The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 11
Kau Menyebalkan!
“Hey, yang baju merah ini kau?”
“I-iya
memangnya kenapa?”
“Aku sampai
tidak mengenalinya. Sudah kubilangkan kau lebih manis jika rambutmu di urai
seperti itu.”
“A-apa?” Winda
pun sangat kaget mendengar apa yang dia ucapkan. “Jadi kau……”
“Maaf, aku
tidak bermaksud untuk mengejekmu.”
“Tidak-tidak,
maksudku bukan itu. Kemarin kau menaruh kertas biru di….”
“Sssssttt!!
Sudah jangan diterusakn, suaramu itu terlalu kencang jika bicara.”
“Tapi kak
Deri….”
“Ok,, ok, aku
mengeku aku orangnya. Nanti akan ku jelaskan sepulang sekolah. Akan ku temui
kau di kantin, tapi jangan bawa siapapun.”
“Kenapa?”
“Karena ini
hanya urusan kau dan aku. Kau mengerti kan?” dan gadis berkucir satu itu pun
mengenggukan kepalanya.
Singkat cerita,
sepulang sekolah Winda menunggu orang itu di kantin. Menunggunya memang luayan
lama, tapi karena dia sudah janji ya mau bagai mana lagi.
‘Kenapa lama
sekai dia? cemilanku sudah hampir habis tapi dia belum juga datang.’ Gumam
gadis itu, dia pun meneguk munuman yang ada di hadapannya.
“Winda, maaf ya
kau menunggu lama.” Kata Deri.
“Ya, tidak
apa-apa.” Ujar Winda, Deri pun duduk di depannya. “Jadi bagaimana sekarang?”
“Bagaimana? Oh
iya, sebelumnya aku minta maaf sudah membuatmu repot dengan kertas-kertasku.
Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku lihat saja.”
“Apa yang kau
lihat?”
“Ya, sebenarnya
aku mulai memperhatikanmu pada saat kau menghajar Latifah. Aku baru melihat
anak perempuan berani menghajar kakak kelasnya dengan sangat,, ya begitu lah. Tanpa
ampun.”
“Lalu? Apa dia
itu temenmu?”
“Em, ya mungkin
lebih tepatnya dia adalah teman sekelasku.”
“Lalu kau ingin
membatunya, begitu?”
“Bukan-bukan,
aku sama sekali tidak ingin membantunya. Sudah ku bilangkan aku hanya ingin
menyampaikan apa yang aku lihat.”
“Tapi kenapa
kau harus pergunakan cara seperti itu?”
“Ya karena aku
suka cara klasik.”
“Cara klasik
ya?” kata Winda. Deri pun tersenyum melihat tingkahnya. “Ada apa, apa ada yang
lucu?”
“Tidak, hanya
saja kau ini sangat cuek sekali.”
“Mungkin hanya
perasaanmu saja.”
“Ya baiklah,
aku tahu. Bagimu mungkin alasanku tadi sama seklai tak masuk akal.”
‘Dari mana dia
tahu aku berfikir seperti itu?’ gumam Winda.
“Hey, aku punya
rahasia. Tapi jangan katakana pada siapa pun!”
“Ya baiklah.”
Kata Winda. ‘Dia mudah sekali percaya dengan orang.’ gumam Winda. Deri pun
berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Winda. Dia pun mulai mendekatkan
wajahnya. “Kau ini mau apa sih?” Gadis itu pun sedikit menjauh.
“Aku hanya
ingin membisikan sesuatu.” Deri pun mulai membisikannya. “Aku menyukai mu, anak
tomboy.”
“………” Winda tak
bisa mengetakan apa pun dan kini pipinya mulai kemerahan.
“Jangan bilang
pada siapa-siapa ya!” Deri pun tersenyum. “Kenapa kau? Kau sakit ya?”
“Bukan
urusanmu.” Winda pun memalingkan wajahnya.
“Kau ini, ayo
pulang!” Deri pun memegang tangannya, dia menuntunnya dari depan. Sementara
Winda hanya bisa diam dengan pipi yang benar-benar merah.
Kini mereka
telah sampai di gerbang depan, karena saat ini Winda tidak membawa sepedanya
dan dia tak di jemput oleh Yogi, jadi dia harus naik bus. Tapi sayang, halte
bus cukup jauh dari sana. Jadi mereka berdua harus berjalan kaki dulu.
“Lihat ada
tukang Ice cream. Kau suka Ice ceram tidak?” Tanya Deri. Winda pun menganggukan
kepalanya dan mereka pun segera menghampiri mobil ice cream yang sedang
terparkir pinggir jalan. “Kau mau rasa apa?”
“Vanilla..”
“Tolong
Vanillanya dua ya.” Deri pun memesan, tak lama pedagang itu pun menyerahkan 2
buah Ice cream.
“Ini..”
“Terimakasih.”
Mereka pun kembali berjalan menuju halte.
“Kau sangat
suka vanilla ya?”
“Iya, kenapa?
“Tidak, aku
hanya bertanya saja. Oh iya, ngomong-ngomong tentang rahasiaku, bagaimana
menurutmu?”
“Menurutku?”
“Iya, apa
menurutmu kau juga menyukaiku?.”
“………….”
Tiba-tiba saja langkah gadis itu terhenti.
“Kenapa? Apa
ada yang salah?”
“Tidak, tapi
aku rasa.... ini…..”
“Ya, aku rasa
aku bertanya begitu cepat. Tapi jika hanya bertanya saja tidak apa-apa kan?”
“Hm…”
‘Aku tahu dia
adalah tipe orang yang sangat berisik, tapi gadis ini benar-benar dingin
padaku. Bahkan dari tadi aku berhatikan tak ada senyum yang keluar dari raut
wajahnya.’ Gumam Deri.
“Kenapa kau
melihatku seperti itu, aku aneh?”
“Ti-tidak, kau
tidak aneh.”
“Lalau kenpa?”
“Tidak, bukan
apa-apa. Itu, busnya datang. Cepat kita naik!” lalu mereka pun naik ke bis
tersebut.
Keesokan
harinya, gadis berkucir satu itu terlihat menunggu bus di tempat kemarin.
Nampaknya dia juga membawa 1 keresek berukuran sedang yang berisi cemilan
pesanan kakak-kakanya.
Kring….Kring….
“Winda, ayo
naik!” kata laki-laki bersepeda itu.
“Kak Deri?”
“Kau mau pulang
kan? ayo ku antar kau pulang.”
“Tidak, hari
ini aku harus ke rumah Kak Dipa.”
“Begitu ya, ya
sudah aku antar kau ke sana. Cepat naik!”
“Iya.” Gadis
itu pun tersenyum dan dia juga mulai mulai menginjakan kakinya di poros roda
belakang.
“Eh
jangan-jangan, jangan di belakang. Nanti kau bisa jatuh, kau di depan saja!”
“Tapi….”
“Tak usah
tapi-tapi, aku tak mau dibuat repot oleh 8 antek-antekmu hanya gara-gara kau
jatuh dari sepeda. Cepat!”
“Ya…. Baiklah.”
Gadis itu pun langsung turun dan berpindah tempat. Tanpa basa-basi lagi, sepeda
itu pun melaju.
“Hey, aku mau
Tanya.” Kata Deri.
“Tanya apa?”
Tanya Winda.
“Kau tidak
ingat padaku?”
“Maksudnya?”
“Aku ini kakak
kelasmu waktu SMP. Ternyata benar-benar tidak ingat ya?”
“Em, apa iya?”
“Tentu saja,
sekarang aku tanya. Kau pernah membuat wajah seseorng tersiram air minumnya
sendirikan?”
“Tersiram air
minum?”
Flashback
Saat ini adalah
menit-menit terakhir dari jam istirahat, terlihat segerombol anak laki-laki
sedang berselonjor ria di pingir lapangan. Pada saat itu juga bola yang tadi
mereka mainkan tergelinding tepat ke depan kelas Winda dan kebetulan saat itu
Winda berada di depan pintu kelasnya.
“Bola siapa
itu?” Tanya Winda, dia pun melihat ke pinggir lapangan yang teduh. Disana terdapat
segerombolan anak laki-laki yang sedang beristirahat. “Aku kembalikan saja
bolanya.” Winda pun menghampiri bola itu dan dia pun menendannya.
Wiiiiiiing…..
BUK!!! Byurrrrr…..
Nampaknya ada
anak laki-laki yang tiba-tiba saja wajah dan bajunya basah karena terkena
tendangan bola dari Winda. Sebenarnya anak laki-laki tadi itu sedang memegang
gelas plastic yang terisi penuh dengan air minum.
“Hey, siapa
yang berani melakukan ini?” kini anak itu sangat marah.
“HAHAHAHHAHAAAHAHA…..”
teman-temnnya juga mentertawakan kejadian itu. Sememntara Winda, dia langsung
kabur ke kelasnya.
“Diam kalian!”
“Oops….!!”
Gadis itu pun berlari.
‘Ternyata ulah
anak itu, aku jadi basah kuyup begini.’ Gumam Deri.
End Flashback
“Ja-jadi Itu
kak Deri?”
“Ya. Kau
membuat aku malu di depan teman-temanku.”
“Maaf, aku
tidak sengaja. Tadinya aku hanya ingin mengembalikan bolanya, sungguh.”
“Hm… ya
baiklah. Lagi pula itu kan kejadian 3 tahun lalu. Oh iya, rumahnya ada di
perumahan ini kan?”
“Iya benar.”
Saat ini mereka telah sampai di depan gerbang perumahan elit.
“Lalu sekarang
kemana?”
“Tinggal masuk
saja, rumah yang pertama adalah rumahnya.”
“Begitu ya.”
Mereka pun mulai masuk ke kawasan Peumahan dan tak lama mereka berhenti di
sebuah rumah yang cukup megah. Gadis itu pun turun dari sepedanya.
“Terimakasih
telah mengantar.”
“Ya sama-sama.”
“Kau mau
masuk?”
“Em, mungkin
lain kali saja. Aku pulang dulu, sampai jumpa.”
“Ya, sampai
jumpa.” Kini deri mulai mengayuh sepedanya kembali, sedangkan Winda segera masuk ke dalam rumah.
Di lantai 2,
gadis itu baru saja sampai di sana. dia langsung saja menyerahkan keresek yang
berisi cemilan itu pada Dika.
“Ini.” Kata
Winda.
“Ya,
terimakasih.” Dika pun menerimanya.
“Winda, tadi
itu siapa?” Tiba-tiba saja Yuda langsung bertanya.
“Oh, tadi itu
Kak Deri.”
“Oh, jadi
namanya Deri?”
“Memangnya
kenapa?”
“Aku kurang
suka dengan orang itu.”
“Kenapa?”
“Sudah ku
bilangkan aku kurang suka.” Kini nada bicaranya mulai tinggi dan sukses membuat
Winda terdiam. Dia pun mulai merebahkan dirinya kembali di karpet. “Bangunkan…..”
“Iya aku tahu,”
Winda pun memotong pembicaraan Yuda dengan nada yang mulai tinggi juga. Yuda
pun terdiam, memandangi Winda dari tempat dia merebahkan badannya.
“Kau kenapa?”
“Kau yang
kenapa, kenapa kau hobi sekali bersikap seperti ini? Kau selalu saja bertingkah
menyebalkan. Dengar ya, ini adalah ketiga kalinya kau bertingkah seperti ini di
depanku.”
“Apa maksudmu
aku ini menyebakan?” kata Yuda dan dia pun duduk kembali.
“Apa, kau tidak
sadar? Semenjak kertas-kertas biru itu ada di tasku kau beringkah menyebalkan
dan sangat tidak karuan. Kau tak pernah memberikan alasan yang jelas dan
setelah itu kau langsung berbaring dan berharap aku tidak bertanya apa-apa lagi
padamu.”
“Dengar ya,
jika kau ingin tahu dia itu adalah teman sekelas dari Latifah.”
“Ya aku sudah
tahu hal itu, lalu kenapa?”
“Dia itu
bekerja sama dengan Latifah.”
“Apa maksudmu?”
“Kau percaya
kertas-kertas itu darinya kan? Cih,.. sangat ironis sekali. Aku beri tahu ya,
kertas itu diberikan oleh Latifah padanya, dan dia yang menyimpan kertas itu di
tasmu?”
“Apa, kau tahu
dari mana hal itu?”
“Aku melihatnya
dengan mata kepalaku sendiri. Itu lah alasanku, kenapa aku bersikap seperti itu
padamu.”
“Kau jangan
bicara yang tidak-tidak di depanku!”
“Silahkan saja
jika kau tidak percaya padaku. Tapi aku, tidak akan pernah membiarkanmu
terjerumus pada jebakan mereka.”
“Lalu aku harus
percaya padamu dan membeci Kak Deri sama halnya denganmu, begitu?”
“……..”
“Dengar ya,
mungkin bagimu sangat mudah memponis orang dengan kacamata kebencianmu itu. Tapi
aku, tidak akan mudah percaya pada siapa pun aku belum melihatnya dengan mata
kepalaku sendiri. Apa lagi orang itu sepertimu.”
“Hey jaga
bicaramu!”
“Jaga bicaraku?
Kau yang harusnya menjaga bicaramu!”
“APA KAU
BILANG?!!”
“Sudah-sudah!
Hentikan! Apa yang kalian lakukan? Kalian berdua sama saja, jaga bicaramu itu,
Win!” Kata Dika yang berusaha melerai mereka. “Kau juga Yuda, kau juga jangan
langsung menyumpulkan apa yang kau lihat. Ingat, aku juga melihatnya.”
“Tapi aku
sangat yakin dengan apa yang aku lihat.” Yuda pun membela dirinya.
“Sudah ku
bilang jangan langsung menyimpulkan! Kita tidak tahu apa yang sebenarnya
terjadi saat itu.” Dika pun mengelah nafas. “Winda, ayo minta maaf pada Yuda!”
kini nada bicara Dika sedikit turun.
“Tidak mau.”
Jawab Winda sambil memalingkan mukanya.
“Kenapa kau
tidak mau?”
“Dia yang
memulainya, dia juga yang harus mengakhiri semuanya.”
“Ya ampun.
Yuda, kau minta maaf padanya.!”
“Enak saja kau
bilang, aku melakukan ini demi kebaikannya. Harusnya dia berterimakasih
padaku.” Kata Yuda.
“Cih!
Berterimakasih padamu, apa aku tidak salah dengar?” Kini Winda mulai
memperpanas suasana lagi.
“Suda-sudah!
Kalian berdua ini sama saja. Keras kepala!” ujar Dika.
“Terserah! Aku
tidak peduli.” Gadis itu pun menggedong tasnya lagi, dia berniat untuk pergi
dari tempat itu. Lalu dia pun menuruni anak tangga yang ada di depannya.
“Winda, mau
kemana kau?” Tanya Dika, tapi sayang Winda sama sekali tidak menggubrisnya.
“WINDA, DENGAR!
JIKA ITU MAUMU, BAIK AKU JUGA TIDAK AKAN PEDULI LAGI DENGANMU!!!” Teriak Yuda.
Mungkin ini
adalah awal ujian hidup yang harus mereka lalui, rasa ego yang tinggi memang
menjadi topik terhangat untuk mereka yang berusia remaja. Sebenarnya, setiap
orang pasti akan melewati ujian seperti ini. Hanya saja bedanya, bagaimana
orang-orang itu dapat memecahkannya, jalan apa yang mereka tempuh dan apakah
orang itu berperan sebagai orang yang jahat atau sebaliknya. Untuk lebih jelas,
mari kita lanjut.
Hari ini adalah
hari yang cerah, begitu banyak hal-hal yang bisa Winda perhatikan dari balik
kaca mobilnya. Dia berharap, mungkin dengan memperhatikan hal-hal yang tidak
penting di jalan dapat membantunya melupakan hal yang kemarin terjadi. Tak
lama, dia sudah sampai di gerbang belakang sekolahnya dan dia pun beranjak
turun dari mobil kakaknya.
“Winda,
tunggu!” Kata Yogi sambil membuka kaca mobilnya.
“Apa?” Tanya
Winda.
“Kenapa dari tadi
kau terlihat murung, kau ada masalah?”
“Tidak, aku
hanya sedikit pusing saja.” Winda berbohong.
“Kau sakit, apa
kau mau pulang?”
“Tidak, aku
masih bisa menahannya. Jangan terlalu mempedulikanku!” Gadis bekucir satu ini
pun langsung masuk ke dalam area sekolahnya. Seperti biasa, di gerbang belakang
ini 3 preman sekolah sedang memalaki siswa yang lewat sana.
“Hey, jika kau
mau lewat kau harus bawar dulu.” Tiba-tiba saja Ridwan menghalangi langkah
Winda.
“Minggir kau!”
“Apa?”
“Aku bilang
minggir!”
“Ridwan.” Kata
Wisnu si ketua preman sambil memberikan isyarat untuk memperbolehkan gadis itu
lewat. Entah apa yang membuat mereka seperti ini, sepertinya mereka sudah
mendengar kabar gadis itu pernah menghajar orang yang lebih tua darinya.
Ditambah lagi wajah gadis itu sedang kusut. Winda pun melanjukan perjalanannya
menuju kelas, tapi……
“Winda,,,”
Seseorang memanggilnya, Winda pun menoleh ke arahnya. “Selamat pagi.” Kata
Deri.
“Pagi.” Jawab
Winda dengan singkat.
“Kau kenapa,
kau sakit?”
“Tidak.”
“Lalu, kenapa
kau…..”
“Sudah, cukup!”
Winda pun mengelah nafas. “Dengar, aku sedang tidak ingin diganggu. Jadi,
tolong!”
“Kau punya
masalah? kau mau bercerita padaku?”
“Baiklah jika
itu maumu, aku akan bercerita padamu. Ternyata kertas biru itu bukan pemberian
dari seorang laki-laki. Puas?!” Winda pun melangkah pergi meninggalkannya.
“Win, apa
maksudmu?”
“……………”
“Winda.” Deri
pun mengejar Winda. “Apa maksudmu?”
“…………..”
lagi-lagi Winda tidak menjawabnya.
“Win,
bicaralah!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar