Sabtu, 29 Juni 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 6"



The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 6
Nona Keranjang Bunga

“Oh.. Iya. Apa yang kau bilang barusan?” kini Iqbal memperhatikan lagi orang yang berada di belakang Winda.
“Kau ini sedang memperhatikan siapa sih?” lalu Winda menengok ke belakannya, dia hanya lihat murid-murid sebayanya yang duduk di kursi mereka.
“Kau sekelas dengannya?”
“Dengan siapa?”
“Kau tahu toko bunga yang ada di sebrang jalan itu?”
“Iya aku tahu, memangnya kakak mau membeli bunga?”
“Bukan… kau tahu gadis seusiamu yang suka ada di sana?”
“Gadis seusia ku? Em, sebentar…..Oh, Widi…..” kata-katanya terpotong karena mulutnya ditutup oleh tangan Iqbal dan Iqbal pun menarik tangannya menjauh dari pintu kelas.
“Ssssst..!! jangan keras-keras!” Lalu Iqbal menengok gadis itu dari jendela di dekatnya. Ternyata benar saja, gadis berambut ikal itu sedang menengok ke sana kemari seperti orang yang kebingungan.
“Memangnya kenapa, apa akalian sudah saling kenal?”
“Belum, jangan beri tahu dulu dia kelasku ada di sana ya!”
“Kenapa?” nampaknya sekarang Winda tampak sangat kebingungan.
“Karena…….” Kini Iqbal mulai menjelaskannya dengan panjang lebar tentang alasannya.
Dipihak lain, tepatnya di kelas X-1. Terlihat tiga gadis yang sedang duduk di bangku mereka, nampaknya mereka sedanga asik mengobrol. Maklum anak perempuan, pagi-pagi sudah asik mengobrol.
“Hey Rin, kenapa Winda jam segini belum datang ya? Apa dia akan terlambat?” Tanya Widiya.
“Entahlah, aku tidak tahu.” Jawab Rina.
“Aku rasa dia sedang dapat masalah di gerbang belakang.” Kata Tias.
“Ah yang benar?” Tanya Widiya lagi.
“Mungkin, karena tadi aku lihat dia masuk lewat gerbang belakang. Lalu katanya, disana ada kakak-kakak yang berwajah seram yang suka memalak siswa-siwa yang lewat sana.”
“Apa benar? Jika dia lewat sana, harusnya dia sudah sampai dari tadi. Gerbang itu kan tidak jauh dari sini.” Jelas Rina
“Benar juga, kalau begitu sekarang di mana dia?” Tanya Tias.
“Mungkin dia sedang menunggu bell masuk di luar.”
Oh….. Widi…” kata seseorang di luar sana. Tenyata benar saja apa yang dikatakan oleh Rina.
“Seperti suara Winda.” Kata Widiya yang sambil menengok kesana kemari. “Aku rasa dia ada di luar, aku akan memeriksanya dulu.” Lalu Widiya beranjak dari bangkunya dan menuju ke luar kelas.
Semmentara itu, di luar kelas Iqbal masih menjelaskan alasannya pada Winda. Dia berusaha agar Winda mendengarkan apa yang dikatakannya.
“Jadi kau mau kan?”
“Iya-iya.”
“Tapi jangan secara langsung kau bilang padanya.”
“Hi, selamat pagi.” Kata seseorang dari arah pintu kelas X-1.
“Widiya? Selamat pagi.” Jawab Winda, tapi nampaknya Iqbal yang kaget hanya bisa diam saat ini.
“Ternyata ada kakak ya, bagaimana bunganya? Apa sudah mekar?” Tanya Widiya.
“Su-sudah.” Nampaknya Iqbal kini mulai gugup.
“Benarkah? Pasti bunganya cantik.”
“Kalian sudah saling kenal?” Tanya Winda.
“Ya, begitulah. Seminggu yang lalu dia datang ke toko ku.”
“Oh, begitu. Katanya……” kata-kata winda kini terpotong oleh Iqbal.
“Kau satu kelas dengan Winda?” Tanya Iqbal mengalikan perhatian
“Tentu saja. Waktu MOPD pun kamu satu team.” Jawab Widiya.
“Em maaf, aku rasa sebentar lagi akan ada bell masuk. Sebaiknya aku masuk dulu ya, kak.” Lalu Winda segera beranjak dari sana, sebenarnya Winda mengerti kenapa Iqbal memotong  perkataanya tadi. Dia berusaha mengalihkan obrolan agar tidak menjadi berkepanjangan dan berharap Widiya tidak mendengarkan obrolan mereka berdua tadi.
“Aku juga akan masuk ke kelas dulu ya kak.”
“Iya.” Kata Iqbal. Lalu mereka berdua beranjak dari sana, tapi….
“Em, maaf.” Kata Iqbal sambil memagang tangan Widiya dan langkah Widiya pun berhenti.
“Iya?”
“Terimakasih ya, Nona Keranjang Bunga.”
“Iya, sama-sama.” Jawab Widiya sambil tersenyum dan sukses membuat wajah Iqbal menjadi merah. Lalu Iqbal pun beranjak ke kelasnya.
‘Nona Keranjang Bunga, apa maksudnya? Terimakasih untuk apa? Ah sudah lah, jangan terlalu dipikirkan.’ Gumam  Widiya, lalu Widiya pun segera berjalan ke bangkunya.
“Hey, kenapa jam segini kau baru datang?” taya Rina.
“Tadi aku dikejar preman sekolah.” Jawab Winda.
“Tuh kan, benar apa yang aku bilang.” Kata Tias .
“Tapi bagaimana kau bisa lolos?” Tanya Widiya.
“Tadi kakak-kakak ku datang menolong.”
“Kakak? Kau punya kakak di sini?”
“Tentu.”
“Aku kira hanya Kak Yogi kakak mu itu.” Kata Rina.
Winda pun tersenyum. “Jadi begini, dulu aku tinggal di panti asuhan, kak Yogi juga dan sisanya Kak Yuda, Kak Demil, Kak Dika, Kak Rona, Kak Mahmud, Kak Dipa dan juga Kak Iqbal. Dari awal kami berpisah kami sudah berjanji tidak akan saling melupakan dan memisahkan, karena kami semua adalah saudara.”
“Kak Iqbal?” kata Widiya seolah tak percaya.
“Ya, benar. Tapi tolong jangan dulu ceritakan ini pada siapa-siapa ya!”
“Tentu, kami tidak akan menceritakannya pada siapa-siapa.” Kata Rina
“Ya, aku juga.” Kata Tias.
“Jadi, kau ini adalah yang paling muda? Tapi aku ingin bertanya satu hal padamu.” Kata Widiya.
“Apa?” Tanya Winda yang menanggapi pertanyaan Widiya.
“Jika kau benar-benar bersaudara dengan Iqbal, pasti kau tahu. Tadi dia menyebut Nona Keranjang Bunga. Kenapa dia bilang begitu, apa wajahku ini terlihat seperti keranjang bunga?”
“Hahaha, benarkah? Hahhaa, panggilan yang lucu.”
“Aduh kau ini, jangan tertawa dulu.”
“Iya, maaf-maaf. Aku rasa dia menemukan sesuatu yang mudah diingat dari mu.”
“Mudah diingat?”
“Ya, bahkan dia telah menemukah hal yang istimewa dan tak mau melewatkannya.”
“A-apa maksudmu tak mau melewatkannya?”
“Seperti itu.?” Winda pun menunjuk seseorang di luar kelas, serentak mereka bertigapun menoleh kearah itu. Ternyata benar saja, disana terlihat Iqbal sedang memperhatikan mereka berempat dari jendela kelasnya sambil menahan dagunya. “Ayo lambaikan tanganmu!”
“A-apa? Untuk apa aku melakukannya?”
“Sudah lakukan saja!” lalu Widiya pun melambaikan tangannya dan apa yang terjadi? Iqbal pun tersipu malu dibuatnya, dia trsenyum dan mengangkat salah satu tangannya, menandakan dia menanggapi apa yang Widiya lakukan. Tapi tak lama, dia langsung duduk di bangkunya karena malu.
“Hahahahahhahahah…..” Mereka bertiga tertawa melihat tingkah mereka berdua.
“Benar-bernar tidak mau melewatkan. Hahaha…” Kata Rina sambil tertawa.
“Iya-iya,, aku bisa merasakan sesuatu yang istimewa itu. Hahaha.” Tias pun menabakan.
“Em, kalian semua…. Aku mohon hentikan!!” kata Widiya yang wajahnya kini meulai memerah.
TEEEEEEEEEET…..
Nampaknya bell masuk telah berbunyi, tak lama kemudian ada seorang guru masuk ke sana. Dia membawa beberapa buku di tangannya dan menyapa mereka semua.
“Selamat pagi anak-anak.” Kata guru itu.
“Selamat pagi pak.” Anak-anak pun menjwabnya dengan serempak.
“Bagaimana kabar kalian pagi ini?”
“Baik pak…”
“Baik langsung saja saya akan memperkenalkan diri. Nama saya adalah Fadhila Fitriadi, kalian bisa memanggil saya Pak Fadhila atau Pak Fadhil…..” dan bla..bla…bla….. ya begitulah, di hari pertama ini seperti biasa semua guru yang masuk memperkenalkan diri mereka. Pak Fadhila ini adalah guru matematika, pelajaran yang benar-benar membuat jengkel sebagian murid. Tapi untung saja Pak Fadhila ini merupakan salah satu guru terbaik di sini, jadi anak-anak tidak terlalu kebingungan dengan pelajaran ini. [AMIN deh ya] oh iya, satu lagi. Pak Fadhil ini adalah guru kesiswaan juga. Jadi, untuk beberapa murud yang nakal akan tidak menyukainya.
TEEEEEET,,,,,
Bell pun kembali berbunyi, saatnya istirahat. Semua murid pun berhamburan keluar, tak terkecuali dengan mereka berempat yang langsung saja menuju kantin. Sementara Iqbal dan teman-temannya pergi ke lapangan sekolah untuk bermain bola, maklum saja anak laki-laki.
Mereka berempat pun tiba di kantin, nampaknya sekarang kantin sekolah sedang menuh, hampir tidak ada tempat duduk untuk mereka.
“Ya ampun, penuh sekali. Kita duduk di mana?” Tanya Tias.
“Em, sepertinya disana ada yang kosong.” Kata Rina sambil menunjuk satu bangku kosong yang berada paling ujung dekat dengan lapangan sekolah itu.
“Ya sudah kita duduk di sana saja.” Kata Widiya. Lalu mereka pun merjalan menuju bangku yang kosong itu dan duduk di sana.
“Aku dan Rina akan memesan makanan, kalian berdua duduk saja di sini! Agar tidak ada yang menempatinya. Kalian mau pesan apa?” Tanya Winda
“Mie instan saja.” Kata Widiya.
“Ya, aku juga.” Kata Tias.
“Kuah atau goreng?” Tanya Rina
“Goreng saja lah.” Kata Widiya
“Minumnya?”
“Kalau soal minum yang seperti biasa saja, tapi biar aku yang mengambilnya.” Kata Tias. Lalu mereka bertiga pun langsung mengerjakan tugas masing-masing dan tinggal Widiya saja yang ada di sana.
Sementara itu di lapangan sekolah iqbal sedang asik bermain bola dengan teman-temannya. Dia berlari dengan kencang dan berusaha memasukan bola pada gawang, tapi nampaknya bola itu keluar dari lapangan.
“Bolanya keluar, Iqbal ayo ambil! Tadi kau kan yang menedannya.” Kata Dipa.
“Iya, sebentar.” Iqbal pun mengejar bola itu, tapi bola itu terus menggelinding dan berhenti di dekat bangku kantin yang Widiya tempati.
‘Bola siapa itu?’ gumam Widiya. Iqbal yang melihat bolanya berhenti di sana, segera menghentikan langkahnya.
“Hey Nona Keranjang Bunga, tolong lemparkan bolanya kemari!” kata Iqbal yang sedikit berteriak. Widiya yang mendengarnya pun segera beranjak dari tempatnya dan melemparkan bola itu pada Iqbal. “Terimakasih ya.” Kata Iqbal.
“Iya” jawab Widiya. Iqbal pun langsung berlari ke lapangan lagi.
“Cie….. cie……” kata Rina yang datang sambil membawa makanan dengan Winda.
“Nampanya Nona Keranjang Bunga ini sangat baik hati telah mengambilkan bolanya.” Kata Tias yang membawa minuman lalu mereka duduk di tempat masing.
“Kalian ini kenapa sih?” kata Widiya yang berusaha membela dirinya.
“Sudah-sudah, lebih baik kita makan saja. Kelihatannya Nona Keranjang Bunga ini sudah kelihatan lapar sekali.” Kata Winda.
“Awas ya, kau.”
“Iya-iya maaf.” Lalu merekapun menyantap makanan itu, tak lama merekapun telah selesai dan memutuskan untuk kembali ke kelas. Mereka pun segera beranjak dari sana, tapi Widiya memisahkan diri, katanya dia ingin ke perpustakaan. Dia ingin meminjam beberapa buku pelajaran.
“Ya sudah, kalau begitu kami ke kelas duluan ya.” Kata Tias.
“Iya.” Widiya pun berjalan ke perpustakaan. Beberapa menit kemudian dia keluar dari sana sambil membawa beberapa buku. Tanpa pikir panjang lagi dia pun langsung pergi ke kelasnya. Tapi pada saat di tengah jalan……
Duk, BRUK….
Nampaknya ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Buku Widiya pun jatuh berantakan.
“Aduh.” Kata Widiya yang kesakitan.
“Ya ampun, aku bantu bereskan ya.” Kata orang itu dan mereka berdua pun langsung berjongkok.
“Ya ampun, Iqbal apa yang kau lakukan? Aku duluan ya, kau bereskan saja sendiri. Hahaha.” Kata Dipa sambil melangkah meninggalkan mereka berdua. Sebenarnya tadi Iqbal menabrak Widiya karena dikejar Dipa.
“Awas kau.” Ancam Iqbal. Lalu mereka berdua pun mengambil buku-buku itu, dan entah apa yang mereka pikirkan, tiba-tiba saja mereka mengambil buku yang sama sampai-sampai tangan mereka bersentuhan. Sebenarnya masih banyak buku-buku yang berantakan di sana. [sekenario yang sudah tidak asing lagi, tapi romantis, kan?]
“Maaf.” Kata Iqbal dengan singkat Dia pun segera melepaskan tangannya dan membiarkan Widiya yang mengambilnya.
“Tidak apa-apa.” Jawab Widiya.
“Ini buku mu, aku benar-benar minta maaf ya. Bukumu jadi berantakan.” Kata Iqbal sambil menyerahkan buku ditangannya.
“Iya, lagi pula aku tidak apa-apa.”
“Kau mau kembali ke kelas kan?”
“Iya.”
“Ayo, aku antar sampai pintu kelas.” Ajak Iqbal, lalu mereka berdua pun berjalan menuju jelas X-1 bersama.
Dipihak lain, tak disangka ternyata ada yang memperhatikan mereka berdua sedari tadi. Nampaknya gadis itu merasa kesal dengan apa yang dilihatnya, karena secara kebetulan kejadian itu terjadi di depan kelas XII-2.
“Kurang ajar, ternyata ada yang ingin merebut Iqbal dari ku.” Kata gadis itu dengan kesal. Dia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke luar.
“Hey, kau mau ke mana?” Tanya teman sebangkunya itu, tapi sepertinya tidak digubris sama sekali. “Hey kau, hey!!”

---To Be Continued---

Rabu, 26 Juni 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 5"



The Shop Nine-Tailed Fox

Chapter 5
KKAAABUUUUUUUUUUUUR…….!!!!!

“Tak usah Tapi-tapian, kau mau aku panggilkan temanku yang itu?” lalu Trisana menunujuk temannya yang berpostur Tinggi besar dan berkulit gelap itu.
“Ti…Tidak kak,, ampun.”
“Kalau begitu bayar….! Mana??!!”
‘Bagaimana ini?????’ gumam gadis itu, kini dia sedang mencari cara untuk meloloskan diri darinya.
“Heh, kenapa kau diam saja. Mana?”
“Em,, kak. Hari ini jangan bayar dulu ya. Ini kan baru hari pertama. Memangnya kakak tidak merasa kasihan dengan keadaanku. Aku berangkat dari rumah naik sepeda sendirian, karena bekalku tidak cukup untuk naik kendaraan umum. Untuk nanti istirahat saja aku harus berfikir dua kali untuk membeli makanan. Di tambah sekarang aku harus membayar 2000 di sini. Kakak….. tolong laaaahhhh….” Kata winda dengn panjang lebar dengan dibumbui dengan ekspresi memelasnya itu.
“Alah, jangan acting kamu.!”
“Kakak, betapa kejamnya kau padaku… apa aku harus berlutut dihadapan mu sekarang?” Windapun mulai berlutut di depan Trisna dengan logat-logat so dramatisnya itu. [hahahaha…. Maaf lebay dikit, gx papa ya.]
“Hey..hey…hey… apa yang kau lakukan? Cepat berdiri!”
“Kakak… Aku mohon..!!” kini dia mulai menggenggam celana preman itu.
“Lepaskan tanganmu!” bentak Trisna sambil menggoyangkan kakinya dengan agak kasar seolah-olah seperti menendang Winda.
BRUK.
 “Aduh….” Winda pun jatuh terduduk di Hadapan Trisa. Nampaknya di benar-benar kesakitan sampai meringis-ringis.
“Hey,, ada apa ini.?” Tanya seorang anak laki-laki yang lebih tinggi dari Trisna. Ternyata dia adalah preman sekolah juga, karena dari tadi dia memalak siswa-siswa yang lewat sini.
“Ini, anak baru. Dia tidak mau bayar upeti.” Jawab Trisna.
“Berdiri kau, anak manja!” kata Ridwan.
‘Apa? Anak manja katanya??!!’ gumam winda dan diapun berdiri.
“Kenapa kau tidak mau bayar?”
“Karena aku tidak mau.”
“Apa kau bilang, Tidak mau?”
“Iya. Aku tidak mau.” Tegas Winda
“Oh, jadi kau tidak mau bayar upeti disini? Kau tidak tau siapa aku, HAAH?” Kini Ridwan pun mulai berteriak.
“Tidak.” Kata Winda sambil menggelengkan kepalanya. “Memangnnya kakak ini siapa?” Tanya gadis itu dengan polos.
“Kau…” Anak laki-laki itupun mulai maju dan mengangkat tangannya seperti akan menampar, tapi untung saja Trisna mencegahnya. Kali ini ekspesi takut pada wajah Winda sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi.
“Hentikan! Dia hanya anak peremuan. Mau ditaruh di mana muka kita jika kau menampar anak peremuan?” Bisik Trisna.
“Kau,… kali ini kau benar-benar beruntung.” Kata Ridwan sambil menunjuk-nunjuk Winda.
“Sudah biar aku saja yang hadapi dia.” Kata Trisna pada Ridwan. “Hey kau, kau benar-benar tidak mau bayar? Baik berarti kau yang minta.” Kemudian diapun berteriak pada seseorang yang berkulit gelap itu. “HEY WISNU, ADA JATAH UNTUKMU!”
‘Ya Tuhan… tolong aku..’ Gadis itupun mulai merasa panik. Kini orang berkulit gelap itupun mulai berjalan mendekati mereka dengan baju yang benar-benar semerawut, ditambah lagi dengan kalung seperti rantai pada lehernya.
“Mana bagianku?” Tanya Wisnu.
“Dia.” Jawab Trisna.
“Dia? Hahaha hanya seorang anak perempuan saja kalian tidak bisa.”
“Dia keras kepala sekali.”
“Baiklah kalau begitu. Kau, kau anak baru kan? kalau kau ingin lewat sini, kau harus bayar dulu.!”
“Tapi kak, saya tidak punya untuk membayarnya.”
“jangan bohong kau, memangnya aku ini bisa tertipu oleh wajah polos mu itu?”
“Tapi kak..”
“Tak ada tapi-tapian, ayo cepat bayar!”Preman sekolah berbadan besar itupun menengadahkan tangannya. Tapi sepertinya gadis itu sedikit tidak menghiraukan kata-katanya. Dia terus saja menatap ke arah belakang ke tiga preman sekolah itu sambil sesekali menatap mereka.
“Hey,, kau dengar tidak.?” Tanya Ridwan.
“Pak kepala sekolah,, selamat pagi..” kata Winda sambil tersenyum. Serentak mereka bertiga pun kaget dengan kata-kata yang diucapkan Winda. Lalu mereka segera menengok ke arah belakang mereka. Tapi…..
“KKAAABUUUUUUUUUUUUR…….!!!!!” Teriak winda sambil berlari terbirit-birit dari sana.
“Hey, jangan lari kau.!!” Kata Trisna dan mereka bertiga pun mulai mengejar Winda yang sudah lumayan jauh di depan. Winda pun terus berlari sekencang-kencangnya, tapi….
BRUK…!
“Aduh..” windapun terjatuh karena menabrak seseorang.
“Kau tidak apa-apa? Winda?” Tanya orang itu.
“Kak Yuda?” Kini Winda pun kaget, ternyata salah satu kakaknya bersekolah di sekolah yang sama. Yuda pun segera mambangunkannya.
“Winda, kenapa kau berlari-lari seperi itu?”
“I-Itu.. mereka mengejarku. Tadi mereka memaksaku untuk membayar upeti.”
“Apa?” Tanya Yuda seakan tidak percaya. Tak lama, ketiga preman sekolah itupun berhenti berlari dan mendekati mereka berdua. “Apa yang kalian lakukan padanya?”
“Bukan urusanmu, aku berurusan dengan anak ini.” Kata Ridwan sambil menarik tangan Winda. Kini Winda pun meronta-ronta melepaskan tangan Ridwan.
“Lepaskan tanganmu!” kata yuda sambil melepaskan tangan mereka, kini Winda bersembunyi di belakan Yuda.
“Oh, kau ingin jadi pahlawan ya? Kita lihat, siapa yang akan menang di sini? Satu lawan tiga orang.” Kata Trisna.
“Aku rasa empat orang akan lebih unggul dari pada tiga orang.” Kata Rona, ternyata Rona tidak sendiri. Dia saat ini bersama Iqbal dan Dipa.
“Kau, aku kira kau temanku.” Kata Wisnu.
“Ya, aku memang temamu. Tapi, kali ini kau telah mengganggu adikku.”
“Baiklah kalau begitu, sepertinya tiga lawan empat juga tidak papa.” Kata Wisnu dengan Sok enteng.
“Tunggu, aku rasa sekarang jadi tujuh lawan tiga.” Kata Demil yang ditemani Dika dan Mahmud. Kini tujuh laki-laki bersaudara itu berjejer di hadapan tiga preman sekolah. Mereka yang tadinya bernyali seperti macan kini mulai menciut, karena mustahil bila tiga melawan tujuh orang sekali gus.
“Wisnu, sepertinya kita kalah jumlah. Sebaiknya kita mundur saja!” Bisik Trisna.
“Alah… aku tidak peduli.”
“Jangan gegabah. Kali ini kita akan kalah.” Sekarang giliran Riwan yang berbisik. “Ayo cepat kita pergi saja dari sini.” Lalu diapun menyeret yangan Wisnu.
“Diam kau, Hey, awas kalian. Kali ini kalian menang.” Kata Wisnu sambil menujuk-nujuk mereka, kemudian Trisna menyeret tangan Wisnu untuk menjauh dari mereka.
“Sudah diam, sebaiknya pelankan suaramu. Sepertinya kita di awasi satpam itu.” Kata Trisna.
“AWAS KAU!!” Teriak Ridwan.
“Hey, kau juga. Lihat, satpam itu sedang mengawasi kita!”
“Maaf.” Dan merekapun pergi dari sana.
Sementara itu delapan sekawan ini sekarang mulai bernafas lega setelah mereka pergi. Benar-benar tak di sangka, ternyata saudara mereka yang paling muda ini juga bersekolah di sini.
“Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Dika.
“Tidak, aku tidak apa-apa.” Jawab Winda.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Tapi kenapa kau bisa berurusan dengan mereka?” Tanya Iqbal.
“Tadi mereka memaksaku membayar upeti karena lewat gerbang belakang.”
“Sebaiknya kau jangan lagi melewati gerbang belakang itu, karena mereka setiap hari selalu ada di sana.” Kata Demil.
“Iya kak. Besok aku akan lewat gerbang depan saja.”
“Oh, iya. Ron, bukannya mereka teman-temanmu kan?” Tanya Mahmud.
“Ya, benar. Mereka teman sekelas ku.” Jawab Rona
“Aku rasa, di kau harus hati-hati de kelas.”
“Benar, pasti mereka akan menjadikanmu sasaran empuk. Apa lagi kau tidak sekelas dengan salah satu diantara kami.” Kata Dipa.
“Ya, aku akan berhati-hati.”
“Em maaf, aku rasa kita harus menghentikan diskusi ini sekarang. Karena sebentar lagi bel masuk berbunyi.” Kata Yuda sambil melihat jam tangannya.
“Ya sudah, kita kembali ke kelas. Oh iya, Wind kelasmu di mana?” Tanya Iqbal. Lalu mereka semua kembali ke kelas mereka masing-masing, disana hanya ada Winda, Iqbal dan Dipa.
“Tidak tahu, jusrtu aku akan mencarinya sekarang.” Jawab winda.
“Oh, memangnya kau kelas X berapa?”
“X-1”
“X-1, kelas itu bersebelahan dengan kelas ku dan Dipa. Kau mau aku antar.?”
“Iya, memangnya kakak kelas berapa?”
“XII-3. Ayo cepat!”
“Oh, begitu ya.” Kata gadis itu. Lalu merekapun pergi ke kelas Winda dan beberapa saat kemudian mereka telah sampai di depan kelasnya.
“Nah ini kelasmu.” Kata Dipa yang kini berdiri di dekat pintu kelas.
“Em, iya. Lalu kelas kakak di mana?” Tanya Winda.
“Ini, tepat di depan kelasmu.” Ternyata kelas mereka bersebrangan. “Aku masuk ke kelusku dulu ya.”
“Iya.”
“Hey Iqbal, ayo masuk!”
“Kau duluan saja. Aku mau mengobrol lagi sebentar.” Kata iqbal.
“Ya sudah.” Lalu Dipa pun masuk ke kelasnya.
“Hey Wind, sekarang kau sudah besar ya?” Tanya Iqbal.
“Memangnnya kenapa? Apa aku tidak boleh besar?”
“Hahaha.. kau ini, bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
“Ya… bagaimana ya? Rasanya sudah lama saja tidak bertemu denganmu.”
“Oh, begitu. Kakak, kau tidak masuk ke kelas mu?” tapi ternyata orang yang diajaknya bicara itu sedang memperhatikan seseorang yang ada di belaknganya. “Hey kakak, kau dengar aku tidak?” Tanya Winda.
“Oh.. Iya. Apa yang kau bilang barusan?” kini Iqbal memperhatikan lagi orang yang berada di belakang Winda.
“Kau ini sedang memperhatikan siapa sih?” lalu Winda menengok ke belakannya, dia hanya lihat murid-murid sebayanya yang duduk di kursi mereka.
“Kau sekelas dengannya?”
“Dengan siapa?”



---To Be Continued---