Jumat, 21 Juni 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Capter 2"



The Shop Nine-Tailed Fox

Capter 2
Aku Akan Merindukanmu

“Oh, iya. Terimakasih Bu.” Kata Pak Andi. Mereka berdua pun mulai berjalan diantara mereka, menatap mereka satu persatu. Tiba-tiba saja mereka menghentikan langkah. Mereka menatap satu anak yang mereka pikir cocok untuk dijadikan anak mereka.
“Boleh aku tau siapa namamu?” Tanya Bu Iis pada anak itu.
“Namaku? Namaku……..”
“Iya, siapa namamu sayang?” Tanya Bu Iis sambil berjongkok di depan gadis itu.
“Namaku Winda.”
“Winda, nama yang bagus. Berapa usiamu?”
“Usiaku baru 6 tahun.” Jawab anak perempuan itu.
“Sayang, bukannya kita akan mengangkat anak laki-laki?” Bisik Pak Andi pada istrinya.
“Apa tidak bisa di ganti dengan anak perempuan?”
“Tidak.”
“Ayo lah, sayang!”
“Sudah lah, ayo cepat berdiri! Kita cari anak laki-laki.” Kata Pak Andi dengan tegas. Segera lah berdiri istrinya itu, ekspresi yang agak kesal terlihat dari wajahnya.
‘Selamat….selamat….. jika diadopsi sekarang, aku tidak siap.’ Gumam gadis itu sambil mengelah nafas lega. ‘Tapi, siapa anak laki-laki yang mereka maksudkan?’ tanda Tanya besar sekarang ada dalam kepala gadis itu. Gadis itu terus memperhatikan kemana arah sepasang suami istri itu melangkah. Dan perempuan berbaju rapi itu kembali berjongkok di depan salah satu anak laki-laki.
“Hey tampan, siapa namamu?”
“Namaku Dipa, bu.”
“Berapa usiamu?”
“Usiaku 8 tahun.”
“Hey nak, apa kau suka bermain bola? Kami punya lapangan luas di sana?” Tanya Pak Andi pada Dipa.
“Ya, aku suka. Seberapa luas, apa seluas taman di panti ini?”
“Lebih luas dari itu, kita bisa bermain bola bersama di sana.”
“Apa saudara-saudaraku juga boleh ikut?”
“Kau punya saudara di sini?” Tanya bu Iis.
“Ya, tentu saja punya. Kami disini semuanya adalah saudara. Benarkan Bunda?” kata anak laki-laki berbaju oranye itu. Bunda Tika hanya mengangguk dan tersenyum.
“Apa kau mau tinggal bersama kami?” Tanya Bu Iis lagi.
“Tinggal bersama kalian?”
“Iya benar.”
“Tapi sebelumnya aku ingin bertanya. Jika nanti aku tinggal bersama kalian, apa aku bisa bermain ke sini lagi?”
“Tentu saja bisa, tempat tinggal kami tidak jauh dari sini.” Jawab Pak Andi.
“Jadi, apa kau mau tinggal bersama kami?” Tanya Ibu Iis. Tapi Dipa tidak langsung menjawabnya. Dia hanya melirik teman-temannya, menatap pasangan suami istri itu, melirik Bunda Tika lalu menatap mereka berdua lagi.

“Maaf, jika Dipa tinggal bersama kalian apa itu artinya Dipa telah diadopsi?” Tanya Iqbal.
“Itu sudah pasti.” Jawab Pak Andi.
“Hey, kenapa kau diam saja? Harusnya kau senang, karena sebentar lagi kau akan punya orang tua.” Seru Iqbal.
“Apa harus aku meninggalkan kalian?” Tanya Dipa.
“Bukankah itu impian kita semua di sini?”
“Jika kau mau, kami akan membantu mu untuk berkemas.” Kata Yuda.
“Bukan hanya Yuda yang akan membantumu, tapi kami juga.” Tambah Rona yang berjalan mendekat, lalu disusul juga oleh Mahmud, Demil, Yogi, dan Dika.
“Apa aku juga boleh bantu berkemas, Kak?” Tanya Winda sambil berjalan mendekati Dipa juga.
“Terimakasih, teman-teman.” Dipa tersenyum haru melihat teman sekaligus saudaranya itu bersedia membantunya sekaligus untuk salam perpisahan.

Beberapa lama kemudian saatnya perpisahan pun tiba. Mereka bersembilan keluar dari kamar Dipa dan menuju depan panti bersama dengan Bunda Tika. Sepasang suami istri yang sedari tadi menunggu di sana sambil minum teh, kini berdiri menyambut calon anggota keluarga barunya itu.
“Ini bu, pak. Dipa sudah siap berangkat.” Kata Bunda Tika.
“Ayo sayang, pamitan dulu sama Bunda Tika dan teman-temanmu!” Seri Bu Iis dengan senyum.
“Bunda, Dipa pamit dulu ya. Terimakasih, selama ini bunda telah merawatku.” Dipa pun mencium tangan Bunda Tika.
“Iya, sama-sama, nanti jika kamu merindukan Bunda dan teman-temanmu, kamu datang saja ke panti ini. Pintu panti ini terbuka lebar untukmu.”
“Iya Bun.” Kemudian Dipa berpamitan pada teman-temannya. “Semuanya, terimakasih. Kalian memang teman-teman yang terbaik.”
“Kita semua ini saudara kan?” kata Dika
“Jaga dirimu baik-baik. Kami semua akan merindukanmu.” Kata Yogi sambil menepuk bahunya. Kemudian mereka semua berangkulan beberapa detik, Bunda Tika yang melihat mereka berangkulan pun meneteskan air mata haru.
“Pegang janjimu, kawan!” Seru Demil.
“Itu sudah pasti.” Kata Dipa.
“Ayo, kita pulang!” seru ibu baru Dipa. Dipa pun menoleh dan menghampirinya. “Bu kami pulang dulu.”
“Iya silahkan.” Bunda Tika pun tersenyum.
“Tid….Tid….” Pak Andi yang sedari tadi menunggu di mobil, membunyikan klaksonnya. Mereka berdua pun beranjak menuju mobil bagus itu dan membukakan pintu mobilnya. Tapi…….
“DIPA……” terdengar suara anak perempuan dari arah pintu memanggilnya. Dipapun menoleh. Anak perempuan itupun berlari ke arahnya sambil membawa kotak makanan.
“Ini untuk bekalmu di jalan.” Kata Ochi sambil memberikan kotak makanan berwarna Pink itu pada Dipa.
“Apa ini?” Tanya Dipa, tapi Ochi hanya tersenyum saja.
“Em, dipa?”
“Iya.”
Aku akan merindukanmu.”
“Aku juga.”jawab Dipa sambil tersenyum, sekarang wajah Ochi mulai kemerahan. Dia pun langsung menundukan kepalanya, segera berbalik dan berjalan menuju Bunda Tika. Dipa dan ibu barunya itu pun naik ke mobilnya. Pak Andi pun kembali membunyikan kelaksonnya lagi dan mobilnya pun kini melaju. Teman yang dianggapnya saudara, ibu panti yang dipanggilnya Bunda dan gadis yang memberikan kotak bekal itu pun melambaikan tangan mereka.
“Dipa, aku akan merindukanmu….” Teriak Ochi.
‘Ya ampun. Berisik sekali orang aneh ini.’ Gumam Winda sambil menutup telinganya. Ochi kini masih saja melambaikan tangannya, saat itu juga Dika mendekat padanya.
“Hey, apa yang kau berikan padanya tadi?” Tanya Dika.
“Nasi goreng penuh cinta yang aku buat khusus untuk Dipa.” Jawabnya dengan senyum-senyum so manis itu.
“Lalu, nasi goreng penuh cinta yang kau buat khusus untukku mana?”
“Buat saja sendiri.” Kata ochi dengan nada yang sedikit tinggi padanya, dan langsung saja dia pergi ke kamarnya.
“Aku berani jamin, nasi goreng buatannya itu pasti tidak enak.” Kata Iqbal.
“Benarkah?” Tanya Demil.
“Ya, dia benar. Aku pernah mencuri nasi gorengnya dulu. Tapi pada saat aku mencicipinya, rasanya asin sekali. Aku berikan saja nasi goreng itu pada kucing piaraan orang kaya sebelah itu. ” kata Yuda.
“Lalu apa yang terjadi?” Tanya Rona.
“Kucing orang kaya itu langsung sekarat.”
“Hahahahahaha, ternyata aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini.” Kini Dika tertawa dengan lepas dan diikuti oleh teman-temannya.
Pasti kita semua penasaran bagaimana dengan nasib Dipa jika dia memakan nasi goreng buatan Ochi. Kita langsung simak saja kelannjutan ceritanya.
Di pihak lain, tepatnya di dalam mobil bagus yang batu saja berangkat dari panti. Terlihat Dipa yang masih memandangi kotak bekal berwarna pink itu.
“Teman-temanmu itu baik ya.” Kata mamah barunya.
“Iya bu.”
“Ibu? Sepertinya panggilan Ibu terlalu formal. Bagai mana jika kau memanggilku Mamah, dan mulai sekarang kau memanggilnya Ayah.” Pinta ibu baru itu, tapi Dipa hanya menunjukan ekspresi bingung. Kenapa secepat itu dia harus memanggil mereka dengan pangglilan Mamah dan Ayah.
“Nak, mulai sekarang kau harus membiasakan diri dengan itu.” Tambah Ayah barunya.
“Iya  Ayah, Mah.” Akhirnya dia pun mau memanggil mereka dengan panggilan yang mereka ingginkan, meskipun dengan suara yang masih canggung terdengar.
“Hey, boleh ku tahu apa isi kotak pink itu?” Tanya mamahnya. Dipa pun membuka kotak itu dan aroma nasi goreng yang bikin ngiler tercium  di hidung pasangan ibu dan anak itu. Tapi ada yang tidak biasa dengan tampilannya, disana terdapat sayuran yang disusun rapi membentuk sebuah kalimat yang singkat.
“I LOVE U.” Baca dipa dengan pelan dan dia tersenyum simpul. . Lalu Dipa mengambil sendok yang berada di tutup kotak itu dan dia pun berniat mencicipinya. Dia mulai mengambil satu sendok penuh lalu dimasukanlah nasi goreng itu ke mulutnya. Tapi……..

--- To Be Continued---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar