Rabu, 26 Juni 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 5"



The Shop Nine-Tailed Fox

Chapter 5
KKAAABUUUUUUUUUUUUR…….!!!!!

“Tak usah Tapi-tapian, kau mau aku panggilkan temanku yang itu?” lalu Trisana menunujuk temannya yang berpostur Tinggi besar dan berkulit gelap itu.
“Ti…Tidak kak,, ampun.”
“Kalau begitu bayar….! Mana??!!”
‘Bagaimana ini?????’ gumam gadis itu, kini dia sedang mencari cara untuk meloloskan diri darinya.
“Heh, kenapa kau diam saja. Mana?”
“Em,, kak. Hari ini jangan bayar dulu ya. Ini kan baru hari pertama. Memangnya kakak tidak merasa kasihan dengan keadaanku. Aku berangkat dari rumah naik sepeda sendirian, karena bekalku tidak cukup untuk naik kendaraan umum. Untuk nanti istirahat saja aku harus berfikir dua kali untuk membeli makanan. Di tambah sekarang aku harus membayar 2000 di sini. Kakak….. tolong laaaahhhh….” Kata winda dengn panjang lebar dengan dibumbui dengan ekspresi memelasnya itu.
“Alah, jangan acting kamu.!”
“Kakak, betapa kejamnya kau padaku… apa aku harus berlutut dihadapan mu sekarang?” Windapun mulai berlutut di depan Trisna dengan logat-logat so dramatisnya itu. [hahahaha…. Maaf lebay dikit, gx papa ya.]
“Hey..hey…hey… apa yang kau lakukan? Cepat berdiri!”
“Kakak… Aku mohon..!!” kini dia mulai menggenggam celana preman itu.
“Lepaskan tanganmu!” bentak Trisna sambil menggoyangkan kakinya dengan agak kasar seolah-olah seperti menendang Winda.
BRUK.
 “Aduh….” Winda pun jatuh terduduk di Hadapan Trisa. Nampaknya di benar-benar kesakitan sampai meringis-ringis.
“Hey,, ada apa ini.?” Tanya seorang anak laki-laki yang lebih tinggi dari Trisna. Ternyata dia adalah preman sekolah juga, karena dari tadi dia memalak siswa-siswa yang lewat sini.
“Ini, anak baru. Dia tidak mau bayar upeti.” Jawab Trisna.
“Berdiri kau, anak manja!” kata Ridwan.
‘Apa? Anak manja katanya??!!’ gumam winda dan diapun berdiri.
“Kenapa kau tidak mau bayar?”
“Karena aku tidak mau.”
“Apa kau bilang, Tidak mau?”
“Iya. Aku tidak mau.” Tegas Winda
“Oh, jadi kau tidak mau bayar upeti disini? Kau tidak tau siapa aku, HAAH?” Kini Ridwan pun mulai berteriak.
“Tidak.” Kata Winda sambil menggelengkan kepalanya. “Memangnnya kakak ini siapa?” Tanya gadis itu dengan polos.
“Kau…” Anak laki-laki itupun mulai maju dan mengangkat tangannya seperti akan menampar, tapi untung saja Trisna mencegahnya. Kali ini ekspesi takut pada wajah Winda sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi.
“Hentikan! Dia hanya anak peremuan. Mau ditaruh di mana muka kita jika kau menampar anak peremuan?” Bisik Trisna.
“Kau,… kali ini kau benar-benar beruntung.” Kata Ridwan sambil menunjuk-nunjuk Winda.
“Sudah biar aku saja yang hadapi dia.” Kata Trisna pada Ridwan. “Hey kau, kau benar-benar tidak mau bayar? Baik berarti kau yang minta.” Kemudian diapun berteriak pada seseorang yang berkulit gelap itu. “HEY WISNU, ADA JATAH UNTUKMU!”
‘Ya Tuhan… tolong aku..’ Gadis itupun mulai merasa panik. Kini orang berkulit gelap itupun mulai berjalan mendekati mereka dengan baju yang benar-benar semerawut, ditambah lagi dengan kalung seperti rantai pada lehernya.
“Mana bagianku?” Tanya Wisnu.
“Dia.” Jawab Trisna.
“Dia? Hahaha hanya seorang anak perempuan saja kalian tidak bisa.”
“Dia keras kepala sekali.”
“Baiklah kalau begitu. Kau, kau anak baru kan? kalau kau ingin lewat sini, kau harus bayar dulu.!”
“Tapi kak, saya tidak punya untuk membayarnya.”
“jangan bohong kau, memangnya aku ini bisa tertipu oleh wajah polos mu itu?”
“Tapi kak..”
“Tak ada tapi-tapian, ayo cepat bayar!”Preman sekolah berbadan besar itupun menengadahkan tangannya. Tapi sepertinya gadis itu sedikit tidak menghiraukan kata-katanya. Dia terus saja menatap ke arah belakang ke tiga preman sekolah itu sambil sesekali menatap mereka.
“Hey,, kau dengar tidak.?” Tanya Ridwan.
“Pak kepala sekolah,, selamat pagi..” kata Winda sambil tersenyum. Serentak mereka bertiga pun kaget dengan kata-kata yang diucapkan Winda. Lalu mereka segera menengok ke arah belakang mereka. Tapi…..
“KKAAABUUUUUUUUUUUUR…….!!!!!” Teriak winda sambil berlari terbirit-birit dari sana.
“Hey, jangan lari kau.!!” Kata Trisna dan mereka bertiga pun mulai mengejar Winda yang sudah lumayan jauh di depan. Winda pun terus berlari sekencang-kencangnya, tapi….
BRUK…!
“Aduh..” windapun terjatuh karena menabrak seseorang.
“Kau tidak apa-apa? Winda?” Tanya orang itu.
“Kak Yuda?” Kini Winda pun kaget, ternyata salah satu kakaknya bersekolah di sekolah yang sama. Yuda pun segera mambangunkannya.
“Winda, kenapa kau berlari-lari seperi itu?”
“I-Itu.. mereka mengejarku. Tadi mereka memaksaku untuk membayar upeti.”
“Apa?” Tanya Yuda seakan tidak percaya. Tak lama, ketiga preman sekolah itupun berhenti berlari dan mendekati mereka berdua. “Apa yang kalian lakukan padanya?”
“Bukan urusanmu, aku berurusan dengan anak ini.” Kata Ridwan sambil menarik tangan Winda. Kini Winda pun meronta-ronta melepaskan tangan Ridwan.
“Lepaskan tanganmu!” kata yuda sambil melepaskan tangan mereka, kini Winda bersembunyi di belakan Yuda.
“Oh, kau ingin jadi pahlawan ya? Kita lihat, siapa yang akan menang di sini? Satu lawan tiga orang.” Kata Trisna.
“Aku rasa empat orang akan lebih unggul dari pada tiga orang.” Kata Rona, ternyata Rona tidak sendiri. Dia saat ini bersama Iqbal dan Dipa.
“Kau, aku kira kau temanku.” Kata Wisnu.
“Ya, aku memang temamu. Tapi, kali ini kau telah mengganggu adikku.”
“Baiklah kalau begitu, sepertinya tiga lawan empat juga tidak papa.” Kata Wisnu dengan Sok enteng.
“Tunggu, aku rasa sekarang jadi tujuh lawan tiga.” Kata Demil yang ditemani Dika dan Mahmud. Kini tujuh laki-laki bersaudara itu berjejer di hadapan tiga preman sekolah. Mereka yang tadinya bernyali seperti macan kini mulai menciut, karena mustahil bila tiga melawan tujuh orang sekali gus.
“Wisnu, sepertinya kita kalah jumlah. Sebaiknya kita mundur saja!” Bisik Trisna.
“Alah… aku tidak peduli.”
“Jangan gegabah. Kali ini kita akan kalah.” Sekarang giliran Riwan yang berbisik. “Ayo cepat kita pergi saja dari sini.” Lalu diapun menyeret yangan Wisnu.
“Diam kau, Hey, awas kalian. Kali ini kalian menang.” Kata Wisnu sambil menujuk-nujuk mereka, kemudian Trisna menyeret tangan Wisnu untuk menjauh dari mereka.
“Sudah diam, sebaiknya pelankan suaramu. Sepertinya kita di awasi satpam itu.” Kata Trisna.
“AWAS KAU!!” Teriak Ridwan.
“Hey, kau juga. Lihat, satpam itu sedang mengawasi kita!”
“Maaf.” Dan merekapun pergi dari sana.
Sementara itu delapan sekawan ini sekarang mulai bernafas lega setelah mereka pergi. Benar-benar tak di sangka, ternyata saudara mereka yang paling muda ini juga bersekolah di sini.
“Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Dika.
“Tidak, aku tidak apa-apa.” Jawab Winda.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Tapi kenapa kau bisa berurusan dengan mereka?” Tanya Iqbal.
“Tadi mereka memaksaku membayar upeti karena lewat gerbang belakang.”
“Sebaiknya kau jangan lagi melewati gerbang belakang itu, karena mereka setiap hari selalu ada di sana.” Kata Demil.
“Iya kak. Besok aku akan lewat gerbang depan saja.”
“Oh, iya. Ron, bukannya mereka teman-temanmu kan?” Tanya Mahmud.
“Ya, benar. Mereka teman sekelas ku.” Jawab Rona
“Aku rasa, di kau harus hati-hati de kelas.”
“Benar, pasti mereka akan menjadikanmu sasaran empuk. Apa lagi kau tidak sekelas dengan salah satu diantara kami.” Kata Dipa.
“Ya, aku akan berhati-hati.”
“Em maaf, aku rasa kita harus menghentikan diskusi ini sekarang. Karena sebentar lagi bel masuk berbunyi.” Kata Yuda sambil melihat jam tangannya.
“Ya sudah, kita kembali ke kelas. Oh iya, Wind kelasmu di mana?” Tanya Iqbal. Lalu mereka semua kembali ke kelas mereka masing-masing, disana hanya ada Winda, Iqbal dan Dipa.
“Tidak tahu, jusrtu aku akan mencarinya sekarang.” Jawab winda.
“Oh, memangnya kau kelas X berapa?”
“X-1”
“X-1, kelas itu bersebelahan dengan kelas ku dan Dipa. Kau mau aku antar.?”
“Iya, memangnya kakak kelas berapa?”
“XII-3. Ayo cepat!”
“Oh, begitu ya.” Kata gadis itu. Lalu merekapun pergi ke kelas Winda dan beberapa saat kemudian mereka telah sampai di depan kelasnya.
“Nah ini kelasmu.” Kata Dipa yang kini berdiri di dekat pintu kelas.
“Em, iya. Lalu kelas kakak di mana?” Tanya Winda.
“Ini, tepat di depan kelasmu.” Ternyata kelas mereka bersebrangan. “Aku masuk ke kelusku dulu ya.”
“Iya.”
“Hey Iqbal, ayo masuk!”
“Kau duluan saja. Aku mau mengobrol lagi sebentar.” Kata iqbal.
“Ya sudah.” Lalu Dipa pun masuk ke kelasnya.
“Hey Wind, sekarang kau sudah besar ya?” Tanya Iqbal.
“Memangnnya kenapa? Apa aku tidak boleh besar?”
“Hahaha.. kau ini, bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
“Ya… bagaimana ya? Rasanya sudah lama saja tidak bertemu denganmu.”
“Oh, begitu. Kakak, kau tidak masuk ke kelas mu?” tapi ternyata orang yang diajaknya bicara itu sedang memperhatikan seseorang yang ada di belaknganya. “Hey kakak, kau dengar aku tidak?” Tanya Winda.
“Oh.. Iya. Apa yang kau bilang barusan?” kini Iqbal memperhatikan lagi orang yang berada di belakang Winda.
“Kau ini sedang memperhatikan siapa sih?” lalu Winda menengok ke belakannya, dia hanya lihat murid-murid sebayanya yang duduk di kursi mereka.
“Kau sekelas dengannya?”
“Dengan siapa?”



---To Be Continued---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar