Selasa, 20 Agustus 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 13"



The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 13
Cebol

“Awas, aku mau masuk.” Deri pun mencoba menerobos masuk.
“Eet.. tunggu dulu. Kenapa kau buru-buru sekali? Sepertinya kau berhasil dengan rencana ini. Aku ucapkan selamat ya.”
“……………”
“Sekarang, tinggal satu langah lagi. Tinggalkan dia sekarang juga!!!”
“……………”
“Kau ini kenapa, dari tadi aku ajak bicara kau hanya diam dan diam saja? Kau ini bisu, ya? Atau jangan-jangan kau masih bingung, tenang saja saat ini Annisa sedang menantimu disana.” Latifah pun menujuk Annisa dan gadis itu pun tersenyum pada Deri.
“Benarkah?”
“Tentu saja, kau tidak percaya?” Tanya Latifah. “Annisa kemarilah, sepertinya dia ingin berbicara sesuatu padamu!” Gadis berambut panjang tergerai itu pun segera beranjak dari tempat duduknya.
“Ada apa?” Tanya Annisa.
“Begini dia hanya ingin tanya, apa kau ingin kembali lagi bersamanya seperti dulu?” tanya Latifah lagi. Sambil malu-malu kucing, gadis itu pun mengenggukan kepalanya. “Nah sekarang bagaimana, kau mau melakukannya?”
“Cih! Sesederhana itukah pikiranmu? Memangnya aku ini bonekamu apa? lakukan saja sendiri!” Nada bicara Deri mulai meninggi.
“Apa kau bilang?”
“Kenapa, kau tak punya keberanian? Ternyata hanya seperti ini saja nyalimu.”
“Tutup mulutmu! Dengar, kau telah berhutang banyak padaku. Jadi, jika kau ingin lepas dariku kau harus membayarnya!”
“Hutang, hutang katamu? Hutang apa, memangnya harus berapa aku membayarmu?”
“Kau, dasar tidak tahu balas budi! Siapa yang menolongmu saat kau dihina, dicemooh dan diinjak harga dirimu oleh preman-preman itu, SIAPA?! AKU. Siapa yang menyebabkan Annisa jadi kekasihmu? AKU!!!”
“Kau? Aku tak pernah memintanya, lagi pula bukan kau yang menyelamatkanku. Salah satu kakak dari musuhmu itulah yang menyelamatkanku. Aku tak pernah bilang padamu jika aku ingin memiliki Annisa, kau saja yang merepotkan dirimu sendiri. Lagi pula, semenjak SMP aku sudah menyukai Winda.”
“Apa, jadi kau selama ini tak pernah menyukaiku? Kau jahat… kau jahat…!!!!” Annisa pun kembali ke tempat duduknya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Dan untukmu gadis @#$&%!!@&, kau tak punya hak apa pun untuk memerintahku. Aku bukan budakmu. Awas!” Deri pun menerobos masuk dari pintu itu. “Oh iya, satu lagi.” Deri pun menghentikan langkahnya. “Jangan pernah kau ganggu pacarku lagi!” Laki-laki itu pun meneruskan langkahnya kembali.
‘Kurang ajar!!’ gumam Latifah.

Jam istrahat kemudian, di depan kelas Dipa.
“Dipa…” panggil seseorang.
“Ada apa, tak biasanya kau datang ramai-ramai begini kemari.” Kata Dipa yang keheranan meliha Mahmud datang bersama 3 temannya.
“Hehehe, memangnya tidak boleh apa?”
“Ya… memangnya ada apa?”
“Aku haya ingin bilang nanti sore mereka akan datang ke toko kita. Kami akan memilih-milih beberapa kostum untuk konser minggu depan.”
“Oh, tapi kenapa buru-buru sekali padahalkan waktunya masih lama?”
“Kau ini, memangnya anak band yang ada di sini hanya ada kami apa? Aku tidak mau kalau nanti kami kehabisan oleh yang lain.”
“Hm, ya baiklah. Nanti aku akan menyiapkan beberapa pilihan untuk kalian.”
“Baiklah kalau begitu, sampai nanti.”
“Yaaaa….” Dan mereka berempat pun pergi.
“Ada apa?” tanya Iqbal yang baru saja datang.
“Pelanggan baru, anak band.” Jawab Dipa.
“Anak band, jangan-jangan mereka anak datang nanti sore.”
“Ya, kenapa?”
“Tidak, hanya saja tadi ada beberapa murid di sini yang akan datang juga.”
“Begitu ya, aku heran pada anak-anak band disini. Apa tidak punya baju semua?”
“Sembarangan saja kau bilang, sepertinya Mahmud bekerja dengan baik. Dia sudah merencanakannya dengan matang, membawa banyak pelanggan untuk toko kita dengan konser ini.”
“Memannya konser apa sih?”
“Entahlah, menurut kabar yang aku dengar, ini adalah konser Band Indhi dan musisi-musisi muda besar-besaran yang diselenggarakan di kota kita.”
“Oooohhh….”

Jam 4 sore kemudian.
“Selamat datang ditoko kami…..” Jawab 7 sekawan ini.
“Wah… aku disambut di tokoku sendiri. Hahahaha…” Mahmud pun tertaawa lepas.
“Siapa yang menyambutmu? Kami ini menyambut mereka, tau.” Kata Dika.
“A-apa…. Kalian tega sekali.”
“Kenapa, kau tidak suka? Aku rasa lebih baik seperti itu kan, dari pada nanti kau semakin besar kepala.”
“Kau ini,, awas kau nanti…”
“Sudah hentikan. Ayo ikut aku!” kata Dipa dan mereka berempat pun segera mengikuti kemana Dipa pergi. Tak selang beberapa langkah dari pintu masuk, mereka pun sampai di suatu sudut ruangan yang telah disiapkan khusus untuk pelanggan laki-laki. Disana banyak terdapat beberapa baju, celana dan aksesoris-aksesoris keren untuk para pria. “Silahkan, ini adalah koleksi terbaru kami. Semuanya baru saja datang dan belum ada yang memilihnya selain kalian.” Ujar Dipa.
“Em maaf, sebenarnya kami mencari suatu kostum yang kompak. Apa ada?” Tanya Bayu.
“Kostum kompak ya, apa maksudnya seragam utnuk kalian?”
“Ya, benar.”
“Baiklah. Win, kau sedang sibuk tidak? Tolong ambilkan beberapa contoh model pakaian yang aku simpan di atas.”
“Ya, yang mana?” Winda pun menghampiri Dipa.
“Yang aku taruh di dalam kardus bertulisan ‘BG’.”
“Ya, sebentar aku ambilkan.” Tak selang beberapa lama, winda pun kembali. Teman-teman Mahmud sangat antusias memilih model baju untuk mereka. “A-anu, apa kalian ini Boy Band?”
“Boy Band, enak saja kau bilang.” Ujar Yana.
“Sebenarnya kami hanya kumpulan anak pecinta musik saja.” Kata Ari.
“Oh begitu ya, boleh aku tahu apa namanya?” Tanya Winda.
“Espada Band.” jawab Yana.
“Oh, begitu ya. Apa bisa diperkenalkan satu per satu?”
“Tentu bisa….” Kelihatannya Mahmud sangat semangat menjawab pertanyaan Winda. “Baiklah, dimulai dari Bayu, dia adalah drummer. Yang ini adalah Ari, dia vokalis. Lalu yang ini Yana, basis. Dan terakhir aku, aku ini…..” kata-kata Mahmud terpotong oleh Dipa.
“Pemegang mik.” Ucap Dipa dengan dingin.
“Enak saja kau bilang.”
“Itu memang benar kan, memangnya kau bisa apa?”
“Aku ini gitaris , tau.”
“Apa benar, aku tidak percaya.”
“Sudah-sudah, kalian ini selalu saja begini. Ya sudah, lebih baik aku bantu kak Yuda saja. Oh iya terimakasih telah diperkenalkan, aku permisi dulu.” Gadis itu pun beranjak dari sana. tak lama toko pun mulai ramai dengan para musisi-musisi muda sekitar sini. Semua mulai sibuk terutama dibagian kasir yang dipegang oleh Dika dan Demil. Setelah toko mulai sepi datanglah sebuah mobil yang tak asing lagi bagi mereka.
TID…TID…
Klakson pun dibunyikan agar Mas Devis membuka puntu gerbang dengan lebar. Para menumpang mobil itu pun mulai turun, terlihat satu orang pria berambut ikal dan dua orang gadis cantik yang dandanannya cukup ‘Wah’ untuk ukuran mahasiswi pada umunya.
“Wah-wah sedang sibuk ya..” kata Yogi yang memasuki toko.
“Hey, kemana saja kau. Ayo cepat bantu kami!” Ujar Iqbal.
“Ya baiklah, tapi sebelumnya aku ingin memperkenalkan teman-temanku yang ingin mampir ke sini. Hey, ayo masuk!” lalu 2 gadis cantik itu pun mulai masuk ke dalam toko, yang satu sambil memegang minuman dan yang satu lagi hanya membawa tas kecil saja.
“Selamat datang di toko kami.” Kata mereka dengan kompak.
“Hey, mereka siapa?” Tanya Dika.
“Ini Lena dan Intan, mereka mampir kemari karena ingin tahu toko kita dan katanya sekalian ingin melihat-lihat. Siapa tahu ada yang pas untuk konser nanti.”
“Konser, jadi mereka musisi juga ya?” Tanya Mahmud.
“Tidak, kami berdua baru saja bergabung di dunia musik. Sangat aneh jika kami disebut musisi.” Jawab Intan. “Em maaf, kalau baju-baju untuk perempuan sebelah mana?”
“Sebelah sini, silahkan.” Mahmud pun menuntun mereka ke suatu bagian paling ujung. Karena teman-teman Mahmud sudah pulang, jadi dia kembali bertugas seperti biasa di sana dan 2 gadis itu pun segera memilih-milih model yang mereka inginkan.

“Winda…. Cepat, kenapa kau lama sekali…?” Teriak Iqbal.
“Sebentar…” Winda pun menuruni anak tangga. Sebenarnya dia bukan bagian gudang, karena dari tadi belum ada pelanggan perempuan jadi dia yang bertugas mengambil barang di gudang menggantikan Rona yang saat ini sedang mengambil barang pesanan di beberapa produsen. Gadis itu pun mulai berjalan menuju area toko sambil memwaba baju-baju ditangannya, tapi…… “Permi…..”
Duk,… brak….
“Aduh…..”Teriak salah satu gadis cantik itu, ternyata dia tertabrak Winda yang terjatuh karena kakinya tersangkut karpet di sana. barang yang diambil Winda pun jatuh berantakan, sementara gadis Cantik itu bajunya tersiram minuman coklat yang dia bawa. Untung saja barang-barang yang jatuh itu masih terbungkus plastic jadi tidak ikut-ikutan basah. “Baju mahalku, lihat apa yang kau lakukan! Dasar ceroboh, lihat kau telah merusaknya.”
“Ma-maaf, aku minta maaf.”
“Maaf katamu, gajihmu satu tahun disini saja tidak akan cukup utnuk menggantinya dasar pelayan CEBOL!!.” Nada bicara gadis itu mulai tinggi.
‘Ce-cebol…??!’ Guman gadis itu. Sebenarnya baru kali ini dia dipanggil cebol, sangat menyakitkan utnuk didengar.
“Hey, sudah hentikan. Ada apa ini?” Yogi pun menghampiri mereka.
“Sayaaaang… lihat apa yang telah dia lakukan padaku! Dia telah merusak baju mahalku, lihatt..!!!” kata gadis itu dengan manja.
‘Sayang, dia pacar kak Yogi?’ Guman Winda lagi.
“Sudah-sudah. Kau tak usah teriakteriak seperti itu. Sekarang kita bersihkan saja bajumu ya.” Yogi pun menarik tangan Lena.
“Tunggu dulu.” Lena pun melepaskan tangannya. “Aku tak suka ada si cebol ini di tokomu. Pecat dia!”
“Pe-pecat, tapi tidak bisa Sayang. Ayo besihkan saja bajumu.”
“Tidak, pecat dia dulu, sekarang juga!!!!”
“Apa kau gila? Dia itu adikku, aku tidak bisa memecatnya.”
“Masa bodo….. aku tidak peduli dia adikmu, pembantumu, pengasuhmu atau siapapun. Pokoknya si cebol ini harus di pecat dari tokomu!!”
“Ini bukan tokoku.”
“A-apa, kau bilang ini tokomu?” Dia pun tercengang.
“Iya tapi ini bukan hanya tokoku, ini toko kami semua. Kami semua adalah pemilik toko ini, jadi aku tidak bisa memecat siapa pun.”
“Ja-jadi, si cebol ini juga memilik toko ini?”
“Namaku Winda, tau!” Kata Winda.
“Apa, Winda. Nama itu terlalu bagus untukmu anak cebol!”
“KAU….. BERANI-BERANINYA MEMANGGILKU CEBOL, DASAR NENEK SIHIR TIDAK TAHU DIRI…..”
“NENEK SIHIR KATAMU??!!!!”
“KENAPA MEMANG BENAR KAN KAU ITU NENEK SIHIR?”
“KURANG AJAR KAU CEBOOOLLLL!!!”
“Sudah…. Hentikan. Kenapa kalian ini malah bertengkar?” Yogi pun melerai mereka. “Winda, cepat minta maaf padanya!”
“Tidak mau! Aku tidak sudi meminta maaf pada nenek sihir tidak tahu diri.”
“Ya ampun, pasti seperti ini. Lena, minta maaf pada adikku!”
“Minta maaf pada adikmu kau bilang? Apa benar dia itu adikmu, aku yakin dia adalah adik gadungan. Mirip saja tidak, mau dibilang adik?!”
“ADIK GADUNGAN KAU BILANG!!!!!” Winda mulai terpancing emosinya kembali.
“Memang benar kan, kau itu hanya adik gadungan. CEBOL!!!”
“DASAR NENEK SIHIR TIDAK TAHU DIRI, AWAS KAAAAUUU….” Winda berniat untuk mengacak-acak rambutnya tapi sayang, Mahmud langsung memegangi kedua tanyannya. “LEPAS KAN AKU!!!!”
“Nah lihat, sekarang kau tidak bisa apa-apa.”
“Awas kau NENEK SIHIIIIIIRRRRR!!!!”

PLAAAKKK!!!
Suara sandal Winda yang dilayangkan kakinya tepat ke wajah Lena.
“HAHAHAHA KENA KAU….. HAHAHA” Winda tertawa lepas melihatnya.
“CEBOOOOLLLLL!!!!” Lena pun mengambil sandal itu dan berniat akan melemparkannya pada Winda. “RASAKAN INI CEBOL!!!”
“Hentikan! Sudah hentikan!! Ayo cepat kita pergi!” Yogi pun memegang tangan Lena, sehingga dia tak bisa melemparkan sandal itu dan menariknya keluar toko.
“Tidak, lepaskan. Urusanku belum selesai…. Lepaskaaaannnnn!! AWAS KAU CEBOOOLLLLL!!!!”
“PEGI KAU!” Winda pun meronta-ronta.
“Sudahlah Win…!” Kata Mahmud sambil memegangi Winda.
“Maaf, sepertinya aku harus permisi dulu.” Ujar intan yang mengikuti Yogi dan Lena.
“I-iya, silahkan.” Jawab Mahmud.
“PERGI KAU DARI TOKO INI, NENEK SIHIR TIDAK TAHU DIRI!!!!!!  PERGI KAU!!! JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!!!! AKU TAK SUDI KAU JADI KAKAK IPARKU….. PERGIIIIII!!!!!!” Winda kembali berteriak dan meronta-ronta dan pertemuan rumit itu pun selesai.

Sememtara itu, mobil Yogi pun langsung tancab gas dari sana. Dia merasa malu dengan kejadian tadi. Sebenarnya dia sangat ingin marah di sana, tapi hal itu hanya menambah runyam suasana.
Mobil itu telah melaju cukup jauh, tak ada pembicaraan yang terdengar dari dua sejoli ini. Begitu juga dengan Intan yang duduk di belakang sendiri, dia hanya memandangi mereka berdua karena takut jadi buan-bulanan mereka jika dia bicara duluan.
“Aku malu.” Ujar Yogi yang memecah keheningan. “Harusnya kau bersikap dewasa tadi.”
“Dia yang memulainya, bukan aku kan?” kata Lena.
“Ini bukan masalah siapa yang memulainya, ini masalah kedewasaan. Kau itu lebih tua dari pada Winda, harusnya kau tahu itu. Lagi pula dia kan sudah minta maaf padamu.”
“Kenapa kau malah membela si cebol itu, kenapa kau tidak membelaku? Aku ini pacarmu.”
“DIA ITU ADIKKU, DIA ITU ADIKKU KAU DENGAR?! AKU TAK SUKA KAU PANGGIL DIA CEBOL!”
“TAPI DIA SUDAH MERUSAK BAJUKU!”
“Baju, hanya baju saja yang ada dalam kepalamu. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, kau tak pernah menghargai orang lain.”
“Tapi aku menghargaimu.”
“Tidak, kau tidak mengargaiku. Kau sama sekali tak menghargai adikku, jadi kau juga tak menghargai aku.”
“Adik? Ya ampun….. Sayang, aku ini tidak buta. Jika memang dia itu adikmu, harusnya dia memiliki kemiripan denganmu. Oh, atau jangan-jangan dia itu anak pungut. Sudah cebol, anak pungut lagi.”
“Kau! Tutup mulutmu!! Dengar, dia memang bukan adik kandungku dan kami ini juga bukan anak kandung di keluarga itu. mengerti!”
“A-apa, jadi kau juga…..”
“APA?!”
“Ti-tidak…..” sekarang pikiran Yogi semakin tak karuhan, rasanya sangat pusing menghadapi sang pacar yang kenyataanya bersifat seperti ini. Tak lama kemudian dia pun meminggiran mobilnya.
“Turun…!” Kata Yogi dengan singkat.
“A-apa turun? Tapi ini kan masih jauh…”
“Turun aku bilang!” Dengan perasaan kesal gadis itu pun turun, begitu juga dengan Intan. “Intan, kau tetap di mobil..!”
“I-iya…” dia pun kembali menutup pintu mobilnya.

Tok…tok…tok….
Lena pun mengetuk kaca pintu mobil Yogi dan pria itu pun langsung membuka kacanya.
“Ada apa lagi? Rumahmu kan sudah tidak jauh lagi dari sini, jalan kaki saja bisa kan?” Ujar Yogi.
“Saayaaaaang, tapi kan masih jauh. Lagi pula udaranya sangat panas….” Kata Lena dengan manja.
“Manja…” Yogi kembali menutup kaca mobilnya, tanpa basa-basi dia langsung melaju begitu saja.
“Sayang…. Sayang…..” panggil Lena sambil terus mengetuk kaca mobil yang melaju itu, tapi tercumah Yogi terus saja melaju tanpa mengiraukan Lena.

“Apa tidak apa-apa ditinggalkan seperti itu?” Tanya Intan.
“Tidak, sekali-kali dia harus seperti itu. agar sikap manja dalam anak itu hilang.” Setelah itu, Yogi langsung mengantarkan Intan pulang dan menjemput Winda di toko. Di sepanjang jalan Winda tak mengatakan apa pun, dia hanya diam dengan wajah yang kesal. Yogi tak mengajaknya bicara, karena dia tahu jika adiknya itu diajak bicara pada saat seperti ini, pasti tak akan ada nasehat yang masuk ke kepalanya. Mereka pun sampai di pekarangan rumah mereka, tanpa basa-basi mereka pun turun dari mobil. Tapi sebelum turun, ada sedikit kata-kata yang sangat mengagetkan sang kakak itu.
“Kakak…” panggil Winda sambil membuka pintu mobil.
“Apa?” Tanya Yogi.
“Aku tak mau dia menjadi kakak iparku kelak.” Winda pun langsung turun dan masuk ke rumah. Sementara Yogi, dia masih tertegun mendengar apa yang Winda ucapkan barusan.
‘Ternyata, ucapannya tadi di toko itu tidak main-main.’ Gumam Yogi.

Malam pun tiba, terlihat seorang pria sedang berbaring ria sambil membaca buku yang ada di hadapannya.
“Haaaahhh….” Buku itu pun di taruh di sampinya. “Kenapa aku tidak bisa konsentrasi…..” nampaknya kejadian tadi siang sangat menggangu pikirannya.

“PERGI KAU DARI TOKO INI, NENEK SIHIR TIDAK TAHU DIRI!!!!!!  PERGI KAU!!! JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!!!! AKU TAK SUDI KAU JADI KAKAK IPARKU….. PERGIIIIII!!!!!!”
“Oh, atau jangan-jangan dia itu anak pungut. Sudah cebol, anak pungut lagi.”
“Aku tak mau dia menjadi kakak iparku kelak.”

Suara-suara itu kembali diputar dalam memorinya.
“Ya tuhan, kenapa jadi begini? Aku harus bagaimana sekarang?” kata pria ikal itu sambil mengacak-acak rambutnya.
Kriiiiingg….. kriiiingg….
Ponselnya berbunyi, dia pun langsung melihat siapa yang menelponnya. Ternyata sang pacarl. Tanpa basa-basi, dia langsung mengangkatnya.
“Halo, ada apa?” Tanya Yogi.
“Sayaaaaaangg,….. kenapa kau tidak menelponku? Aku kesepian di sini.” Ujar Lena.
“Maaf..”
“Sayang, kau masih marah ya? Aku minta maaf…”
“Hm……”
“Jangan begitu, aku mohon…”
“Sudahlah, aku sedang sibuk. Nanti aku telpon.” Yogi langsung mematikan telponnya.
Kriiiiing..kring…..
“Ada apa lagi, sudah aku bilang kan nanti aku telpon.”
“Kenapa kau jadi seperti ini, kau berubah.”
“Harus nya aku yang bertanya, kenapa kau jadi seperti ini?”
“…………….”
“Sudahlah, sebaiknya kita putus saja…” Telpon pun kembali dia matikan, tanpa persetujuan dari kekasihnya dia pun memutuskan hubungan begitu saja. Hanya ini jalan keluar satu-satunya yang ada dalam pikirannya. Esoknya di campus, Yogi bersikap dingin pada Lena. Biar pun Lena sudah berusaha untuk menarik perhatiannya, tapi Yogi masih saja tak peduli. Untung saja hari ini dia pulang cepat, jadi dia bisa membantu yang lainnya di toko dan bisa terbebas dari mantan pacarnya.

Di toko, terlihat seorang pria ikal sedang berdiri di meja kasir. Dia sedang menghitung pendapatan mereka hari ini. Tapi tiba-tiba saja sebuah mobil datang dan berhenti di pekarangan toko. Lalu orang itu pun keluar lalu masuk ke dalam toko.
“Maaf, kami sudah tutup.” Ujar Yogi. Tapi gadis itu tak mengawab, dia langsung menghampiri Yogi dan membawanya keluar. “Kau ini kenapa sih?”
“Kau yang kenapa, kenapa kau dingin sekali padaku?”
“Sudah aku bilang kan, kita ini sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi wajar saja jika aku bersika seperti ini.”
“Tapi aku tidak mau putus denganmu…”
“…………….”
“Aku mohon….!!” Lena pun berlutut di hadapan Yogi, Yogi pun terkejut. “Aku berjanji akan memperbaiki sifatku. Aku minta maaf jika aku seperti ini, aku tidak akan mengulanginya lagi.”
“Apa yang kau lakukan cepat bangun…!!” Yogi berusaha membangunkannya, dia takut jika ada yang melihat karena. Dia takut sekali orang beranggapan dia telah melakukan hal yang tidak-tidak seperti penyiksaan atau lainnya dan juga di sebut pria yang sok jual mahal.
“Aku mohon, kembalilah….. aku ingin kita seperti dulu…”
“Aku bilang bangun…!!”
“Tidak, aku tidak akan bangun sebelum kau kembali lagi padaku…”
‘Ya Tuhan, sekarang cobaan apa lagi ini?’ gumam pria ikal itu.

---To Be Continued---


Senin, 05 Agustus 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 12"



The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 12
Rencana

“Baiklah jika itu maumu, aku akan bercerita padamu. Ternyata kertas biru itu bukan pemberian dari seorang laki-laki. Puas?!” Winda pun melangkah pergi meninggalkannya.
“Win, apa maksudmu?”
“……………”
“Winda.” Deri pun mengejar Winda. “Apa maksudmu?”
“…………..” lagi-lagi Winda tidak menjawabnya.
“Win, bicaralah!”
Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tidak akan tertipu dengan wajah lugumu.”
“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau maksudkan.”
“Sudahlah.” Winda pun kembali berjalan.
“Win, percayalah padaku..!!” Kata Deri dengan lirih, Winda pun menghentikan langkahnya.
“Aku tidak percaya siapa pun.” Gadis itu pun kembali berjalan meninggalkan Deri di sana.

Rasanya hari menyesakkan dada ini cepat berlalu, seluruh jam pelajaran di sekolah serasa hanya setengah jam dengan tanpa konsentrasi. Sekarang semua murid telah membubarkan diri, kecuali Winda yang terus berdiam diri di bangkunya.
‘Sebenarnya siapa diantara mereka yang berbohong, aku harus percaya pada siapa?’ Gumam gadis itu.
“Winda, kau belum pulang?” Tanya Seseorang dari arah pintu.
“Rina, ada apa?” kata Winda yang berbalik Tanya pada gadis itu, Rina pun menghampiri Winda dan duduk di sebelahnya.
“Win, apa kau sedang tidak akur dengan Kak Yuda?”
“Kau tahu dari mana?”
“Kemarin Kak Yuda bercerita padaku, kau tidak benar-benar marah padanya, kan?”
“Tentu saja aku marah.”
“Haaahh…” Rina mengelah nafas. “Jangan seperti itu, dia hanya ingin kau tidak terjebak oleh mereka.”
“Jika memang dia tidak ingin aku begitu, kenapa dia selalu bertingkah menyebalkan, kenapa dia tidak bilang dari awal atau beritahu dengan cara yang lebih baik dari itu?”
“Karena dia sangat menyayangimu, Win.”
“Jika dia menyayangiku, bersikaplah selayaknya kakak yang menyayangi seorang adik.”
“Tidak, bukan seperti rasa sayang yang kau bayangkan. Dia sangat menyayangimu lebih dari seorang kakak dan adik, tapi….” Rina pun mengepalkan tangan yang ada di pangkuannya. “Dia lebih menyukaimu dari pada aku menyukainya.”
“Apa maksudmu?”
“Dia menyukaimu, aku tahu kau pasti mengerti dengan kata menyukai.”
“Apa kau menyukai kak Yuda?”
“Ti-tidak, aku tidak bilang begitu?”
“Jangan bohong, aku tidak suka orang yang berbohong.”
“Tapi….. tapi sepertinya dia selalu terlihat bahagia jika bersamamu. Sedangkan aku sama sekali tidak bisa memberikannya kebahangiaan.” Kini mata Rina mulai berkaca-kaca dan tak lama pipinyapun basa.
“Rin….”
“Berjanjilah untuk selalu membuatnya tetap bahagia.” Rina pun beranjak dari tempat duduknya dan berlari meninggakan kelasi itu.
“Rinaaaa…. Rin,….” Winda berusaha memanggilnya. “Ya tuhaaaaann…. Kenapa jadi seperti ini….” Pasti sakit mendengarkan curahan hati seseorang yang kita sukai jika isinya adalah hal seperti itu. Gadis berkucir satu itu pun beranjak pergi meninggakan kelasnya, dia berjalan gontai menuju gerbang belakang. Tapi didapatinya Deri sedang menunggu di sana, Winda berusaha tak peduli dengan apa yang dia lihat dan berusaha melewati Deri begitu saja.
“Tunggu Win.” Kata Deri yang menghentikan langkah gadis itu. “Aku ingin bicara padamu.” Tapi Winda tak mengatakan apa pun. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang?”
“Jangan beracting didepanku, aku tahu kau adalah anggota teater di sekolah ini.”
“Sekali lagi aku bertanya padamu, apa yang sedang terjadi  dan apa maksud perkataanmu tadi pagi?” nada bicara laki-laki itu pun mulai tinggi.
“Sudahlah, aku tahu kau bersekongkol dengan musuhku.”
“Ya tuhan… Jawab pertanyaanku, Win!”
“Haaah….” Winda pun mengelah nafas. “Surat-suratmu itu dari Latifah, kan?”
“Tidak, siapa yang mengatakan hal itu??”
“Bukan urusanmu, kau yang bertugas untuk memasukannya ke dalam tasku kan?”
“Enak saja kau bilang.” Lalu Deri pun mengeluarkan buku tulis dari tasnya. “Mana kertas yang ku berikan itu?” Lalu Winda pun mengambilnya dari tas. “Lihat tulisannya, sekarang lihat tulisan pada buku catatanku. Tulisannya sama persisi kan?”
“…………”Winda pun terdiam, ternyata tulisannya memang sama persis. ‘Apa mungkin dia tidak berbohong?’ gumam Winda.
“Sekarang kau percaya itu adalah surat dariku?”
“Tapi kenapa Kak Yuda bilang surat itu diberikan Latifah padamu?” Tanya Winda, deri pun terdiam sejenak.
“Oh, jadi Yuda yang melihatnya. Sekarang aku mengerti.”

Flashback
Saat itu adalah jam istirahat, terlihat seorang laki-laki sedang mondar-mandir di depan pintu kelas X-1.
‘Kelasnya kosong, apa aku tunggu saja seseorang datang ke kelas ini?’ gumam Deri.
“Wah…wah.., sedang apa kau mondar-mandir sendirian disini?” Tanya Latifah sambil menghampiri Deri.
“Bukan urusanmu.”
“Oh begitu ya? Apa itu?” Latifah pun merebut secarik kertas biru yang Deri pegang.
“Hey, kembalikan!” tapi sayang, Latifah langsung membukanya dan membaca isi dari surat itu.
“Ya ampun, kau tidak sungguh-sungguh menyukainyakan?”
“Bukan urusanmu, ayo cepat kembalikan!”
“Tunggu dulu, aku tahu kau tidak benar-benar menyukainya. Bagaimana kalau kita berbisnis saja, aku menawarkan kau bisa kembali bersama Annisa lagi jika kau mengerjakan apa yang aku perintahkan. Bagaimana?”
“………”Deri pun terdiam, sebenarnya dia masih menyimpan perasaan pada sang mantannya itu.
“Dengar, dia yang kau sukai itu adalah musuku. Dia telah membuat aku hancur dan tak berguna di mata Iqbal, yang harus kau lakukan adalah buat dia sangat menyukaimu. Setelah itu tinggalkan dia pada saat itu juga, mudahkan?”
“………..” lagi-lagi Deri tak menjawab, lalu dia pun langsung merebut surat itu dari tangan Latifah.
“Baiklah semoga berhasil…” Kata Latifah sambil menepuk bahu Deri dan beranjak pergi dari sana.
End Flashback

“Begitu lah, sepertinya Yuda melihat kami pada saat dia sedang membicarakan tawarannya. Sekarang kau percaya padaku kan?”
“Tidak, masih belum cukup.”
“Lalu aku harus bagaimana agar kau percaya padaku?”
“Kau bawa sepeda?”
“Ya, kenapa?”

Dipihak lain, terlihat tujuh sekawan ini sedang sibuk membereskan toko yang besok akan mereka buka.
“Yud, apa Winda masih marah padamu?” Tanya Dika.
“Entahlah, aku rasa begitu.” Jawab Yuda.
“Aku baru pertama kali melihatnya marah sampai seperti ini. Aku kira dia adalah orang yang tidak punya rasa marah pada kita.” Kata Iqbal.
“Hey, aku beri tahu ya. Dia bukan tipe orang yang mudah percaya jika sudah dikhianati.” Ujar Demil.
“Benarkah?” sepertinya Yuda kaget dengan ucapan Demil, dia pun mulai berpikir mungkin dengan dia membuatnya marah seperti ini berarti dia sudah dikategorikan berkhianat.
“Ya, tentu saja.”
“Aku rasa kau harus cepat menyelesaikan masalahmu sebelum semuanya menjadi sangat rumit.” Ujar Dika. Tapi pada saat mereka sedang asik mendiskusikan masalah itu, Winda dan Deri pun tiba di sana. “Itu dia orangnya, tapi sepertinya…. Membawa tambahan.”
“Kak Yuda, Kak Dika aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian.” Kata Winda tanpa basa-basi, lalu mereka berempat pun segera menuju lantai dua.

“Baiklah, kau mau bicara apa?” Tanya Dika.
“Aku hanya ingin membicarakan masalah kita, sekarang disini ada orang yang kalian kira sebagai kaki tangan dari Latifah. Sekarang, aku Tanya apa yang kalian lihat dan dengar pada waktu itu?” Tanya Winda.
“Dia bersekongkol dengan Latifah untuk membuatmu hancur dengan kertas-kertas itu, Win.” Kata Yuda.
“Apa itu benar, kak Dika?”
“Ya, mungkin jika disimpulkan memang begitu.” Jawab Dika.
“Tidak, itu tidak benar.” Deri pun membela dirinya. “Sekarang aku yang bertanya, apa kalian mendengarku menjawab ‘Ya’ dengan tawaran orang itu?” mereka berdua pun diam, karena kenyataannya memang tidak apa-apa.
“Tapi, kau masih mempunyai perasaan pada Annisa kan?” Yuda pun bertanya balik.
“Saat ini kita tidak membicarakan masalah Annisa.”
“Tapi ini ada hubungannya, apa ini adalah bagian dari rencanamu?”
“Yuda!” Dika pun berusaha untuk mengingatkan Yuda agar tidak memperkeruh suasana.
“Kalian salah paham, kalian telah melewatkan beberapa bagian dari kejadian itu.” Ujar Deri
“Apa maksudmu?” Tanya Dika, lalu Deri pun menceritakan semuanya dan ternyata Deri dijadikan kambing hitam oleh Latifah.
“Apa kau berani sumpah?” kata Yuda.
“Ya, aku berani sumpah. Aku memang satu kelas dengannya, aku juga pernah mempunyai hubungan dengan salah satu dari mereka bertiga dan tak sering juga dulu kau lihat aku memihak pada mereka. Tapi sekarang berbeda, aku sadar aku telah banyak menutup mata. Setidaknya dengan ini aku dapat sedikit memperbaikinya dan memulainya dari awal lagi.”
“Hem…. Begitu ya. Aku rasa semuanya sudah cukup jelas kan, Yuda? Sudah aku bilang kau terlalu cepat menyimpulkannya.” Kata Dika.
“Hm…! Lalu, apa alasamu menaruh kertas-kertas itu pada tasnya?”
“Em, bagaimana ya? Rasanya sedikit sulit aku mengatakannya, tapi yang jelas aku menyukai adik kalian ini. Untuk itu mulai sekarakng aku berjanji akan selalu melindunginya.” Jawab Deri.
“Aku hanya butuh bukti.” Ujar Winda, tapi sepertinya Yuda kelihatan sedikit tidak senang dengan apa yang diucapkan oleh Deri.
“Jika kau ingin menjaganya, kau harus hadapi aku dulu.”Ujar Yuda.
“Apa maksudmu, Kak?” tanya Winda.
“Win, aku ini lebih lama mengenalmu dari pada dia. aku ini lebih lama bersamamu dari pada dia, harusnya kau sadar apa maksud dari semua ini.”
“Tidak, kau salah. Aku ini adikmu dan kau adalah kakakku, aku sudah tahu semuanya tapi maaf aku tidak bisa menghianati ikatak persaudaraan ini.”
“Tapi Win…”
“Kak, buka matamu. Aku ini adikmu, apa aku harus mencongkel mata dan mencabut hatimu lalu aku mencucina dengan sabun dan aku terteriak-teriak di depan organmu itu agar kau sadar. Sadarlah, ada orang yang bisa membuatmu lebih bahagia dari pada aku kak, ada orang yang lebih menyukaimu dari pada kau menyukaiku.”
“Menyukaiku?”
“Ya. Tentu kau tidak menyimpan masalah ini sendirian, kan? pasti kau menceritakannya pada seseorang selain yang ada disini. Kau pasti merasa nyaman bila kau menceritakannya pada orang itu.” Yuda pun membulatkan matanya. “Aku tahu kau pasti mengerti siapa yang aku maksud.”
“Rina?”
“Ya, tadi dia menceritakannya padaku. Dia mau mendengarkan semua keluh kesahmu walau itu sangat menyakitkan untuknya, bahkan tadi…. Dia menagis di depanku.”
“…….” Yuda kini tak bisa berkata apa-apa lagi, karena dia telah menyadari hal itu sekarang. Ternyata ini adalah jawaban perasaan ganjil yang selalu timbul dalam hatinya.
“Dia memintaku berjanji untuk bisa membuatmu bahagia, tapi aku tidak bisa. Yang bisa melakukan ini hanya Rina, dia yang terbaik untukmu.”
“Ya tuhan, apa yang telah aku lakukan padanya…”
“Minta maaflah padanya, kak dan berjanjilah untuk selalu membuatnya bahagia disisimu!”
“Tapi bagaimana aku bisa meminta maaf padanya sekarang, dari tadi aku menghubunginya sama sekali tidak aktiv.”
“Aku rasa, aku punya satu cara.” Kini diatas kepala Dika ada lampu yang menyala.

Keesokan harinya, terlihat sembilan sekawan ini sedang bersiap-siap membuka toko baru mereka.
“Winda, bagaimana?” Tanya Dika.
“Beres, tenang saja.” Kata Winda.

“Hey kalian berdua, kenapa diam saja? Ayo cepat, sebentar lagi kan akan dibuka.” Kata Dipa.
“Ya, baiklah.” Jawab Dika. Tak lama toko itupun dibuka.
“Apa akan ada yang datang?” Tanya Demil.
“Pasti ada, teman-temanku di capmus sudah aku beri tahu.” Kata Yogi.
“Ya, teman-temanku juga, oh iya anak-anak band sekolah dan sekitar sini apa akan datang?” Tanya Winda.
“Entahlah, aku lihat mereka cukup tertarik dengan apa yang kita tawarkan. Tapi tenang saja, anak-anak band-ku pasti datang. Hahahaha…” Mahmud pun tertawa bangga.
“Lihat, ada yang datang. Ayo cepat kita sambut dia!” Kata Iqbal.
“Mana?” Tanya Winda. “Haaah? Itu kan Kak Deri, kenapa harus repot-repot disambut segala?”
“Tapi pacarmu itu calon pembeli, kan?”
“Pacarku?”
“Iya, dia itu pacarmu kan?” Winda pun terdiam sejenak. Jika dia bilang bukan, memang bukan pacarnya tapi dalam hatinya telah tersimpan rasa suka, jika bilang ya memangnya kapan mereka jadi sepasang kekasih?
“Diam lah…!” ujar Winda

“Permisi….” Kata Deri yang masuk ke dalam toko.
“Selamat datang di toko kami.” Kata mereka bertujuh, kecuali Winda.
“Winda!” Kata Yogi.
“Haaaaah…” Winda mengelah nafas. “Ya baikah, selamat datang di toko kami.” Deri pun tersenyum melihat tingkah Winda. “Kau mau beli apa?”
“Hey, bukan begitu caranya. Kau harus lebih ramah.” Kata Mahmud.
“Tidak apa-apa, lagi pula aku ini bukan pembeli istimewa, kan?” Kata Deri.
“Bagi Winda kau adalah pelanggan istimewa, karena kau adalah pelanggan pertama dan….” Kata-kata Iqbal terpotong oleh Winda.
“Diam,,, aku bilang diam!!”
“Kau ini, oh iya Dika bagaimana dengan yang kemarin?” Tanya Deri.
“Tenang saja, kita tinggal melancarkan aksi saja.” Jawab Dika.
“Begitu ya.”

Tak lama, telihat Rina, Widiya dan Tias telah sampai di pintu gerbang. Mereka pun langsung saja berjalan masuk menuju toko.
“Permisi…” kata mereka bergtiga.
“Selamat datang di toko kami.” Kata delapan sekawan yang ada di sana dengan serempak.
“Widiya, hari ini kau cantik sekali.” Puji Iqbal.
“Terimakasih, kau bisa saja.” Terlihat Widiya tersipu malu dengan pujian dari Iqbal.
“Cie.. cie…” goda Tias pada mereka berdua. “Oh iya, apa baru kami saja yang datang?”
“Ya, memangnya kenapa?” Tanya Mahmud.
“Aku pikir sudah ramai, ternyata kami masih terlalu pagi datang kemari.” Kata Tias. “Em Rin, lihat ada sepatu lukis. Ayo kesana, aku ingin lihat-lihat.” Tias pun menarik tangan Rina ke tempat yang dia maksud dan Winda pun mengikuti mereka ke sana. “Lihat, sepatunya bagus-bagus. Ada gambar kelinci, Winda coba aku ingin lihat yang itu.” Winda pun mengambilkannya dan Tias pun mencobanya dengan sangat antusian.
“Apa sepatunya cocok?” tanya Winda.
“Ya, cocok sekali. Kau dapat dari mana sepatu ini?”
“Sebenarnya, itu adalah buatan Kak Yuda.”
“Kak Yuda, ternyata dia sangat pintar sekali menggambar ya? Oh iya, ngomong-ngomong tentang kak Yuda rasanya aku belum melihatnya. Kemana dia?”
“Dia ada di atas. Oh iya Rin, kak Yuda bilang dia ingin bertemu denganmu.”
“Suruh saja dia datang kemari.” Kata Rina dengan dingin.
“Tapi dia tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Dia…” Lalu Winda pun menarik nafas panjang. “Dia sedang terbaring di atas.”
“A-apa?” Rina pun mulai kaget. “Kenapa dia, apa dia sakit?”
“Sebaiknya kau temui dia di atas, dari tadi dia menyebut namamu terus.”
“Kak Yuda…..” Kata Rina dengan lirih, kini otaknya terisi penuh dengan kekhawatiran luar biasa, dia berfikir dia telah bersalah telah membebaninya dengan masalah ini. “KAK YUDDAAAAA!!!!!” dan gadis itu pun berteriak-teriak sambil tancab gas ke lantai dua.
“Misi satu, berhasih.” Winda pun nyengir dan menunjukan ibu jarinya.

Sementara itu di lantai dua, gadis yang berteriak-teriak gaje ini mendapati Yuda terbaring di karpet. Matanya terpejam seolah tak berdaya dan badannya pun tertutupi oleh kain selimut. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu pun segera duduk di sampingnya.
“Kak Yuda, aku minta maaf. Aku telah membuatmu seperti ini.” Mata gadis itu pun mulai berkaca-kaca.
“Rina….” Kata Yuda sambil membuka matanya. “Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku yang salah.”
“Tidak, aku yang salah. Aku yang membuatnya menjadi seperti ini, maafkan aku.” Pipi gadis itu pun mulai basah.
“Jangan menangis seperti itu, Rin. Maaf aku tidak menyadarinya dari awal.”
“Kak Yuda ini bicara apa?” Yuda pun tersenyum dengan wajah yang terlihat lesu.
“Rin, aku punya satu permintaan. Apa kau bisa mengabulkannya?”
“Apa pun itu, asal kau sembuh akan aku lakukan.”
“Apa kau mau jadi pacarku, Rin?” Rina pun tertegun mendengar permintaannya itu. “Kenapa kau diam saja?” Rina pun mengangukan kepalanya dan Yuda pun lagi-lagi tersenyum lemas. “Terimakasih, Rina?”
“Ya, ada apa?”
“Tolong cubit pipiku, apa aku ini sedang bermimpi?” ternyata suaranya masih terdengar lemas meski rina sudah mengangukan kepalanya. Tanpa pikir panjang lagi, Rina pun mencubit pipinya dan…. “AAAAAAAWWW!!!!! Sakit sekali….” Yuda pun berteriak hingga bangun dan terduduk di sana. “Ya tuhan, aku tidak bermimpi. Terimakasih ya tuhan…”
“Kak Yuda, kau tidak sakit?” tanya Rina yang keheranan.
“A-anu, sebenarnya tadi aku berbaring disini karena aku sangat mengantuk. Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan hal ini.”
“Tapi, Winda bilang kau….”
“Maaf, tadi maksudku dia itu sedang mengigau.” Jawab Winda yang tiba-tiba saja ada di belakan Rina, ternyata yang lain juga sedang ikut mengintip.
“Apa? AWAS KAU, WINDA….!!!”
“Hehehehehe, sebenarnya ini ide kak Dika.”
“Berhasi… berhasil… berhasil … hore!!” Kini Dika menari-nari ala Dora.

“PERMISI….. APA ADA ORANG DI TOKO INI???” terdengan seseorang berteriak dari toko.
“Dengar, ada pembeli. Cepat kita kesana!!!!” kata Dipa. Mereka semua pun segera turun untuk menyambut mereka, termasuk juga dengan pasangan baru ini. Ternyata yang datang adalah beberapa teman capus Yogi dan teman-teman band Mahmud. Lumayan, di hari pertama ini ada orang yang tertarik datang kemari.

Tapi ditengah-tengah kesibukan mereka, terdapat suatu pembicaraan kecil.
“Winda, mereka berdua itu serasi juga ya?” Kata Deri yang mengomentari pasangan baru itu.
“Ya, memangnya kenapa?”
“Tidak, aku jadi ingat sesuatu tentang suatu pertanyaan yang belum kau jawab.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Dulu aku pernah bertanya, apa kau juga menyukaiku?” Pipi Winda pun mulai memerah dan dia pun mengangukan kepalanya. “Em, apa benar? Apa kita juga bisa seperti mereka sekarang?”
“……………”

Keesokan harinya, hari ini semua murid kembali bersekolah setelah liburan di akhir pekan. Terlihat Winda dan Deri baru saja datang bersama, mereka pun segera masuk ke kelas mereka masing-masing. Tapi sepertinya ada kendala di depan pintu kelas Deri.
“Hi, selamat pagi.” Kata Latifah sambil menghalangi Deri masuk ke kelasnya.
“Mau apa kau?” Tanya Deri dengan ketus.
“Uh, galak sekali kau ini. Pagi ini kalian terlihat mesra sekali, datang ke sekolah berdua-duaan begitu.”
“Lalu?.”
“Ya, aku rasa sekarang dia sudah benar-benar menyukaimu.”
“Awas, aku mau masuk.” Deri pun mencoba menerobos masuk.
“Eet.. tunggu dulu. Kenapa kau buru-buru sekali? Sepertinya kau berhasil dengan rencana ini. Aku ucapkan selamat ya.”
“……………”
“Sekarang, tinggal satu langah lagi. Tinggalkan dia sekarang juga!!!”

---To Be Continued---