The Shop Nine-Tailed Fox
Capter 2
Aku Akan Merindukanmu
“Oh, iya.
Terimakasih Bu.” Kata Pak Andi. Mereka berdua pun mulai berjalan diantara
mereka, menatap mereka satu persatu. Tiba-tiba saja mereka menghentikan
langkah. Mereka menatap satu anak yang mereka pikir cocok untuk dijadikan anak
mereka.
“Boleh aku tau
siapa namamu?” Tanya Bu Iis pada anak itu.
“Namaku?
Namaku……..”
“Iya, siapa
namamu sayang?” Tanya Bu Iis sambil berjongkok di depan gadis itu.
“Namaku Winda.”
“Winda, nama
yang bagus. Berapa usiamu?”
“Usiaku baru 6
tahun.” Jawab anak perempuan itu.
“Sayang,
bukannya kita akan mengangkat anak laki-laki?” Bisik Pak Andi pada istrinya.
“Apa tidak bisa
di ganti dengan anak perempuan?”
“Tidak.”
“Ayo lah,
sayang!”
“Sudah lah, ayo
cepat berdiri! Kita cari anak laki-laki.” Kata Pak Andi dengan tegas. Segera
lah berdiri istrinya itu, ekspresi yang agak kesal terlihat dari wajahnya.
‘Selamat….selamat…..
jika diadopsi sekarang, aku tidak siap.’ Gumam gadis itu sambil mengelah nafas
lega. ‘Tapi, siapa anak laki-laki yang mereka maksudkan?’ tanda Tanya besar
sekarang ada dalam kepala gadis itu. Gadis itu terus memperhatikan kemana arah
sepasang suami istri itu melangkah. Dan perempuan berbaju rapi itu kembali
berjongkok di depan salah satu anak laki-laki.
“Hey tampan,
siapa namamu?”
“Namaku Dipa,
bu.”
“Berapa
usiamu?”
“Usiaku 8
tahun.”
“Hey nak, apa
kau suka bermain bola? Kami punya lapangan luas di sana?” Tanya Pak Andi pada
Dipa.
“Ya, aku suka.
Seberapa luas, apa seluas taman di panti ini?”
“Lebih luas
dari itu, kita bisa bermain bola bersama di sana.”
“Apa
saudara-saudaraku juga boleh ikut?”
“Kau punya
saudara di sini?” Tanya bu Iis.
“Ya, tentu saja
punya. Kami disini semuanya adalah saudara. Benarkan Bunda?” kata anak
laki-laki berbaju oranye itu. Bunda Tika hanya mengangguk dan tersenyum.
“Apa kau mau
tinggal bersama kami?” Tanya Bu Iis lagi.
“Tinggal
bersama kalian?”
“Iya benar.”
“Tapi
sebelumnya aku ingin bertanya. Jika nanti aku tinggal bersama kalian, apa aku
bisa bermain ke sini lagi?”
“Tentu saja
bisa, tempat tinggal kami tidak jauh dari sini.” Jawab Pak Andi.
“Jadi, apa kau
mau tinggal bersama kami?” Tanya Ibu Iis. Tapi Dipa tidak langsung menjawabnya.
Dia hanya melirik teman-temannya, menatap pasangan suami istri itu, melirik
Bunda Tika lalu menatap mereka berdua lagi.
“Maaf, jika
Dipa tinggal bersama kalian apa itu artinya Dipa telah diadopsi?” Tanya Iqbal.
“Itu sudah
pasti.” Jawab Pak Andi.
“Hey, kenapa
kau diam saja? Harusnya kau senang, karena sebentar lagi kau akan punya orang
tua.” Seru Iqbal.
“Apa harus aku meninggalkan
kalian?” Tanya Dipa.
“Bukankah itu
impian kita semua di sini?”
“Jika kau mau,
kami akan membantu mu untuk berkemas.” Kata Yuda.
“Bukan hanya
Yuda yang akan membantumu, tapi kami juga.” Tambah Rona yang berjalan mendekat,
lalu disusul juga oleh Mahmud, Demil, Yogi, dan Dika.
“Apa aku juga
boleh bantu berkemas, Kak?” Tanya Winda sambil berjalan mendekati Dipa juga.
“Terimakasih,
teman-teman.” Dipa tersenyum haru melihat teman sekaligus saudaranya itu
bersedia membantunya sekaligus untuk salam perpisahan.
Beberapa lama
kemudian saatnya perpisahan pun tiba. Mereka bersembilan keluar dari kamar Dipa
dan menuju depan panti bersama dengan Bunda Tika. Sepasang suami istri yang
sedari tadi menunggu di sana sambil minum teh, kini berdiri menyambut calon anggota
keluarga barunya itu.
“Ini bu, pak.
Dipa sudah siap berangkat.” Kata Bunda Tika.
“Ayo sayang,
pamitan dulu sama Bunda Tika dan teman-temanmu!” Seri Bu Iis dengan senyum.
“Bunda, Dipa
pamit dulu ya. Terimakasih, selama ini bunda telah merawatku.” Dipa pun mencium
tangan Bunda Tika.
“Iya,
sama-sama, nanti jika kamu merindukan Bunda dan teman-temanmu, kamu datang saja
ke panti ini. Pintu panti ini terbuka lebar untukmu.”
“Iya Bun.”
Kemudian Dipa berpamitan pada teman-temannya. “Semuanya, terimakasih. Kalian
memang teman-teman yang terbaik.”
“Kita semua ini
saudara kan?” kata Dika
“Jaga dirimu
baik-baik. Kami semua akan merindukanmu.” Kata Yogi sambil menepuk bahunya.
Kemudian mereka semua berangkulan beberapa detik, Bunda Tika yang melihat
mereka berangkulan pun meneteskan air mata haru.
“Pegang
janjimu, kawan!” Seru Demil.
“Itu sudah
pasti.” Kata Dipa.
“Ayo, kita
pulang!” seru ibu baru Dipa. Dipa pun menoleh dan menghampirinya. “Bu kami
pulang dulu.”
“Iya silahkan.”
Bunda Tika pun tersenyum.
“Tid….Tid….”
Pak Andi yang sedari tadi menunggu di mobil, membunyikan klaksonnya. Mereka
berdua pun beranjak menuju mobil bagus itu dan membukakan pintu mobilnya.
Tapi…….
“DIPA……”
terdengar suara anak perempuan dari arah pintu memanggilnya. Dipapun menoleh.
Anak perempuan itupun berlari ke arahnya sambil membawa kotak makanan.
“Ini untuk
bekalmu di jalan.” Kata Ochi sambil memberikan kotak makanan berwarna Pink itu
pada Dipa.
“Apa ini?”
Tanya Dipa, tapi Ochi hanya tersenyum saja.
“Em, dipa?”
“Iya.”
“Aku akan merindukanmu.”
“Aku
juga.”jawab Dipa sambil tersenyum, sekarang wajah Ochi mulai kemerahan. Dia pun
langsung menundukan kepalanya, segera berbalik dan berjalan menuju Bunda Tika.
Dipa dan ibu barunya itu pun naik ke mobilnya. Pak Andi pun kembali membunyikan
kelaksonnya lagi dan mobilnya pun kini melaju. Teman yang dianggapnya saudara,
ibu panti yang dipanggilnya Bunda dan gadis yang memberikan kotak bekal itu pun
melambaikan tangan mereka.
“Dipa, aku akan merindukanmu….” Teriak Ochi.
‘Ya ampun.
Berisik sekali orang aneh ini.’ Gumam Winda sambil menutup telinganya. Ochi
kini masih saja melambaikan tangannya, saat itu juga Dika mendekat padanya.
“Hey, apa yang
kau berikan padanya tadi?” Tanya Dika.
“Nasi goreng
penuh cinta yang aku buat khusus untuk Dipa.” Jawabnya dengan senyum-senyum so
manis itu.
“Lalu, nasi
goreng penuh cinta yang kau buat khusus untukku mana?”
“Buat saja
sendiri.” Kata ochi dengan nada yang sedikit tinggi padanya, dan langsung saja
dia pergi ke kamarnya.
“Aku berani
jamin, nasi goreng buatannya itu pasti tidak enak.” Kata Iqbal.
“Benarkah?”
Tanya Demil.
“Ya, dia benar.
Aku pernah mencuri nasi gorengnya dulu. Tapi pada saat aku mencicipinya,
rasanya asin sekali. Aku berikan saja nasi goreng itu pada kucing piaraan orang
kaya sebelah itu. ” kata Yuda.
“Lalu apa yang
terjadi?” Tanya Rona.
“Kucing orang
kaya itu langsung sekarat.”
“Hahahahahaha, ternyata
aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini.” Kini Dika tertawa dengan
lepas dan diikuti oleh teman-temannya.
Pasti kita
semua penasaran bagaimana dengan nasib Dipa jika dia memakan nasi goreng buatan
Ochi. Kita langsung simak saja kelannjutan ceritanya.
Di pihak lain,
tepatnya di dalam mobil bagus yang batu saja berangkat dari panti. Terlihat
Dipa yang masih memandangi kotak bekal berwarna pink itu.
“Teman-temanmu
itu baik ya.” Kata mamah barunya.
“Iya bu.”
“Ibu?
Sepertinya panggilan Ibu terlalu formal. Bagai mana jika kau memanggilku Mamah,
dan mulai sekarang kau memanggilnya Ayah.” Pinta ibu baru itu, tapi Dipa hanya
menunjukan ekspresi bingung. Kenapa secepat itu dia harus memanggil mereka
dengan pangglilan Mamah dan Ayah.
“Nak, mulai
sekarang kau harus membiasakan diri dengan itu.” Tambah Ayah barunya.
“Iya Ayah, Mah.” Akhirnya dia pun mau memanggil
mereka dengan panggilan yang mereka ingginkan, meskipun dengan suara yang masih
canggung terdengar.
“Hey, boleh ku
tahu apa isi kotak pink itu?” Tanya mamahnya. Dipa pun membuka kotak itu dan
aroma nasi goreng yang bikin ngiler tercium di hidung pasangan ibu dan anak itu. Tapi ada
yang tidak biasa dengan tampilannya, disana terdapat sayuran yang disusun rapi
membentuk sebuah kalimat yang singkat.
“I LOVE U.”
Baca dipa dengan pelan dan dia tersenyum simpul. . Lalu Dipa mengambil sendok
yang berada di tutup kotak itu dan dia pun berniat mencicipinya. Dia mulai
mengambil satu sendok penuh lalu dimasukanlah nasi goreng itu ke mulutnya.
Tapi……..
--- To Be Continued---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar