The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 4
AKU BENAR-BENAR MINTA
MAAF
“KRIIIIIIIIIIING……
KRIIIIIIING…….” Tiba-tiba saja ponselnya berdering, tapi entah siapa yang
menelponya, karena tidak tercantum namanya.
“Halo.” Kata
Rona yang mengangkat telphonnya.
“Halo, apa bisa
bicara dengan Rona?” terdengar suara yang tak asing lagi dari telpon itu.
“Ya, saya
sendiri. Maaf, kau siapa?”
“Ini aku..”
“Aku siapa?”
“Aku…….”
“…………………”
Rupanya Rona agak kesal dengan si penelpon yang dari tadi hanya bicara aku….
Aku saja.
“Ya…. Ya…
baiklah Kakak toko buku, ini aku Tria.”
“Tria? Hey apa
maksudmu Kakak toko buku.?”
“hehehehehe.”
“Ada perlu
apa?”
“Aku ingin
menukarkan buku yang aku beli kemarin sore. Rupanya aku salah beli, apa bisa?”
“Bisa, tapi….
kenapa kau menelpon ku? Harusnya kan kau langsung saja datang ke toko.”
“A-anu… begini…
a-aku hanya takut setelah datang ke sana ternyata tidak bisa di tukar. Hehehe”
Suaranya kini mulai gemetar.
“Tentu bisa,
asal kemasannya tidak rusak.”
“Tidak…
kemasannya belum aku buka kok..”
“Oh,, ya bagus
kalau begitu. Em… aku mau Tanya, kau tau dari mana nomor ku??”
“Mati aku…”
sambil memukul jidatnya.
“Mati?”
“Bukan…..
bukan…. Maksudku, aku mendapatkannya dari nota pembayaran buku ini.”
“Oh… begitu.
Benarkah, rasanya…..” kata-katanya terpotong.
“Em..baiklah
kakak, nanti sore aku akan ke tokomu ya…. Sampai jumpa nanti sore.”
“tuuuut….tuuuuu.” nampaknya Tria sudah mematikan telponnya lebih dulu.
“Gadis yang
rempong.” Ucap laki-laki yang usianya baru genap 14 tahun itu.
Ya, begitulah
rupanya reaksi seorang laki-laki yang terbilang cuek. Pasti kita bertanya,
siapa sih Tria dan kenapa Rona disebut kakak toko buku? Kita mulai satu
persatu. Tria adalah gadis yang selalu memperhatikan gerak-gerik Rona di
sekolahnya. Mereka sekolah di SMP yang sama. Jadi yang tadi itu adalah modus
kecilnya, tapi berhasil kan?. Sebenarnya nomor Rona dia dapatkan dari teman
sekelas Rona.
Rona kini telah
diadopsi oleh sepasang suami istri yang mempunyai sebuah toko buku yang cukup
terpandang di kota ini, mereka mengadopsinya karena mereka membutuhkan sang
ahli waris untuk meneruskan usahanya. Rona dipilih karena dia sangat gemar
sekali membaca dan merawat buku, baik komik, novel ataupun pengetahuan umum dia
sangat suka. Setiap sore dia selalu mengganti ayahnya menjaga toko. Benar-benar
anak yang beruntung.
Di kamar Tira.
“Selamat….
Selamat.” Kata Tria sambil mengelah nafas.
“Bagaimana?”
Tanya Silvi yang sedari tadi berusaha menguping pembicaraan mereka.
“Em…. Kita
berhasil. Hahahaha” kini Tria sambil menari-nari gaje.
“Lalu apa
langkah selanjutnya?”
“Nanti sore
kita ke tokonya. Kau mau ikut?”
“Tentu. Emmmmm
tapi…. Sepertinya tidak bisa hehe.. maaf ya.”
“Kau ini. Ternyata
buku ini berhasil juga ya untuk langkah yang ke 2. Haha” dia pun menunjukan
buku berwarna pink itu pada Silvi sambil melabai-lambai seperti Putri Indonesia.
“APA? 9 LANGKAH
UNTUK MENDAPATKAN PERHATIAN DIA???? Ya ampun,, kau dapat dari mana buku itu?”
“Dari
perpustakaan sekolah.”
“ Sini aku
pinjam, ternyata di perpustakaan sekolah ada juga buku yang seperti ini.” Lalu
dia mulai membuka lembaran halaman ke-1 buku itu. Diapun mulai membaca satu
demi satu petunjuk yang tertulis disana dan menganguk-anggukan kepalanya. “Em..
cukup menarik juga untuk seumuran kita.”
“Memangnya kau
mengeri?”
“Tidak..”
“Ya ampun… lalu
tadi kau baca apa?”
“Baca otakmu
yang penuh dengan kakak toko buku mu itu. Tentu saja aku mengerti.” Kata Silvi
sambil menunjuk-nujuk kepala Tria. “Pantas saja akhir-akhir ini kau bertingkah
sedikit aneh di sekolah, kau mencoba langkah yang pertama ‘Sapa lah dan berikan
senyumanmu pada orang yang kau sukai.’ Ya, cukup berhasil juga saat kau sapa di
sekolah dia tersenyum padamu. Padahal dia adalah orang yang cuek sekali, kau
memang beruntung. Lalu yang ke dua ‘buatlah kau mengobrol denganya walaupun sebentar.
Jika obrolan itu terjadi singkat, buatlah semacam janji agar kalian bisa lebih
lama mengobrol dan menjadi lebih dekat.’ Menarik kau hampir berhasil. Lalu yang
ke tiga…..”
“Sudah…. Sudah
cukup, yang ke tiga kau baca saja nanti. Sekarang kau bantu aku memilih baju
yang cocok untuk nanti sore. Aku ingin terlihat cantik di depannya.”
“Ya.. baiklah.
Mau menukarkan buku saja harus repot-repot memilih baju.”
“Hey.. aku bisa
mendengar apa yang kau bilang barusan.” Kata Tria yang kini suaranya terdengar
sedikit kesal.
“Iya… iya maaf.
Aku bantu kau memilih baju.”
Di toko buku,
terlihat seorang pria paruh baya yang dari tadi terus melirik jam di niding.
Nampaknya sudah jam 3 sore, tapi orang yang dia tunggu belum kunjung datang.
‘Kemana anak
itu, biasanya jam segini dia sudah ada.’ Gumam bapak pemilik toko.
“cklek…
brug…”terdengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang.
“Maaf Yah, aku
terlambat hari ini.” Kata Rona.
“Memangnya kau
dari mana?”
“Tadi ibu
menyuruhku untuk mengantar pesanan kue.”
“Em…. Ibu mu
itu rupanya keras kepala sekali. Sudah ku bilang satu minggu ini dia harus
istrahat, masih saja memikirkan pesanan kue. Ya sudah, kau simpan dulu jaketmu
itu, dan segera gantikan Ayah menjaga toko ini!”
“Baik Yah.”
Lalu Rona pun segera menaruh jaketnya itu ke belakang kasir dan segera berdiri
di samping Ayahnya.
“Ya sudah, Ayah
akan pulang dan menengok ibumu di rumah. Kau jaga toko ini baik-baik.”
“Iya, Yah.”
“Oh, satu hal
lagi. Jika kau lapar, ayah telah menyiapkan mie ramen kesukaanmu di dalam laci.
Nanti kau tinggal menyeduhnya dengan air panas.”
“Iya,
terimakasih.” Kata Rona dengan senyum. Pria seterngah baya itupun keluar dari
toko dan Rona segera duduk di kursi kasir itu. Lalu dia menatap jam yang ada di
samping kirinya. “Baru jam 03.15.” lalu dia mengeluarkan sesuatu dari tas yang
dia simpan di bawah meja kasir. ‘mungkin lebih baik aku teruskan saja.’
Gumamnya sambil membuka buku berwarna abu-abu itu dan dia membacanya dengan
wajah serius.
Beberapa saat
kemudian.
“Cklek brug.”
Nampaknya ada orang yang masuk ke dalam toko, langkah kakinya terdengar mendekat
ke arah meja kasir.
“Selamat sore.”
Ucap orang itu, Rona yang dari tadi asik itu kini dia menurunkan bukunya dan
melihat ke arah depan.
“Selamat sore,
ada yang bisa dibantu?”Jawabnya yang sambil memperhatikan gadis berambut sebahu
di hadapannya.
“Em,, anu. Aku
mau menukarkan buku ini.” Kata gadis itu sambil menujukan kantong plastic
berisi buku yang dia pegang.
“Bisa aku
lihat.” Lalu rona mengambilnya dan melihat buku dan bukti pembayarannya. “Baiklah,
kau mau tukar dengan buku apa?”
“Apa di sini
ada buku tentang seni lukis?”
“Tentu ada,
mari aku tunjukan.” Rona pun beranjak dari tempatnya diikuti oleh Tira di
belakanya. “Di sini, disini banyak sekali buku-buku tentang seni lukis. Apa kau
ini baru belajar melukis?”
“Iya, kebetulan
aku diberi tugas melukis kemarin.”
“Oh, begitu.”
Lalu diambillah salah satu buku dari rak itu. “Apa buku ini yang kau maksud?”
“Iya, benar.”
Gadis itupun mengamgbil bukunya dari tangan rona dan melihatnya dengan seksama.
“Oh iya, apa aku boleh membacanya di sini?”
“Tentu boleh,
tapi kau harus membayarnya dulu.”
“Begitu ya, ya
sudah aku beli yang ini saja.” kata gadis itu dan mereka pun pergi ke meja
kasir.
“Harganya
20.000 rupiah.”
“Iya.” Diapun
memberikan sejumlah uang yang diminta Rona, tanpa sengaja dia melirik buku
berwarna abu-abu itu. “Biarlah Aku Menunggumu di Surga.”
“Apa?”
“A-anu, itu
bukumu.”
“Oh.”
“Kak, kau suka
baca buku ya?”
“Ya begitulah.
Kalau tidak suka, mana mungkin aku ada di sini.”
“Begitu ya,
sepertinya menarik. Boleh aku tahu siapa isinya?”
“Ya, buku itu
menceritakan sepasang kekasih, dimana sang gadis mengidap penyakit berat.
Karena kesetiaan kekasihnya yang membuat gadis itu bahagia di saat-saat
terakhir, gadis itupun pergi dengan wajah yang tersenyum.”
“Aku kira anak
laki-laki hanya suka artikel olahraga saja.”
“Tidak.” Kata
Rona sambil tersenyum dan sukses membuat pipi Tria memerah. “Pipimu kenapa?”
“Tidak, tidak
papa.”
“Ini bukumu.”
Kata rona sambil menyerahkan buku itu pada Tria. “Oh iya, dua hari yang lalu
kau meminjam buku di perpustakaan sekolah kan?”
“Buku yang
mana?” kini Tria berlaga seperti orang yang pikun. ‘Gawat apa dia tahu?’
gumamnya.
“Kau pura-pura
lupa ya? Apa aku harus menyebutkan judulnya?” kini senyum yang dilihat gadis
itu berubah menjadi tatapan yang sedikit menakutkan baginya.
“Apa
maksudnya?”
“Kau
mempraktekan apa yang dituliskan dalam buku itu, kan?”
“…………….” Kini
persaannya mulai harap-harap cemas.
“Dengar, aku
tidak mau jadi kelinci percobaan dalam buku itu.”
“Maaf, tapi aku
tidak….”
“Hentikan semua
ini!” nada yang sedikit tinggi ini membuat matanya mulai berair.
“A-apa”
“Aku bilang
hentikan semua omong kosong ini. Aku tau, semua orang yang membaca buku itu
akan mencari orang untuk dijadikan percobaan. Tapi aku tidak mau bernasib sama
dengan orang-orang itu. Kini mereka ditinggalkan begitu saja.”
“Kak, dengar
aku tidak sama dengan pembaca-pembaca lain. Aku hanya ingin menunjukan
perasaanku saja.”
“Perasaan?”
“Ya, benar. Aku
menyukaimu, AKU BENAR-BENAR MENYUKAIMU KAK.” Teriak Tria, untung saja di sana
hanya ada 1 pelanggan yang sedang membaca sambil mendengarkan music dari
earphonnya. Kini Tria sukses membuat
Rona tercengan dengan ucapannya dan pipi gadis itu kini telah basa dengan air
mata.
“Apa maksudmu?”
“Aku, aku
menyukaimu dari pertama kali kita bertemu di koridor sekolah. Dan buku itu
gunakan sebagai caraku mengutarakan perasaanku. Aku tak tahu harus bagaimana,
karena hatiku selalu tidak tenang.”
“Lalu apa yang
membuat hatimu tenang?”
“Kau
mengetahuinya pun itu sudah cukup.”
“Sekarang aku
sudah mengetahuinya, lalu apa?”
“……..” gadis
itu terdiam mendengar kata-kata yang dirasanya tidak berperasaan itu.
“Lagi pula ini
bukan waktu yang tepat untukku, aku masih terlalu muda untuk ini semua.
Sebaiknya kau simpan saja perasaanmu itu.!” [adaw kejam bangetzzsz!!!]
“Ya, kakak
memang benar.” Gadis itupun tertawa kecil sambil mengusap air matanya. “Aku
benar-benar minta maaf.” Gadis itupun pergi sambil membawa buku yang tadi dia
beli. Dia tak henti-hentinya mengusap air matanya itu.
“SIAL, apa yang
aku lakukan? Aku membuatnya menangis.” Ucap rona, lalu dia pun duduk di kursi
kasir sambil memegang dan menundukan kepalanya. ‘Ya Tuhan, apa yang harus aku
lakukan.
Flashback
Di lapangan
sekolah, terlihat beberapa anak sedang duduk berselonjor ria di bawah pohon
beringin itu. Mereka tampak kelelahan sehabis bermain sepak bola barusan.
[pohon beringin…. Jadi inget waktu SMP].
“Apa ada yang
membawa air minum?” Tanya Wisnu dengan nafas yang terengah-engah.
“Ya, aku bawa.
Sebentar….” Lalu Rona beranjak dari sana. Dia berjalan menuju ruang kelas yang
lumayan jauh karena harus melewati koridor lantai 1 itu.
Dipihak lain,
nampaknya di koridor ini selalu dijadikan tongkrongan bagi murid perempuan
kelas VIII. Tak lama ada murid kelas VII yang melewati tempat itu dengan
terburu-buru.
“PLOK….PLOK…PLOK….”
Suara langkah kaki gadis itu dengan terburu-buru. ‘Ya ampun. Lagi-lagi mereka,
sebaiknya aku jangan hiraukan saja.’ Gumam gadis itu. Tapi kini usahanya
sia-sia. Satu dari tiga murid kelas VIII itu bangu dan menghalangi jalannya.
“Eeet,
berhenti! Mau ke mana kau berlari-lari seperti itu?” Tanya Anisa.
“Kau tidak
lihat apa ada orang di sini?” Mila pun berdiri dan berjalan mendekati mereka.
“Maaf kak, saya
sedang teburu-buru.” Jawab Tria.
“Oh, sedang
terburu-buru? Sini kau!” Latifah pun menarik tangan Tria sampai dia terpokok di
pinggir koridor.
“Aduh, kak
ampun. Aku hanya ingin lewat saja.”
“Ou, kau ingin
lewat ya? Makanya kalau kau lewat sini, kau harus lihat-lihat dulu.” Kata Anisa
sambil mendorong kepalanya.
“HEY,
HENTIKAN!” teriak anak laki-laki itu, ternyata dari tadi dia melihat semuanya.
Diapun berjalan mendekati mereka. “Apa yang kalian lakukan?”
“Itu bukan
urusanmu!” kata Mila.
“Tentu saja ini
urusanku, karena kalian telah berurusan dengan anak ini.” Lalu Rona memegang
tangan Tria dan membawanya pergi. “Ayo ikut aku, seharusnya kau tidak disini.”
“Awas kau!!!”
ancam Anisa. Rona pun menghentikan langkahnya, tapi sama sekali tidak menoleh
pada Anisa.
“Dengar, aku
melihat apa yang kalian lakukan padanya tadi. Jika kalian berani macam-macam
lagi, aku tidak akan segan-segan menyeret kalian semua ke ruangan kepala
sekolah!”
“Kakak,
apa….”ucapan Tria terpotong oleh Rona.
“Sudah diam,
ayo!” merekapun kembali berjalan meninggalkan lorong itu.
“SIAL!!!” Terik
latifah sambil menendang tembok di depannya.
Kini mereka
berdua telah sampai de kelas Tria. “Kakak, terimkasih.” Ucap Tria.
“Ya, sama-sama.
Lain kali kau jangan lewat koridor itu.”
“Iya, aku tidak
akan mengulanginya lagi.” Kata Tria dengan perasaan yang sedikit menyesal dan
Ronapun beranjak dari sana. “Kakak.” Rona pun menoleh. “Siapa namamu?”
“Aku Rona.”
Diapun tersenyum, kini pipi Tria mulai memerah. “Kau Tria kan?”
“I-iya.
Terimakasih, Kak Rona.”
Ends flashback.
“Hey, kakak…..
kaka…. Kau melamun ya?” Kata pelanggan yang memakai earphone itu sambil
mendadah-dadahkan tangan pada muka Rona.
“A-apa?” kata
Rona yang beru sadar dari lamunannya.
“Aku ingin beli
buku ini.”
“Iya, harganya
25.000” lalu pelanggan itu pun membayar. Nampaknya sudah hampir jam 9 malam,
saatnya Toko buku ini tutup. Lalu Rona membereskan tempat itu, menutupnya dan
segera pulang.
Sudah hampir 1
bulan kejadian itu berlalu, di sekolah dia tak pernah lagi melihat gadis itu
tersenyum padanya. Bahkan gadis itu pur-pura tidak melihatnya, hal itu menambah
rasa bersalahnya. Ternyata sikapnya malam itu sudah sangat keterlaluan sekali.
‘Maaf… aku
benar-benar minta maaf. Aku janji suatu saat nanti aku akan menebusnya.’ Gumam
Rona yang saat ini sedang duduk berselonjor Tria di bawah pohon beringin
sekolah.
4 TAHUN KEMUDIAN. Saat ini tentu Dipa,
Rona Yuda dan kawan-kawan sudah masuk SMA terkecuali Yogi yang sudah masuk
kuliah di salah saru universitas di kota ini.
Pagi ini adalah
pagi senin yang cerah, saatnya anak-anak berangkat sekolah.
“Bu, aku
berangkat sekolah dulu ya.” Gadis berambut panjang terurai itupun pamit pada
ibunya.
“Kau tidak
berangkat dengan kakakmu?” Tanya ibu gadis itu.
“Tidak, aku
berangkat naik sepeda saja.”
“Kenapa naik
sepeda? Kau kan bisa naik mobil dengan ku.” Kata Yogi. [cie-cie…. Yogi sekrang
punya mobil]
“Tidak…. Aku
ingin sekalian berolahraga saja. Akhir-akhir ini aku jarang sekali
berolahraga.”
“Ya sudah kalau
begitu. Hati-hati di jalah ya!”
“Iya kak, aku
berangkat dulu.”
“Ya..”
Tak lama gadis
itupun sampai di sekolah, dia segera memarkirkan sepedanya di sana.
‘Ternyata yang
bawa sebeda bukan aku saja.’ Gumam gadis itu sambil memperharikan deretan
sepeda di kanan dan kirinya. Gadis itupun masuk melalui gerbang belakang, tapi…
“Hey kalau kau
ingin lewat sini, kau harus bayar dulu 2000.” Kata salah satu preman sekolah
pada siswa lain yang berada di depan Winda.
“Tapi kakak,
saya….”
“Alah, gak usah
tapi-tapi. Mana?” Lalu siswa itu membayar sejumlah uang yang diminta Preman
sekolah itu.
‘Ya ampun
preman sekolah. Aku harus pergi dari sini.’ Gumam Winda sambil melangkah pergi
dari sana, tapi…. Salah satu dari 3 preman itu menepuk pundaknya.
“Hey kau mau ke
mana?” Tanya Trisna.
“Mati aku.”
Lalu gadis itu berbalik badan. “Em… anu kak. Saya mau mengambil pensilku yang
terjatuh di sana…” kata Winda sambil menunjuk ke luar gerbang.
“Ah, kau bohong
kan?”
“Ti-tidak aku
tidak bohong.”
“Benarkah, tadi
aku mau lewat sini kan? Jadi kau harus bayar dulu 2000”
“Tapi, tapi…..”
“Tak usah
Tapi-tapian, kau mau aku panggilkan temanku yang itu?” lalu Trisana menunujuk
temannya yang berpostur Tinggi besar dan berkulit gelap itu.
“Ti…Tidak kak,,
ampun.”
“Kalau begitu
bayar….! Mana??!!”
‘Bagaimana
ini?????’
---To Be Continued---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar