The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 14
Tuan Musisi
“Aku mohon,
kembalilah….. aku ingin kita seperti dulu…”
“Aku bilang
bangun…!!”
“Tidak, aku
tidak akan bangun sebelum kau kembali lagi padaku…”
‘Ya Tuhan,
sekarang cobaan apa lagi ini?’ gumam pria ikal itu.
“Jangan
bicara di luar, sebaiknya bicara di dalam saja. Itu lebih enak kan?” Ujar Dipa
yang tiba-tiba saja muncul dari pintu toko. Yogi sangat kaget, begitu juga
dengn Lena, dia pun langsung saja berdiri.
“Maafkan
atas ketidak sopananku.” Kata Lena.
“Ya, cepat
masuk.” Ujar Dipa lagi. Dua sejoli ini pun segera masuk.
Lalu,
dilantai 2.
“Silahkan,
mungkin ini tempat yang alakadarnya. Tapi lebih bagus kan dari pada di luar.”
Kata Dipa.
“I-iya.
Terimakasih.” Ujar Lena, kini Lena dan Yogi duduk di atas karpet yang di gelar
di sana. Lena masih memandangi Yogi yang kelihatannya masih menyimpan amarah.
“Haaaaaahhhh….” Lena pun mengelah nafas. “Apa kau masih arah padaku?”
“Hmmm….”Jawab
Yogi dengan Singkat.
“Lalu aku
harus melakukan apa agar kau tidak marah lagi padaku?”
“Entahlah,
menurutmu kau harus apa?”
“Aku tahu,
aku telah bersalah. Aku bertingkah bodoh kemarin, dan aku tahu aku ini hanya
seorang anak manja yang tak berguna. Tapi setidaknya ada seseorang saja yang
peduli denganku aku sangat senang. Kau tahu sendiri kan, di rumah orang tua ku
hanya mengurus pekerjaan mereka saja. Seakan-akan yang menjadi anak mereka
adalah pekerjaan itu. aku mohon, aku akan lakukan apapun asal kita bisa kembali
lagi seperti dulu.”
“Apa pun
itu?”
“Ya, apa pu
itu.” Yogi pun terdiam, sebenarnya dia tak tega dengan keadaan Lena saat ini.
Dia mengerti betul bagaimana perasaan Lena.
“Baiklah,
terserah kau saja.”
“Benarkah,
terimakasih sayaaaangg…..” Kini Lena mulai bertungkah gaje di depan Yogi.
“Ya, ya,
ya. Tapi aku minta jaga sikapmu, aku tak mau melihatmu bertingkah seperti nenek
sihir lagi.”
“Ya, iya
tentu saja. Aku berjanji.”
“Satu lagi,
kau harus baikan dengan Winda.”
“Baikan
dengan anak itu?? Ta-tapi dia kan yang……..”
“Oh, jadi
kau mau kita putus lagi. Ya sudah kalau begitu.” Yogi pun mulai berdiri seakan
pergi dari sana.
“I-iya… iya
baikah. Aku akan baikan.” Lena pun berdiri mengikutinya, dan mulai meraih
tangan Yogi. “Tapi aku tidak bisa memulainya sendirian.” Kata Lena dengan
manja.
“Haaaaaaahhh…..”
Yogi mengelah nafas panjang.
Sementara
itu, dilantai 1 terlihat delapan sekawan ini sudah selesai menutup toko mereka.
“Sepertinya
sudah selesai, ayo kita pulang saja.”Ujar Rona, tanpa basa basi lagi, mereka
pun segera mrnuju ke lantai 2 untuk mengambil barang-barang mereka. “Win,
tunggu sebentar.”
“Apa?”
Tanya Winda, Rona pun segera menghamiri gadis itu.
“Katanya
kau dan pacar kakamu itu sudah berperang hebat ya kemarin?” Nampaknya Rona tak
ingin ketinggalan informasi.
“Ya,
begitulah. Memangnya ada apa?”
“Oh jadi
itu benar ya?”
“Sudah aku
bilang kan, apa yang aku bilang itu benar. Kau selalu saja tak percaya padaku.”
Kata Dika yang tiba-tiba saja nyaut dengan obrolan mreka.
“Diam kau…”
Rona pun sekarang terlihat sedikit sebal, sementara Dika dia langsung pergi
begitu saja meninggalkan mereka berdua di toko. “Lalu sekarang kenapa pacar
kakakmu itu bagaimana?”
“Sepertinya
kakak memutuskan hubungan mereka, karena kakak bilang dia…….” Kata-katanya
terpotong.
“Winda,
boleh kita bicara sebentar?” Kata Yogi.
“Ba-baik.”
Jawab gadis itu, Rona langsung tancap gas ke lantai 2. Sekarang di toko hanya
ada Lena, Yogi dan Winda. “Ada apa?”
“Sebenarnya
ada sesuatu yang ingin Lena bicarakan denganmu.”
“Lena?”
“Iya
benar.” Kata Lena. “Sebenanya aku hanay ingin minta maaf padamu, kemari kau sudah
membuat masalah disini, terutama dengan kau.”
“Oh…” Jawab
Winda, kelihatannya Winda masih merasa kesal dengan tingkah Lena kemarin.
“Apa kau
mau memaafkan aku?”
“………….”
Winda pun terdiam.
“Ya, aku
tahu kau masih marah padaku. Tapi aku berjanji, aku tidak akan memanggilmu
cebol lagi dan aku telah berjanji pada Yogi untuk memperbaiki sikap ku ini.
Maafkan aku ya….!!!!”
‘Apa nenek
sihir ini sedang beracting agar dia bisa kebali lagi bersama kakak?’ gumam
gadis itu, Winda pun kemudian melirik Yogi yang ada di sebelah Lena. Dia pun
memberikannya isyarat. “Ya baikah, aku juga minta maaf telah membuat baju
mahalmu rusak dan telah memanggilmu nenek sihir.”
“Iya, itu
bukan masalah.” Lena pun tersenyum. “TERIMAKASIIIIIIIHHHH…….. ADIK IPAR…..”
Tiba-tiba saja Lena memeluk Winda dengan erat.
“Iya… iya,…
sudah cukup. Aku memaafkanmu. Sekarang lepasan pelukanmu, aku tidak bisa
bernafas ….”
“Oh maaf….”
“Haduh…. Ya
ampun….” Winda pun terengah-engah dan dia pun mulai mengambil nafas. ‘Memang
sudah tidak waras nenek sihir ini.’ Gumam Winda.
“Oh iya,
minggu depan kau nonton konserku ya. Katanya setiap peserta bisa membawa satu
orang untuk nonton gratis, karena itu untuk kakakmu jadi aku akan membelikan
tiket khusus untukmu.”
“Iya,
terimakasih. Seharusnya kan tidak usah repot-repot begitu.” Sebenarnya Winda
sedikit tak suka menonton konser seperti itu, dia lebih suka diam di rumah saja
dan menonton TV.
“Kau pasti
datang kan, Win?” Yogi pun mengeluarkan wajah iblisnya.
“I-iya, Ya ya ya, baiklah aku akan datang.”
Winda terpaksa menerima permintaan itu. ‘Uuh,
menyebalkan, aku tahu pasti di sana kau hanya jadi obat nyamuk. Aku akan
mengajak Kak Deri saja, aku juga kan ini berduaan tau.’ Gumam gadis berkucir
satu itu lagi, maklum couple baru.
Dua hari
kemudian, di depan kelas Mamud. Telihat para personil Espada ini sedang
bersenandung ria, katanya sih itung-itung latihan untuk hari minggu nanti.
“Akhirnya
lagu pertama sudah ketemu juga. Jadi konsepnya akan sepeti ini nanti, tapi
untuk detilnya nanti saja kita latihan sepulang sekolah.” Ujar Ari.
“Ya,
baiklah. Sekarang lagu kedua, mulai…..” Kata Bayu, tapi sang gitaris tidak saja
memulai alunan gitarnya lagi. “Hey, aku bilang mulai! Kau sedang apa sih?”
“…………..”
ternyata Mahmud sedang memperhatikan seorang gadis yang sekarang ini baru saja
lewat di depannya.
“WOY….!!”
“A-apa?”
Mahmud pun sadar.
“Wuuuuu,
Tias saja ternyata yang ada di otakmu.” Ledek Yana.
“Aku
panggil ya…” Kata Ari.”
“Sembarangan
kau. Jangan..!!” Ujar Mahmud, tapi…..
“Tias…..
tisa….” Tias pun menoleh dan membalikan badannya.
“Aku.??”
Kata gadis itu sambil menunjuk dirinya.
“Ya, kemari
sebentar..!!” Tapi gadis itu hanya diam saja, nampaknya dia takut jadi bahan
mainan kakak kelas. “Kenapa diam saja cepat kemari…”
“Kacau…..”
Ucap Mahmud, dia pun segera berdiri dan menaruh gitarnya disana lalu berjalan
menghampiri Tias.
“Hey kau
mau ke mana?” Tanya Ari.
“…………….”
Tapi Mahmud sama sekali tak menggubrisnya, sepertinya Ari sudah gagal dengan
kejahilan yang akan dia buat.
“Tias
jangan kau dengarkan dia, sebaiknya kau ikut aku..!!” Mahmud pun menarik tangan
Tias dan membawanya pergi dari sana. Tapi pada saat mereka melewati koridor,
Tias pun melepaskan pegangan Mahmud.
“Sebenarnnya
kau mau membawaku kemana?” Tanya Tias.
“Hanya
menjauh dari mereka.”
“Kenapa?”
“Em, karena
tadi mereka itu akan menjahilimu. Jadi aku bawa kau menjauh dari mereka.”
sebenarnya Mahmud juga akan dijadikan bahan kejahilan mereka.
“Oh, pantas
saja firasatku tidak enak. Tapi kenapa kau bertindak sejauh ini?”
“A-anu,
selain itu aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Mengatakan
apa?” kini Mahmud pun mulain berfikir mencari alasan yang tepat untuk menutupi
semuanya.
“Aku…. Aku
hanya ingin Tanya, apa kau mau datang ke konserku nanti?”
“Oh itu,
tentu saja aku mau. Tapi, katanya tiket biasa sudah habis terjual. Bagaimana
aku….”
“Oh, tenang
saja. Masalah tiket kau tidak usah pikirkan, para peserta bisa mengajak satu
orang dengan gratis. Jadi nanti kau bisa datang denganku.”
“Benarkah???
Ya ampuuuuuunnnn,,, terimakasih… terimakasih…. Teriakasih……” Kini Tias mulai
menari-nari gaje khasnya sambil menyalami Mahmud dan tangannyapun terus dinaik
turunkan dengan keras.
“I-iya,
sudah cukup terimakasihnya. Tanganku sakit.”
“Ma-maaf.
Sekali lagi terimakasih ya, daaahhhh…” Gadis itu pun pergi sambil berlari-lari
gaje ke kelasnya.
‘Dasar
gadis lucu, tapi syukur lah semua masih aman.’ Gumam Mahmud. Mahmud pun kini
bisa bernafas dengan lega.
Sementara
itu di kelas X-1, dari dalam sudah terlihat Tias sedang berlari-lari gaje. Dia
terlihat kegirangan sekali, meski pun para sahabaatnya belum tahu apa yang baru
saja terjadi tapi mereka sudah bisa menebak apa yang akan dia lakukan.
“Coba tebak
siapa yang datang?” Kata Rina, Winda dan Widiya pun spontan melirik ke arah
pintu.
“Haaaaahh,,
aku tahu pasti dia akan…….” Kata-kata Widiya pun terpotong.
“Hey
kalian….AAAAAHHAHAHAAAA” Teriak Tias dari arah pintu, gadis itu pun segera
menghampiri teman-temannya.
“Benarkan
apa yang aku bilang.”
“Kalian
tahu tidak????”
“Apa?”
Tanya Winda.
“Tadi Kak
Mahmud mengajaku ke konsernya nanti, AAAAAAAAAAAAA……HAHAHAHAHA…. Aku senang
sekali.”
“Benarkah?
Bukannya tiket regular sudah habis??” Tanya Rina.
“Benar,
tapi katanya setiap peserta boleh membawa satu orang dengan gratis. Kalian juga
ikut ya… ya ya ya….”
“Maaf,
bukannya tidak mau. Tapi bukannya tiketnya sudah habis, lagi pula aku sudah
janji pada kak Yuda untuk membatunya melukis sepatu.”
“Em, begitu
ya.Widi, kau mau ya..!!!”
“A-anu, aku
juga tidak bisa. Katanya kak Iqbal ingin aku menemaninya ke suatu tempat.”
“Romantis
sekali, memangnya kalian ini mau kemana sih?” Tanya Winda.
“Maaf, aku
juga tidak tahu. Katanya itu rahasia.”
“Winda, kau
mau ikut ya…. Aku mohon, nanti 50% harga tiket aku yang bayar. Ya ya ya ya,,
aku mohon…!!!”
“Tidak
usah, lagi pula nanti aku juga akan ikut menonton konsernya.”
“Benarkah??
Tapi tiket itu kan lumayan mahal.”
“Ya, tapi
aku tak memikirkan hal itu. Karena pacar kakakku yang membelikannya.”
“Wah,
kenapa bisa?” Tanya Widiya.
“Soalnya,
kemarin kami sudah berbaikan. Sebagai tanda maaf darinya, dia memberikan aku
tiket khusus. Begitu.”
“Bagus,,,,
hieeeee……” Tias pun bersorak.
“Jadi pergi
bertiga dengan kakakmu dan pacarnya ya?” Tanya Rina.
“Begitulah,
jika bukan karena aku dipelototi kakak aku mana mau.”
“Biar aku
tebak, pasti nanti kau akan jadi obat nyamuk, kan??? hahahaha”
“Enak saja,
tentu saja tidak. Lagi pula aku mengajak Kak Deri.”
“Romantis
sekali, nonton konser berdua dengan sang pacar. Hahaha.” Widiya pun membalas
ejekan Winda tadi.
“Widiyaaaaaa….!!!!”
Tak terasa
jam pelajaran pun kembali dimulai, dan tak terasa juga jam demi jam pelajaran
pun cepat berakhir. Para siswa pulang seperti biasa, tapi ada yang tak biasa
bagi empat orang siswa ini. Bukannya cepat pulang ke rumah, mereka langsung
tancap gas saja ke music studio. Sesampainya di sana, mereka langsung saja
memparkirkan sepeda mereka.
“Masih ada
yang latihan ya?” Tanya Bayu, memang saat ini masih terdengar suara music piano
yang mengiringi seorang gadis bernyanyi di sana.
“Sebaiknya
kita tunggu saja, aku rasa sebentar lagi mereka akan keluar.” Ujar Mahmud dan
mereka pun segera duduk di bangku tempat mereka biasa menunggu giliran. Studio
musik ini tidak terlalu jau dari sekolah mereka dan memang studio ini juga
tampak sederhana, tapi ini adalah studio yang sangat sering di pakai anak-anak
musisi sekitar untuk latihan karena kualitas peralatan yang baik dan juga
lumayan serba ada. Tinggal pilih, kau mau ambil instrument apa? Gitar, bass,
drum, keyboard atau cuma kecrekan tukang ngamen, bahkan piano yang super gede
pun ada, tapi di ruangan lain. [emang
piano paling gede segede apa sih??? Outhor mulai tulalit…]
“Eh, mereka
sepertinya sudah selesai.” Ujar Yana, saat ini keadaan mulai hening. Terdengar
mereka pun mulai membuka pintu studio dan para Espada ini juga sudah
bersiap-siap untuk masuk mengganikan mereka. Mereka pun mulai keluar.
“Tuan
musisi?” Tanya gadis itu, para Espada itu pun terkejut. Siapa yang gadis itu
maksudkan tuan musisi. “Kau juga suka latihan disini?”
“A-aku?”
Kata Mahmud.
“Iya kau,
memangnya siapa lagi?”
“Oh, ya.
Aku sering latihan disini.” Mahmud pun melirik ke belakang Intan. “Lena juga
latihan disini?”
“Ya benar.”
Jawab Lena. “Maaf, aku harus segera ke mobil. Intan, kau jangan terlalu lama
ya.”
“Ya, tenang
saja.” Ujar Intan.
“Baiklah,
sampai jumpa semuanya.” Lena pun berpamitan pada mereka.
“Hey, kau
curang sekali. Kau punya kenalan gadis cantik kenapa tidak dikenalkan pada
kami.” Kata Ari, tapi kelihatannya Mahmud hanya nyengir saja. “Kami masuk dulu
ya, kau jangan lama-lama! Nanti kau malah pacaran.”
“Iya-Iya,
cepat masuk sana.” ucap Mahmud, dan mereka pun mulai masuk. “Oh iya, tadi yang
bernyanyi itu kau?”
“Bukan, itu
Lena. Aku tadi hanya bermain keyboard.” Jawab Intan.
“Oh, pantas
saja kedengarannya sangat indah. Kau memainkannya dengan sangat bagus.”
“Apa benar?
Aku jadi malu?? Oh iya, apa boleh aku melihat tuan musisi bermain gitar?”
“Tentu saja
boleh, tapi apa tidak apa-apa Lena menunggu lama?”
“Oh iya aku
lupa, sepertinya kapan-kapan saja.” Gadis itu pun melirik ke arah mobil Lena.
“Em, maaf. Sepertinya aku harus segera pergi.”
“Ya,
baiklah.”
“Ya sudah
kalau begitu. Sampai jumpa lagi, tuan musisi.” Gadis itu pun beranjak dari
sana.
“Eh tunggu
dulu…!!!” Gadis itu pun menghentikan langahnya. “Kenapa kau terus memanggilku
tuan musisi?”
“Karena aku
suka.”
“Suka?”
“Benar,
karena aku suka tuan musisi. Sampai jumpa lagi, daaaahhh…” gadis itu pun pergi.
“Oh ya,
daaahh” Mahmud pun melambaikan tangannya. ‘Suka tuan musisi, apa maksudnya? Apa
dia…….. ah, mana mungkin. Dia kan dua tahun lebih tua dariku. Sudahlah, lebih
baik aku masuk saja.’ Gumam pria itu, Mahmud pun bergabung dengan
teman-temannya dan segera memulai latihan mereka.
Hari-hari
penuh latihan cepat berlalu dan lagi-lagi Intan dan Mahmud pun kembali bertemu.
Dimata Mahmud sudah terlihat suatu gerak tubuh yang berbeda dari gadis ini, dia
terlihat sedikit salah tingkah jika mereka sedang bertemu. Pipinya pun selalu
sedikit merona jika diperhatikan. Apa lagi sedang diajak bicara, gadis itu tak
berani menatap wajah Mahmud sama sekali. Entah hanya perasaan sang tuan musisi
atau ada sesuatu yang lain, tapi firasatnya mengetakan bahwa intan menyukainya.
Jam 06.30,
saat ini terlihat seorang pria berjaket hitam dan bermotor gede berwarna merah
mencolok dengan poletan-poletan hitam ini sedang menunggu seseorang tepat di depan
gerbang rumah orang itu. Dia sudah beberapa kali membunyikan klaksonnya dan
juga sudah berulangkali menengok jam tangannya.
‘Kenapa dia
lama sekali, apa dia belum bangun?’ Gumamnya. Dia pun segera mengambil
ponselnya dan menempelkannya pada telinga. Lalu terdengar bunyi….
Tuuuuut….
Tuuutt…..
“Halo, ya
sebentar. Aku turun sekarang.” Kata seorang gadis dari dalam ponselnya.
“Celatlah.”
Mahmud pun menutup telponnya.
Plok…..
plok… plok… plok……
Terdengar
langkah kaki si gadis yang berlari keluar dari rumahnya, gadis itu pun segera
membuka gerbannya.
“Maaf, aku
lama ya??” Kata Tias.
“Tidak, aku
hanya takut kalau kita terlambat. Naiklah..” Ujar Mahmud, tapi tias hanya diam
saja memandangi motornya. “Hey, kenapa diam saja? Cepat naik, kau mau kita
terlambat ke sana?”
“Ta-tapi
tinggi sekali, bagaimana aku bisa naik?”
“Ya ampun…”
Mahmud pun memiringkan motornya dan gadis itu pun mulai naik. “Pegangan..!!”
“A-apa?”
“Aku bilang
pegangan, nanti kau bisa jatuh.”
“Tapi kan,
tapi….” Tanpa banyak basa-basi dan busu, Mahmud pun menarik tangan kiri Tias
dan menyimpannya di pinggannya, lalu tangan kirinya.
“Aku akan
sedikit mengebut nanti, jadi berpeganganlah..!!”
“Ba-baik.”
Kata Tias dan motor itu pun mulai melaju. Saat ini wajah Tias sangat mereh,
pikirannya pun tidak karuhan. Bagaimana jika ada temannya yang melihat mereka,
pasti malu rasanya. Apa lagi, ya mungkin kalian sudah terbayang bagaimana
posisi Tias yang diboncenga dengan Moge seperti itu. ditambah lagi status
mereka yang hanya berteman, bisa jadi hot gossip nanti.
Tak lama,
mereka pun sampai di lokasi. Mahmud pun memparkirkan motornya di tempat parkir
khusus peserta. Mereka berdua pun segera turun dan berjalan menuju sebuah
ruangan yang disediakan khusus peserta. Disana sudah terlihat anak-anak musisi
lain, begitu juga dengan anak-anak Espada.
“Tuan
musisi…” Panggil seseorang, spontan Mahmud pun menengok ke arahnya.
“Oh, hi.”
Kata Mahmud, Intan segera menghamirinya. Tapi alangkah terkejutnya dia,
ternyata tuan musisinya itu datang bersama seorang gadis.
‘Siapa dia,
dandanannya sangat simple. Makeupnya juga tidak terlalu bagus jika dibandingkan
denganku. Apa dia anggota bandnya tuan musisi? Tapi setahuku tidak ada anggota
peremuan di dalamnya.’ Gumam Intan. “Em, siapa dia?”
“Oh, dia.
dia temanku, aku sengaja mengajaknya untuk menonton konser ini.” Kata Mahmud.
“Tias kenalkan, ini Intan. Intan, ini Tias.”
“Hi..” Tias
pun mengulurkan tangannya. Tapi Intan, bukannya menyalami Tias, dia hanya
menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
“Oh, ya
sudah kalau begitu. Aku harus kembali, sepertinya kau juga harus berkumpul
dengan anak-anak bandmu.”
“Ya,
tentu.” Mahmud dan Tias pun kembali melanjutkan langkah mereka. dia tidak habis
pikir Intan akan bertindak seperti tadi, mungkin ini bisa dibilang sangat tidak
sopan.
Di kursi
sana, terlihat anak-anak Espada sedang asik sendiri. Ari, dia sedang
mendengarkan music dari headphonenya dan dengan sangat asik mengangguk-anggukan
kepalanya. Yana, dia hanya mengutak-atik phonselnya dan terakhir Bayu, dia
sedang asik memainkan stick drumnya. Tapi kini pandangan mereka teralihkan oleh
seseorang yang baru datang.
“Hey lihat,
dia datang bersama siapa?” Ujar Bayu, dua temannya pun langsung saja menengok
ke arah yang ditunjukan oleh Bayu.
“Maaf,
sepetinya aku yang paling telat disini.” Kata Mahmud.
“Ya, tak
apa lah. Kami mengerti. Memang seperti itu jika menunggu…. Dia.” Ujar Ari.
“Ya ampun,
ternyata eh ternyata kau ini sudah diluar perkiraan kami. Sejak kapan kau
dengan gadis itu?” Tanya Yana.
“Kalian ini
bicara apa? Aku hanya berteman saja dengannya.” Jawab Mahmud.
“Apa
benar??? Hey Tias, namamu Tias kan? Apa benar kau kalian ini hanya berteman?”
“Ya, benar.
Kami hanya bertean saja, memangnya ada apa?” jawab Tias.
“Benarkan
apa yang aku bilang. Kalian selalu saja tidak percaya padaku.” Kata Mahmud.
“Habis,
kemarin aku melihatmu akrab sekali dengan em… siapa itu namanya?? Intan.”
“Kau ini
kenapa? aku heran, apa sih yang ada dalam kepalamu. Aku dan intn itu juga
bereman. Jelas..!!”
“Ya,
baiklah. Terserah kau saja.” Seperti itulah, candaan-candaan kecil dari
anak-anak Espada. Waktu pun bergulir begitu cepat, singkat cerita konserpun
dimulai. Saat ini yang sedang diatas panggung adalah Lena dan Intan. Lena
sedang menyanyikan sebuah lagu dari Vierra yang berjudul Terlalu Lama, yang
dikemas dalam sebuah sweet arrangement keyboard khas dari Intan.
“Apa
setelah ini giliranmu?” Tanya Tias.
“Ya,
memangnya kenapa?” Mahmud pun bertanya balik dan Tias pun tersenyum.
“Aku akan
menjadi penonton terdepanmu.”
“Benarkah?”
“Tentu
saja, aku akan pergi ke sana sekarang. Sepertinya lagunya akan segera hanbis,
daaaahhh…” Tias pun berlari ke luar.
“Tapi Tias,
jangan ke sana.. hey…” Sayang sekali, Tias tak mendengarkannya. Tias pun segera
berlari menuju kerumunan penonton, terlihat di pinggir sana Winda dan Deri
sedang menonton juga.
“TIAS… KAU
MAU KEMANA?” Teriak Winda.
“Aku akan
ke sana, aku ingin jadi penonton terdepan untuk Kak Mahmud.” Tias pun segera
menyusup ke kerumunan penonton,
“TIAS,
JANGAN…. KAU DISINI SAJA. TERLALU BERBAHAYA…” Tapi Tias sama sekali tak
mendengarkannya. Memang saat ini terlihat penonton sangat diluar kendali. Yang
awalnya penonton dengan tiken regular ada di barisan tengah sampai belakang,
mereka menerobos masuk ke barisan depan. Jadi tiket khusu atau regular pun
sekarang tak ada bedanya.
Kini Tias
pun sudah berada di barisan paling depan dan berada tepat di tengah-tengah. Dia
tak menyadari disekelilingnya itu adalah anak laki-laki semua yang sama sekali
tidak bisa diam jika mendengar music berirama cepat.
‘Akhirnya
sampai juga. Aduh semua yang ada disini sangat tidak bisa diam. Sebaiknya aku
diam saja lah, dari pada aku terseret ketengah.’ Gumam gadis itu, music yang
dimainkan Intan pun berakhir, semua penonton pun bersorak dengan meriah. Dan
inilah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Tias. Mereka mulai naik ke atas
panggung, Tias pun melambaikan tangannya. Mahmud pun membalas lambaian
tangannya.
‘Firasatku
tidak enak, semoga saja tidak terjadi apa-apa.’ Gumam Mahmud.
“Ok,
selamat siang semuangya…” sapa Ari. “Kami dari Espada band, untuk lagu yang
pertama kami akan membawa kan lagu dari Superman is Dead yang berjudul Jika
Kami Bersama.” Mahmud pun mulai memainkan gitarnya dan music yang berirama
cepat itu pun dimulai. Semua penonton bersorak dan bergoyang. Ya walau pun
kelihatannya tak kaurhan begitu. Tias juga ikut menggoyangkan badannya
mengikuti irama music, tapi barulah setengah lagu……..
“Hey, jaga
tanganmu!! Kau memukul wajahku tau.!!” Kata seseorang dari belakang Tias.
“Enak saja
kau bilang, siapa yang memukul wajahmu?” kata yang satunya lagi.
“Tentu saja
kau, dasar bodoh!!”
“Apa kau
bilang??? Kau memanggilku bodoh?? Kurang ajar kau…!!!”
‘Ya tuhan,
apa yang sedang terjadi ini??’ gumam gadis itu. dia pun segera menegok ke
belakangnya. Terlihat dua orang pria sedang beradu jotos dengan hebat, tak lama
penontonpun mulai ricuh dan tak terkendali. Tias terseret ke sana kemari, dia
tak mampu mempertahankan posisinya.”AAAAAA KAKAK… TOLONG AKU,,,,,,”
“Tias??”
“AAAAAAAAAA….
TOLONGG……!!!”
---To Be Continued---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar