Minggu, 01 September 2013

The Shop Nine-Tailed Fox Chapter 14 "Tuan Musisi"



The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 14
Tuan Musisi

“Aku mohon, kembalilah….. aku ingin kita seperti dulu…”
“Aku bilang bangun…!!”
“Tidak, aku tidak akan bangun sebelum kau kembali lagi padaku…”
‘Ya Tuhan, sekarang cobaan apa lagi ini?’ gumam pria ikal itu.

“Jangan bicara di luar, sebaiknya bicara di dalam saja. Itu lebih enak kan?” Ujar Dipa yang tiba-tiba saja muncul dari pintu toko. Yogi sangat kaget, begitu juga dengn Lena, dia pun langsung saja berdiri.
“Maafkan atas ketidak sopananku.” Kata Lena.
“Ya, cepat masuk.” Ujar Dipa lagi. Dua sejoli ini pun segera masuk.

Lalu, dilantai 2.
“Silahkan, mungkin ini tempat yang alakadarnya. Tapi lebih bagus kan dari pada di luar.” Kata Dipa.
“I-iya. Terimakasih.” Ujar Lena, kini Lena dan Yogi duduk di atas karpet yang di gelar di sana. Lena masih memandangi Yogi yang kelihatannya masih menyimpan amarah. “Haaaaaahhhh….” Lena pun mengelah nafas. “Apa kau masih arah padaku?”
“Hmmm….”Jawab Yogi dengan Singkat.
“Lalu aku harus melakukan apa agar kau tidak marah lagi padaku?”
“Entahlah, menurutmu kau harus apa?”
“Aku tahu, aku telah bersalah. Aku bertingkah bodoh kemarin, dan aku tahu aku ini hanya seorang anak manja yang tak berguna. Tapi setidaknya ada seseorang saja yang peduli denganku aku sangat senang. Kau tahu sendiri kan, di rumah orang tua ku hanya mengurus pekerjaan mereka saja. Seakan-akan yang menjadi anak mereka adalah pekerjaan itu. aku mohon, aku akan lakukan apapun asal kita bisa kembali lagi seperti dulu.”
“Apa pun itu?”
“Ya, apa pu itu.” Yogi pun terdiam, sebenarnya dia tak tega dengan keadaan Lena saat ini. Dia mengerti betul bagaimana perasaan Lena.
“Baiklah, terserah kau saja.”
“Benarkah, terimakasih sayaaaangg…..” Kini Lena mulai bertungkah gaje di depan Yogi.
“Ya, ya, ya. Tapi aku minta jaga sikapmu, aku tak mau melihatmu bertingkah seperti nenek sihir lagi.”
“Ya, iya tentu saja. Aku berjanji.”
“Satu lagi, kau harus baikan dengan Winda.”
“Baikan dengan anak itu?? Ta-tapi dia kan yang……..”
“Oh, jadi kau mau kita putus lagi. Ya sudah kalau begitu.” Yogi pun mulai berdiri seakan pergi dari sana.
“I-iya… iya baikah. Aku akan baikan.” Lena pun berdiri mengikutinya, dan mulai meraih tangan Yogi. “Tapi aku tidak bisa memulainya sendirian.” Kata Lena dengan manja.
“Haaaaaaahhh…..” Yogi mengelah nafas panjang.

Sementara itu, dilantai 1 terlihat delapan sekawan ini sudah selesai menutup toko mereka.
“Sepertinya sudah selesai, ayo kita pulang saja.”Ujar Rona, tanpa basa basi lagi, mereka pun segera mrnuju ke lantai 2 untuk mengambil barang-barang mereka. “Win, tunggu sebentar.”
“Apa?” Tanya Winda, Rona pun segera menghamiri gadis itu.
“Katanya kau dan pacar kakamu itu sudah berperang hebat ya kemarin?” Nampaknya Rona tak ingin ketinggalan informasi.
“Ya, begitulah. Memangnya ada apa?”
“Oh jadi itu benar ya?”
“Sudah aku bilang kan, apa yang aku bilang itu benar. Kau selalu saja tak percaya padaku.” Kata Dika yang tiba-tiba saja nyaut dengan obrolan mreka.
“Diam kau…” Rona pun sekarang terlihat sedikit sebal, sementara Dika dia langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua di toko. “Lalu sekarang kenapa pacar kakakmu itu bagaimana?”
“Sepertinya kakak memutuskan hubungan mereka, karena kakak bilang dia…….” Kata-katanya terpotong.
“Winda, boleh kita bicara sebentar?” Kata Yogi.
“Ba-baik.” Jawab gadis itu, Rona langsung tancap gas ke lantai 2. Sekarang di toko hanya ada Lena, Yogi dan Winda. “Ada apa?”
“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Lena bicarakan denganmu.”
“Lena?”
“Iya benar.” Kata Lena. “Sebenanya aku hanay ingin minta maaf padamu, kemari kau sudah membuat masalah disini, terutama dengan kau.”
“Oh…” Jawab Winda, kelihatannya Winda masih merasa kesal dengan tingkah Lena kemarin.
“Apa kau mau memaafkan aku?”
“………….” Winda pun terdiam.
“Ya, aku tahu kau masih marah padaku. Tapi aku berjanji, aku tidak akan memanggilmu cebol lagi dan aku telah berjanji pada Yogi untuk memperbaiki sikap ku ini. Maafkan aku ya….!!!!”
‘Apa nenek sihir ini sedang beracting agar dia bisa kebali lagi bersama kakak?’ gumam gadis itu, Winda pun kemudian melirik Yogi yang ada di sebelah Lena. Dia pun memberikannya isyarat. “Ya baikah, aku juga minta maaf telah membuat baju mahalmu rusak dan telah memanggilmu nenek sihir.”
“Iya, itu bukan masalah.” Lena pun tersenyum. “TERIMAKASIIIIIIIHHHH…….. ADIK IPAR…..” Tiba-tiba saja Lena memeluk Winda dengan erat.
“Iya… iya,… sudah cukup. Aku memaafkanmu. Sekarang lepasan pelukanmu, aku tidak bisa bernafas ….”
“Oh maaf….”
“Haduh…. Ya ampun….” Winda pun terengah-engah dan dia pun mulai mengambil nafas. ‘Memang sudah tidak waras nenek sihir ini.’ Gumam Winda.
“Oh iya, minggu depan kau nonton konserku ya. Katanya setiap peserta bisa membawa satu orang untuk nonton gratis, karena itu untuk kakakmu jadi aku akan membelikan tiket khusus untukmu.”
“Iya, terimakasih. Seharusnya kan tidak usah repot-repot begitu.” Sebenarnya Winda sedikit tak suka menonton konser seperti itu, dia lebih suka diam di rumah saja dan menonton TV.
“Kau pasti datang kan, Win?” Yogi pun mengeluarkan wajah iblisnya.
 “I-iya, Ya ya ya, baiklah aku akan datang.” Winda terpaksa menerima permintaan itu.  ‘Uuh, menyebalkan, aku tahu pasti di sana kau hanya jadi obat nyamuk. Aku akan mengajak Kak Deri saja, aku juga kan ini berduaan tau.’ Gumam gadis berkucir satu itu lagi, maklum couple baru.

Dua hari kemudian, di depan kelas Mamud. Telihat para personil Espada ini sedang bersenandung ria, katanya sih itung-itung latihan untuk hari minggu nanti.
“Akhirnya lagu pertama sudah ketemu juga. Jadi konsepnya akan sepeti ini nanti, tapi untuk detilnya nanti saja kita latihan sepulang sekolah.” Ujar Ari.
“Ya, baiklah. Sekarang lagu kedua, mulai…..” Kata Bayu, tapi sang gitaris tidak saja memulai alunan gitarnya lagi. “Hey, aku bilang mulai! Kau sedang apa sih?”
“…………..” ternyata Mahmud sedang memperhatikan seorang gadis yang sekarang ini baru saja lewat di depannya.
“WOY….!!”
“A-apa?” Mahmud pun sadar.
“Wuuuuu, Tias saja ternyata yang ada di otakmu.” Ledek Yana.
“Aku panggil ya…” Kata Ari.”
“Sembarangan kau. Jangan..!!” Ujar Mahmud, tapi…..
“Tias….. tisa….” Tias pun menoleh dan membalikan badannya.
“Aku.??” Kata gadis itu sambil menunjuk dirinya.
“Ya, kemari sebentar..!!” Tapi gadis itu hanya diam saja, nampaknya dia takut jadi bahan mainan kakak kelas. “Kenapa diam saja cepat kemari…”
“Kacau…..” Ucap Mahmud, dia pun segera berdiri dan menaruh gitarnya disana lalu berjalan menghampiri Tias.
“Hey kau mau ke mana?” Tanya Ari.
“…………….” Tapi Mahmud sama sekali tak menggubrisnya, sepertinya Ari sudah gagal dengan kejahilan yang akan dia buat.

“Tias jangan kau dengarkan dia, sebaiknya kau ikut aku..!!” Mahmud pun menarik tangan Tias dan membawanya pergi dari sana. Tapi pada saat mereka melewati koridor, Tias pun melepaskan pegangan Mahmud.
“Sebenarnnya kau mau membawaku kemana?” Tanya Tias.
“Hanya menjauh dari mereka.”
“Kenapa?”
“Em, karena tadi mereka itu akan menjahilimu. Jadi aku bawa kau menjauh dari mereka.” sebenarnya Mahmud juga akan dijadikan bahan kejahilan mereka.
“Oh, pantas saja firasatku tidak enak. Tapi kenapa kau bertindak sejauh ini?”
“A-anu, selain itu aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Mengatakan apa?” kini Mahmud pun mulain berfikir mencari alasan yang tepat untuk menutupi semuanya.
“Aku…. Aku hanya ingin Tanya, apa kau mau datang ke konserku nanti?”
“Oh itu, tentu saja aku mau. Tapi, katanya tiket biasa sudah habis terjual. Bagaimana aku….”
“Oh, tenang saja. Masalah tiket kau tidak usah pikirkan, para peserta bisa mengajak satu orang dengan gratis. Jadi nanti kau bisa datang denganku.”
“Benarkah??? Ya ampuuuuuunnnn,,, terimakasih… terimakasih…. Teriakasih……” Kini Tias mulai menari-nari gaje khasnya sambil menyalami Mahmud dan tangannyapun terus dinaik turunkan dengan keras.
“I-iya, sudah cukup terimakasihnya. Tanganku sakit.”
“Ma-maaf. Sekali lagi terimakasih ya, daaahhhh…” Gadis itu pun pergi sambil berlari-lari gaje ke kelasnya.
‘Dasar gadis lucu, tapi syukur lah semua masih aman.’ Gumam Mahmud. Mahmud pun kini bisa bernafas dengan lega.

Sementara itu di kelas X-1, dari dalam sudah terlihat Tias sedang berlari-lari gaje. Dia terlihat kegirangan sekali, meski pun para sahabaatnya belum tahu apa yang baru saja terjadi tapi mereka sudah bisa menebak apa yang akan dia lakukan.
“Coba tebak siapa yang datang?” Kata Rina, Winda dan Widiya pun spontan melirik ke arah pintu.
“Haaaaahh,, aku tahu pasti dia akan…….” Kata-kata Widiya pun terpotong.
“Hey kalian….AAAAAHHAHAHAAAA” Teriak Tias dari arah pintu, gadis itu pun segera menghampiri teman-temannya.
“Benarkan apa yang aku bilang.”
“Kalian tahu tidak????”
“Apa?” Tanya Winda.
“Tadi Kak Mahmud mengajaku ke konsernya nanti, AAAAAAAAAAAAA……HAHAHAHAHA…. Aku senang sekali.”
“Benarkah? Bukannya tiket regular sudah habis??” Tanya Rina.
“Benar, tapi katanya setiap peserta boleh membawa satu orang dengan gratis. Kalian juga ikut ya… ya ya ya….”
“Maaf, bukannya tidak mau. Tapi bukannya tiketnya sudah habis, lagi pula aku sudah janji pada kak Yuda untuk membatunya melukis sepatu.”
“Em, begitu ya.Widi, kau mau ya..!!!”
“A-anu, aku juga tidak bisa. Katanya kak Iqbal ingin aku menemaninya ke suatu tempat.”
“Romantis sekali, memangnya kalian ini mau kemana sih?” Tanya Winda.
“Maaf, aku juga tidak tahu. Katanya itu rahasia.”
“Winda, kau mau ikut ya…. Aku mohon, nanti 50% harga tiket aku yang bayar. Ya ya ya ya,, aku mohon…!!!”
“Tidak usah, lagi pula nanti aku juga akan ikut menonton konsernya.”
“Benarkah?? Tapi tiket itu kan lumayan mahal.”
“Ya, tapi aku tak memikirkan hal itu. Karena pacar kakakku yang membelikannya.”
“Wah, kenapa bisa?” Tanya Widiya.
“Soalnya, kemarin kami sudah berbaikan. Sebagai tanda maaf darinya, dia memberikan aku tiket khusus. Begitu.”
“Bagus,,,, hieeeee……” Tias pun bersorak.
“Jadi pergi bertiga dengan kakakmu dan pacarnya ya?” Tanya Rina.
“Begitulah, jika bukan karena aku dipelototi kakak aku mana mau.”
“Biar aku tebak, pasti nanti kau akan jadi obat nyamuk, kan??? hahahaha”
“Enak saja, tentu saja tidak. Lagi pula aku mengajak Kak Deri.”
“Romantis sekali, nonton konser berdua dengan sang pacar. Hahaha.” Widiya pun membalas ejekan Winda tadi.
“Widiyaaaaaa….!!!!”

Tak terasa jam pelajaran pun kembali dimulai, dan tak terasa juga jam demi jam pelajaran pun cepat berakhir. Para siswa pulang seperti biasa, tapi ada yang tak biasa bagi empat orang siswa ini. Bukannya cepat pulang ke rumah, mereka langsung tancap gas saja ke music studio. Sesampainya di sana, mereka langsung saja memparkirkan sepeda mereka.
“Masih ada yang latihan ya?” Tanya Bayu, memang saat ini masih terdengar suara music piano yang mengiringi seorang gadis bernyanyi di sana.
“Sebaiknya kita tunggu saja, aku rasa sebentar lagi mereka akan keluar.” Ujar Mahmud dan mereka pun segera duduk di bangku tempat mereka biasa menunggu giliran. Studio musik ini tidak terlalu jau dari sekolah mereka dan memang studio ini juga tampak sederhana, tapi ini adalah studio yang sangat sering di pakai anak-anak musisi sekitar untuk latihan karena kualitas peralatan yang baik dan juga lumayan serba ada. Tinggal pilih, kau mau ambil instrument apa? Gitar, bass, drum, keyboard atau cuma kecrekan tukang ngamen, bahkan piano yang super gede pun ada, tapi di ruangan lain. [emang piano paling gede segede apa sih??? Outhor mulai tulalit…]
“Eh, mereka sepertinya sudah selesai.” Ujar Yana, saat ini keadaan mulai hening. Terdengar mereka pun mulai membuka pintu studio dan para Espada ini juga sudah bersiap-siap untuk masuk mengganikan mereka. Mereka pun mulai keluar.
“Tuan musisi?” Tanya gadis itu, para Espada itu pun terkejut. Siapa yang gadis itu maksudkan tuan musisi. “Kau juga suka latihan disini?”
“A-aku?” Kata Mahmud.
“Iya kau, memangnya siapa lagi?”
“Oh, ya. Aku sering latihan disini.” Mahmud pun melirik ke belakang Intan. “Lena juga latihan disini?”
“Ya benar.” Jawab Lena. “Maaf, aku harus segera ke mobil. Intan, kau jangan terlalu lama ya.”
“Ya, tenang saja.” Ujar Intan.
“Baiklah, sampai jumpa semuanya.” Lena pun berpamitan pada mereka.
“Hey, kau curang sekali. Kau punya kenalan gadis cantik kenapa tidak dikenalkan pada kami.” Kata Ari, tapi kelihatannya Mahmud hanya nyengir saja. “Kami masuk dulu ya, kau jangan lama-lama! Nanti kau malah pacaran.”
“Iya-Iya, cepat masuk sana.” ucap Mahmud, dan mereka pun mulai masuk. “Oh iya, tadi yang bernyanyi itu kau?”
“Bukan, itu Lena. Aku tadi hanya bermain keyboard.” Jawab Intan.
“Oh, pantas saja kedengarannya sangat indah. Kau memainkannya dengan sangat bagus.”
“Apa benar? Aku jadi malu?? Oh iya, apa boleh aku melihat tuan musisi bermain gitar?”
“Tentu saja boleh, tapi apa tidak apa-apa Lena menunggu lama?”
“Oh iya aku lupa, sepertinya kapan-kapan saja.” Gadis itu pun melirik ke arah mobil Lena. “Em, maaf. Sepertinya aku harus segera pergi.”
“Ya, baiklah.”
“Ya sudah kalau begitu. Sampai jumpa lagi, tuan musisi.” Gadis itu pun beranjak dari sana.
“Eh tunggu dulu…!!!” Gadis itu pun menghentikan langahnya. “Kenapa kau terus memanggilku tuan musisi?”
“Karena aku suka.”
“Suka?”
“Benar, karena aku suka tuan musisi. Sampai jumpa lagi, daaaahhh…” gadis itu pun pergi.
“Oh ya, daaahh” Mahmud pun melambaikan tangannya. ‘Suka tuan musisi, apa maksudnya? Apa dia…….. ah, mana mungkin. Dia kan dua tahun lebih tua dariku. Sudahlah, lebih baik aku masuk saja.’ Gumam pria itu, Mahmud pun bergabung dengan teman-temannya dan segera memulai latihan mereka.

Hari-hari penuh latihan cepat berlalu dan lagi-lagi Intan dan Mahmud pun kembali bertemu. Dimata Mahmud sudah terlihat suatu gerak tubuh yang berbeda dari gadis ini, dia terlihat sedikit salah tingkah jika mereka sedang bertemu. Pipinya pun selalu sedikit merona jika diperhatikan. Apa lagi sedang diajak bicara, gadis itu tak berani menatap wajah Mahmud sama sekali. Entah hanya perasaan sang tuan musisi atau ada sesuatu yang lain, tapi firasatnya mengetakan bahwa intan menyukainya.

Jam 06.30, saat ini terlihat seorang pria berjaket hitam dan bermotor gede berwarna merah mencolok dengan poletan-poletan hitam ini sedang menunggu seseorang tepat di depan gerbang rumah orang itu. Dia sudah beberapa kali membunyikan klaksonnya dan juga sudah berulangkali menengok jam tangannya.
‘Kenapa dia lama sekali, apa dia belum bangun?’ Gumamnya. Dia pun segera mengambil ponselnya dan menempelkannya pada telinga. Lalu terdengar bunyi….
Tuuuuut…. Tuuutt…..
“Halo, ya sebentar. Aku turun sekarang.” Kata seorang gadis dari dalam ponselnya.
“Celatlah.” Mahmud pun menutup telponnya.

Plok….. plok… plok… plok……
Terdengar langkah kaki si gadis yang berlari keluar dari rumahnya, gadis itu pun segera membuka gerbannya.
“Maaf, aku lama ya??” Kata Tias.
“Tidak, aku hanya takut kalau kita terlambat. Naiklah..” Ujar Mahmud, tapi tias hanya diam saja memandangi motornya. “Hey, kenapa diam saja? Cepat naik, kau mau kita terlambat ke sana?”
“Ta-tapi tinggi sekali, bagaimana aku bisa naik?”
“Ya ampun…” Mahmud pun memiringkan motornya dan gadis itu pun mulai naik. “Pegangan..!!”
“A-apa?”
“Aku bilang pegangan, nanti kau bisa jatuh.”
“Tapi kan, tapi….” Tanpa banyak basa-basi dan busu, Mahmud pun menarik tangan kiri Tias dan menyimpannya di pinggannya, lalu tangan kirinya.
“Aku akan sedikit mengebut nanti, jadi berpeganganlah..!!”
“Ba-baik.” Kata Tias dan motor itu pun mulai melaju. Saat ini wajah Tias sangat mereh, pikirannya pun tidak karuhan. Bagaimana jika ada temannya yang melihat mereka, pasti malu rasanya. Apa lagi, ya mungkin kalian sudah terbayang bagaimana posisi Tias yang diboncenga dengan Moge seperti itu. ditambah lagi status mereka yang hanya berteman, bisa jadi hot gossip nanti.

Tak lama, mereka pun sampai di lokasi. Mahmud pun memparkirkan motornya di tempat parkir khusus peserta. Mereka berdua pun segera turun dan berjalan menuju sebuah ruangan yang disediakan khusus peserta. Disana sudah terlihat anak-anak musisi lain, begitu juga dengan anak-anak Espada.
“Tuan musisi…” Panggil seseorang, spontan Mahmud pun menengok ke arahnya.
“Oh, hi.” Kata Mahmud, Intan segera menghamirinya. Tapi alangkah terkejutnya dia, ternyata tuan musisinya itu datang bersama seorang gadis.
‘Siapa dia, dandanannya sangat simple. Makeupnya juga tidak terlalu bagus jika dibandingkan denganku. Apa dia anggota bandnya tuan musisi? Tapi setahuku tidak ada anggota peremuan di dalamnya.’ Gumam Intan. “Em, siapa dia?”
“Oh, dia. dia temanku, aku sengaja mengajaknya untuk menonton konser ini.” Kata Mahmud. “Tias kenalkan, ini Intan. Intan, ini Tias.”
“Hi..” Tias pun mengulurkan tangannya. Tapi Intan, bukannya menyalami Tias, dia hanya menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Aku harus kembali, sepertinya kau juga harus berkumpul dengan anak-anak bandmu.”
“Ya, tentu.” Mahmud dan Tias pun kembali melanjutkan langkah mereka. dia tidak habis pikir Intan akan bertindak seperti tadi, mungkin ini bisa dibilang sangat tidak sopan.

Di kursi sana, terlihat anak-anak Espada sedang asik sendiri. Ari, dia sedang mendengarkan music dari headphonenya dan dengan sangat asik mengangguk-anggukan kepalanya. Yana, dia hanya mengutak-atik phonselnya dan terakhir Bayu, dia sedang asik memainkan stick drumnya. Tapi kini pandangan mereka teralihkan oleh seseorang yang baru datang.
“Hey lihat, dia datang bersama siapa?” Ujar Bayu, dua temannya pun langsung saja menengok ke arah yang ditunjukan oleh Bayu.
“Maaf, sepetinya aku yang paling telat disini.” Kata Mahmud.
“Ya, tak apa lah. Kami mengerti. Memang seperti itu jika menunggu…. Dia.” Ujar Ari.
“Ya ampun, ternyata eh ternyata kau ini sudah diluar perkiraan kami. Sejak kapan kau dengan gadis itu?” Tanya Yana.
“Kalian ini bicara apa? Aku hanya berteman saja dengannya.” Jawab Mahmud.
“Apa benar??? Hey Tias, namamu Tias kan? Apa benar kau kalian ini hanya berteman?”
“Ya, benar. Kami hanya bertean saja, memangnya ada apa?” jawab Tias.
“Benarkan apa yang aku bilang. Kalian selalu saja tidak percaya padaku.” Kata Mahmud.
“Habis, kemarin aku melihatmu akrab sekali dengan em… siapa itu namanya?? Intan.”
“Kau ini kenapa? aku heran, apa sih yang ada dalam kepalamu. Aku dan intn itu juga bereman. Jelas..!!”
“Ya, baiklah. Terserah kau saja.” Seperti itulah, candaan-candaan kecil dari anak-anak Espada. Waktu pun bergulir begitu cepat, singkat cerita konserpun dimulai. Saat ini yang sedang diatas panggung adalah Lena dan Intan. Lena sedang menyanyikan sebuah lagu dari Vierra yang berjudul Terlalu Lama, yang dikemas dalam sebuah sweet arrangement keyboard khas dari Intan.

“Apa setelah ini giliranmu?” Tanya Tias.
“Ya, memangnya kenapa?” Mahmud pun bertanya balik dan Tias pun tersenyum.
“Aku akan menjadi penonton terdepanmu.”
“Benarkah?”
“Tentu saja, aku akan pergi ke sana sekarang. Sepertinya lagunya akan segera hanbis, daaaahhh…” Tias pun berlari ke luar.
“Tapi Tias, jangan ke sana.. hey…” Sayang sekali, Tias tak mendengarkannya. Tias pun segera berlari menuju kerumunan penonton, terlihat di pinggir sana Winda dan Deri sedang menonton juga.
“TIAS… KAU MAU KEMANA?” Teriak Winda.
“Aku akan ke sana, aku ingin jadi penonton terdepan untuk Kak Mahmud.” Tias pun segera menyusup ke kerumunan penonton,
“TIAS, JANGAN…. KAU DISINI SAJA. TERLALU BERBAHAYA…” Tapi Tias sama sekali tak mendengarkannya. Memang saat ini terlihat penonton sangat diluar kendali. Yang awalnya penonton dengan tiken regular ada di barisan tengah sampai belakang, mereka menerobos masuk ke barisan depan. Jadi tiket khusu atau regular pun sekarang tak ada bedanya.
Kini Tias pun sudah berada di barisan paling depan dan berada tepat di tengah-tengah. Dia tak menyadari disekelilingnya itu adalah anak laki-laki semua yang sama sekali tidak bisa diam jika mendengar music berirama cepat.
‘Akhirnya sampai juga. Aduh semua yang ada disini sangat tidak bisa diam. Sebaiknya aku diam saja lah, dari pada aku terseret ketengah.’ Gumam gadis itu, music yang dimainkan Intan pun berakhir, semua penonton pun bersorak dengan meriah. Dan inilah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Tias. Mereka mulai naik ke atas panggung, Tias pun melambaikan tangannya. Mahmud pun membalas lambaian tangannya.
‘Firasatku tidak enak, semoga saja tidak terjadi apa-apa.’ Gumam Mahmud.

“Ok, selamat siang semuangya…” sapa Ari. “Kami dari Espada band, untuk lagu yang pertama kami akan membawa kan lagu dari Superman is Dead yang berjudul Jika Kami Bersama.” Mahmud pun mulai memainkan gitarnya dan music yang berirama cepat itu pun dimulai. Semua penonton bersorak dan bergoyang. Ya walau pun kelihatannya tak kaurhan begitu. Tias juga ikut menggoyangkan badannya mengikuti irama music, tapi barulah setengah lagu……..
“Hey, jaga tanganmu!! Kau memukul wajahku tau.!!” Kata seseorang dari belakang Tias.
“Enak saja kau bilang, siapa yang memukul wajahmu?” kata yang satunya lagi.
“Tentu saja kau, dasar bodoh!!”
“Apa kau bilang??? Kau memanggilku bodoh?? Kurang ajar kau…!!!”

‘Ya tuhan, apa yang sedang terjadi ini??’ gumam gadis itu. dia pun segera menegok ke belakangnya. Terlihat dua orang pria sedang beradu jotos dengan hebat, tak lama penontonpun mulai ricuh dan tak terkendali. Tias terseret ke sana kemari, dia tak mampu mempertahankan posisinya.”AAAAAA KAKAK… TOLONG AKU,,,,,,”
“Tias??”
“AAAAAAAAAA…. TOLONGG……!!!”

---To Be Continued---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar