Senin, 05 Agustus 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 12"



The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 12
Rencana

“Baiklah jika itu maumu, aku akan bercerita padamu. Ternyata kertas biru itu bukan pemberian dari seorang laki-laki. Puas?!” Winda pun melangkah pergi meninggalkannya.
“Win, apa maksudmu?”
“……………”
“Winda.” Deri pun mengejar Winda. “Apa maksudmu?”
“…………..” lagi-lagi Winda tidak menjawabnya.
“Win, bicaralah!”
Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tidak akan tertipu dengan wajah lugumu.”
“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau maksudkan.”
“Sudahlah.” Winda pun kembali berjalan.
“Win, percayalah padaku..!!” Kata Deri dengan lirih, Winda pun menghentikan langkahnya.
“Aku tidak percaya siapa pun.” Gadis itu pun kembali berjalan meninggalkan Deri di sana.

Rasanya hari menyesakkan dada ini cepat berlalu, seluruh jam pelajaran di sekolah serasa hanya setengah jam dengan tanpa konsentrasi. Sekarang semua murid telah membubarkan diri, kecuali Winda yang terus berdiam diri di bangkunya.
‘Sebenarnya siapa diantara mereka yang berbohong, aku harus percaya pada siapa?’ Gumam gadis itu.
“Winda, kau belum pulang?” Tanya Seseorang dari arah pintu.
“Rina, ada apa?” kata Winda yang berbalik Tanya pada gadis itu, Rina pun menghampiri Winda dan duduk di sebelahnya.
“Win, apa kau sedang tidak akur dengan Kak Yuda?”
“Kau tahu dari mana?”
“Kemarin Kak Yuda bercerita padaku, kau tidak benar-benar marah padanya, kan?”
“Tentu saja aku marah.”
“Haaahh…” Rina mengelah nafas. “Jangan seperti itu, dia hanya ingin kau tidak terjebak oleh mereka.”
“Jika memang dia tidak ingin aku begitu, kenapa dia selalu bertingkah menyebalkan, kenapa dia tidak bilang dari awal atau beritahu dengan cara yang lebih baik dari itu?”
“Karena dia sangat menyayangimu, Win.”
“Jika dia menyayangiku, bersikaplah selayaknya kakak yang menyayangi seorang adik.”
“Tidak, bukan seperti rasa sayang yang kau bayangkan. Dia sangat menyayangimu lebih dari seorang kakak dan adik, tapi….” Rina pun mengepalkan tangan yang ada di pangkuannya. “Dia lebih menyukaimu dari pada aku menyukainya.”
“Apa maksudmu?”
“Dia menyukaimu, aku tahu kau pasti mengerti dengan kata menyukai.”
“Apa kau menyukai kak Yuda?”
“Ti-tidak, aku tidak bilang begitu?”
“Jangan bohong, aku tidak suka orang yang berbohong.”
“Tapi….. tapi sepertinya dia selalu terlihat bahagia jika bersamamu. Sedangkan aku sama sekali tidak bisa memberikannya kebahangiaan.” Kini mata Rina mulai berkaca-kaca dan tak lama pipinyapun basa.
“Rin….”
“Berjanjilah untuk selalu membuatnya tetap bahagia.” Rina pun beranjak dari tempat duduknya dan berlari meninggakan kelasi itu.
“Rinaaaa…. Rin,….” Winda berusaha memanggilnya. “Ya tuhaaaaann…. Kenapa jadi seperti ini….” Pasti sakit mendengarkan curahan hati seseorang yang kita sukai jika isinya adalah hal seperti itu. Gadis berkucir satu itu pun beranjak pergi meninggakan kelasnya, dia berjalan gontai menuju gerbang belakang. Tapi didapatinya Deri sedang menunggu di sana, Winda berusaha tak peduli dengan apa yang dia lihat dan berusaha melewati Deri begitu saja.
“Tunggu Win.” Kata Deri yang menghentikan langkah gadis itu. “Aku ingin bicara padamu.” Tapi Winda tak mengatakan apa pun. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang?”
“Jangan beracting didepanku, aku tahu kau adalah anggota teater di sekolah ini.”
“Sekali lagi aku bertanya padamu, apa yang sedang terjadi  dan apa maksud perkataanmu tadi pagi?” nada bicara laki-laki itu pun mulai tinggi.
“Sudahlah, aku tahu kau bersekongkol dengan musuhku.”
“Ya tuhan… Jawab pertanyaanku, Win!”
“Haaah….” Winda pun mengelah nafas. “Surat-suratmu itu dari Latifah, kan?”
“Tidak, siapa yang mengatakan hal itu??”
“Bukan urusanmu, kau yang bertugas untuk memasukannya ke dalam tasku kan?”
“Enak saja kau bilang.” Lalu Deri pun mengeluarkan buku tulis dari tasnya. “Mana kertas yang ku berikan itu?” Lalu Winda pun mengambilnya dari tas. “Lihat tulisannya, sekarang lihat tulisan pada buku catatanku. Tulisannya sama persisi kan?”
“…………”Winda pun terdiam, ternyata tulisannya memang sama persis. ‘Apa mungkin dia tidak berbohong?’ gumam Winda.
“Sekarang kau percaya itu adalah surat dariku?”
“Tapi kenapa Kak Yuda bilang surat itu diberikan Latifah padamu?” Tanya Winda, deri pun terdiam sejenak.
“Oh, jadi Yuda yang melihatnya. Sekarang aku mengerti.”

Flashback
Saat itu adalah jam istirahat, terlihat seorang laki-laki sedang mondar-mandir di depan pintu kelas X-1.
‘Kelasnya kosong, apa aku tunggu saja seseorang datang ke kelas ini?’ gumam Deri.
“Wah…wah.., sedang apa kau mondar-mandir sendirian disini?” Tanya Latifah sambil menghampiri Deri.
“Bukan urusanmu.”
“Oh begitu ya? Apa itu?” Latifah pun merebut secarik kertas biru yang Deri pegang.
“Hey, kembalikan!” tapi sayang, Latifah langsung membukanya dan membaca isi dari surat itu.
“Ya ampun, kau tidak sungguh-sungguh menyukainyakan?”
“Bukan urusanmu, ayo cepat kembalikan!”
“Tunggu dulu, aku tahu kau tidak benar-benar menyukainya. Bagaimana kalau kita berbisnis saja, aku menawarkan kau bisa kembali bersama Annisa lagi jika kau mengerjakan apa yang aku perintahkan. Bagaimana?”
“………”Deri pun terdiam, sebenarnya dia masih menyimpan perasaan pada sang mantannya itu.
“Dengar, dia yang kau sukai itu adalah musuku. Dia telah membuat aku hancur dan tak berguna di mata Iqbal, yang harus kau lakukan adalah buat dia sangat menyukaimu. Setelah itu tinggalkan dia pada saat itu juga, mudahkan?”
“………..” lagi-lagi Deri tak menjawab, lalu dia pun langsung merebut surat itu dari tangan Latifah.
“Baiklah semoga berhasil…” Kata Latifah sambil menepuk bahu Deri dan beranjak pergi dari sana.
End Flashback

“Begitu lah, sepertinya Yuda melihat kami pada saat dia sedang membicarakan tawarannya. Sekarang kau percaya padaku kan?”
“Tidak, masih belum cukup.”
“Lalu aku harus bagaimana agar kau percaya padaku?”
“Kau bawa sepeda?”
“Ya, kenapa?”

Dipihak lain, terlihat tujuh sekawan ini sedang sibuk membereskan toko yang besok akan mereka buka.
“Yud, apa Winda masih marah padamu?” Tanya Dika.
“Entahlah, aku rasa begitu.” Jawab Yuda.
“Aku baru pertama kali melihatnya marah sampai seperti ini. Aku kira dia adalah orang yang tidak punya rasa marah pada kita.” Kata Iqbal.
“Hey, aku beri tahu ya. Dia bukan tipe orang yang mudah percaya jika sudah dikhianati.” Ujar Demil.
“Benarkah?” sepertinya Yuda kaget dengan ucapan Demil, dia pun mulai berpikir mungkin dengan dia membuatnya marah seperti ini berarti dia sudah dikategorikan berkhianat.
“Ya, tentu saja.”
“Aku rasa kau harus cepat menyelesaikan masalahmu sebelum semuanya menjadi sangat rumit.” Ujar Dika. Tapi pada saat mereka sedang asik mendiskusikan masalah itu, Winda dan Deri pun tiba di sana. “Itu dia orangnya, tapi sepertinya…. Membawa tambahan.”
“Kak Yuda, Kak Dika aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian.” Kata Winda tanpa basa-basi, lalu mereka berempat pun segera menuju lantai dua.

“Baiklah, kau mau bicara apa?” Tanya Dika.
“Aku hanya ingin membicarakan masalah kita, sekarang disini ada orang yang kalian kira sebagai kaki tangan dari Latifah. Sekarang, aku Tanya apa yang kalian lihat dan dengar pada waktu itu?” Tanya Winda.
“Dia bersekongkol dengan Latifah untuk membuatmu hancur dengan kertas-kertas itu, Win.” Kata Yuda.
“Apa itu benar, kak Dika?”
“Ya, mungkin jika disimpulkan memang begitu.” Jawab Dika.
“Tidak, itu tidak benar.” Deri pun membela dirinya. “Sekarang aku yang bertanya, apa kalian mendengarku menjawab ‘Ya’ dengan tawaran orang itu?” mereka berdua pun diam, karena kenyataannya memang tidak apa-apa.
“Tapi, kau masih mempunyai perasaan pada Annisa kan?” Yuda pun bertanya balik.
“Saat ini kita tidak membicarakan masalah Annisa.”
“Tapi ini ada hubungannya, apa ini adalah bagian dari rencanamu?”
“Yuda!” Dika pun berusaha untuk mengingatkan Yuda agar tidak memperkeruh suasana.
“Kalian salah paham, kalian telah melewatkan beberapa bagian dari kejadian itu.” Ujar Deri
“Apa maksudmu?” Tanya Dika, lalu Deri pun menceritakan semuanya dan ternyata Deri dijadikan kambing hitam oleh Latifah.
“Apa kau berani sumpah?” kata Yuda.
“Ya, aku berani sumpah. Aku memang satu kelas dengannya, aku juga pernah mempunyai hubungan dengan salah satu dari mereka bertiga dan tak sering juga dulu kau lihat aku memihak pada mereka. Tapi sekarang berbeda, aku sadar aku telah banyak menutup mata. Setidaknya dengan ini aku dapat sedikit memperbaikinya dan memulainya dari awal lagi.”
“Hem…. Begitu ya. Aku rasa semuanya sudah cukup jelas kan, Yuda? Sudah aku bilang kau terlalu cepat menyimpulkannya.” Kata Dika.
“Hm…! Lalu, apa alasamu menaruh kertas-kertas itu pada tasnya?”
“Em, bagaimana ya? Rasanya sedikit sulit aku mengatakannya, tapi yang jelas aku menyukai adik kalian ini. Untuk itu mulai sekarakng aku berjanji akan selalu melindunginya.” Jawab Deri.
“Aku hanya butuh bukti.” Ujar Winda, tapi sepertinya Yuda kelihatan sedikit tidak senang dengan apa yang diucapkan oleh Deri.
“Jika kau ingin menjaganya, kau harus hadapi aku dulu.”Ujar Yuda.
“Apa maksudmu, Kak?” tanya Winda.
“Win, aku ini lebih lama mengenalmu dari pada dia. aku ini lebih lama bersamamu dari pada dia, harusnya kau sadar apa maksud dari semua ini.”
“Tidak, kau salah. Aku ini adikmu dan kau adalah kakakku, aku sudah tahu semuanya tapi maaf aku tidak bisa menghianati ikatak persaudaraan ini.”
“Tapi Win…”
“Kak, buka matamu. Aku ini adikmu, apa aku harus mencongkel mata dan mencabut hatimu lalu aku mencucina dengan sabun dan aku terteriak-teriak di depan organmu itu agar kau sadar. Sadarlah, ada orang yang bisa membuatmu lebih bahagia dari pada aku kak, ada orang yang lebih menyukaimu dari pada kau menyukaiku.”
“Menyukaiku?”
“Ya. Tentu kau tidak menyimpan masalah ini sendirian, kan? pasti kau menceritakannya pada seseorang selain yang ada disini. Kau pasti merasa nyaman bila kau menceritakannya pada orang itu.” Yuda pun membulatkan matanya. “Aku tahu kau pasti mengerti siapa yang aku maksud.”
“Rina?”
“Ya, tadi dia menceritakannya padaku. Dia mau mendengarkan semua keluh kesahmu walau itu sangat menyakitkan untuknya, bahkan tadi…. Dia menagis di depanku.”
“…….” Yuda kini tak bisa berkata apa-apa lagi, karena dia telah menyadari hal itu sekarang. Ternyata ini adalah jawaban perasaan ganjil yang selalu timbul dalam hatinya.
“Dia memintaku berjanji untuk bisa membuatmu bahagia, tapi aku tidak bisa. Yang bisa melakukan ini hanya Rina, dia yang terbaik untukmu.”
“Ya tuhan, apa yang telah aku lakukan padanya…”
“Minta maaflah padanya, kak dan berjanjilah untuk selalu membuatnya bahagia disisimu!”
“Tapi bagaimana aku bisa meminta maaf padanya sekarang, dari tadi aku menghubunginya sama sekali tidak aktiv.”
“Aku rasa, aku punya satu cara.” Kini diatas kepala Dika ada lampu yang menyala.

Keesokan harinya, terlihat sembilan sekawan ini sedang bersiap-siap membuka toko baru mereka.
“Winda, bagaimana?” Tanya Dika.
“Beres, tenang saja.” Kata Winda.

“Hey kalian berdua, kenapa diam saja? Ayo cepat, sebentar lagi kan akan dibuka.” Kata Dipa.
“Ya, baiklah.” Jawab Dika. Tak lama toko itupun dibuka.
“Apa akan ada yang datang?” Tanya Demil.
“Pasti ada, teman-temanku di capmus sudah aku beri tahu.” Kata Yogi.
“Ya, teman-temanku juga, oh iya anak-anak band sekolah dan sekitar sini apa akan datang?” Tanya Winda.
“Entahlah, aku lihat mereka cukup tertarik dengan apa yang kita tawarkan. Tapi tenang saja, anak-anak band-ku pasti datang. Hahahaha…” Mahmud pun tertawa bangga.
“Lihat, ada yang datang. Ayo cepat kita sambut dia!” Kata Iqbal.
“Mana?” Tanya Winda. “Haaah? Itu kan Kak Deri, kenapa harus repot-repot disambut segala?”
“Tapi pacarmu itu calon pembeli, kan?”
“Pacarku?”
“Iya, dia itu pacarmu kan?” Winda pun terdiam sejenak. Jika dia bilang bukan, memang bukan pacarnya tapi dalam hatinya telah tersimpan rasa suka, jika bilang ya memangnya kapan mereka jadi sepasang kekasih?
“Diam lah…!” ujar Winda

“Permisi….” Kata Deri yang masuk ke dalam toko.
“Selamat datang di toko kami.” Kata mereka bertujuh, kecuali Winda.
“Winda!” Kata Yogi.
“Haaaaah…” Winda mengelah nafas. “Ya baikah, selamat datang di toko kami.” Deri pun tersenyum melihat tingkah Winda. “Kau mau beli apa?”
“Hey, bukan begitu caranya. Kau harus lebih ramah.” Kata Mahmud.
“Tidak apa-apa, lagi pula aku ini bukan pembeli istimewa, kan?” Kata Deri.
“Bagi Winda kau adalah pelanggan istimewa, karena kau adalah pelanggan pertama dan….” Kata-kata Iqbal terpotong oleh Winda.
“Diam,,, aku bilang diam!!”
“Kau ini, oh iya Dika bagaimana dengan yang kemarin?” Tanya Deri.
“Tenang saja, kita tinggal melancarkan aksi saja.” Jawab Dika.
“Begitu ya.”

Tak lama, telihat Rina, Widiya dan Tias telah sampai di pintu gerbang. Mereka pun langsung saja berjalan masuk menuju toko.
“Permisi…” kata mereka bergtiga.
“Selamat datang di toko kami.” Kata delapan sekawan yang ada di sana dengan serempak.
“Widiya, hari ini kau cantik sekali.” Puji Iqbal.
“Terimakasih, kau bisa saja.” Terlihat Widiya tersipu malu dengan pujian dari Iqbal.
“Cie.. cie…” goda Tias pada mereka berdua. “Oh iya, apa baru kami saja yang datang?”
“Ya, memangnya kenapa?” Tanya Mahmud.
“Aku pikir sudah ramai, ternyata kami masih terlalu pagi datang kemari.” Kata Tias. “Em Rin, lihat ada sepatu lukis. Ayo kesana, aku ingin lihat-lihat.” Tias pun menarik tangan Rina ke tempat yang dia maksud dan Winda pun mengikuti mereka ke sana. “Lihat, sepatunya bagus-bagus. Ada gambar kelinci, Winda coba aku ingin lihat yang itu.” Winda pun mengambilkannya dan Tias pun mencobanya dengan sangat antusian.
“Apa sepatunya cocok?” tanya Winda.
“Ya, cocok sekali. Kau dapat dari mana sepatu ini?”
“Sebenarnya, itu adalah buatan Kak Yuda.”
“Kak Yuda, ternyata dia sangat pintar sekali menggambar ya? Oh iya, ngomong-ngomong tentang kak Yuda rasanya aku belum melihatnya. Kemana dia?”
“Dia ada di atas. Oh iya Rin, kak Yuda bilang dia ingin bertemu denganmu.”
“Suruh saja dia datang kemari.” Kata Rina dengan dingin.
“Tapi dia tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Dia…” Lalu Winda pun menarik nafas panjang. “Dia sedang terbaring di atas.”
“A-apa?” Rina pun mulai kaget. “Kenapa dia, apa dia sakit?”
“Sebaiknya kau temui dia di atas, dari tadi dia menyebut namamu terus.”
“Kak Yuda…..” Kata Rina dengan lirih, kini otaknya terisi penuh dengan kekhawatiran luar biasa, dia berfikir dia telah bersalah telah membebaninya dengan masalah ini. “KAK YUDDAAAAA!!!!!” dan gadis itu pun berteriak-teriak sambil tancab gas ke lantai dua.
“Misi satu, berhasih.” Winda pun nyengir dan menunjukan ibu jarinya.

Sementara itu di lantai dua, gadis yang berteriak-teriak gaje ini mendapati Yuda terbaring di karpet. Matanya terpejam seolah tak berdaya dan badannya pun tertutupi oleh kain selimut. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu pun segera duduk di sampingnya.
“Kak Yuda, aku minta maaf. Aku telah membuatmu seperti ini.” Mata gadis itu pun mulai berkaca-kaca.
“Rina….” Kata Yuda sambil membuka matanya. “Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku yang salah.”
“Tidak, aku yang salah. Aku yang membuatnya menjadi seperti ini, maafkan aku.” Pipi gadis itu pun mulai basah.
“Jangan menangis seperti itu, Rin. Maaf aku tidak menyadarinya dari awal.”
“Kak Yuda ini bicara apa?” Yuda pun tersenyum dengan wajah yang terlihat lesu.
“Rin, aku punya satu permintaan. Apa kau bisa mengabulkannya?”
“Apa pun itu, asal kau sembuh akan aku lakukan.”
“Apa kau mau jadi pacarku, Rin?” Rina pun tertegun mendengar permintaannya itu. “Kenapa kau diam saja?” Rina pun mengangukan kepalanya dan Yuda pun lagi-lagi tersenyum lemas. “Terimakasih, Rina?”
“Ya, ada apa?”
“Tolong cubit pipiku, apa aku ini sedang bermimpi?” ternyata suaranya masih terdengar lemas meski rina sudah mengangukan kepalanya. Tanpa pikir panjang lagi, Rina pun mencubit pipinya dan…. “AAAAAAAWWW!!!!! Sakit sekali….” Yuda pun berteriak hingga bangun dan terduduk di sana. “Ya tuhan, aku tidak bermimpi. Terimakasih ya tuhan…”
“Kak Yuda, kau tidak sakit?” tanya Rina yang keheranan.
“A-anu, sebenarnya tadi aku berbaring disini karena aku sangat mengantuk. Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan hal ini.”
“Tapi, Winda bilang kau….”
“Maaf, tadi maksudku dia itu sedang mengigau.” Jawab Winda yang tiba-tiba saja ada di belakan Rina, ternyata yang lain juga sedang ikut mengintip.
“Apa? AWAS KAU, WINDA….!!!”
“Hehehehehe, sebenarnya ini ide kak Dika.”
“Berhasi… berhasil… berhasil … hore!!” Kini Dika menari-nari ala Dora.

“PERMISI….. APA ADA ORANG DI TOKO INI???” terdengan seseorang berteriak dari toko.
“Dengar, ada pembeli. Cepat kita kesana!!!!” kata Dipa. Mereka semua pun segera turun untuk menyambut mereka, termasuk juga dengan pasangan baru ini. Ternyata yang datang adalah beberapa teman capus Yogi dan teman-teman band Mahmud. Lumayan, di hari pertama ini ada orang yang tertarik datang kemari.

Tapi ditengah-tengah kesibukan mereka, terdapat suatu pembicaraan kecil.
“Winda, mereka berdua itu serasi juga ya?” Kata Deri yang mengomentari pasangan baru itu.
“Ya, memangnya kenapa?”
“Tidak, aku jadi ingat sesuatu tentang suatu pertanyaan yang belum kau jawab.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Dulu aku pernah bertanya, apa kau juga menyukaiku?” Pipi Winda pun mulai memerah dan dia pun mengangukan kepalanya. “Em, apa benar? Apa kita juga bisa seperti mereka sekarang?”
“……………”

Keesokan harinya, hari ini semua murid kembali bersekolah setelah liburan di akhir pekan. Terlihat Winda dan Deri baru saja datang bersama, mereka pun segera masuk ke kelas mereka masing-masing. Tapi sepertinya ada kendala di depan pintu kelas Deri.
“Hi, selamat pagi.” Kata Latifah sambil menghalangi Deri masuk ke kelasnya.
“Mau apa kau?” Tanya Deri dengan ketus.
“Uh, galak sekali kau ini. Pagi ini kalian terlihat mesra sekali, datang ke sekolah berdua-duaan begitu.”
“Lalu?.”
“Ya, aku rasa sekarang dia sudah benar-benar menyukaimu.”
“Awas, aku mau masuk.” Deri pun mencoba menerobos masuk.
“Eet.. tunggu dulu. Kenapa kau buru-buru sekali? Sepertinya kau berhasil dengan rencana ini. Aku ucapkan selamat ya.”
“……………”
“Sekarang, tinggal satu langah lagi. Tinggalkan dia sekarang juga!!!”

---To Be Continued---


Tidak ada komentar:

Posting Komentar