Selasa, 20 Agustus 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 13"



The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 13
Cebol

“Awas, aku mau masuk.” Deri pun mencoba menerobos masuk.
“Eet.. tunggu dulu. Kenapa kau buru-buru sekali? Sepertinya kau berhasil dengan rencana ini. Aku ucapkan selamat ya.”
“……………”
“Sekarang, tinggal satu langah lagi. Tinggalkan dia sekarang juga!!!”
“……………”
“Kau ini kenapa, dari tadi aku ajak bicara kau hanya diam dan diam saja? Kau ini bisu, ya? Atau jangan-jangan kau masih bingung, tenang saja saat ini Annisa sedang menantimu disana.” Latifah pun menujuk Annisa dan gadis itu pun tersenyum pada Deri.
“Benarkah?”
“Tentu saja, kau tidak percaya?” Tanya Latifah. “Annisa kemarilah, sepertinya dia ingin berbicara sesuatu padamu!” Gadis berambut panjang tergerai itu pun segera beranjak dari tempat duduknya.
“Ada apa?” Tanya Annisa.
“Begini dia hanya ingin tanya, apa kau ingin kembali lagi bersamanya seperti dulu?” tanya Latifah lagi. Sambil malu-malu kucing, gadis itu pun mengenggukan kepalanya. “Nah sekarang bagaimana, kau mau melakukannya?”
“Cih! Sesederhana itukah pikiranmu? Memangnya aku ini bonekamu apa? lakukan saja sendiri!” Nada bicara Deri mulai meninggi.
“Apa kau bilang?”
“Kenapa, kau tak punya keberanian? Ternyata hanya seperti ini saja nyalimu.”
“Tutup mulutmu! Dengar, kau telah berhutang banyak padaku. Jadi, jika kau ingin lepas dariku kau harus membayarnya!”
“Hutang, hutang katamu? Hutang apa, memangnya harus berapa aku membayarmu?”
“Kau, dasar tidak tahu balas budi! Siapa yang menolongmu saat kau dihina, dicemooh dan diinjak harga dirimu oleh preman-preman itu, SIAPA?! AKU. Siapa yang menyebabkan Annisa jadi kekasihmu? AKU!!!”
“Kau? Aku tak pernah memintanya, lagi pula bukan kau yang menyelamatkanku. Salah satu kakak dari musuhmu itulah yang menyelamatkanku. Aku tak pernah bilang padamu jika aku ingin memiliki Annisa, kau saja yang merepotkan dirimu sendiri. Lagi pula, semenjak SMP aku sudah menyukai Winda.”
“Apa, jadi kau selama ini tak pernah menyukaiku? Kau jahat… kau jahat…!!!!” Annisa pun kembali ke tempat duduknya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Dan untukmu gadis @#$&%!!@&, kau tak punya hak apa pun untuk memerintahku. Aku bukan budakmu. Awas!” Deri pun menerobos masuk dari pintu itu. “Oh iya, satu lagi.” Deri pun menghentikan langkahnya. “Jangan pernah kau ganggu pacarku lagi!” Laki-laki itu pun meneruskan langkahnya kembali.
‘Kurang ajar!!’ gumam Latifah.

Jam istrahat kemudian, di depan kelas Dipa.
“Dipa…” panggil seseorang.
“Ada apa, tak biasanya kau datang ramai-ramai begini kemari.” Kata Dipa yang keheranan meliha Mahmud datang bersama 3 temannya.
“Hehehe, memangnya tidak boleh apa?”
“Ya… memangnya ada apa?”
“Aku haya ingin bilang nanti sore mereka akan datang ke toko kita. Kami akan memilih-milih beberapa kostum untuk konser minggu depan.”
“Oh, tapi kenapa buru-buru sekali padahalkan waktunya masih lama?”
“Kau ini, memangnya anak band yang ada di sini hanya ada kami apa? Aku tidak mau kalau nanti kami kehabisan oleh yang lain.”
“Hm, ya baiklah. Nanti aku akan menyiapkan beberapa pilihan untuk kalian.”
“Baiklah kalau begitu, sampai nanti.”
“Yaaaa….” Dan mereka berempat pun pergi.
“Ada apa?” tanya Iqbal yang baru saja datang.
“Pelanggan baru, anak band.” Jawab Dipa.
“Anak band, jangan-jangan mereka anak datang nanti sore.”
“Ya, kenapa?”
“Tidak, hanya saja tadi ada beberapa murid di sini yang akan datang juga.”
“Begitu ya, aku heran pada anak-anak band disini. Apa tidak punya baju semua?”
“Sembarangan saja kau bilang, sepertinya Mahmud bekerja dengan baik. Dia sudah merencanakannya dengan matang, membawa banyak pelanggan untuk toko kita dengan konser ini.”
“Memannya konser apa sih?”
“Entahlah, menurut kabar yang aku dengar, ini adalah konser Band Indhi dan musisi-musisi muda besar-besaran yang diselenggarakan di kota kita.”
“Oooohhh….”

Jam 4 sore kemudian.
“Selamat datang ditoko kami…..” Jawab 7 sekawan ini.
“Wah… aku disambut di tokoku sendiri. Hahahaha…” Mahmud pun tertaawa lepas.
“Siapa yang menyambutmu? Kami ini menyambut mereka, tau.” Kata Dika.
“A-apa…. Kalian tega sekali.”
“Kenapa, kau tidak suka? Aku rasa lebih baik seperti itu kan, dari pada nanti kau semakin besar kepala.”
“Kau ini,, awas kau nanti…”
“Sudah hentikan. Ayo ikut aku!” kata Dipa dan mereka berempat pun segera mengikuti kemana Dipa pergi. Tak selang beberapa langkah dari pintu masuk, mereka pun sampai di suatu sudut ruangan yang telah disiapkan khusus untuk pelanggan laki-laki. Disana banyak terdapat beberapa baju, celana dan aksesoris-aksesoris keren untuk para pria. “Silahkan, ini adalah koleksi terbaru kami. Semuanya baru saja datang dan belum ada yang memilihnya selain kalian.” Ujar Dipa.
“Em maaf, sebenarnya kami mencari suatu kostum yang kompak. Apa ada?” Tanya Bayu.
“Kostum kompak ya, apa maksudnya seragam utnuk kalian?”
“Ya, benar.”
“Baiklah. Win, kau sedang sibuk tidak? Tolong ambilkan beberapa contoh model pakaian yang aku simpan di atas.”
“Ya, yang mana?” Winda pun menghampiri Dipa.
“Yang aku taruh di dalam kardus bertulisan ‘BG’.”
“Ya, sebentar aku ambilkan.” Tak selang beberapa lama, winda pun kembali. Teman-teman Mahmud sangat antusias memilih model baju untuk mereka. “A-anu, apa kalian ini Boy Band?”
“Boy Band, enak saja kau bilang.” Ujar Yana.
“Sebenarnya kami hanya kumpulan anak pecinta musik saja.” Kata Ari.
“Oh begitu ya, boleh aku tahu apa namanya?” Tanya Winda.
“Espada Band.” jawab Yana.
“Oh, begitu ya. Apa bisa diperkenalkan satu per satu?”
“Tentu bisa….” Kelihatannya Mahmud sangat semangat menjawab pertanyaan Winda. “Baiklah, dimulai dari Bayu, dia adalah drummer. Yang ini adalah Ari, dia vokalis. Lalu yang ini Yana, basis. Dan terakhir aku, aku ini…..” kata-kata Mahmud terpotong oleh Dipa.
“Pemegang mik.” Ucap Dipa dengan dingin.
“Enak saja kau bilang.”
“Itu memang benar kan, memangnya kau bisa apa?”
“Aku ini gitaris , tau.”
“Apa benar, aku tidak percaya.”
“Sudah-sudah, kalian ini selalu saja begini. Ya sudah, lebih baik aku bantu kak Yuda saja. Oh iya terimakasih telah diperkenalkan, aku permisi dulu.” Gadis itu pun beranjak dari sana. tak lama toko pun mulai ramai dengan para musisi-musisi muda sekitar sini. Semua mulai sibuk terutama dibagian kasir yang dipegang oleh Dika dan Demil. Setelah toko mulai sepi datanglah sebuah mobil yang tak asing lagi bagi mereka.
TID…TID…
Klakson pun dibunyikan agar Mas Devis membuka puntu gerbang dengan lebar. Para menumpang mobil itu pun mulai turun, terlihat satu orang pria berambut ikal dan dua orang gadis cantik yang dandanannya cukup ‘Wah’ untuk ukuran mahasiswi pada umunya.
“Wah-wah sedang sibuk ya..” kata Yogi yang memasuki toko.
“Hey, kemana saja kau. Ayo cepat bantu kami!” Ujar Iqbal.
“Ya baiklah, tapi sebelumnya aku ingin memperkenalkan teman-temanku yang ingin mampir ke sini. Hey, ayo masuk!” lalu 2 gadis cantik itu pun mulai masuk ke dalam toko, yang satu sambil memegang minuman dan yang satu lagi hanya membawa tas kecil saja.
“Selamat datang di toko kami.” Kata mereka dengan kompak.
“Hey, mereka siapa?” Tanya Dika.
“Ini Lena dan Intan, mereka mampir kemari karena ingin tahu toko kita dan katanya sekalian ingin melihat-lihat. Siapa tahu ada yang pas untuk konser nanti.”
“Konser, jadi mereka musisi juga ya?” Tanya Mahmud.
“Tidak, kami berdua baru saja bergabung di dunia musik. Sangat aneh jika kami disebut musisi.” Jawab Intan. “Em maaf, kalau baju-baju untuk perempuan sebelah mana?”
“Sebelah sini, silahkan.” Mahmud pun menuntun mereka ke suatu bagian paling ujung. Karena teman-teman Mahmud sudah pulang, jadi dia kembali bertugas seperti biasa di sana dan 2 gadis itu pun segera memilih-milih model yang mereka inginkan.

“Winda…. Cepat, kenapa kau lama sekali…?” Teriak Iqbal.
“Sebentar…” Winda pun menuruni anak tangga. Sebenarnya dia bukan bagian gudang, karena dari tadi belum ada pelanggan perempuan jadi dia yang bertugas mengambil barang di gudang menggantikan Rona yang saat ini sedang mengambil barang pesanan di beberapa produsen. Gadis itu pun mulai berjalan menuju area toko sambil memwaba baju-baju ditangannya, tapi…… “Permi…..”
Duk,… brak….
“Aduh…..”Teriak salah satu gadis cantik itu, ternyata dia tertabrak Winda yang terjatuh karena kakinya tersangkut karpet di sana. barang yang diambil Winda pun jatuh berantakan, sementara gadis Cantik itu bajunya tersiram minuman coklat yang dia bawa. Untung saja barang-barang yang jatuh itu masih terbungkus plastic jadi tidak ikut-ikutan basah. “Baju mahalku, lihat apa yang kau lakukan! Dasar ceroboh, lihat kau telah merusaknya.”
“Ma-maaf, aku minta maaf.”
“Maaf katamu, gajihmu satu tahun disini saja tidak akan cukup utnuk menggantinya dasar pelayan CEBOL!!.” Nada bicara gadis itu mulai tinggi.
‘Ce-cebol…??!’ Guman gadis itu. Sebenarnya baru kali ini dia dipanggil cebol, sangat menyakitkan utnuk didengar.
“Hey, sudah hentikan. Ada apa ini?” Yogi pun menghampiri mereka.
“Sayaaaang… lihat apa yang telah dia lakukan padaku! Dia telah merusak baju mahalku, lihatt..!!!” kata gadis itu dengan manja.
‘Sayang, dia pacar kak Yogi?’ Guman Winda lagi.
“Sudah-sudah. Kau tak usah teriakteriak seperti itu. Sekarang kita bersihkan saja bajumu ya.” Yogi pun menarik tangan Lena.
“Tunggu dulu.” Lena pun melepaskan tangannya. “Aku tak suka ada si cebol ini di tokomu. Pecat dia!”
“Pe-pecat, tapi tidak bisa Sayang. Ayo besihkan saja bajumu.”
“Tidak, pecat dia dulu, sekarang juga!!!!”
“Apa kau gila? Dia itu adikku, aku tidak bisa memecatnya.”
“Masa bodo….. aku tidak peduli dia adikmu, pembantumu, pengasuhmu atau siapapun. Pokoknya si cebol ini harus di pecat dari tokomu!!”
“Ini bukan tokoku.”
“A-apa, kau bilang ini tokomu?” Dia pun tercengang.
“Iya tapi ini bukan hanya tokoku, ini toko kami semua. Kami semua adalah pemilik toko ini, jadi aku tidak bisa memecat siapa pun.”
“Ja-jadi, si cebol ini juga memilik toko ini?”
“Namaku Winda, tau!” Kata Winda.
“Apa, Winda. Nama itu terlalu bagus untukmu anak cebol!”
“KAU….. BERANI-BERANINYA MEMANGGILKU CEBOL, DASAR NENEK SIHIR TIDAK TAHU DIRI…..”
“NENEK SIHIR KATAMU??!!!!”
“KENAPA MEMANG BENAR KAN KAU ITU NENEK SIHIR?”
“KURANG AJAR KAU CEBOOOLLLL!!!”
“Sudah…. Hentikan. Kenapa kalian ini malah bertengkar?” Yogi pun melerai mereka. “Winda, cepat minta maaf padanya!”
“Tidak mau! Aku tidak sudi meminta maaf pada nenek sihir tidak tahu diri.”
“Ya ampun, pasti seperti ini. Lena, minta maaf pada adikku!”
“Minta maaf pada adikmu kau bilang? Apa benar dia itu adikmu, aku yakin dia adalah adik gadungan. Mirip saja tidak, mau dibilang adik?!”
“ADIK GADUNGAN KAU BILANG!!!!!” Winda mulai terpancing emosinya kembali.
“Memang benar kan, kau itu hanya adik gadungan. CEBOL!!!”
“DASAR NENEK SIHIR TIDAK TAHU DIRI, AWAS KAAAAUUU….” Winda berniat untuk mengacak-acak rambutnya tapi sayang, Mahmud langsung memegangi kedua tanyannya. “LEPAS KAN AKU!!!!”
“Nah lihat, sekarang kau tidak bisa apa-apa.”
“Awas kau NENEK SIHIIIIIIRRRRR!!!!”

PLAAAKKK!!!
Suara sandal Winda yang dilayangkan kakinya tepat ke wajah Lena.
“HAHAHAHA KENA KAU….. HAHAHA” Winda tertawa lepas melihatnya.
“CEBOOOOLLLLL!!!!” Lena pun mengambil sandal itu dan berniat akan melemparkannya pada Winda. “RASAKAN INI CEBOL!!!”
“Hentikan! Sudah hentikan!! Ayo cepat kita pergi!” Yogi pun memegang tangan Lena, sehingga dia tak bisa melemparkan sandal itu dan menariknya keluar toko.
“Tidak, lepaskan. Urusanku belum selesai…. Lepaskaaaannnnn!! AWAS KAU CEBOOOLLLLL!!!!”
“PEGI KAU!” Winda pun meronta-ronta.
“Sudahlah Win…!” Kata Mahmud sambil memegangi Winda.
“Maaf, sepertinya aku harus permisi dulu.” Ujar intan yang mengikuti Yogi dan Lena.
“I-iya, silahkan.” Jawab Mahmud.
“PERGI KAU DARI TOKO INI, NENEK SIHIR TIDAK TAHU DIRI!!!!!!  PERGI KAU!!! JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!!!! AKU TAK SUDI KAU JADI KAKAK IPARKU….. PERGIIIIII!!!!!!” Winda kembali berteriak dan meronta-ronta dan pertemuan rumit itu pun selesai.

Sememtara itu, mobil Yogi pun langsung tancab gas dari sana. Dia merasa malu dengan kejadian tadi. Sebenarnya dia sangat ingin marah di sana, tapi hal itu hanya menambah runyam suasana.
Mobil itu telah melaju cukup jauh, tak ada pembicaraan yang terdengar dari dua sejoli ini. Begitu juga dengan Intan yang duduk di belakang sendiri, dia hanya memandangi mereka berdua karena takut jadi buan-bulanan mereka jika dia bicara duluan.
“Aku malu.” Ujar Yogi yang memecah keheningan. “Harusnya kau bersikap dewasa tadi.”
“Dia yang memulainya, bukan aku kan?” kata Lena.
“Ini bukan masalah siapa yang memulainya, ini masalah kedewasaan. Kau itu lebih tua dari pada Winda, harusnya kau tahu itu. Lagi pula dia kan sudah minta maaf padamu.”
“Kenapa kau malah membela si cebol itu, kenapa kau tidak membelaku? Aku ini pacarmu.”
“DIA ITU ADIKKU, DIA ITU ADIKKU KAU DENGAR?! AKU TAK SUKA KAU PANGGIL DIA CEBOL!”
“TAPI DIA SUDAH MERUSAK BAJUKU!”
“Baju, hanya baju saja yang ada dalam kepalamu. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, kau tak pernah menghargai orang lain.”
“Tapi aku menghargaimu.”
“Tidak, kau tidak mengargaiku. Kau sama sekali tak menghargai adikku, jadi kau juga tak menghargai aku.”
“Adik? Ya ampun….. Sayang, aku ini tidak buta. Jika memang dia itu adikmu, harusnya dia memiliki kemiripan denganmu. Oh, atau jangan-jangan dia itu anak pungut. Sudah cebol, anak pungut lagi.”
“Kau! Tutup mulutmu!! Dengar, dia memang bukan adik kandungku dan kami ini juga bukan anak kandung di keluarga itu. mengerti!”
“A-apa, jadi kau juga…..”
“APA?!”
“Ti-tidak…..” sekarang pikiran Yogi semakin tak karuhan, rasanya sangat pusing menghadapi sang pacar yang kenyataanya bersifat seperti ini. Tak lama kemudian dia pun meminggiran mobilnya.
“Turun…!” Kata Yogi dengan singkat.
“A-apa turun? Tapi ini kan masih jauh…”
“Turun aku bilang!” Dengan perasaan kesal gadis itu pun turun, begitu juga dengan Intan. “Intan, kau tetap di mobil..!”
“I-iya…” dia pun kembali menutup pintu mobilnya.

Tok…tok…tok….
Lena pun mengetuk kaca pintu mobil Yogi dan pria itu pun langsung membuka kacanya.
“Ada apa lagi? Rumahmu kan sudah tidak jauh lagi dari sini, jalan kaki saja bisa kan?” Ujar Yogi.
“Saayaaaaang, tapi kan masih jauh. Lagi pula udaranya sangat panas….” Kata Lena dengan manja.
“Manja…” Yogi kembali menutup kaca mobilnya, tanpa basa-basi dia langsung melaju begitu saja.
“Sayang…. Sayang…..” panggil Lena sambil terus mengetuk kaca mobil yang melaju itu, tapi tercumah Yogi terus saja melaju tanpa mengiraukan Lena.

“Apa tidak apa-apa ditinggalkan seperti itu?” Tanya Intan.
“Tidak, sekali-kali dia harus seperti itu. agar sikap manja dalam anak itu hilang.” Setelah itu, Yogi langsung mengantarkan Intan pulang dan menjemput Winda di toko. Di sepanjang jalan Winda tak mengatakan apa pun, dia hanya diam dengan wajah yang kesal. Yogi tak mengajaknya bicara, karena dia tahu jika adiknya itu diajak bicara pada saat seperti ini, pasti tak akan ada nasehat yang masuk ke kepalanya. Mereka pun sampai di pekarangan rumah mereka, tanpa basa-basi mereka pun turun dari mobil. Tapi sebelum turun, ada sedikit kata-kata yang sangat mengagetkan sang kakak itu.
“Kakak…” panggil Winda sambil membuka pintu mobil.
“Apa?” Tanya Yogi.
“Aku tak mau dia menjadi kakak iparku kelak.” Winda pun langsung turun dan masuk ke rumah. Sementara Yogi, dia masih tertegun mendengar apa yang Winda ucapkan barusan.
‘Ternyata, ucapannya tadi di toko itu tidak main-main.’ Gumam Yogi.

Malam pun tiba, terlihat seorang pria sedang berbaring ria sambil membaca buku yang ada di hadapannya.
“Haaaahhh….” Buku itu pun di taruh di sampinya. “Kenapa aku tidak bisa konsentrasi…..” nampaknya kejadian tadi siang sangat menggangu pikirannya.

“PERGI KAU DARI TOKO INI, NENEK SIHIR TIDAK TAHU DIRI!!!!!!  PERGI KAU!!! JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!!!! AKU TAK SUDI KAU JADI KAKAK IPARKU….. PERGIIIIII!!!!!!”
“Oh, atau jangan-jangan dia itu anak pungut. Sudah cebol, anak pungut lagi.”
“Aku tak mau dia menjadi kakak iparku kelak.”

Suara-suara itu kembali diputar dalam memorinya.
“Ya tuhan, kenapa jadi begini? Aku harus bagaimana sekarang?” kata pria ikal itu sambil mengacak-acak rambutnya.
Kriiiiingg….. kriiiingg….
Ponselnya berbunyi, dia pun langsung melihat siapa yang menelponnya. Ternyata sang pacarl. Tanpa basa-basi, dia langsung mengangkatnya.
“Halo, ada apa?” Tanya Yogi.
“Sayaaaaaangg,….. kenapa kau tidak menelponku? Aku kesepian di sini.” Ujar Lena.
“Maaf..”
“Sayang, kau masih marah ya? Aku minta maaf…”
“Hm……”
“Jangan begitu, aku mohon…”
“Sudahlah, aku sedang sibuk. Nanti aku telpon.” Yogi langsung mematikan telponnya.
Kriiiiing..kring…..
“Ada apa lagi, sudah aku bilang kan nanti aku telpon.”
“Kenapa kau jadi seperti ini, kau berubah.”
“Harus nya aku yang bertanya, kenapa kau jadi seperti ini?”
“…………….”
“Sudahlah, sebaiknya kita putus saja…” Telpon pun kembali dia matikan, tanpa persetujuan dari kekasihnya dia pun memutuskan hubungan begitu saja. Hanya ini jalan keluar satu-satunya yang ada dalam pikirannya. Esoknya di campus, Yogi bersikap dingin pada Lena. Biar pun Lena sudah berusaha untuk menarik perhatiannya, tapi Yogi masih saja tak peduli. Untung saja hari ini dia pulang cepat, jadi dia bisa membantu yang lainnya di toko dan bisa terbebas dari mantan pacarnya.

Di toko, terlihat seorang pria ikal sedang berdiri di meja kasir. Dia sedang menghitung pendapatan mereka hari ini. Tapi tiba-tiba saja sebuah mobil datang dan berhenti di pekarangan toko. Lalu orang itu pun keluar lalu masuk ke dalam toko.
“Maaf, kami sudah tutup.” Ujar Yogi. Tapi gadis itu tak mengawab, dia langsung menghampiri Yogi dan membawanya keluar. “Kau ini kenapa sih?”
“Kau yang kenapa, kenapa kau dingin sekali padaku?”
“Sudah aku bilang kan, kita ini sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi wajar saja jika aku bersika seperti ini.”
“Tapi aku tidak mau putus denganmu…”
“…………….”
“Aku mohon….!!” Lena pun berlutut di hadapan Yogi, Yogi pun terkejut. “Aku berjanji akan memperbaiki sifatku. Aku minta maaf jika aku seperti ini, aku tidak akan mengulanginya lagi.”
“Apa yang kau lakukan cepat bangun…!!” Yogi berusaha membangunkannya, dia takut jika ada yang melihat karena. Dia takut sekali orang beranggapan dia telah melakukan hal yang tidak-tidak seperti penyiksaan atau lainnya dan juga di sebut pria yang sok jual mahal.
“Aku mohon, kembalilah….. aku ingin kita seperti dulu…”
“Aku bilang bangun…!!”
“Tidak, aku tidak akan bangun sebelum kau kembali lagi padaku…”
‘Ya Tuhan, sekarang cobaan apa lagi ini?’ gumam pria ikal itu.

---To Be Continued---


Tidak ada komentar:

Posting Komentar