The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 12
Rencana
“Baiklah jika itu maumu, aku akan bercerita padamu. Ternyata
kertas biru itu bukan pemberian dari seorang laki-laki. Puas?!” Winda pun
melangkah pergi meninggalkannya.
“Win, apa maksudmu?”
“……………”
“Winda.” Deri pun mengejar Winda. “Apa maksudmu?”
“…………..” lagi-lagi
Winda tidak menjawabnya.
“Win, bicaralah!”
“Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tidak
akan tertipu dengan wajah lugumu.”
“Aku
benar-benar tidak mengerti apa yang kau maksudkan.”
“Sudahlah.”
Winda pun kembali berjalan.
“Win,
percayalah padaku..!!” Kata Deri dengan lirih, Winda pun menghentikan
langkahnya.
“Aku tidak
percaya siapa pun.” Gadis itu pun kembali berjalan meninggalkan Deri di sana.
Rasanya
hari menyesakkan dada ini cepat berlalu, seluruh jam pelajaran di sekolah
serasa hanya setengah jam dengan tanpa konsentrasi. Sekarang semua murid telah
membubarkan diri, kecuali Winda yang terus berdiam diri di bangkunya.
‘Sebenarnya
siapa diantara mereka yang berbohong, aku harus percaya pada siapa?’ Gumam
gadis itu.
“Winda, kau
belum pulang?” Tanya Seseorang dari arah pintu.
“Rina, ada
apa?” kata Winda yang berbalik Tanya pada gadis itu, Rina pun menghampiri Winda
dan duduk di sebelahnya.
“Win, apa
kau sedang tidak akur dengan Kak Yuda?”
“Kau tahu
dari mana?”
“Kemarin
Kak Yuda bercerita padaku, kau tidak benar-benar marah padanya, kan?”
“Tentu saja
aku marah.”
“Haaahh…”
Rina mengelah nafas. “Jangan seperti itu, dia hanya ingin kau tidak terjebak
oleh mereka.”
“Jika
memang dia tidak ingin aku begitu, kenapa dia selalu bertingkah menyebalkan,
kenapa dia tidak bilang dari awal atau beritahu dengan cara yang lebih baik dari
itu?”
“Karena dia
sangat menyayangimu, Win.”
“Jika dia
menyayangiku, bersikaplah selayaknya kakak yang menyayangi seorang adik.”
“Tidak, bukan
seperti rasa sayang yang kau bayangkan. Dia sangat menyayangimu lebih dari
seorang kakak dan adik, tapi….” Rina pun mengepalkan tangan yang ada di
pangkuannya. “Dia lebih menyukaimu dari pada aku menyukainya.”
“Apa
maksudmu?”
“Dia
menyukaimu, aku tahu kau pasti mengerti dengan kata menyukai.”
“Apa kau
menyukai kak Yuda?”
“Ti-tidak,
aku tidak bilang begitu?”
“Jangan
bohong, aku tidak suka orang yang berbohong.”
“Tapi….. tapi
sepertinya dia selalu terlihat bahagia jika bersamamu. Sedangkan aku sama
sekali tidak bisa memberikannya kebahangiaan.” Kini mata Rina mulai
berkaca-kaca dan tak lama pipinyapun basa.
“Rin….”
“Berjanjilah
untuk selalu membuatnya tetap bahagia.” Rina pun beranjak dari tempat duduknya
dan berlari meninggakan kelasi itu.
“Rinaaaa….
Rin,….” Winda berusaha memanggilnya. “Ya tuhaaaaann…. Kenapa jadi seperti
ini….” Pasti sakit mendengarkan curahan hati seseorang yang kita sukai jika
isinya adalah hal seperti itu. Gadis berkucir satu itu pun beranjak pergi
meninggakan kelasnya, dia berjalan gontai menuju gerbang belakang. Tapi didapatinya
Deri sedang menunggu di sana, Winda berusaha tak peduli dengan apa yang dia
lihat dan berusaha melewati Deri begitu saja.
“Tunggu
Win.” Kata Deri yang menghentikan langkah gadis itu. “Aku ingin bicara padamu.”
Tapi Winda tak mengatakan apa pun. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi
sekarang?”
“Jangan
beracting didepanku, aku tahu kau adalah anggota teater di sekolah ini.”
“Sekali
lagi aku bertanya padamu, apa yang sedang terjadi dan apa maksud perkataanmu tadi pagi?” nada
bicara laki-laki itu pun mulai tinggi.
“Sudahlah,
aku tahu kau bersekongkol dengan musuhku.”
“Ya tuhan…
Jawab pertanyaanku, Win!”
“Haaah….”
Winda pun mengelah nafas. “Surat-suratmu itu dari Latifah, kan?”
“Tidak,
siapa yang mengatakan hal itu??”
“Bukan urusanmu,
kau yang bertugas untuk memasukannya ke dalam tasku kan?”
“Enak saja
kau bilang.” Lalu Deri pun mengeluarkan buku tulis dari tasnya. “Mana kertas
yang ku berikan itu?” Lalu Winda pun mengambilnya dari tas. “Lihat tulisannya,
sekarang lihat tulisan pada buku catatanku. Tulisannya sama persisi kan?”
“…………”Winda
pun terdiam, ternyata tulisannya memang sama persis. ‘Apa mungkin dia tidak
berbohong?’ gumam Winda.
“Sekarang
kau percaya itu adalah surat dariku?”
“Tapi
kenapa Kak Yuda bilang surat itu diberikan Latifah padamu?” Tanya Winda, deri
pun terdiam sejenak.
“Oh, jadi
Yuda yang melihatnya. Sekarang aku mengerti.”
Flashback
Saat itu
adalah jam istirahat, terlihat seorang laki-laki sedang mondar-mandir di depan
pintu kelas X-1.
‘Kelasnya kosong,
apa aku tunggu saja seseorang datang ke kelas ini?’ gumam Deri.
“Wah…wah..,
sedang apa kau mondar-mandir sendirian disini?” Tanya Latifah sambil
menghampiri Deri.
“Bukan
urusanmu.”
“Oh begitu
ya? Apa itu?” Latifah pun merebut secarik kertas biru yang Deri pegang.
“Hey,
kembalikan!” tapi sayang, Latifah langsung membukanya dan membaca isi dari
surat itu.
“Ya ampun,
kau tidak sungguh-sungguh menyukainyakan?”
“Bukan
urusanmu, ayo cepat kembalikan!”
“Tunggu
dulu, aku tahu kau tidak benar-benar menyukainya. Bagaimana kalau kita
berbisnis saja, aku menawarkan kau bisa kembali bersama Annisa lagi jika kau
mengerjakan apa yang aku perintahkan. Bagaimana?”
“………”Deri
pun terdiam, sebenarnya dia masih menyimpan perasaan pada sang mantannya itu.
“Dengar,
dia yang kau sukai itu adalah musuku. Dia telah membuat aku hancur dan tak
berguna di mata Iqbal, yang harus kau lakukan adalah buat dia sangat
menyukaimu. Setelah itu tinggalkan dia pada saat itu juga, mudahkan?”
“………..”
lagi-lagi Deri tak menjawab, lalu dia pun langsung merebut surat itu dari
tangan Latifah.
“Baiklah
semoga berhasil…” Kata Latifah sambil menepuk bahu Deri dan beranjak pergi dari
sana.
End Flashback
“Begitu
lah, sepertinya Yuda melihat kami pada saat dia sedang membicarakan tawarannya.
Sekarang kau percaya padaku kan?”
“Tidak,
masih belum cukup.”
“Lalu aku
harus bagaimana agar kau percaya padaku?”
“Kau bawa
sepeda?”
“Ya,
kenapa?”
Dipihak
lain, terlihat tujuh sekawan ini sedang sibuk membereskan toko yang besok akan
mereka buka.
“Yud, apa
Winda masih marah padamu?” Tanya Dika.
“Entahlah,
aku rasa begitu.” Jawab Yuda.
“Aku baru
pertama kali melihatnya marah sampai seperti ini. Aku kira dia adalah orang
yang tidak punya rasa marah pada kita.” Kata Iqbal.
“Hey, aku
beri tahu ya. Dia bukan tipe orang yang mudah percaya jika sudah dikhianati.”
Ujar Demil.
“Benarkah?”
sepertinya Yuda kaget dengan ucapan Demil, dia pun mulai berpikir mungkin
dengan dia membuatnya marah seperti ini berarti dia sudah dikategorikan
berkhianat.
“Ya, tentu
saja.”
“Aku rasa kau
harus cepat menyelesaikan masalahmu sebelum semuanya menjadi sangat rumit.”
Ujar Dika. Tapi pada saat mereka sedang asik mendiskusikan masalah itu, Winda
dan Deri pun tiba di sana. “Itu dia orangnya, tapi sepertinya…. Membawa
tambahan.”
“Kak Yuda,
Kak Dika aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian.” Kata Winda tanpa
basa-basi, lalu mereka berempat pun segera menuju lantai dua.
“Baiklah,
kau mau bicara apa?” Tanya Dika.
“Aku hanya
ingin membicarakan masalah kita, sekarang disini ada orang yang kalian kira
sebagai kaki tangan dari Latifah. Sekarang, aku Tanya apa yang kalian lihat dan
dengar pada waktu itu?” Tanya Winda.
“Dia
bersekongkol dengan Latifah untuk membuatmu hancur dengan kertas-kertas itu,
Win.” Kata Yuda.
“Apa itu
benar, kak Dika?”
“Ya, mungkin
jika disimpulkan memang begitu.” Jawab Dika.
“Tidak, itu
tidak benar.” Deri pun membela dirinya. “Sekarang aku yang bertanya, apa kalian
mendengarku menjawab ‘Ya’ dengan tawaran orang itu?” mereka berdua pun diam,
karena kenyataannya memang tidak apa-apa.
“Tapi, kau
masih mempunyai perasaan pada Annisa kan?” Yuda pun bertanya balik.
“Saat ini
kita tidak membicarakan masalah Annisa.”
“Tapi ini
ada hubungannya, apa ini adalah bagian dari rencanamu?”
“Yuda!”
Dika pun berusaha untuk mengingatkan Yuda agar tidak memperkeruh suasana.
“Kalian
salah paham, kalian telah melewatkan beberapa bagian dari kejadian itu.” Ujar
Deri
“Apa
maksudmu?” Tanya Dika, lalu Deri pun menceritakan semuanya dan ternyata Deri
dijadikan kambing hitam oleh Latifah.
“Apa kau
berani sumpah?” kata Yuda.
“Ya, aku
berani sumpah. Aku memang satu kelas dengannya, aku juga pernah mempunyai
hubungan dengan salah satu dari mereka bertiga dan tak sering juga dulu kau
lihat aku memihak pada mereka. Tapi sekarang berbeda, aku sadar aku telah banyak
menutup mata. Setidaknya dengan ini aku dapat sedikit memperbaikinya dan
memulainya dari awal lagi.”
“Hem….
Begitu ya. Aku rasa semuanya sudah cukup jelas kan, Yuda? Sudah aku bilang kau
terlalu cepat menyimpulkannya.” Kata Dika.
“Hm…! Lalu, apa alasamu menaruh kertas-kertas itu pada tasnya?”
“Em, bagaimana ya? Rasanya sedikit sulit aku mengatakannya, tapi yang
jelas aku menyukai adik kalian ini. Untuk itu mulai sekarakng aku berjanji akan
selalu melindunginya.” Jawab Deri.
“Aku hanya butuh bukti.” Ujar Winda, tapi sepertinya Yuda kelihatan
sedikit tidak senang dengan apa yang diucapkan oleh Deri.
“Jika kau ingin menjaganya, kau harus hadapi aku dulu.”Ujar Yuda.
“Apa maksudmu, Kak?” tanya Winda.
“Win, aku ini lebih lama mengenalmu dari pada dia. aku ini lebih lama
bersamamu dari pada dia, harusnya kau sadar apa maksud dari semua ini.”
“Tidak, kau salah. Aku ini adikmu dan kau adalah kakakku, aku sudah tahu
semuanya tapi maaf aku tidak bisa menghianati ikatak persaudaraan ini.”
“Tapi Win…”
“Kak, buka matamu. Aku ini adikmu, apa aku harus mencongkel mata dan mencabut
hatimu lalu aku mencucina dengan sabun dan aku terteriak-teriak di depan
organmu itu agar kau sadar. Sadarlah, ada orang yang bisa membuatmu lebih
bahagia dari pada aku kak, ada orang yang lebih menyukaimu dari pada kau
menyukaiku.”
“Menyukaiku?”
“Ya. Tentu kau tidak menyimpan masalah ini sendirian, kan? pasti kau
menceritakannya pada seseorang selain yang ada disini. Kau pasti merasa nyaman
bila kau menceritakannya pada orang itu.” Yuda pun membulatkan matanya. “Aku
tahu kau pasti mengerti siapa yang aku maksud.”
“Rina?”
“Ya, tadi dia menceritakannya padaku. Dia mau mendengarkan semua keluh
kesahmu walau itu sangat menyakitkan untuknya, bahkan tadi…. Dia menagis di
depanku.”
“…….” Yuda kini tak bisa berkata apa-apa lagi, karena dia telah menyadari
hal itu sekarang. Ternyata ini adalah jawaban perasaan ganjil yang selalu
timbul dalam hatinya.
“Dia memintaku berjanji untuk bisa membuatmu bahagia, tapi aku tidak bisa.
Yang bisa melakukan ini hanya Rina, dia yang terbaik untukmu.”
“Ya tuhan, apa yang telah aku lakukan padanya…”
“Minta maaflah padanya, kak dan berjanjilah untuk selalu membuatnya
bahagia disisimu!”
“Tapi bagaimana aku bisa meminta maaf padanya sekarang, dari tadi aku menghubunginya
sama sekali tidak aktiv.”
“Aku rasa, aku punya satu cara.” Kini diatas kepala Dika ada lampu yang
menyala.
Keesokan harinya, terlihat sembilan sekawan ini sedang bersiap-siap
membuka toko baru mereka.
“Winda, bagaimana?” Tanya Dika.
“Beres, tenang saja.” Kata Winda.
“Hey kalian berdua, kenapa diam saja? Ayo cepat, sebentar lagi kan akan
dibuka.” Kata Dipa.
“Ya, baiklah.” Jawab Dika. Tak lama toko itupun dibuka.
“Apa akan ada yang datang?” Tanya Demil.
“Pasti ada, teman-temanku di capmus sudah aku beri tahu.” Kata Yogi.
“Ya, teman-temanku juga, oh iya anak-anak band sekolah dan sekitar sini
apa akan datang?” Tanya Winda.
“Entahlah, aku lihat mereka cukup tertarik dengan apa yang kita tawarkan.
Tapi tenang saja, anak-anak band-ku pasti datang. Hahahaha…” Mahmud pun tertawa
bangga.
“Lihat, ada yang datang. Ayo cepat kita sambut dia!” Kata Iqbal.
“Mana?” Tanya Winda. “Haaah? Itu kan Kak Deri, kenapa harus repot-repot
disambut segala?”
“Tapi pacarmu itu calon pembeli, kan?”
“Pacarku?”
“Iya, dia itu pacarmu kan?” Winda pun terdiam sejenak. Jika dia bilang
bukan, memang bukan pacarnya tapi dalam hatinya telah tersimpan rasa suka, jika
bilang ya memangnya kapan mereka jadi sepasang kekasih?
“Diam lah…!” ujar Winda
“Permisi….” Kata Deri yang masuk ke dalam toko.
“Selamat datang di toko kami.” Kata mereka bertujuh, kecuali Winda.
“Winda!” Kata Yogi.
“Haaaaah…” Winda mengelah nafas. “Ya baikah, selamat datang di toko kami.”
Deri pun tersenyum melihat tingkah Winda. “Kau mau beli apa?”
“Hey, bukan begitu caranya. Kau harus lebih ramah.” Kata Mahmud.
“Tidak apa-apa, lagi pula aku ini bukan pembeli istimewa, kan?” Kata Deri.
“Bagi Winda kau adalah pelanggan istimewa, karena kau adalah pelanggan
pertama dan….” Kata-kata Iqbal terpotong oleh Winda.
“Diam,,, aku bilang diam!!”
“Kau ini, oh iya Dika bagaimana dengan yang kemarin?” Tanya Deri.
“Tenang saja, kita tinggal melancarkan aksi saja.” Jawab Dika.
“Begitu ya.”
Tak lama, telihat Rina, Widiya dan Tias telah sampai di pintu gerbang.
Mereka pun langsung saja berjalan masuk menuju toko.
“Permisi…” kata mereka bergtiga.
“Selamat datang di toko kami.” Kata delapan sekawan yang ada di sana
dengan serempak.
“Widiya, hari ini kau cantik sekali.” Puji Iqbal.
“Terimakasih, kau bisa saja.” Terlihat Widiya tersipu malu dengan pujian
dari Iqbal.
“Cie.. cie…” goda Tias pada mereka berdua. “Oh iya, apa baru kami saja
yang datang?”
“Ya, memangnya kenapa?” Tanya Mahmud.
“Aku pikir sudah ramai, ternyata kami masih terlalu pagi datang kemari.”
Kata Tias. “Em Rin, lihat ada sepatu lukis. Ayo kesana, aku ingin lihat-lihat.”
Tias pun menarik tangan Rina ke tempat yang dia maksud dan Winda pun mengikuti
mereka ke sana. “Lihat, sepatunya bagus-bagus. Ada gambar kelinci, Winda coba
aku ingin lihat yang itu.” Winda pun mengambilkannya dan Tias pun mencobanya
dengan sangat antusian.
“Apa sepatunya cocok?” tanya Winda.
“Ya, cocok sekali. Kau dapat dari mana sepatu ini?”
“Sebenarnya, itu adalah buatan Kak Yuda.”
“Kak Yuda, ternyata dia sangat pintar sekali menggambar ya? Oh iya,
ngomong-ngomong tentang kak Yuda rasanya aku belum melihatnya. Kemana dia?”
“Dia ada di atas. Oh iya Rin, kak Yuda bilang dia ingin bertemu denganmu.”
“Suruh saja dia datang kemari.” Kata Rina dengan dingin.
“Tapi dia tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Dia…” Lalu Winda pun menarik nafas panjang. “Dia sedang terbaring di
atas.”
“A-apa?” Rina pun mulai kaget. “Kenapa dia, apa dia sakit?”
“Sebaiknya kau temui dia di atas, dari tadi dia menyebut namamu terus.”
“Kak Yuda…..” Kata Rina dengan lirih, kini otaknya terisi penuh dengan
kekhawatiran luar biasa, dia berfikir dia telah bersalah telah membebaninya
dengan masalah ini. “KAK YUDDAAAAA!!!!!” dan gadis itu pun berteriak-teriak
sambil tancab gas ke lantai dua.
“Misi satu, berhasih.” Winda pun nyengir
dan menunjukan ibu jarinya.
Sementara itu di lantai dua, gadis yang berteriak-teriak gaje ini
mendapati Yuda terbaring di karpet. Matanya terpejam seolah tak berdaya dan
badannya pun tertutupi oleh kain selimut. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu
pun segera duduk di sampingnya.
“Kak Yuda, aku minta maaf. Aku telah membuatmu seperti ini.” Mata gadis
itu pun mulai berkaca-kaca.
“Rina….” Kata Yuda sambil membuka matanya. “Aku yang seharusnya meminta
maaf padamu. Aku yang salah.”
“Tidak, aku yang salah. Aku yang membuatnya menjadi seperti ini, maafkan
aku.” Pipi gadis itu pun mulai basah.
“Jangan menangis seperti itu, Rin. Maaf aku tidak menyadarinya dari awal.”
“Kak Yuda ini bicara apa?” Yuda pun tersenyum dengan wajah yang terlihat
lesu.
“Rin, aku punya satu permintaan. Apa kau bisa mengabulkannya?”
“Apa pun itu, asal kau sembuh akan aku lakukan.”
“Apa kau mau jadi pacarku, Rin?” Rina pun tertegun mendengar permintaannya
itu. “Kenapa kau diam saja?” Rina pun mengangukan kepalanya dan Yuda pun
lagi-lagi tersenyum lemas. “Terimakasih, Rina?”
“Ya, ada apa?”
“Tolong cubit pipiku, apa aku ini sedang bermimpi?” ternyata suaranya
masih terdengar lemas meski rina sudah mengangukan kepalanya. Tanpa pikir
panjang lagi, Rina pun mencubit pipinya dan…. “AAAAAAAWWW!!!!! Sakit sekali….”
Yuda pun berteriak hingga bangun dan terduduk di sana. “Ya tuhan, aku tidak
bermimpi. Terimakasih ya tuhan…”
“Kak Yuda, kau tidak sakit?” tanya Rina yang keheranan.
“A-anu, sebenarnya tadi aku berbaring disini karena aku sangat mengantuk.
Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan hal ini.”
“Tapi, Winda bilang kau….”
“Maaf, tadi maksudku dia itu sedang mengigau.” Jawab Winda yang tiba-tiba
saja ada di belakan Rina, ternyata yang lain juga sedang ikut mengintip.
“Apa? AWAS KAU, WINDA….!!!”
“Hehehehehe, sebenarnya ini ide kak Dika.”
“Berhasi… berhasil… berhasil … hore!!” Kini Dika menari-nari ala Dora.
“PERMISI….. APA ADA ORANG DI TOKO INI???” terdengan seseorang berteriak
dari toko.
“Dengar, ada pembeli. Cepat kita kesana!!!!” kata Dipa. Mereka semua pun
segera turun untuk menyambut mereka, termasuk juga dengan pasangan baru ini.
Ternyata yang datang adalah beberapa teman capus Yogi dan teman-teman band
Mahmud. Lumayan, di hari pertama ini ada orang yang tertarik datang kemari.
Tapi ditengah-tengah kesibukan mereka, terdapat suatu pembicaraan kecil.
“Winda, mereka berdua itu serasi juga ya?” Kata Deri yang mengomentari
pasangan baru itu.
“Ya, memangnya kenapa?”
“Tidak, aku jadi ingat sesuatu tentang suatu pertanyaan yang belum kau
jawab.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Dulu aku pernah bertanya, apa kau juga menyukaiku?” Pipi Winda pun mulai
memerah dan dia pun mengangukan kepalanya. “Em, apa benar? Apa kita juga bisa
seperti mereka sekarang?”
“……………”
Keesokan harinya, hari ini semua murid kembali bersekolah setelah liburan
di akhir pekan. Terlihat Winda dan Deri baru saja datang bersama, mereka pun
segera masuk ke kelas mereka masing-masing. Tapi sepertinya ada kendala di
depan pintu kelas Deri.
“Hi, selamat pagi.” Kata Latifah sambil menghalangi Deri masuk ke kelasnya.
“Mau apa kau?” Tanya Deri dengan ketus.
“Uh, galak sekali kau ini. Pagi ini kalian terlihat mesra sekali, datang
ke sekolah berdua-duaan begitu.”
“Lalu?.”
“Ya, aku rasa sekarang dia sudah benar-benar menyukaimu.”
“Awas, aku mau masuk.” Deri pun mencoba menerobos masuk.
“Eet.. tunggu dulu. Kenapa kau buru-buru sekali? Sepertinya kau berhasil
dengan rencana ini. Aku ucapkan selamat ya.”
“……………”
“Sekarang, tinggal satu langah lagi. Tinggalkan dia sekarang juga!!!”
---To
Be Continued---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar