Jumat, 27 September 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 15"



The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 15
Fans yang Kesurupan

‘Ya tuhan, apa yang sedang terjadi ini??’ gumam gadis itu. dia pun segera menegok ke belakangnya. Terlihat dua orang pria sedang beradu jotos dengan hebat, tak lama penontonpun mulai ricuh dan tak terkendali. Tias terseret ke sana kemari, dia tak mampu mempertahankan posisinya.”AAAAAA KAKAK… TOLONG AKU,,,,,,”
“Tias??”
“AAAAAAAAAA…. TOLONGG……!!!” Kini Mahmud tak dapat lagi berkonsentrasi dengan musiknya. Lalu dia lepaskan begitu saja gitar yang sedang dimainkannya dan dia pun melompat ke kerumunan penonton. Seketika musikpun terhenti, hanya terdenganr suara ricuh penonton. Mamhmud berusaha mengejar Tias yang semakin terseter.
“TIAS…!! TIAS…!!!” Dia terus saja memanggil nama gadis itu, Mahmud mulai panik, yang ada dipikirannya hanya ada satu yaitu menyelamatkan Tias. ‘Kemana dia pergi?’ Gumam Mahmud, dia terus menyusuri para menonton yang ricuh dan dia pun berhasil menemukannya. “Dapat…” Mahmud pun menangkap tangan Tias dan menariknya. Dia merangkul tubuh Tias agar terhindar dari serangan yang bisa saja terjadi dan membawanya ke pinggir. “Kau tidak apa-apa?” Gadis itu pun menggeleng.
“Maaf…” kata Tias dengan lirih. Saat ini terlihat wajah Tias yang amat sangat ketakutan.
“Mahmud, ulurkan tanganmu..!!” Ujar Ari.
“Tidak, bawa dia dulu.” Ari pun segera memegang tangan Tias dan menariknya ke atas panggung. Sementara Mahmud dibantu oleh Bayu dan Yana. Mereka pun segera membawa Tias ke ruangan tadi. Dari kejauhan terlihat jelas aksi gila sang gitaris ini, terutama saat melompat dari panggung dan membawa gadis itu kembali ke ruangan peserta lewat panggung juga.

“Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Mahmud. Tias pun menggeleng, saat ini dia hanya bisa menangis terduduk di kursi itu.
“Tias…” Panggil seseorang yang baru saja datang. “Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Winda. Lagi-lagi tias menggeleng, gadis berkucir satu itu pun langsung duduk di sampingnya dan memeluk tias. “Sudah ya, yang petning saat ini kau selamat.”
“Win, kau jaga dia ya.!” Ujar Mahmud.
“Kau mau kemana?”
“Pertungjukan harus tetap berlangsung, aku tak mau membuat panitia disini menjadi rugi dengan dihentikannya pertungjukan ini.” Kata Mahmud. “Deri, kau jaga mereka ya..!!”
“Ya, kau tenang saja.” Jawab Deri. Mahmud dan anak-anak Espada lainnya pun kembali ke atas panggung dan mengambil posisinya masing-masing.
“Ok semuanya, kami minta maaf dengan terhentinya music kami. Kejadian tadi semoga tak terulang lagi untuk yang ke dua kalinya.” Ujar Ari, tak sengaja Ari membaca suatu tulisan yang dibentakngan sekumpulan penonton pada suatu kain spanduk yang bertuliskan ‘Para Pecinta Musik Sejati’. Dia pun memiliki sebuah ide untuk dia bicarakan. “Para Pecinta Musik Sejati!!!” Ari pun menyerukannya dan mereka yang memegang spanduk itu pun bersorak. “Yang ada disini semuanya adalah Para Pecinta Musik Sejati, bangkitkan jiwa music kalian. Saya minta suaranya. Para Pecinta Musik Sejati!!!!” kembali Ari serukan sambil berkeliling dan hampir semua yang ada disana pun bersorak. “Sekali lagi, Para Pecinta Musik Sejati!!!!!” sorakan pun kembali terdengar. “Atas nama jiwa music, kita bangkitkan perdamaian untuk Para Pecinta Musik Sejati. Mulai!” Musik pun kembali dimainkan, kali ini mereka membawakan lagu dari Superman is Dead yang berjudul Kuat Kita Bersinar. Penonton kembali bergoyang dengan irama music yang cepat ini.

Keesokan harinya, terlihat sang gitaris ini baru saja sampai di sekolah menggunakan sepeda kesayangannya. Tanpa basa-basi, dia langsung memarkirkannya di tempat biasa, setelah itu dia pun segera masuk ke area campus lewat gerbang belakang.
‘Aman.’ Gumam Mahmud sambil menengok sana-sini, sepertinya dia memastika preman-preman sekolah yang sering nongkrong disana sedang cuti bersama. Dia terus berjalan menyusuri koridor kelas. Saat itu dia melihat banyak sekali kerumunan anak perempuan yang memperhatikannya di sepangjang koridor. ‘Mereka itu kenapa sih? Apa hari ini penampilanku aneh?’ dia pun terus berjalan seakan tak menghiraukannya. Tapi pada saat dia melewati kerumunan anak perempuan yang satu ini, sesuatu pun terjadi.
“KYAAAAA….. GITARIS ESPADA….. KYA KYA KYA……” Gadis itupun menari-nari gaje di depan Mahmud. Mahmud hanya memandanginya dengan heran. “Kau adalah gitaris yang paling keren dari semuanya… aku ini adalah fans mu..” Kata Maya sambil menjabat tangan Mahmud dengan tingkahnya yang gaje.
“Kau ini kenapa? fans apa?”
“Ya ampun, kau ini kenapa? aksi kerenmu kemarin sekarang sedang buming di Koran, internet dan sekolah ini. Andai saja yang kau selamatan itu aku….”
“A-apa?” Mahmud pun berniat untuk menanyakan hal ini pada teman-temannya dan beranjak dari sana. “Maaf, aku harus pergi.”
“Eh kau mau kemana?” Maya pun meraih kedua tangan Mahmud dan berusaha menahannya agar tetap tinggal. “Jangan pergi, kau adalah idolaku…”
“Maaf….” Mahmud pun melepaskan tangan Maya dan segera tancap gas ke kelasnya.
“Hey, kenapa kau pergi? Padahal aku masih ingin mengatakan beberapa hal padamu… hey!!!” yah… begitulah aksi salah satu dari Fans barunya. Mahmud terus berlari menuju kelasnya, tapi saat beberapa langkah lagi ke kelasnya dia melihat banyak sekali kerumunan siswa perempuan yang menghalangi pintu masuk.
“Kyaaaaaa!!! Itu Mahmud…” Teriak seseorang.
“Ya ampun….” Terpaksa, mau tidak mau dia harus menerobos kerumunan itu. “Maaf, aku mau lewat…” Mahmud pun mulai menerobos sambil ada beberapa orang yang mencoba mencubit pipinya, menarik tangannya dan bahkan menarik tasnya. “Hey… hey… jangan tarik tasku…!!” Mahmud pun berusaha menariknya dan dia pun berhasil menerobos lalu segera duduk di bangkunya. “Gila…. Aku hampir mati, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
“Ini karena aksimu kemarin.” Jawab Ari. Sepertinya tiga Espada yang ini juga bernasib sama seperti Mahmud. Kancing baju Ari copot, rambut Bayu terlihat acak-acakan dan terlihat beberapa bekas cubitan dipipinya dan Yana topinya hilang entah kemana. Sepertinya ada orang yang mengambilnya waktu dia dikerumuni.
“Apa, tapi kenapa jadi seperti ini?”
“Sepertinya ada yang mengunggah video saat kita dipanggung dan sepertinya disana ada wartawan yang menyebarkannya dikoran. Jadi…….” Kata Bayu sabil membereskan rambutnya.
“Topiku…. Topiku hilaaaaaang…. Topiku yang berharga. Sekarang bagaimana dengan nasib kepalaku??” Sekarang yana mulai bertingkah gaje seperti orang depresi karena kehilangan sebuah topi.
“Ini, pakai saja punyaku.” Mamhud pun memberikan topi sekolah pada teman sebangkunya itu.
“Tidak, topinya tidak sama dengan punyaku. Topiku itu berbeda, kami telah melalui banyak hal bersama. Aku mau topiku….!!!” Yana pun mengacak-acak kepalanya.
“Cepat pakai saja, lagi pula topimu itu juga topi seklolah seperti ini kan??”
“TIDAK!!!” Yana membentak Mahmud, lalu Yana pun membungkukan badannya ke meja dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Topiku yang malang!!! Kepalaku merindukanmu!!!!”
‘Stres!!!!’ Gumam Mahmud. “Lalu sekarang bagaimana?”
“Entahlah, sepertinya kita biarkan saja ini mereda dengan sendirinya.” Jawab Ari.
“Haaaaaaaaahhh……” Mahmdu pun mengelah nafas panjang.

Dikelas Tias.
“Kyaaaa!! Apa benar seperti itu?” Tanya Widiya, Tias pun menganggukan kepalanya.
“Aku merasa sangat bersalah padanya.” Ujar tias.
“Sudahlah, yang penting saat ini kau kan selamat. Lagi pula Espada mendapatkan keuntungan dari itu.” Kata Rina
“Tapi… tapi…..”
“Ya, itu benar. Ini lebih baik dari pada kemarin kau babak belur karena ikut dipukul orang.” Winda pun menambahkan.
“TAPI TIDAK SEPERTI ITU…..” Tias pun berteriak. “Keuntungan apa? Apa kalian tidak lihat, anak-anak perempuan di sekolah ini seperti kesurupan mengejar-ngejar mereka. aku tidak tega melihat mereka seperti itu.”
“Tapi aku rasa sebentar lagi kau akan jadi primadona di sekolah ini.” Kata Widiya.
“Primadona apanya? Aku tidak mau.”
“Sudahlah, sekarang kau jangan terlalu memikirkan hal ini. Aku yakin mereka dapat mengatasinya. Kau tak perlu menyesalinya, karena aku yakin ini akan menjadi perubahan yang baik untuk mereka dan juga untukmu.” Ujar Rina.
“Benarkah?” Tanya Tias, Rina pun mengangguk.

Memang ini adalah hari Senin yang sangat berat untuk anak-anak Espada, Saat pelajaran dimulaipun setiap guru yang mengajar di kelas mereka pun lagi-lagi membahas hal itu. ada yang memuji, ada juga yang mengritik mereka. Rasanya memang senang memiliki banyak fans karena aksi heroic kemarin, tapi sangatlah pusing menghadapi mereka yang seolah-olah seperti kesurupan.
Saat jam istirahat pun mereka tak bisa kemana-mana, karena para anak perempuan itu terus saja mengerumuni pintu masuk dan ada juga yang melihat mereka dari jendela kelas. Yana masih terlihat depresi, bayu masih mengelus-elus pipinya karena bekas cubitan yang masih merah dan sepertinya akan membiru. Ari asik sendiri mendengarkan music dari headphonnya dan Mahmud hanya bisa tiduran dengan posisi membungkuk di meja. Sesekali dia melihat ke pintu dan mereka masih ada untung saja pintunya ditutup dan mereka tidak masuk. Jika tidak, pasti Yana akan brutal karena tidak tahan dengan keadaan seperti ini.
‘Semoga Yana tidak apa-apa, mungkin ini hanya efek dari fans baru dihari pertama. Haaaaah… sudahlah.’ Gumam Mahmdu, dia pun berusaha  menutup matanya. Berharap dia bisa terlelap sebentas sampai bell masuk berbunyi kembali.
Saat ini kelas mulai sepi, para fans itu mulai membubarkan dirinya karena idola mereka tak juga mau keluar dari kelas. Hening pun mulai tercipta, hanya terdengar bunyi gaduh siswa seperti biasa.
‘Akhirnya….’ Gumam Mahmud yang masih memejamkan matanya. Tak lama, Mahmud mulai merasakan getaran dari saku celananya. Pria itu pun segera meraih dan mengambil benda itu dari saku celananya. Dia lihat ada pesan masuk di ponselnya.

From : Intan
Tuan musisi, kau sedang apa?

‘Tak biasanya dia mengirimku pesan saat jam seperti ini. Aku kira dia sedang sibuk dengan mata kuliahnya.’ Gumam Mahmud, dia pun mulai memencet-mencet tombol yang ada di ponselnya.

To : Intan
Sedang tiduran. Ada apa?
Biasanya jam segini kau sibuk, kan?

Mahmud pun mengirimkan pesan singkatnya dan beberapa saat kemudian ponselnya bergetar kembali.

From : Intan
Tiduran? Apa kau sedang tidak enak badan?
Saat ini aku sedang punya waktu luang.
Aku iseng saja meng-SMS mu,
Siapa tahu kau membalasnya.
Ternyata benarkan kau membalasnya. :)

To: Intan
Tidak, aku sedang tidak punya kerjaan saja di kelas.
Iseng ya?

From : Intan
Ya…. Apa hari ini band mu ada jadwal latian?

To : Intan
Tidak. Memangnya ada apa?

From : Intan
Bagus…!! Berarti nanti kau ada di toko kan?
Aku akan mampir ke tokomu.

To : Intan
Ya, silahkan saja kalau mau mampir.

From : Intan
Iya. Ya sudah, sampai nanti.

Mahmud kembali memasukan posel ke saku celananya. Singkat cerita jam pelajaran hari ini pun berakhir dan semua siswa pun bubar. Tapi pria muda ini masih tetap di kelas, padahal buku-bukunya sudah dia bereskan dan kelas pun sudah kosong. Dia kembali mengeluarkan ponselnya dan memandangi ponsel itu lekat-lekat.
“Dia, cantik.” Ujar Mahmud, ternyata dia sedang memandangi foto seorang gadis. “Tapi sekarang bukan waktu yang tepat, ku lihat kau masih terlihat dingin. Tapi aku akan berusaha agar kau menyadarinya walau aku belum mengatakannya secara langsung.” Mahmud pun kembali memasukan benda itu ke saku celananya dan menggendong tas hitam yang ada di sampingnya. Dia pun beranjak dari kelas dan kembali menyusuri koridor kelas. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, dia melihat seorang gadis baru saja keluar dari pintu kelasnya. Rambut tergerai dengan bando pita berwarna putih terpasang di kelapanya. Jantung pria itu mulai berdegup kencang, kaki yang berdiri kokoh pun mulai gemetar. Tangannya mulai dingin dan keringat mulai keluar dari tubuhnya. Pria itu pun menarik nafas panjang dan kembali berjalan menghampiri gadis itu.

“Tias…” Panggil Mahmud, Tias pun menoleh.
“Kak Mahmud..?”
“Kenapa kau sendirian, apa yang lainnya sudah pulang?”
“Ya begitulah, tadi saat jam pelajaran terakhir aku dipanggil oleh pak Fadhila.”
“Kenapa?”
“A-anu, karena aku tidak mengumpulkan pekerjaan rumah yang dia berikan minggu lalu. Sepertinya kemarin malam aku lupa memasukan buku itu ke dalam tasku.”
“Begitu ya.” Jawab Mahmud, mereka pun mulai melangkahkan kaki mereka menuju gerbang belakang. “Oh iya, apa sekarang kau sedang tidak bawa sepeda?”
“Em,, aku bawa. Memangnya kenapa?”
“Wah sayang sekali ya, tadinya aku ingin mengantarmu pulang.”
“Benarkah?” Tias pun tertawa kecil. “Tapi sepertinya jika bersepeda berdua itu jauh lebih menyenangkan.”
“Baiklah kalau begitu, aku setuju.”
“Eh, tunggu..!!!” Tias pun menghentikan langkahnya.
“Ada apa?”
“Tapi kalau fans-mu marah bagaimana?”
“Fans, fans apa?” Mahmdu pun mulai tertawa.
“Fans itu, bukannya tadi di kelas kau dikerumuni oleh anak perempuan. Itu namanya fans, kan?”
“Hahahaha…. Kau ini ada-ada saja, aku rasa tidak. Bagiku masih terlalu cepat jika aku memiliki fans seperti itu, ya…. Bukan berarti aku tidak mensyukurinya tapi, bagaimana ya mengatakannya?”
“Apa benar? Biasanya anak laki-aki selalu senang jika dia tau kalau dirinya mempunyai banyak fans??!!” wajah Tias pun kini menunjukan raut wajah keraguan yang sangat jelas.
“Ya begitulah,, sudah lupakan saja. Ayo cepat..!!” Mahmud pun menggenggam tangan Tias dan menariknya agar mereka segera keluar dari area sekolah.

“Mereka berpegangan tangan…. Apa mereka itu sepasang kekasih?? Ini benar-benar berita hangat, ternyata bukan semata-mata alasan biasa waktu itu dia menyelamatkannya.” Kata seseorang, ternyata sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka.

Semetara itu di halaman toko, terlihat tujuh sekawan ini baru saja tiba. Tanpa basa-basi mereka langsung saja memasukan sepeda mereka ke dalam garasi dan segera naik ke lantai dua. Mereka mulai mengganti baju dan bersiap-siap untuk santap siang.
“Hari ini aku lelah sekali….” Ujar Dika sambil merebahkan dirinya di karpet. “Dasar penjaga sekolah gila, gara-gara aku terlambat satu menit aku disuruh lari marathon berkelining lapangan.”
“Memangnya kenapa, itu sudah peraturan kan?” Tanya Dipa.
“Bukan masalah peraturannya, tapi dia benar-benar tidak berperasaan. Saat jam terakhir tadi, dia menyuruhku berlari dilapangan 20 keliling. Mana panas, lalu yang dihukum hanya aku. Ditambah lagi aku dilihat oleh banyak anak perempuan.”
“Memangnya sudah berapa kali kau terlambat?”
“Lima kali berturut-turut.” Kata Dika dengan datar.
“Ya tentu saja, dasar bodoh. Siapa pun pasti akan geram menghukumu beberapa kali secara berturut-turut. Kau sudah tahu sendirikan, pak Ahmad selain jadi penjaga sekolah dia sudah seperti algojo di sekolah kita. Badannya yang tinggi besar dan kekar, juga ditambah wajah yang sangar itu…..” kata-kata Dipa pun terpotong.
“Jangan berlebihan menggambarkan orang.” Kata Iqbal. “Bukannya dia berbentuk…..” Iqbal pun mulai memutarkan tangannya membentuk lingkaran yang besar. “Hihihihi…”
“Hey.. hey.. jaga bicaramu.!” Rona pun ikut-ikutan. “Paling tidak ada sebuah keuntungan juga kan untuk kita.”
“Keuntungan apa? Algojo kok ada untungnya.”
“Dasar kau ini.” Rona pun tertawa kecil. “Kau tahu sendiri kan dia adalah algojo sekolah. Setiap siswa yang bermasalah akan berhadapan dengannya, siapa pun itu. untuk sekarang, kita sedang tidak akur dengan para preman sekolah itukan? Mungkin secara singkatnya, jika mereka berbuat masalah dengan kita, kita bisa langsung melaporkan hal itu pada pak ahmad. Jadi baik-baiklah kau Dik padanya..!!”
“Benar juga. Ya mungkin untuk besok aku tak akan terlambat lagi.” Ujar Dika.
“Sepertinya kita punya tentara barisan depan.” Kata Dipa.


Dipihak lain, saat ini Mahmud dan Tias dengang bersepeda menyusuri jalan yang lebih jauh dari pada biasanya. Tak lama, anginpun berhembus kencang menerpa tiap helai rambut mereka. pantulan cahaya matahari dari sebuah danau besar menggoda mereka untuk berhenti sejenak.
“Tias, kita berhenti dulu disini bagaimana?” Tanya Mahmud.
“Boleh juga.” Jemari merekapun langsung meraih rem dan sepeda pun berhenti. Lalu merekapun turun dari sepeda dan mengambil tempat duduk yang hanya beralaskan rumput yang tumbuh di pinggir jalan.
“Danaunya sangat luas ya, rasanya sudah lama sekali aku tidak kesini.” Ujar Tias.
“Memangnya kapan kau terakhir kali kesini?” Tanya Mahmud.
“Saat umurku 4 tahun, saat ayah dan ibuku masih bersama.” Tias pun menundukan kepalanya.
“Maaf..”
“Tidak apa-apa. Lagi pula itu hanya cerita lama, kan?” Tias pun tersenyum yang sukses membuat Mahmud membulatkan matanya.
‘Gadis ini benar-benar tegar, dia berusaha tetap tersenyum walaupun itu terasa sakit.’ Gumam Mahmud.
“Lalu, kapan terakhir kali kakak kemari?”
“Dua minggu yang lalu, saat aku iseng mencari jalan ke sini. Ternyata aku menemukan tempat seindah ini.”
“Begitu ya, semua orang pasti akan bilang kalau tempat ini indah.” Sunyi tercipta kembali, tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka. hanya terdengar suara angin dan air yang mengalir. Kala itu terlintas suatu pertanyaan dalam pikiran Mahmud, rasa penasaran yang amat sangat. Biar pun itu adalah pertanyaan serius yang pertama baginya.
“Em Tias..!!”
“Hm..?”
“A-anu, sebenarnya kau suka tipe laki-laki yang seperti apa?” pipi Mahmud pun mulai merona.
“Kenapa kau tanyakan hal seperti itu?” Pipi Tias juga ikut-ikutan merona.
“Ti-tidak, aku hanya ingin tahu saja. Bukan meksudku untuk hehehehe…”
“Oh begitu ya.” Tiaspun tersenyum. Matanya langsung tertuju pada hamparan air danau yang ada dihadapannya. “Aku suka dengan laki-laki yang kuat.”
“Kenapa?”
“Karena aku termasuk orang yang lemah. Dulu ayahku berusaha untuk melindungiku apapun yang terjadi. Tapi sekarang ayahku…..” Tiaspun kembali tertawa kecil. “Sekarang siapa yang akan melindungiku? Ibuku sangat sibuk dengan urusan kantornya, haaaaaaahhh…. Ternyata aku ini benar-benar lemah.”
“Tapi menurutku kau itu sangat kuat.” Tiaspun membulatkan matanya. “Tak setiap orang mampu tersenyum pada saat dia membicarakan masalah yang berat baginya. Aku kagum kau bisa tersenyum saat kau bilang itu adalah cerita lama. Sungguh sosok yang tegar. Sepertinya aku harus belajar hal itu darimu.”
“Kau sedang mengiburku kan?”
“Tidak.” Jawab Mahmud dengan datar. Tiaspun kembali tertawa kecil.
“Oh iya, terimakasih. Terimakasih karena telah menyelamatkanku kemarin, aku senang ternyata masih ada orang yang mau melindungiku. Kau adalah pahlawanku.” Tias tersenyum dan Mahmud hanya membulatkan matanya dan pipinya kembali merona.
“I-itu bukan apa-apa, lagi pula aku yang harus bertanggung jawab jika terjadi apa-apa padamu kan?” ujar Mahmud. ‘Apapun akan aku lakukan untukmu.’ Gumam Mahmud.

Dipihak lain, di dalam mobil merah muda.
“Kyaaaa sebentar lagi aku akan bertemu dengan tuam musisi….” Ujar Intan dengan gaje sambil menyetir mobilnya. Saat ini dia sedang melewati kawasan danau yang sama dengan Mahmud dan Tias. Mobil itu terus melasju dan melaju. Tapi tiba-tiba  intan membulatkan matanya.
“Tu-tuan musisi….”

Lalu dipihak Mahmud.
“A-anu Tias, aku ingin menawarkan seseuatu padamu.” Ujar Mahmud.
“Apa?”
“Em, kau bilang kau sedang membutuhkan orang yang kuat agar bisa melindungimu kan?”
“Lalu.??”
“A-aku… aku..mau…..” ucapan Mahmud terpotong.
TIIIIDDD…. TIIIIDD…..
Seseorang membunyikan klakson mobilnya yang sukses membuat keduanya melihat ke arah sumber suara itu. mobil itu pun berhenti dan kaca mobil itu pun terbuka.
“Tuan Musisi sedang apa kau disini?”

---To Be Continued---


Minggu, 01 September 2013

The Shop Nine-Tailed Fox Chapter 14 "Tuan Musisi"



The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 14
Tuan Musisi

“Aku mohon, kembalilah….. aku ingin kita seperti dulu…”
“Aku bilang bangun…!!”
“Tidak, aku tidak akan bangun sebelum kau kembali lagi padaku…”
‘Ya Tuhan, sekarang cobaan apa lagi ini?’ gumam pria ikal itu.

“Jangan bicara di luar, sebaiknya bicara di dalam saja. Itu lebih enak kan?” Ujar Dipa yang tiba-tiba saja muncul dari pintu toko. Yogi sangat kaget, begitu juga dengn Lena, dia pun langsung saja berdiri.
“Maafkan atas ketidak sopananku.” Kata Lena.
“Ya, cepat masuk.” Ujar Dipa lagi. Dua sejoli ini pun segera masuk.

Lalu, dilantai 2.
“Silahkan, mungkin ini tempat yang alakadarnya. Tapi lebih bagus kan dari pada di luar.” Kata Dipa.
“I-iya. Terimakasih.” Ujar Lena, kini Lena dan Yogi duduk di atas karpet yang di gelar di sana. Lena masih memandangi Yogi yang kelihatannya masih menyimpan amarah. “Haaaaaahhhh….” Lena pun mengelah nafas. “Apa kau masih arah padaku?”
“Hmmm….”Jawab Yogi dengan Singkat.
“Lalu aku harus melakukan apa agar kau tidak marah lagi padaku?”
“Entahlah, menurutmu kau harus apa?”
“Aku tahu, aku telah bersalah. Aku bertingkah bodoh kemarin, dan aku tahu aku ini hanya seorang anak manja yang tak berguna. Tapi setidaknya ada seseorang saja yang peduli denganku aku sangat senang. Kau tahu sendiri kan, di rumah orang tua ku hanya mengurus pekerjaan mereka saja. Seakan-akan yang menjadi anak mereka adalah pekerjaan itu. aku mohon, aku akan lakukan apapun asal kita bisa kembali lagi seperti dulu.”
“Apa pun itu?”
“Ya, apa pu itu.” Yogi pun terdiam, sebenarnya dia tak tega dengan keadaan Lena saat ini. Dia mengerti betul bagaimana perasaan Lena.
“Baiklah, terserah kau saja.”
“Benarkah, terimakasih sayaaaangg…..” Kini Lena mulai bertungkah gaje di depan Yogi.
“Ya, ya, ya. Tapi aku minta jaga sikapmu, aku tak mau melihatmu bertingkah seperti nenek sihir lagi.”
“Ya, iya tentu saja. Aku berjanji.”
“Satu lagi, kau harus baikan dengan Winda.”
“Baikan dengan anak itu?? Ta-tapi dia kan yang……..”
“Oh, jadi kau mau kita putus lagi. Ya sudah kalau begitu.” Yogi pun mulai berdiri seakan pergi dari sana.
“I-iya… iya baikah. Aku akan baikan.” Lena pun berdiri mengikutinya, dan mulai meraih tangan Yogi. “Tapi aku tidak bisa memulainya sendirian.” Kata Lena dengan manja.
“Haaaaaaahhh…..” Yogi mengelah nafas panjang.

Sementara itu, dilantai 1 terlihat delapan sekawan ini sudah selesai menutup toko mereka.
“Sepertinya sudah selesai, ayo kita pulang saja.”Ujar Rona, tanpa basa basi lagi, mereka pun segera mrnuju ke lantai 2 untuk mengambil barang-barang mereka. “Win, tunggu sebentar.”
“Apa?” Tanya Winda, Rona pun segera menghamiri gadis itu.
“Katanya kau dan pacar kakamu itu sudah berperang hebat ya kemarin?” Nampaknya Rona tak ingin ketinggalan informasi.
“Ya, begitulah. Memangnya ada apa?”
“Oh jadi itu benar ya?”
“Sudah aku bilang kan, apa yang aku bilang itu benar. Kau selalu saja tak percaya padaku.” Kata Dika yang tiba-tiba saja nyaut dengan obrolan mreka.
“Diam kau…” Rona pun sekarang terlihat sedikit sebal, sementara Dika dia langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua di toko. “Lalu sekarang kenapa pacar kakakmu itu bagaimana?”
“Sepertinya kakak memutuskan hubungan mereka, karena kakak bilang dia…….” Kata-katanya terpotong.
“Winda, boleh kita bicara sebentar?” Kata Yogi.
“Ba-baik.” Jawab gadis itu, Rona langsung tancap gas ke lantai 2. Sekarang di toko hanya ada Lena, Yogi dan Winda. “Ada apa?”
“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Lena bicarakan denganmu.”
“Lena?”
“Iya benar.” Kata Lena. “Sebenanya aku hanay ingin minta maaf padamu, kemari kau sudah membuat masalah disini, terutama dengan kau.”
“Oh…” Jawab Winda, kelihatannya Winda masih merasa kesal dengan tingkah Lena kemarin.
“Apa kau mau memaafkan aku?”
“………….” Winda pun terdiam.
“Ya, aku tahu kau masih marah padaku. Tapi aku berjanji, aku tidak akan memanggilmu cebol lagi dan aku telah berjanji pada Yogi untuk memperbaiki sikap ku ini. Maafkan aku ya….!!!!”
‘Apa nenek sihir ini sedang beracting agar dia bisa kebali lagi bersama kakak?’ gumam gadis itu, Winda pun kemudian melirik Yogi yang ada di sebelah Lena. Dia pun memberikannya isyarat. “Ya baikah, aku juga minta maaf telah membuat baju mahalmu rusak dan telah memanggilmu nenek sihir.”
“Iya, itu bukan masalah.” Lena pun tersenyum. “TERIMAKASIIIIIIIHHHH…….. ADIK IPAR…..” Tiba-tiba saja Lena memeluk Winda dengan erat.
“Iya… iya,… sudah cukup. Aku memaafkanmu. Sekarang lepasan pelukanmu, aku tidak bisa bernafas ….”
“Oh maaf….”
“Haduh…. Ya ampun….” Winda pun terengah-engah dan dia pun mulai mengambil nafas. ‘Memang sudah tidak waras nenek sihir ini.’ Gumam Winda.
“Oh iya, minggu depan kau nonton konserku ya. Katanya setiap peserta bisa membawa satu orang untuk nonton gratis, karena itu untuk kakakmu jadi aku akan membelikan tiket khusus untukmu.”
“Iya, terimakasih. Seharusnya kan tidak usah repot-repot begitu.” Sebenarnya Winda sedikit tak suka menonton konser seperti itu, dia lebih suka diam di rumah saja dan menonton TV.
“Kau pasti datang kan, Win?” Yogi pun mengeluarkan wajah iblisnya.
 “I-iya, Ya ya ya, baiklah aku akan datang.” Winda terpaksa menerima permintaan itu.  ‘Uuh, menyebalkan, aku tahu pasti di sana kau hanya jadi obat nyamuk. Aku akan mengajak Kak Deri saja, aku juga kan ini berduaan tau.’ Gumam gadis berkucir satu itu lagi, maklum couple baru.

Dua hari kemudian, di depan kelas Mamud. Telihat para personil Espada ini sedang bersenandung ria, katanya sih itung-itung latihan untuk hari minggu nanti.
“Akhirnya lagu pertama sudah ketemu juga. Jadi konsepnya akan sepeti ini nanti, tapi untuk detilnya nanti saja kita latihan sepulang sekolah.” Ujar Ari.
“Ya, baiklah. Sekarang lagu kedua, mulai…..” Kata Bayu, tapi sang gitaris tidak saja memulai alunan gitarnya lagi. “Hey, aku bilang mulai! Kau sedang apa sih?”
“…………..” ternyata Mahmud sedang memperhatikan seorang gadis yang sekarang ini baru saja lewat di depannya.
“WOY….!!”
“A-apa?” Mahmud pun sadar.
“Wuuuuu, Tias saja ternyata yang ada di otakmu.” Ledek Yana.
“Aku panggil ya…” Kata Ari.”
“Sembarangan kau. Jangan..!!” Ujar Mahmud, tapi…..
“Tias….. tisa….” Tias pun menoleh dan membalikan badannya.
“Aku.??” Kata gadis itu sambil menunjuk dirinya.
“Ya, kemari sebentar..!!” Tapi gadis itu hanya diam saja, nampaknya dia takut jadi bahan mainan kakak kelas. “Kenapa diam saja cepat kemari…”
“Kacau…..” Ucap Mahmud, dia pun segera berdiri dan menaruh gitarnya disana lalu berjalan menghampiri Tias.
“Hey kau mau ke mana?” Tanya Ari.
“…………….” Tapi Mahmud sama sekali tak menggubrisnya, sepertinya Ari sudah gagal dengan kejahilan yang akan dia buat.

“Tias jangan kau dengarkan dia, sebaiknya kau ikut aku..!!” Mahmud pun menarik tangan Tias dan membawanya pergi dari sana. Tapi pada saat mereka melewati koridor, Tias pun melepaskan pegangan Mahmud.
“Sebenarnnya kau mau membawaku kemana?” Tanya Tias.
“Hanya menjauh dari mereka.”
“Kenapa?”
“Em, karena tadi mereka itu akan menjahilimu. Jadi aku bawa kau menjauh dari mereka.” sebenarnya Mahmud juga akan dijadikan bahan kejahilan mereka.
“Oh, pantas saja firasatku tidak enak. Tapi kenapa kau bertindak sejauh ini?”
“A-anu, selain itu aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Mengatakan apa?” kini Mahmud pun mulain berfikir mencari alasan yang tepat untuk menutupi semuanya.
“Aku…. Aku hanya ingin Tanya, apa kau mau datang ke konserku nanti?”
“Oh itu, tentu saja aku mau. Tapi, katanya tiket biasa sudah habis terjual. Bagaimana aku….”
“Oh, tenang saja. Masalah tiket kau tidak usah pikirkan, para peserta bisa mengajak satu orang dengan gratis. Jadi nanti kau bisa datang denganku.”
“Benarkah??? Ya ampuuuuuunnnn,,, terimakasih… terimakasih…. Teriakasih……” Kini Tias mulai menari-nari gaje khasnya sambil menyalami Mahmud dan tangannyapun terus dinaik turunkan dengan keras.
“I-iya, sudah cukup terimakasihnya. Tanganku sakit.”
“Ma-maaf. Sekali lagi terimakasih ya, daaahhhh…” Gadis itu pun pergi sambil berlari-lari gaje ke kelasnya.
‘Dasar gadis lucu, tapi syukur lah semua masih aman.’ Gumam Mahmud. Mahmud pun kini bisa bernafas dengan lega.

Sementara itu di kelas X-1, dari dalam sudah terlihat Tias sedang berlari-lari gaje. Dia terlihat kegirangan sekali, meski pun para sahabaatnya belum tahu apa yang baru saja terjadi tapi mereka sudah bisa menebak apa yang akan dia lakukan.
“Coba tebak siapa yang datang?” Kata Rina, Winda dan Widiya pun spontan melirik ke arah pintu.
“Haaaaahh,, aku tahu pasti dia akan…….” Kata-kata Widiya pun terpotong.
“Hey kalian….AAAAAHHAHAHAAAA” Teriak Tias dari arah pintu, gadis itu pun segera menghampiri teman-temannya.
“Benarkan apa yang aku bilang.”
“Kalian tahu tidak????”
“Apa?” Tanya Winda.
“Tadi Kak Mahmud mengajaku ke konsernya nanti, AAAAAAAAAAAAA……HAHAHAHAHA…. Aku senang sekali.”
“Benarkah? Bukannya tiket regular sudah habis??” Tanya Rina.
“Benar, tapi katanya setiap peserta boleh membawa satu orang dengan gratis. Kalian juga ikut ya… ya ya ya….”
“Maaf, bukannya tidak mau. Tapi bukannya tiketnya sudah habis, lagi pula aku sudah janji pada kak Yuda untuk membatunya melukis sepatu.”
“Em, begitu ya.Widi, kau mau ya..!!!”
“A-anu, aku juga tidak bisa. Katanya kak Iqbal ingin aku menemaninya ke suatu tempat.”
“Romantis sekali, memangnya kalian ini mau kemana sih?” Tanya Winda.
“Maaf, aku juga tidak tahu. Katanya itu rahasia.”
“Winda, kau mau ikut ya…. Aku mohon, nanti 50% harga tiket aku yang bayar. Ya ya ya ya,, aku mohon…!!!”
“Tidak usah, lagi pula nanti aku juga akan ikut menonton konsernya.”
“Benarkah?? Tapi tiket itu kan lumayan mahal.”
“Ya, tapi aku tak memikirkan hal itu. Karena pacar kakakku yang membelikannya.”
“Wah, kenapa bisa?” Tanya Widiya.
“Soalnya, kemarin kami sudah berbaikan. Sebagai tanda maaf darinya, dia memberikan aku tiket khusus. Begitu.”
“Bagus,,,, hieeeee……” Tias pun bersorak.
“Jadi pergi bertiga dengan kakakmu dan pacarnya ya?” Tanya Rina.
“Begitulah, jika bukan karena aku dipelototi kakak aku mana mau.”
“Biar aku tebak, pasti nanti kau akan jadi obat nyamuk, kan??? hahahaha”
“Enak saja, tentu saja tidak. Lagi pula aku mengajak Kak Deri.”
“Romantis sekali, nonton konser berdua dengan sang pacar. Hahaha.” Widiya pun membalas ejekan Winda tadi.
“Widiyaaaaaa….!!!!”

Tak terasa jam pelajaran pun kembali dimulai, dan tak terasa juga jam demi jam pelajaran pun cepat berakhir. Para siswa pulang seperti biasa, tapi ada yang tak biasa bagi empat orang siswa ini. Bukannya cepat pulang ke rumah, mereka langsung tancap gas saja ke music studio. Sesampainya di sana, mereka langsung saja memparkirkan sepeda mereka.
“Masih ada yang latihan ya?” Tanya Bayu, memang saat ini masih terdengar suara music piano yang mengiringi seorang gadis bernyanyi di sana.
“Sebaiknya kita tunggu saja, aku rasa sebentar lagi mereka akan keluar.” Ujar Mahmud dan mereka pun segera duduk di bangku tempat mereka biasa menunggu giliran. Studio musik ini tidak terlalu jau dari sekolah mereka dan memang studio ini juga tampak sederhana, tapi ini adalah studio yang sangat sering di pakai anak-anak musisi sekitar untuk latihan karena kualitas peralatan yang baik dan juga lumayan serba ada. Tinggal pilih, kau mau ambil instrument apa? Gitar, bass, drum, keyboard atau cuma kecrekan tukang ngamen, bahkan piano yang super gede pun ada, tapi di ruangan lain. [emang piano paling gede segede apa sih??? Outhor mulai tulalit…]
“Eh, mereka sepertinya sudah selesai.” Ujar Yana, saat ini keadaan mulai hening. Terdengar mereka pun mulai membuka pintu studio dan para Espada ini juga sudah bersiap-siap untuk masuk mengganikan mereka. Mereka pun mulai keluar.
“Tuan musisi?” Tanya gadis itu, para Espada itu pun terkejut. Siapa yang gadis itu maksudkan tuan musisi. “Kau juga suka latihan disini?”
“A-aku?” Kata Mahmud.
“Iya kau, memangnya siapa lagi?”
“Oh, ya. Aku sering latihan disini.” Mahmud pun melirik ke belakang Intan. “Lena juga latihan disini?”
“Ya benar.” Jawab Lena. “Maaf, aku harus segera ke mobil. Intan, kau jangan terlalu lama ya.”
“Ya, tenang saja.” Ujar Intan.
“Baiklah, sampai jumpa semuanya.” Lena pun berpamitan pada mereka.
“Hey, kau curang sekali. Kau punya kenalan gadis cantik kenapa tidak dikenalkan pada kami.” Kata Ari, tapi kelihatannya Mahmud hanya nyengir saja. “Kami masuk dulu ya, kau jangan lama-lama! Nanti kau malah pacaran.”
“Iya-Iya, cepat masuk sana.” ucap Mahmud, dan mereka pun mulai masuk. “Oh iya, tadi yang bernyanyi itu kau?”
“Bukan, itu Lena. Aku tadi hanya bermain keyboard.” Jawab Intan.
“Oh, pantas saja kedengarannya sangat indah. Kau memainkannya dengan sangat bagus.”
“Apa benar? Aku jadi malu?? Oh iya, apa boleh aku melihat tuan musisi bermain gitar?”
“Tentu saja boleh, tapi apa tidak apa-apa Lena menunggu lama?”
“Oh iya aku lupa, sepertinya kapan-kapan saja.” Gadis itu pun melirik ke arah mobil Lena. “Em, maaf. Sepertinya aku harus segera pergi.”
“Ya, baiklah.”
“Ya sudah kalau begitu. Sampai jumpa lagi, tuan musisi.” Gadis itu pun beranjak dari sana.
“Eh tunggu dulu…!!!” Gadis itu pun menghentikan langahnya. “Kenapa kau terus memanggilku tuan musisi?”
“Karena aku suka.”
“Suka?”
“Benar, karena aku suka tuan musisi. Sampai jumpa lagi, daaaahhh…” gadis itu pun pergi.
“Oh ya, daaahh” Mahmud pun melambaikan tangannya. ‘Suka tuan musisi, apa maksudnya? Apa dia…….. ah, mana mungkin. Dia kan dua tahun lebih tua dariku. Sudahlah, lebih baik aku masuk saja.’ Gumam pria itu, Mahmud pun bergabung dengan teman-temannya dan segera memulai latihan mereka.

Hari-hari penuh latihan cepat berlalu dan lagi-lagi Intan dan Mahmud pun kembali bertemu. Dimata Mahmud sudah terlihat suatu gerak tubuh yang berbeda dari gadis ini, dia terlihat sedikit salah tingkah jika mereka sedang bertemu. Pipinya pun selalu sedikit merona jika diperhatikan. Apa lagi sedang diajak bicara, gadis itu tak berani menatap wajah Mahmud sama sekali. Entah hanya perasaan sang tuan musisi atau ada sesuatu yang lain, tapi firasatnya mengetakan bahwa intan menyukainya.

Jam 06.30, saat ini terlihat seorang pria berjaket hitam dan bermotor gede berwarna merah mencolok dengan poletan-poletan hitam ini sedang menunggu seseorang tepat di depan gerbang rumah orang itu. Dia sudah beberapa kali membunyikan klaksonnya dan juga sudah berulangkali menengok jam tangannya.
‘Kenapa dia lama sekali, apa dia belum bangun?’ Gumamnya. Dia pun segera mengambil ponselnya dan menempelkannya pada telinga. Lalu terdengar bunyi….
Tuuuuut…. Tuuutt…..
“Halo, ya sebentar. Aku turun sekarang.” Kata seorang gadis dari dalam ponselnya.
“Celatlah.” Mahmud pun menutup telponnya.

Plok….. plok… plok… plok……
Terdengar langkah kaki si gadis yang berlari keluar dari rumahnya, gadis itu pun segera membuka gerbannya.
“Maaf, aku lama ya??” Kata Tias.
“Tidak, aku hanya takut kalau kita terlambat. Naiklah..” Ujar Mahmud, tapi tias hanya diam saja memandangi motornya. “Hey, kenapa diam saja? Cepat naik, kau mau kita terlambat ke sana?”
“Ta-tapi tinggi sekali, bagaimana aku bisa naik?”
“Ya ampun…” Mahmud pun memiringkan motornya dan gadis itu pun mulai naik. “Pegangan..!!”
“A-apa?”
“Aku bilang pegangan, nanti kau bisa jatuh.”
“Tapi kan, tapi….” Tanpa banyak basa-basi dan busu, Mahmud pun menarik tangan kiri Tias dan menyimpannya di pinggannya, lalu tangan kirinya.
“Aku akan sedikit mengebut nanti, jadi berpeganganlah..!!”
“Ba-baik.” Kata Tias dan motor itu pun mulai melaju. Saat ini wajah Tias sangat mereh, pikirannya pun tidak karuhan. Bagaimana jika ada temannya yang melihat mereka, pasti malu rasanya. Apa lagi, ya mungkin kalian sudah terbayang bagaimana posisi Tias yang diboncenga dengan Moge seperti itu. ditambah lagi status mereka yang hanya berteman, bisa jadi hot gossip nanti.

Tak lama, mereka pun sampai di lokasi. Mahmud pun memparkirkan motornya di tempat parkir khusus peserta. Mereka berdua pun segera turun dan berjalan menuju sebuah ruangan yang disediakan khusus peserta. Disana sudah terlihat anak-anak musisi lain, begitu juga dengan anak-anak Espada.
“Tuan musisi…” Panggil seseorang, spontan Mahmud pun menengok ke arahnya.
“Oh, hi.” Kata Mahmud, Intan segera menghamirinya. Tapi alangkah terkejutnya dia, ternyata tuan musisinya itu datang bersama seorang gadis.
‘Siapa dia, dandanannya sangat simple. Makeupnya juga tidak terlalu bagus jika dibandingkan denganku. Apa dia anggota bandnya tuan musisi? Tapi setahuku tidak ada anggota peremuan di dalamnya.’ Gumam Intan. “Em, siapa dia?”
“Oh, dia. dia temanku, aku sengaja mengajaknya untuk menonton konser ini.” Kata Mahmud. “Tias kenalkan, ini Intan. Intan, ini Tias.”
“Hi..” Tias pun mengulurkan tangannya. Tapi Intan, bukannya menyalami Tias, dia hanya menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Aku harus kembali, sepertinya kau juga harus berkumpul dengan anak-anak bandmu.”
“Ya, tentu.” Mahmud dan Tias pun kembali melanjutkan langkah mereka. dia tidak habis pikir Intan akan bertindak seperti tadi, mungkin ini bisa dibilang sangat tidak sopan.

Di kursi sana, terlihat anak-anak Espada sedang asik sendiri. Ari, dia sedang mendengarkan music dari headphonenya dan dengan sangat asik mengangguk-anggukan kepalanya. Yana, dia hanya mengutak-atik phonselnya dan terakhir Bayu, dia sedang asik memainkan stick drumnya. Tapi kini pandangan mereka teralihkan oleh seseorang yang baru datang.
“Hey lihat, dia datang bersama siapa?” Ujar Bayu, dua temannya pun langsung saja menengok ke arah yang ditunjukan oleh Bayu.
“Maaf, sepetinya aku yang paling telat disini.” Kata Mahmud.
“Ya, tak apa lah. Kami mengerti. Memang seperti itu jika menunggu…. Dia.” Ujar Ari.
“Ya ampun, ternyata eh ternyata kau ini sudah diluar perkiraan kami. Sejak kapan kau dengan gadis itu?” Tanya Yana.
“Kalian ini bicara apa? Aku hanya berteman saja dengannya.” Jawab Mahmud.
“Apa benar??? Hey Tias, namamu Tias kan? Apa benar kau kalian ini hanya berteman?”
“Ya, benar. Kami hanya bertean saja, memangnya ada apa?” jawab Tias.
“Benarkan apa yang aku bilang. Kalian selalu saja tidak percaya padaku.” Kata Mahmud.
“Habis, kemarin aku melihatmu akrab sekali dengan em… siapa itu namanya?? Intan.”
“Kau ini kenapa? aku heran, apa sih yang ada dalam kepalamu. Aku dan intn itu juga bereman. Jelas..!!”
“Ya, baiklah. Terserah kau saja.” Seperti itulah, candaan-candaan kecil dari anak-anak Espada. Waktu pun bergulir begitu cepat, singkat cerita konserpun dimulai. Saat ini yang sedang diatas panggung adalah Lena dan Intan. Lena sedang menyanyikan sebuah lagu dari Vierra yang berjudul Terlalu Lama, yang dikemas dalam sebuah sweet arrangement keyboard khas dari Intan.

“Apa setelah ini giliranmu?” Tanya Tias.
“Ya, memangnya kenapa?” Mahmud pun bertanya balik dan Tias pun tersenyum.
“Aku akan menjadi penonton terdepanmu.”
“Benarkah?”
“Tentu saja, aku akan pergi ke sana sekarang. Sepertinya lagunya akan segera hanbis, daaaahhh…” Tias pun berlari ke luar.
“Tapi Tias, jangan ke sana.. hey…” Sayang sekali, Tias tak mendengarkannya. Tias pun segera berlari menuju kerumunan penonton, terlihat di pinggir sana Winda dan Deri sedang menonton juga.
“TIAS… KAU MAU KEMANA?” Teriak Winda.
“Aku akan ke sana, aku ingin jadi penonton terdepan untuk Kak Mahmud.” Tias pun segera menyusup ke kerumunan penonton,
“TIAS, JANGAN…. KAU DISINI SAJA. TERLALU BERBAHAYA…” Tapi Tias sama sekali tak mendengarkannya. Memang saat ini terlihat penonton sangat diluar kendali. Yang awalnya penonton dengan tiken regular ada di barisan tengah sampai belakang, mereka menerobos masuk ke barisan depan. Jadi tiket khusu atau regular pun sekarang tak ada bedanya.
Kini Tias pun sudah berada di barisan paling depan dan berada tepat di tengah-tengah. Dia tak menyadari disekelilingnya itu adalah anak laki-laki semua yang sama sekali tidak bisa diam jika mendengar music berirama cepat.
‘Akhirnya sampai juga. Aduh semua yang ada disini sangat tidak bisa diam. Sebaiknya aku diam saja lah, dari pada aku terseret ketengah.’ Gumam gadis itu, music yang dimainkan Intan pun berakhir, semua penonton pun bersorak dengan meriah. Dan inilah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Tias. Mereka mulai naik ke atas panggung, Tias pun melambaikan tangannya. Mahmud pun membalas lambaian tangannya.
‘Firasatku tidak enak, semoga saja tidak terjadi apa-apa.’ Gumam Mahmud.

“Ok, selamat siang semuangya…” sapa Ari. “Kami dari Espada band, untuk lagu yang pertama kami akan membawa kan lagu dari Superman is Dead yang berjudul Jika Kami Bersama.” Mahmud pun mulai memainkan gitarnya dan music yang berirama cepat itu pun dimulai. Semua penonton bersorak dan bergoyang. Ya walau pun kelihatannya tak kaurhan begitu. Tias juga ikut menggoyangkan badannya mengikuti irama music, tapi barulah setengah lagu……..
“Hey, jaga tanganmu!! Kau memukul wajahku tau.!!” Kata seseorang dari belakang Tias.
“Enak saja kau bilang, siapa yang memukul wajahmu?” kata yang satunya lagi.
“Tentu saja kau, dasar bodoh!!”
“Apa kau bilang??? Kau memanggilku bodoh?? Kurang ajar kau…!!!”

‘Ya tuhan, apa yang sedang terjadi ini??’ gumam gadis itu. dia pun segera menegok ke belakangnya. Terlihat dua orang pria sedang beradu jotos dengan hebat, tak lama penontonpun mulai ricuh dan tak terkendali. Tias terseret ke sana kemari, dia tak mampu mempertahankan posisinya.”AAAAAA KAKAK… TOLONG AKU,,,,,,”
“Tias??”
“AAAAAAAAAA…. TOLONGG……!!!”

---To Be Continued---