The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 5
KKAAABUUUUUUUUUUUUR…….!!!!!
“Tak usah
Tapi-tapian, kau mau aku panggilkan temanku yang itu?” lalu Trisana menunujuk
temannya yang berpostur Tinggi besar dan berkulit gelap itu.
“Ti…Tidak kak,,
ampun.”
“Kalau begitu
bayar….! Mana??!!”
‘Bagaimana
ini?????’ gumam gadis itu, kini dia sedang mencari cara untuk meloloskan diri
darinya.
“Heh, kenapa
kau diam saja. Mana?”
“Em,, kak. Hari
ini jangan bayar dulu ya. Ini kan baru hari pertama. Memangnya kakak tidak
merasa kasihan dengan keadaanku. Aku berangkat dari rumah naik sepeda
sendirian, karena bekalku tidak cukup untuk naik kendaraan umum. Untuk nanti
istirahat saja aku harus berfikir dua kali untuk membeli makanan. Di tambah
sekarang aku harus membayar 2000 di sini. Kakak….. tolong laaaahhhh….” Kata
winda dengn panjang lebar dengan dibumbui dengan ekspresi memelasnya itu.
“Alah, jangan
acting kamu.!”
“Kakak, betapa
kejamnya kau padaku… apa aku harus berlutut dihadapan mu sekarang?” Windapun
mulai berlutut di depan Trisna dengan logat-logat so dramatisnya itu. [hahahaha…. Maaf lebay dikit, gx papa ya.]
“Hey..hey…hey…
apa yang kau lakukan? Cepat berdiri!”
“Kakak… Aku
mohon..!!” kini dia mulai menggenggam celana preman itu.
“Lepaskan
tanganmu!” bentak Trisna sambil menggoyangkan kakinya dengan agak kasar
seolah-olah seperti menendang Winda.
BRUK.
“Aduh….” Winda pun jatuh terduduk di Hadapan
Trisa. Nampaknya di benar-benar kesakitan sampai meringis-ringis.
“Hey,, ada apa
ini.?” Tanya seorang anak laki-laki yang lebih tinggi dari Trisna. Ternyata dia
adalah preman sekolah juga, karena dari tadi dia memalak siswa-siswa yang lewat
sini.
“Ini, anak
baru. Dia tidak mau bayar upeti.” Jawab Trisna.
“Berdiri kau, anak
manja!” kata Ridwan.
‘Apa? Anak
manja katanya??!!’ gumam winda dan diapun berdiri.
“Kenapa kau
tidak mau bayar?”
“Karena aku
tidak mau.”
“Apa kau
bilang, Tidak mau?”
“Iya. Aku tidak
mau.” Tegas Winda
“Oh, jadi kau
tidak mau bayar upeti disini? Kau tidak tau siapa aku, HAAH?” Kini Ridwan pun
mulai berteriak.
“Tidak.” Kata
Winda sambil menggelengkan kepalanya. “Memangnnya kakak ini siapa?” Tanya gadis
itu dengan polos.
“Kau…” Anak
laki-laki itupun mulai maju dan mengangkat tangannya seperti akan menampar, tapi
untung saja Trisna mencegahnya. Kali ini ekspesi takut pada wajah Winda sudah
tidak bisa ditutup-tutupi lagi.
“Hentikan! Dia
hanya anak peremuan. Mau ditaruh di mana muka kita jika kau menampar anak
peremuan?” Bisik Trisna.
“Kau,… kali ini
kau benar-benar beruntung.” Kata Ridwan sambil menunjuk-nunjuk Winda.
“Sudah biar aku
saja yang hadapi dia.” Kata Trisna pada Ridwan. “Hey kau, kau benar-benar tidak
mau bayar? Baik berarti kau yang minta.” Kemudian diapun berteriak pada
seseorang yang berkulit gelap itu. “HEY WISNU, ADA JATAH UNTUKMU!”
‘Ya Tuhan…
tolong aku..’ Gadis itupun mulai merasa panik. Kini orang berkulit gelap itupun
mulai berjalan mendekati mereka dengan baju yang benar-benar semerawut,
ditambah lagi dengan kalung seperti rantai pada lehernya.
“Mana
bagianku?” Tanya Wisnu.
“Dia.” Jawab
Trisna.
“Dia? Hahaha
hanya seorang anak perempuan saja kalian tidak bisa.”
“Dia keras
kepala sekali.”
“Baiklah kalau
begitu. Kau, kau anak baru kan? kalau kau ingin lewat sini, kau harus bayar
dulu.!”
“Tapi kak, saya
tidak punya untuk membayarnya.”
“jangan bohong
kau, memangnya aku ini bisa tertipu oleh wajah polos mu itu?”
“Tapi kak..”
“Tak ada
tapi-tapian, ayo cepat bayar!”Preman sekolah berbadan besar itupun
menengadahkan tangannya. Tapi sepertinya gadis itu sedikit tidak menghiraukan
kata-katanya. Dia terus saja menatap ke arah belakang ke tiga preman sekolah
itu sambil sesekali menatap mereka.
“Hey,, kau
dengar tidak.?” Tanya Ridwan.
“Pak kepala
sekolah,, selamat pagi..” kata Winda sambil tersenyum. Serentak mereka bertiga pun
kaget dengan kata-kata yang diucapkan Winda. Lalu mereka segera menengok ke arah
belakang mereka. Tapi…..
“KKAAABUUUUUUUUUUUUR…….!!!!!”
Teriak winda sambil berlari terbirit-birit dari sana.
“Hey, jangan
lari kau.!!” Kata Trisna dan mereka bertiga pun mulai mengejar Winda yang sudah
lumayan jauh di depan. Winda pun terus berlari sekencang-kencangnya, tapi….
BRUK…!
“Aduh..”
windapun terjatuh karena menabrak seseorang.
“Kau tidak
apa-apa? Winda?” Tanya orang itu.
“Kak Yuda?”
Kini Winda pun kaget, ternyata salah satu kakaknya bersekolah di sekolah yang
sama. Yuda pun segera mambangunkannya.
“Winda, kenapa
kau berlari-lari seperi itu?”
“I-Itu.. mereka
mengejarku. Tadi mereka memaksaku untuk membayar upeti.”
“Apa?” Tanya
Yuda seakan tidak percaya. Tak lama, ketiga preman sekolah itupun berhenti
berlari dan mendekati mereka berdua. “Apa yang kalian lakukan padanya?”
“Bukan
urusanmu, aku berurusan dengan anak ini.” Kata Ridwan sambil menarik tangan
Winda. Kini Winda pun meronta-ronta melepaskan tangan Ridwan.
“Lepaskan
tanganmu!” kata yuda sambil melepaskan tangan mereka, kini Winda bersembunyi di
belakan Yuda.
“Oh, kau ingin
jadi pahlawan ya? Kita lihat, siapa yang akan menang di sini? Satu lawan tiga
orang.” Kata Trisna.
“Aku rasa empat
orang akan lebih unggul dari pada tiga orang.” Kata Rona, ternyata Rona tidak
sendiri. Dia saat ini bersama Iqbal dan Dipa.
“Kau, aku kira
kau temanku.” Kata Wisnu.
“Ya, aku memang
temamu. Tapi, kali ini kau telah mengganggu adikku.”
“Baiklah kalau
begitu, sepertinya tiga lawan empat juga tidak papa.” Kata Wisnu dengan Sok
enteng.
“Tunggu, aku
rasa sekarang jadi tujuh lawan tiga.” Kata Demil yang ditemani Dika dan Mahmud.
Kini tujuh laki-laki bersaudara itu berjejer di hadapan tiga preman sekolah.
Mereka yang tadinya bernyali seperti macan kini mulai menciut, karena mustahil
bila tiga melawan tujuh orang sekali gus.
“Wisnu,
sepertinya kita kalah jumlah. Sebaiknya kita mundur saja!” Bisik Trisna.
“Alah… aku
tidak peduli.”
“Jangan
gegabah. Kali ini kita akan kalah.” Sekarang giliran Riwan yang berbisik. “Ayo
cepat kita pergi saja dari sini.” Lalu diapun menyeret yangan Wisnu.
“Diam kau, Hey,
awas kalian. Kali ini kalian menang.” Kata Wisnu sambil menujuk-nujuk mereka,
kemudian Trisna menyeret tangan Wisnu untuk menjauh dari mereka.
“Sudah diam,
sebaiknya pelankan suaramu. Sepertinya kita di awasi satpam itu.” Kata Trisna.
“AWAS KAU!!”
Teriak Ridwan.
“Hey, kau juga.
Lihat, satpam itu sedang mengawasi kita!”
“Maaf.” Dan
merekapun pergi dari sana.
Sementara itu
delapan sekawan ini sekarang mulai bernafas lega setelah mereka pergi.
Benar-benar tak di sangka, ternyata saudara mereka yang paling muda ini juga
bersekolah di sini.
“Kau tidak
apa-apa kan?” Tanya Dika.
“Tidak, aku
tidak apa-apa.” Jawab Winda.
“Syukurlah
kalau begitu.”
“Tapi kenapa
kau bisa berurusan dengan mereka?” Tanya Iqbal.
“Tadi mereka
memaksaku membayar upeti karena lewat gerbang belakang.”
“Sebaiknya kau
jangan lagi melewati gerbang belakang itu, karena mereka setiap hari selalu ada
di sana.” Kata Demil.
“Iya kak. Besok
aku akan lewat gerbang depan saja.”
“Oh, iya. Ron,
bukannya mereka teman-temanmu kan?” Tanya Mahmud.
“Ya, benar.
Mereka teman sekelas ku.” Jawab Rona
“Aku rasa, di
kau harus hati-hati de kelas.”
“Benar, pasti
mereka akan menjadikanmu sasaran empuk. Apa lagi kau tidak sekelas dengan salah
satu diantara kami.” Kata Dipa.
“Ya, aku akan
berhati-hati.”
“Em maaf, aku
rasa kita harus menghentikan diskusi ini sekarang. Karena sebentar lagi bel
masuk berbunyi.” Kata Yuda sambil melihat jam tangannya.
“Ya sudah, kita
kembali ke kelas. Oh iya, Wind kelasmu di mana?” Tanya Iqbal. Lalu mereka semua
kembali ke kelas mereka masing-masing, disana hanya ada Winda, Iqbal dan Dipa.
“Tidak tahu,
jusrtu aku akan mencarinya sekarang.” Jawab winda.
“Oh, memangnya
kau kelas X berapa?”
“X-1”
“X-1, kelas itu
bersebelahan dengan kelas ku dan Dipa. Kau mau aku antar.?”
“Iya, memangnya
kakak kelas berapa?”
“XII-3. Ayo
cepat!”
“Oh, begitu
ya.” Kata gadis itu. Lalu merekapun pergi ke kelas Winda dan beberapa saat kemudian
mereka telah sampai di depan kelasnya.
“Nah ini
kelasmu.” Kata Dipa yang kini berdiri di dekat pintu kelas.
“Em, iya. Lalu
kelas kakak di mana?” Tanya Winda.
“Ini, tepat di
depan kelasmu.” Ternyata kelas mereka bersebrangan. “Aku masuk ke kelusku dulu
ya.”
“Iya.”
“Hey Iqbal, ayo
masuk!”
“Kau duluan
saja. Aku mau mengobrol lagi sebentar.” Kata iqbal.
“Ya sudah.”
Lalu Dipa pun masuk ke kelasnya.
“Hey Wind,
sekarang kau sudah besar ya?” Tanya Iqbal.
“Memangnnya
kenapa? Apa aku tidak boleh besar?”
“Hahaha.. kau
ini, bukan begitu.”
“Lalu
bagaimana?”
“Ya… bagaimana
ya? Rasanya sudah lama saja tidak bertemu denganmu.”
“Oh, begitu.
Kakak, kau tidak masuk ke kelas mu?” tapi ternyata orang yang diajaknya bicara
itu sedang memperhatikan seseorang yang ada di belaknganya. “Hey kakak, kau
dengar aku tidak?” Tanya Winda.
“Oh.. Iya. Apa
yang kau bilang barusan?” kini Iqbal memperhatikan lagi orang yang berada di
belakang Winda.
“Kau ini sedang
memperhatikan siapa sih?” lalu Winda menengok ke belakannya, dia hanya lihat
murid-murid sebayanya yang duduk di kursi mereka.
“Kau sekelas
dengannya?”
“Dengan siapa?”
---To Be Continued---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar