dan aku. Kau mengerti kan?” dan gadis berkucir satu itu pun mengenggukan kepalanya.

Singkat cerita, sepulang sekolah Winda menunggu orang itu di kantin. Menunggunya memang luayan lama, tapi karena dia sudah janji ya mau bagai mana lagi.
‘Kenapa lama sekai dia? cemilanku sudah hampir habis tapi dia belum juga datang.’ Gumam gadis itu, dia pun meneguk munuman yang ada di hadapannya.
“Winda, maaf ya kau menunggu lama.” Kata Deri.
“Ya, tidak apa-apa.” Ujar Winda, Deri pun duduk di depannya. “Jadi bagaimana sekarang?”
“Bagaimana? Oh iya, sebelumnya aku minta maaf sudah membuatmu repot dengan kertas-kertasku. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku lihat saja.”
“Apa yang kau lihat?”
“Ya, sebenarnya aku mulai memperhatikanmu pada saat kau menghajar Latifah. Aku baru melihat anak perempuan berani menghajar kakak kelasnya dengan sangat,, ya begitu lah. Tanpa ampun.”
“Lalu? Apa dia itu temenmu?”
“Em, ya mungkin lebih tepatnya dia adalah teman sekelasku.”
“Lalu kau ingin membatunya, begitu?”
“Bukan-bukan, aku sama sekali tidak ingin membantunya. Sudah ku bilangkan aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku lihat.”
“Tapi kenapa kau harus pergunakan cara seperti itu?”
“Ya karena aku suka cara klasik.”
“Cara klasik ya?” kata Winda. Deri pun tersenyum melihat tingkahnya. “Ada apa, apa ada yang lucu?”
“Tidak, hanya saja kau ini sangat cuek sekali.”
“Mungkin hanya perasaanmu saja.”
“Ya baiklah, aku tahu. Bagimu mungkin alasanku tadi sama seklai tak masuk akal.”
‘Dari mana dia tahu aku berfikir seperti itu?’ gumam Winda.
“Hey, aku punya rahasia. Tapi jangan katakana pada siapa pun!”
“Ya baiklah.” Kata Winda. ‘Dia mudah sekali percaya dengan orang.’ gumam Winda. Deri pun berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Winda. Dia pun mulai mendekatkan wajahnya. “Kau ini mau apa sih?” Gadis itu pun sedikit menjauh.
“Aku hanya ingin membisikan sesuatu.” Deri pun mulai membisikannya. “Aku menyukai mu, anak tomboy.”
“………” Winda tak bisa mengetakan apa pun dan kini pipinya mulai kemerahan.
“Jangan bilang pada siapa-siapa ya!” Deri pun tersenyum. “Kenapa kau? Kau sakit ya?”
“Bukan urusanmu.” Winda pun memalingkan wajahnya.
“Kau ini, ayo pulang!” Deri pun memegang tangannya, dia menuntunnya dari depan. Sementara Winda hanya bisa diam dengan pipi yang benar-benar merah.

Kini mereka telah sampai di gerbang depan, karena saat ini Winda tidak membawa sepedanya dan dia tak di jemput oleh Yogi, jadi dia harus naik bus. Tapi sayang, halte bus cukup jauh dari sana. Jadi mereka berdua harus berjalan kaki dulu.
“Lihat ada tukang Ice cream. Kau suka Ice ceram tidak?” Tanya Deri. Winda pun menganggukan kepalanya dan mereka pun segera menghampiri mobil ice cream yang sedang terparkir pinggir jalan. “Kau mau rasa apa?”
“Vanilla..”
“Tolong Vanillanya dua ya.” Deri pun memesan, tak lama pedagang itu pun menyerahkan 2 buah Ice cream.
“Ini..”
“Terimakasih.” Mereka pun kembali berjalan menuju halte.
“Kau sangat suka vanilla ya?”
“Iya, kenapa?
“Tidak, aku hanya bertanya saja. Oh iya, ngomong-ngomong tentang rahasiaku, bagaimana menurutmu?”
“Menurutku?”
“Iya, apa menurutmu kau juga menyukaiku?.”
“………….” Tiba-tiba saja langkah gadis itu terhenti.
“Kenapa? Apa ada yang salah?”
“Tidak, tapi aku rasa.... ini…..”
“Ya, aku rasa aku bertanya begitu cepat. Tapi jika hanya bertanya saja tidak apa-apa kan?”
“Hm…”
‘Aku tahu dia adalah tipe orang yang sangat berisik, tapi gadis ini benar-benar dingin padaku. Bahkan dari tadi aku berhatikan tak ada senyum yang keluar dari raut wajahnya.’ Gumam Deri.
“Kenapa kau melihatku seperti itu, aku aneh?”
“Ti-tidak, kau tidak aneh.”
“Lalau kenpa?”
“Tidak, bukan apa-apa. Itu, busnya datang. Cepat kita naik!” lalu mereka pun naik ke bis tersebut.

Keesokan harinya, gadis berkucir satu itu terlihat menunggu bus di tempat kemarin. Nampaknya dia juga membawa 1 keresek berukuran sedang yang berisi cemilan pesanan kakak-kakanya.
Kring….Kring….
“Winda, ayo naik!” kata laki-laki bersepeda itu.
“Kak Deri?”
“Kau mau pulang kan? ayo ku antar kau pulang.”
“Tidak, hari ini aku harus ke rumah Kak Dipa.”
“Begitu ya, ya sudah aku antar kau ke sana. Cepat naik!”
“Iya.” Gadis itu pun tersenyum dan dia juga mulai mulai menginjakan kakinya di poros roda belakang.
“Eh jangan-jangan, jangan di belakang. Nanti kau bisa jatuh, kau di depan saja!”
“Tapi….”
“Tak usah tapi-tapi, aku tak mau dibuat repot oleh 8 antek-antekmu hanya gara-gara kau jatuh dari sepeda. Cepat!”
“Ya…. Baiklah.” Gadis itu pun langsung turun dan berpindah tempat. Tanpa basa-basi lagi, sepeda itu pun melaju.

“Hey, aku mau Tanya.” Kata Deri.
“Tanya apa?” Tanya Winda.
“Kau tidak ingat padaku?”
“Maksudnya?”
“Aku ini kakak kelasmu waktu SMP. Ternyata benar-benar tidak ingat ya?”
“Em, apa iya?”
“Tentu saja, sekarang aku tanya. Kau pernah membuat wajah seseorng tersiram air minumnya sendirikan?”
“Tersiram air minum?”

Flashback
Saat ini adalah menit-menit terakhir dari jam istirahat, terlihat segerombol anak laki-laki sedang berselonjor ria di pingir lapangan. Pada saat itu juga bola yang tadi mereka mainkan tergelinding tepat ke depan kelas Winda dan kebetulan saat itu Winda berada di depan pintu kelasnya.
“Bola siapa itu?” Tanya Winda, dia pun melihat ke pinggir lapangan yang teduh. Disana terdapat segerombolan anak laki-laki yang sedang beristirahat. “Aku kembalikan saja bolanya.” Winda pun menghampiri bola itu dan dia pun menendannya.
Wiiiiiiing….. BUK!!! Byurrrrr…..
Nampaknya ada anak laki-laki yang tiba-tiba saja wajah dan bajunya basah karena terkena tendangan bola dari Winda. Sebenarnya anak laki-laki tadi itu sedang memegang gelas plastic yang terisi penuh dengan air minum.
“Hey, siapa yang berani melakukan ini?” kini anak itu sangat marah.
“HAHAHAHHAHAAAHAHA…..” teman-temnnya juga mentertawakan kejadian itu. Sememntara Winda, dia langsung kabur ke kelasnya.
 “Diam kalian!”
“Oops….!!” Gadis itu pun berlari.
‘Ternyata ulah anak itu, aku jadi basah kuyup begini.’ Gumam Deri.

End Flashback

“Ja-jadi Itu kak Deri?”
“Ya. Kau membuat aku malu di depan teman-temanku.”
“Maaf, aku tidak sengaja. Tadinya aku hanya ingin mengembalikan bolanya, sungguh.”
“Hm… ya baiklah. Lagi pula itu kan kejadian 3 tahun lalu. Oh iya, rumahnya ada di perumahan ini kan?”
“Iya benar.” Saat ini mereka telah sampai di depan gerbang perumahan elit.
“Lalu sekarang kemana?”
“Tinggal masuk saja, rumah yang pertama adalah rumahnya.”
“Begitu ya.” Mereka pun mulai masuk ke kawasan Peumahan dan tak lama mereka berhenti di sebuah rumah yang cukup megah. Gadis itu pun turun dari sepedanya.
“Terimakasih telah mengantar.”
“Ya sama-sama.”
“Kau mau masuk?”
“Em, mungkin lain kali saja. Aku pulang dulu, sampai jumpa.”
“Ya, sampai jumpa.” Kini deri mulai mengayuh sepedanya kembali, sedangkan Winda segera  masuk ke dalam rumah.

Di lantai 2, gadis itu baru saja sampai di sana. dia langsung saja menyerahkan keresek yang berisi cemilan itu pada Dika.
“Ini.” Kata Winda.
“Ya, terimakasih.” Dika pun menerimanya.
“Winda, tadi itu siapa?” Tiba-tiba saja Yuda langsung bertanya.
“Oh, tadi itu Kak Deri.”
“Oh, jadi namanya Deri?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku kurang suka dengan orang itu.”
“Kenapa?”
“Sudah ku bilangkan aku kurang suka.” Kini nada bicaranya mulai tinggi dan sukses membuat Winda terdiam. Dia pun mulai merebahkan dirinya kembali di karpet. “Bangunkan…..”
“Iya aku tahu,” Winda pun memotong pembicaraan Yuda dengan nada yang mulai tinggi juga. Yuda pun terdiam, memandangi Winda dari tempat dia merebahkan badannya.
“Kau kenapa?”
“Kau yang kenapa, kenapa kau hobi sekali bersikap seperti ini? Kau selalu saja bertingkah menyebalkan. Dengar ya, ini adalah ketiga kalinya kau bertingkah seperti ini di depanku.”
“Apa maksudmu aku ini menyebakan?” kata Yuda dan dia pun duduk kembali.
“Apa, kau tidak sadar? Semenjak kertas-kertas biru itu ada di tasku kau beringkah menyebalkan dan sangat tidak karuan. Kau tak pernah memberikan alasan yang jelas dan setelah itu kau langsung berbaring dan berharap aku tidak bertanya apa-apa lagi padamu.”
“Dengar ya, jika kau ingin tahu dia itu adalah teman sekelas dari Latifah.”
“Ya aku sudah tahu hal itu, lalu kenapa?”
“Dia itu bekerja sama dengan Latifah.”
“Apa maksudmu?”
“Kau percaya kertas-kertas itu darinya kan? Cih,.. sangat ironis sekali. Aku beri tahu ya, kertas itu diberikan oleh Latifah padanya, dan dia yang menyimpan kertas itu di tasmu?”
“Apa, kau tahu dari mana hal itu?”
“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Itu lah alasanku, kenapa aku bersikap seperti itu padamu.”
“Kau jangan bicara yang tidak-tidak di depanku!”
“Silahkan saja jika kau tidak percaya padaku. Tapi aku, tidak akan pernah membiarkanmu terjerumus pada jebakan mereka.”
“Lalu aku harus percaya padamu dan membeci Kak Deri sama halnya denganmu, begitu?”
“……..”
“Dengar ya, mungkin bagimu sangat mudah memponis orang dengan kacamata kebencianmu itu. Tapi aku, tidak akan mudah percaya pada siapa pun aku belum melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Apa lagi orang itu sepertimu.”
“Hey jaga bicaramu!”
“Jaga bicaraku? Kau yang harusnya menjaga bicaramu!”
“APA KAU BILANG?!!”
“Sudah-sudah! Hentikan! Apa yang kalian lakukan? Kalian berdua sama saja, jaga bicaramu itu, Win!” Kata Dika yang berusaha melerai mereka. “Kau juga Yuda, kau juga jangan langsung menyumpulkan apa yang kau lihat. Ingat, aku juga melihatnya.”
“Tapi aku sangat yakin dengan apa yang aku lihat.” Yuda pun membela dirinya.
“Sudah ku bilang jangan langsung menyimpulkan! Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu.” Dika pun mengelah nafas. “Winda, ayo minta maaf pada Yuda!” kini nada bicara Dika sedikit turun.
“Tidak mau.” Jawab Winda sambil memalingkan mukanya.
“Kenapa kau tidak mau?”
“Dia yang memulainya, dia juga yang harus mengakhiri semuanya.”
“Ya ampun. Yuda, kau minta maaf padanya.!”
“Enak saja kau bilang, aku melakukan ini demi kebaikannya. Harusnya dia berterimakasih padaku.” Kata Yuda.
“Cih! Berterimakasih padamu, apa aku tidak salah dengar?” Kini Winda mulai memperpanas suasana lagi.
“Suda-sudah! Kalian berdua ini sama saja. Keras kepala!” ujar Dika.
“Terserah! Aku tidak peduli.” Gadis itu pun menggedong tasnya lagi, dia berniat untuk pergi dari tempat itu. Lalu dia pun menuruni anak tangga yang ada di depannya.
“Winda, mau kemana kau?” Tanya Dika, tapi sayang Winda sama sekali tidak menggubrisnya.
“WINDA, DENGAR! JIKA ITU MAUMU, BAIK AKU JUGA TIDAK AKAN PEDULI LAGI DENGANMU!!!” Teriak Yuda.

Mungkin ini adalah awal ujian hidup yang harus mereka lalui, rasa ego yang tinggi memang menjadi topik terhangat untuk mereka yang berusia remaja. Sebenarnya, setiap orang pasti akan melewati ujian seperti ini. Hanya saja bedanya, bagaimana orang-orang itu dapat memecahkannya, jalan apa yang mereka tempuh dan apakah orang itu berperan sebagai orang yang jahat atau sebaliknya. Untuk lebih jelas, mari kita lanjut.

Hari ini adalah hari yang cerah, begitu banyak hal-hal yang bisa Winda perhatikan dari balik kaca mobilnya. Dia berharap, mungkin dengan memperhatikan hal-hal yang tidak penting di jalan dapat membantunya melupakan hal yang kemarin terjadi. Tak lama, dia sudah sampai di gerbang belakang sekolahnya dan dia pun beranjak turun dari mobil kakaknya.
“Winda, tunggu!” Kata Yogi sambil membuka kaca mobilnya.
“Apa?” Tanya Winda.
“Kenapa dari tadi kau terlihat murung, kau ada masalah?”
“Tidak, aku hanya sedikit pusing saja.” Winda berbohong.
“Kau sakit, apa kau mau pulang?”
“Tidak, aku masih bisa menahannya. Jangan terlalu mempedulikanku!” Gadis bekucir satu ini pun langsung masuk ke dalam area sekolahnya. Seperti biasa, di gerbang belakang ini 3 preman sekolah sedang memalaki siswa yang lewat sana.
“Hey, jika kau mau lewat kau harus bawar dulu.” Tiba-tiba saja Ridwan menghalangi langkah Winda.
“Minggir kau!”
“Apa?”
“Aku bilang minggir!”
“Ridwan.” Kata Wisnu si ketua preman sambil memberikan isyarat untuk memperbolehkan gadis itu lewat. Entah apa yang membuat mereka seperti ini, sepertinya mereka sudah mendengar kabar gadis itu pernah menghajar orang yang lebih tua darinya. Ditambah lagi wajah gadis itu sedang kusut. Winda pun melanjukan perjalanannya menuju kelas, tapi……
“Winda,,,” Seseorang memanggilnya, Winda pun menoleh ke arahnya. “Selamat pagi.” Kata Deri.
“Pagi.” Jawab Winda dengan singkat.
“Kau kenapa, kau sakit?”
“Tidak.”
“Lalu, kenapa kau…..”
“Sudah, cukup!” Winda pun mengelah nafas. “Dengar, aku sedang tidak ingin diganggu. Jadi, tolong!”
“Kau punya masalah? kau mau bercerita padaku?”
“Baiklah jika itu maumu, aku akan bercerita padamu. Ternyata kertas biru itu bukan pemberian dari seorang laki-laki. Puas?!” Winda pun melangkah pergi meninggalkannya.
“Win, apa maksudmu?”
“……………”
“Winda.” Deri pun mengejar Winda. “Apa maksudmu?”
“…………..” lagi-lagi Winda tidak menjawabnya.
“Win, bicaralah!”

---To Be Continued---



Tidak ada komentar:

Posting Komentar