The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 13
Cebol
“Awas, aku mau masuk.” Deri pun mencoba menerobos masuk.
“Eet.. tunggu dulu. Kenapa kau buru-buru sekali? Sepertinya kau berhasil
dengan rencana ini. Aku ucapkan selamat ya.”
“……………”
“Sekarang, tinggal satu langah lagi. Tinggalkan dia sekarang juga!!!”
“……………”
“Kau ini kenapa, dari tadi aku ajak bicara kau hanya diam dan diam saja?
Kau ini bisu, ya? Atau jangan-jangan kau masih bingung, tenang saja saat ini
Annisa sedang menantimu disana.” Latifah pun menujuk Annisa dan gadis itu pun
tersenyum pada Deri.
“Benarkah?”
“Tentu saja, kau tidak percaya?” Tanya Latifah. “Annisa kemarilah,
sepertinya dia ingin berbicara sesuatu padamu!” Gadis berambut panjang tergerai
itu pun segera beranjak dari tempat duduknya.
“Ada apa?” Tanya Annisa.
“Begini dia hanya ingin tanya, apa kau ingin kembali lagi bersamanya
seperti dulu?” tanya Latifah lagi. Sambil malu-malu kucing, gadis itu pun
mengenggukan kepalanya. “Nah sekarang bagaimana, kau mau melakukannya?”
“Cih! Sesederhana itukah pikiranmu? Memangnya aku ini bonekamu apa?
lakukan saja sendiri!” Nada bicara Deri mulai meninggi.
“Apa kau bilang?”
“Kenapa, kau tak punya keberanian? Ternyata hanya seperti ini saja
nyalimu.”
“Tutup mulutmu! Dengar, kau telah berhutang banyak padaku. Jadi, jika kau
ingin lepas dariku kau harus membayarnya!”
“Hutang, hutang katamu? Hutang apa, memangnya harus berapa aku
membayarmu?”
“Kau, dasar tidak tahu balas budi! Siapa yang menolongmu saat kau dihina,
dicemooh dan diinjak harga dirimu oleh preman-preman itu, SIAPA?! AKU. Siapa
yang menyebabkan Annisa jadi kekasihmu? AKU!!!”
“Kau? Aku tak pernah memintanya, lagi pula bukan kau yang menyelamatkanku.
Salah satu kakak dari musuhmu itulah yang menyelamatkanku. Aku tak pernah
bilang padamu jika aku ingin memiliki Annisa, kau saja yang merepotkan dirimu
sendiri. Lagi pula, semenjak SMP aku sudah menyukai Winda.”
“Apa, jadi kau selama ini tak pernah menyukaiku? Kau jahat… kau
jahat…!!!!” Annisa pun kembali ke tempat duduknya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Dan untukmu gadis @#$&%!!@&, kau tak punya hak apa pun untuk
memerintahku. Aku bukan budakmu. Awas!” Deri pun menerobos masuk dari pintu
itu. “Oh iya, satu lagi.” Deri pun menghentikan langkahnya. “Jangan pernah kau
ganggu pacarku lagi!” Laki-laki itu pun meneruskan langkahnya kembali.
‘Kurang ajar!!’ gumam Latifah.
Jam istrahat kemudian, di depan kelas Dipa.
“Dipa…” panggil seseorang.
“Ada apa, tak biasanya kau datang ramai-ramai begini kemari.” Kata Dipa
yang keheranan meliha Mahmud datang bersama 3 temannya.
“Hehehe, memangnya tidak boleh apa?”
“Ya… memangnya ada apa?”
“Aku haya ingin bilang nanti sore mereka akan datang ke toko kita. Kami
akan memilih-milih beberapa kostum untuk konser minggu depan.”
“Oh, tapi kenapa buru-buru sekali padahalkan waktunya masih lama?”
“Kau ini, memangnya anak band yang ada di sini hanya ada kami apa? Aku
tidak mau kalau nanti kami kehabisan oleh yang lain.”
“Hm, ya baiklah. Nanti aku akan menyiapkan beberapa pilihan untuk kalian.”
“Baiklah kalau begitu, sampai nanti.”
“Yaaaa….” Dan mereka berempat pun pergi.
“Ada apa?” tanya Iqbal yang baru saja datang.
“Pelanggan baru, anak band.” Jawab Dipa.
“Anak band, jangan-jangan mereka anak datang nanti sore.”
“Ya, kenapa?”
“Tidak, hanya saja tadi ada beberapa murid di sini yang akan datang juga.”
“Begitu ya, aku heran pada anak-anak band disini. Apa tidak punya baju
semua?”
“Sembarangan saja kau bilang, sepertinya Mahmud bekerja dengan baik. Dia
sudah merencanakannya dengan matang, membawa banyak pelanggan untuk toko kita
dengan konser ini.”
“Memannya konser apa sih?”
“Entahlah, menurut kabar yang aku dengar, ini adalah konser Band Indhi dan
musisi-musisi muda besar-besaran yang diselenggarakan di kota kita.”
“Oooohhh….”
Jam 4 sore kemudian.
“Selamat datang ditoko kami…..” Jawab 7 sekawan ini.
“Wah… aku disambut di tokoku sendiri. Hahahaha…” Mahmud pun tertaawa
lepas.
“Siapa yang menyambutmu? Kami ini menyambut mereka, tau.” Kata Dika.
“A-apa…. Kalian tega sekali.”
“Kenapa, kau tidak suka? Aku rasa lebih baik seperti itu kan, dari pada
nanti kau semakin besar kepala.”
“Kau ini,, awas kau nanti…”
“Sudah hentikan. Ayo ikut aku!” kata Dipa dan mereka berempat pun segera
mengikuti kemana Dipa pergi. Tak selang beberapa langkah dari pintu masuk,
mereka pun sampai di suatu sudut ruangan yang telah disiapkan khusus untuk
pelanggan laki-laki. Disana banyak terdapat beberapa baju, celana dan
aksesoris-aksesoris keren untuk para pria. “Silahkan, ini adalah koleksi
terbaru kami. Semuanya baru saja datang dan belum ada yang memilihnya selain
kalian.” Ujar Dipa.
“Em maaf, sebenarnya kami mencari suatu kostum yang kompak. Apa ada?”
Tanya Bayu.
“Kostum kompak ya, apa maksudnya seragam utnuk kalian?”
“Ya, benar.”
“Baiklah. Win, kau sedang sibuk tidak? Tolong ambilkan beberapa contoh
model pakaian yang aku simpan di atas.”
“Ya, yang mana?” Winda pun menghampiri Dipa.
“Yang aku taruh di dalam kardus bertulisan ‘BG’.”
“Ya, sebentar aku ambilkan.” Tak selang beberapa lama, winda pun kembali.
Teman-teman Mahmud sangat antusias memilih model baju untuk mereka. “A-anu, apa
kalian ini Boy Band?”
“Boy Band, enak saja kau bilang.” Ujar Yana.
“Sebenarnya kami hanya kumpulan anak pecinta musik saja.” Kata Ari.
“Oh begitu ya, boleh aku tahu apa namanya?” Tanya Winda.
“Espada Band.” jawab Yana.
“Oh, begitu ya. Apa bisa diperkenalkan satu per satu?”
“Tentu bisa….” Kelihatannya Mahmud sangat semangat menjawab pertanyaan
Winda. “Baiklah, dimulai dari Bayu, dia adalah drummer. Yang ini adalah Ari, dia vokalis.
Lalu yang ini Yana, basis. Dan terakhir aku, aku ini…..” kata-kata Mahmud
terpotong oleh Dipa.
“Pemegang
mik.” Ucap Dipa dengan dingin.
“Enak saja
kau bilang.”
“Itu memang
benar kan, memangnya kau bisa apa?”
“Aku ini
gitaris , tau.”
“Apa benar,
aku tidak percaya.”
“Sudah-sudah,
kalian ini selalu saja begini. Ya sudah, lebih baik aku bantu kak Yuda saja. Oh
iya terimakasih telah diperkenalkan, aku permisi dulu.” Gadis itu pun beranjak
dari sana. tak lama toko pun mulai ramai dengan para musisi-musisi muda sekitar
sini. Semua mulai sibuk terutama dibagian kasir yang dipegang oleh Dika dan
Demil. Setelah toko mulai sepi datanglah sebuah mobil yang tak asing lagi bagi
mereka.
TID…TID…
Klakson pun
dibunyikan agar Mas Devis membuka puntu gerbang dengan lebar. Para menumpang
mobil itu pun mulai turun, terlihat satu orang pria berambut ikal dan dua orang
gadis cantik yang dandanannya cukup ‘Wah’ untuk ukuran mahasiswi pada umunya.
“Wah-wah
sedang sibuk ya..” kata Yogi yang memasuki toko.
“Hey,
kemana saja kau. Ayo cepat bantu kami!” Ujar Iqbal.
“Ya
baiklah, tapi sebelumnya aku ingin memperkenalkan teman-temanku yang ingin mampir
ke sini. Hey, ayo masuk!” lalu 2 gadis cantik itu pun mulai masuk ke dalam toko,
yang satu sambil memegang minuman dan yang satu lagi hanya membawa tas kecil
saja.
“Selamat
datang di toko kami.” Kata mereka dengan kompak.
“Hey,
mereka siapa?” Tanya Dika.
“Ini Lena
dan Intan, mereka mampir kemari karena ingin tahu toko kita dan katanya
sekalian ingin melihat-lihat. Siapa tahu ada yang pas untuk konser nanti.”
“Konser,
jadi mereka musisi juga ya?” Tanya Mahmud.
“Tidak,
kami berdua baru saja bergabung di dunia musik. Sangat aneh jika kami disebut
musisi.” Jawab Intan. “Em maaf, kalau baju-baju untuk perempuan sebelah mana?”
“Sebelah
sini, silahkan.” Mahmud pun menuntun mereka ke suatu bagian paling ujung.
Karena teman-teman Mahmud sudah pulang, jadi dia kembali bertugas seperti biasa
di sana dan 2 gadis itu pun segera memilih-milih model yang mereka inginkan.
“Winda….
Cepat, kenapa kau lama sekali…?” Teriak Iqbal.
“Sebentar…”
Winda pun menuruni anak tangga. Sebenarnya dia bukan bagian gudang, karena dari
tadi belum ada pelanggan perempuan jadi dia yang bertugas mengambil barang di
gudang menggantikan Rona yang saat ini sedang mengambil barang pesanan di
beberapa produsen. Gadis itu pun mulai berjalan menuju area toko sambil memwaba
baju-baju ditangannya, tapi…… “Permi…..”
Duk,…
brak….
“Aduh…..”Teriak
salah satu gadis cantik itu, ternyata dia tertabrak Winda yang terjatuh karena
kakinya tersangkut karpet di sana. barang yang diambil Winda pun jatuh
berantakan, sementara gadis Cantik itu bajunya tersiram minuman coklat yang dia
bawa. Untung saja barang-barang yang jatuh itu masih terbungkus plastic jadi
tidak ikut-ikutan basah. “Baju mahalku, lihat apa yang kau lakukan! Dasar
ceroboh, lihat kau telah merusaknya.”
“Ma-maaf,
aku minta maaf.”
“Maaf katamu,
gajihmu satu tahun disini saja tidak akan cukup utnuk menggantinya dasar
pelayan CEBOL!!.” Nada bicara gadis itu mulai tinggi.
‘Ce-cebol…??!’
Guman gadis itu. Sebenarnya baru kali ini dia dipanggil cebol, sangat
menyakitkan utnuk didengar.
“Hey, sudah
hentikan. Ada apa ini?” Yogi pun menghampiri mereka.
“Sayaaaang…
lihat apa yang telah dia lakukan padaku! Dia telah merusak baju mahalku,
lihatt..!!!” kata gadis itu dengan manja.
‘Sayang,
dia pacar kak Yogi?’ Guman Winda lagi.
“Sudah-sudah.
Kau tak usah teriakteriak seperti itu. Sekarang kita bersihkan saja bajumu ya.”
Yogi pun menarik tangan Lena.
“Tunggu
dulu.” Lena pun melepaskan tangannya. “Aku tak suka ada si cebol ini di tokomu.
Pecat dia!”
“Pe-pecat,
tapi tidak bisa Sayang. Ayo besihkan saja bajumu.”
“Tidak,
pecat dia dulu, sekarang juga!!!!”
“Apa kau
gila? Dia itu adikku, aku tidak bisa memecatnya.”
“Masa
bodo….. aku tidak peduli dia adikmu, pembantumu, pengasuhmu atau siapapun.
Pokoknya si cebol ini harus di pecat dari tokomu!!”
“Ini bukan
tokoku.”
“A-apa, kau
bilang ini tokomu?” Dia pun tercengang.
“Iya tapi ini
bukan hanya tokoku, ini toko kami semua. Kami semua adalah pemilik toko ini,
jadi aku tidak bisa memecat siapa pun.”
“Ja-jadi,
si cebol ini juga memilik toko ini?”
“Namaku
Winda, tau!” Kata Winda.
“Apa,
Winda. Nama itu terlalu bagus untukmu anak cebol!”
“KAU…..
BERANI-BERANINYA MEMANGGILKU CEBOL, DASAR NENEK SIHIR TIDAK TAHU DIRI…..”
“NENEK
SIHIR KATAMU??!!!!”
“KENAPA
MEMANG BENAR KAN KAU ITU NENEK SIHIR?”
“KURANG
AJAR KAU CEBOOOLLLL!!!”
“Sudah….
Hentikan. Kenapa kalian ini malah bertengkar?” Yogi pun melerai mereka. “Winda,
cepat minta maaf padanya!”
“Tidak mau!
Aku tidak sudi meminta maaf pada nenek sihir tidak tahu diri.”
“Ya ampun,
pasti seperti ini. Lena, minta maaf pada adikku!”
“Minta maaf
pada adikmu kau bilang? Apa benar dia itu adikmu, aku yakin dia adalah adik
gadungan. Mirip saja tidak, mau dibilang adik?!”
“ADIK
GADUNGAN KAU BILANG!!!!!” Winda mulai terpancing emosinya kembali.
“Memang
benar kan, kau itu hanya adik gadungan. CEBOL!!!”
“DASAR
NENEK SIHIR TIDAK TAHU DIRI, AWAS KAAAAUUU….” Winda berniat untuk mengacak-acak
rambutnya tapi sayang, Mahmud langsung memegangi kedua tanyannya. “LEPAS KAN
AKU!!!!”
“Nah lihat,
sekarang kau tidak bisa apa-apa.”
“Awas kau
NENEK SIHIIIIIIRRRRR!!!!”
PLAAAKKK!!!
Suara sandal
Winda yang dilayangkan kakinya tepat ke wajah Lena.
“HAHAHAHA
KENA KAU….. HAHAHA” Winda tertawa lepas melihatnya.
“CEBOOOOLLLLL!!!!”
Lena pun mengambil sandal itu dan berniat akan melemparkannya pada Winda.
“RASAKAN INI CEBOL!!!”
“Hentikan!
Sudah hentikan!! Ayo cepat kita pergi!” Yogi pun memegang tangan Lena, sehingga
dia tak bisa melemparkan sandal itu dan menariknya keluar toko.
“Tidak,
lepaskan. Urusanku belum selesai…. Lepaskaaaannnnn!! AWAS KAU CEBOOOLLLLL!!!!”
“PEGI KAU!”
Winda pun meronta-ronta.
“Sudahlah
Win…!” Kata Mahmud sambil memegangi Winda.
“Maaf,
sepertinya aku harus permisi dulu.” Ujar intan yang mengikuti Yogi dan Lena.
“I-iya,
silahkan.” Jawab Mahmud.
“PERGI KAU
DARI TOKO INI, NENEK SIHIR TIDAK TAHU DIRI!!!!!! PERGI KAU!!! JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!!!!
AKU TAK SUDI KAU JADI KAKAK IPARKU….. PERGIIIIII!!!!!!” Winda kembali berteriak
dan meronta-ronta dan pertemuan rumit itu pun selesai.
Sememtara itu,
mobil Yogi pun langsung tancab gas dari sana. Dia merasa malu dengan kejadian
tadi. Sebenarnya dia sangat ingin marah di sana, tapi hal itu hanya menambah
runyam suasana.
Mobil itu
telah melaju cukup jauh, tak ada pembicaraan yang terdengar dari dua sejoli
ini. Begitu juga dengan Intan yang duduk di belakang sendiri, dia hanya
memandangi mereka berdua karena takut jadi buan-bulanan mereka jika dia bicara
duluan.
“Aku malu.”
Ujar Yogi yang memecah keheningan. “Harusnya kau bersikap dewasa tadi.”
“Dia yang
memulainya, bukan aku kan?” kata Lena.
“Ini bukan
masalah siapa yang memulainya, ini masalah kedewasaan. Kau itu lebih tua dari
pada Winda, harusnya kau tahu itu. Lagi pula dia kan sudah minta maaf padamu.”
“Kenapa kau
malah membela si cebol itu, kenapa kau tidak membelaku? Aku ini pacarmu.”
“DIA ITU
ADIKKU, DIA ITU ADIKKU KAU DENGAR?! AKU TAK SUKA KAU PANGGIL DIA CEBOL!”
“TAPI DIA
SUDAH MERUSAK BAJUKU!”
“Baju,
hanya baju saja yang ada dalam kepalamu. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri,
kau tak pernah menghargai orang lain.”
“Tapi aku
menghargaimu.”
“Tidak, kau
tidak mengargaiku. Kau sama sekali tak menghargai adikku, jadi kau juga tak menghargai
aku.”
“Adik? Ya ampun…..
Sayang, aku ini tidak buta. Jika memang dia itu adikmu, harusnya dia memiliki
kemiripan denganmu. Oh, atau jangan-jangan dia itu anak pungut. Sudah cebol,
anak pungut lagi.”
“Kau! Tutup
mulutmu!! Dengar, dia memang bukan adik kandungku dan kami ini juga bukan anak
kandung di keluarga itu. mengerti!”
“A-apa,
jadi kau juga…..”
“APA?!”
“Ti-tidak…..”
sekarang pikiran Yogi semakin tak karuhan, rasanya sangat pusing menghadapi
sang pacar yang kenyataanya bersifat seperti ini. Tak lama kemudian dia pun
meminggiran mobilnya.
“Turun…!”
Kata Yogi dengan singkat.
“A-apa
turun? Tapi ini kan masih jauh…”
“Turun aku
bilang!” Dengan perasaan kesal gadis itu pun turun, begitu juga dengan Intan. “Intan,
kau tetap di mobil..!”
“I-iya…”
dia pun kembali menutup pintu mobilnya.
Tok…tok…tok….
Lena pun
mengetuk kaca pintu mobil Yogi dan pria itu pun langsung membuka kacanya.
“Ada apa
lagi? Rumahmu kan sudah tidak jauh lagi dari sini, jalan kaki saja bisa kan?”
Ujar Yogi.
“Saayaaaaang,
tapi kan masih jauh. Lagi pula udaranya sangat panas….” Kata Lena dengan manja.
“Manja…”
Yogi kembali menutup kaca mobilnya, tanpa basa-basi dia langsung melaju begitu
saja.
“Sayang…. Sayang…..”
panggil Lena sambil terus mengetuk kaca mobil yang melaju itu, tapi tercumah
Yogi terus saja melaju tanpa mengiraukan Lena.
“Apa tidak
apa-apa ditinggalkan seperti itu?” Tanya Intan.
“Tidak,
sekali-kali dia harus seperti itu. agar sikap manja dalam anak itu hilang.” Setelah
itu, Yogi langsung mengantarkan Intan pulang dan menjemput Winda di toko. Di sepanjang
jalan Winda tak mengatakan apa pun, dia hanya diam dengan wajah yang kesal. Yogi
tak mengajaknya bicara, karena dia tahu jika adiknya itu diajak bicara pada
saat seperti ini, pasti tak akan ada nasehat yang masuk ke kepalanya. Mereka
pun sampai di pekarangan rumah mereka, tanpa basa-basi mereka pun turun dari
mobil. Tapi sebelum turun, ada sedikit kata-kata yang sangat mengagetkan sang
kakak itu.
“Kakak…”
panggil Winda sambil membuka pintu mobil.
“Apa?”
Tanya Yogi.
“Aku tak
mau dia menjadi kakak iparku kelak.” Winda pun langsung turun dan masuk ke
rumah. Sementara Yogi, dia masih tertegun mendengar apa yang Winda ucapkan
barusan.
‘Ternyata,
ucapannya tadi di toko itu tidak main-main.’ Gumam Yogi.
Malam pun
tiba, terlihat seorang pria sedang berbaring ria sambil membaca buku yang ada
di hadapannya.
“Haaaahhh….”
Buku itu pun di taruh di sampinya. “Kenapa aku tidak bisa konsentrasi…..”
nampaknya kejadian tadi siang sangat menggangu pikirannya.
“PERGI KAU DARI TOKO INI, NENEK SIHIR TIDAK
TAHU DIRI!!!!!! PERGI KAU!!! JANGAN
PERNAH KEMBALI LAGI!!!! AKU TAK SUDI KAU JADI KAKAK IPARKU….. PERGIIIIII!!!!!!”
“Oh, atau jangan-jangan dia itu anak pungut. Sudah
cebol, anak pungut lagi.”
“Aku tak mau dia menjadi kakak iparku kelak.”
Suara-suara
itu kembali diputar dalam memorinya.
“Ya tuhan,
kenapa jadi begini? Aku harus bagaimana sekarang?” kata pria ikal itu sambil
mengacak-acak rambutnya.
Kriiiiingg…..
kriiiingg….
Ponselnya berbunyi,
dia pun langsung melihat siapa yang menelponnya. Ternyata sang pacarl. Tanpa basa-basi,
dia langsung mengangkatnya.
“Halo, ada
apa?” Tanya Yogi.
“Sayaaaaaangg,…..
kenapa kau tidak menelponku? Aku kesepian di sini.” Ujar Lena.
“Maaf..”
“Sayang,
kau masih marah ya? Aku minta maaf…”
“Hm……”
“Jangan begitu,
aku mohon…”
“Sudahlah,
aku sedang sibuk. Nanti aku telpon.” Yogi langsung mematikan telponnya.
Kriiiiing..kring…..
“Ada apa
lagi, sudah aku bilang kan nanti aku telpon.”
“Kenapa kau
jadi seperti ini, kau berubah.”
“Harus nya
aku yang bertanya, kenapa kau jadi seperti ini?”
“…………….”
“Sudahlah,
sebaiknya kita putus saja…” Telpon pun kembali dia matikan, tanpa persetujuan
dari kekasihnya dia pun memutuskan hubungan begitu saja. Hanya ini jalan keluar
satu-satunya yang ada dalam pikirannya. Esoknya di campus, Yogi bersikap dingin
pada Lena. Biar pun Lena sudah berusaha untuk menarik perhatiannya, tapi Yogi
masih saja tak peduli. Untung saja hari ini dia pulang cepat, jadi dia bisa
membantu yang lainnya di toko dan bisa terbebas dari mantan pacarnya.
Di toko,
terlihat seorang pria ikal sedang berdiri di meja kasir. Dia sedang menghitung
pendapatan mereka hari ini. Tapi tiba-tiba saja sebuah mobil datang dan berhenti
di pekarangan toko. Lalu orang itu pun keluar lalu masuk ke dalam toko.
“Maaf, kami
sudah tutup.” Ujar Yogi. Tapi gadis itu tak mengawab, dia langsung menghampiri
Yogi dan membawanya keluar. “Kau ini kenapa sih?”
“Kau yang
kenapa, kenapa kau dingin sekali padaku?”
“Sudah aku
bilang kan, kita ini sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi wajar saja
jika aku bersika seperti ini.”
“Tapi aku
tidak mau putus denganmu…”
“…………….”
“Aku mohon….!!”
Lena pun berlutut di hadapan Yogi, Yogi pun terkejut. “Aku berjanji akan memperbaiki
sifatku. Aku minta maaf jika aku seperti ini, aku tidak akan mengulanginya
lagi.”
“Apa yang
kau lakukan cepat bangun…!!” Yogi berusaha membangunkannya, dia takut jika ada yang
melihat karena. Dia takut sekali orang beranggapan dia telah melakukan hal yang
tidak-tidak seperti penyiksaan atau lainnya dan juga di sebut pria yang sok jual
mahal.
“Aku mohon,
kembalilah….. aku ingin kita seperti dulu…”
“Aku bilang
bangun…!!”
“Tidak, aku
tidak akan bangun sebelum kau kembali lagi padaku…”
‘Ya Tuhan,
sekarang cobaan apa lagi ini?’ gumam pria ikal itu.
---To Be Continued---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar