Sabtu, 22 Juni 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 4"



The Shop Nine-Tailed Fox


Chapter 4
AKU BENAR-BENAR MINTA MAAF

“KRIIIIIIIIIIING…… KRIIIIIIING…….” Tiba-tiba saja ponselnya berdering, tapi entah siapa yang menelponya, karena tidak tercantum namanya.
“Halo.” Kata Rona yang mengangkat telphonnya.
“Halo, apa bisa bicara dengan Rona?” terdengar suara yang tak asing lagi dari telpon itu.
“Ya, saya sendiri. Maaf, kau siapa?”
“Ini aku..”
“Aku siapa?”
“Aku…….”
“…………………” Rupanya Rona agak kesal dengan si penelpon yang dari tadi hanya bicara aku…. Aku saja.
“Ya…. Ya… baiklah Kakak toko buku, ini aku Tria.”
“Tria? Hey apa maksudmu Kakak toko buku.?”
“hehehehehe.”
“Ada perlu apa?”
“Aku ingin menukarkan buku yang aku beli kemarin sore. Rupanya aku salah beli, apa bisa?”
“Bisa, tapi…. kenapa kau menelpon ku? Harusnya kan kau langsung saja datang ke toko.”
“A-anu… begini… a-aku hanya takut setelah datang ke sana ternyata tidak bisa di tukar. Hehehe” Suaranya kini mulai gemetar.
“Tentu bisa, asal kemasannya tidak rusak.”
“Tidak… kemasannya belum aku buka kok..”
“Oh,, ya bagus kalau begitu. Em… aku mau Tanya, kau tau dari mana nomor ku??”
“Mati aku…” sambil memukul jidatnya.
“Mati?”
“Bukan….. bukan…. Maksudku, aku mendapatkannya dari nota pembayaran buku ini.”
“Oh… begitu. Benarkah, rasanya…..” kata-katanya terpotong.
“Em..baiklah kakak, nanti sore aku akan ke tokomu ya…. Sampai jumpa nanti sore.” “tuuuut….tuuuuu.” nampaknya Tria sudah mematikan telponnya lebih dulu.
“Gadis yang rempong.” Ucap laki-laki yang usianya baru genap 14 tahun itu.
Ya, begitulah rupanya reaksi seorang laki-laki yang terbilang cuek. Pasti kita bertanya, siapa sih Tria dan kenapa Rona disebut kakak toko buku? Kita mulai satu persatu. Tria adalah gadis yang selalu memperhatikan gerak-gerik Rona di sekolahnya. Mereka sekolah di SMP yang sama. Jadi yang tadi itu adalah modus kecilnya, tapi berhasil kan?. Sebenarnya nomor Rona dia dapatkan dari teman sekelas Rona.
Rona kini telah diadopsi oleh sepasang suami istri yang mempunyai sebuah toko buku yang cukup terpandang di kota ini, mereka mengadopsinya karena mereka membutuhkan sang ahli waris untuk meneruskan usahanya. Rona dipilih karena dia sangat gemar sekali membaca dan merawat buku, baik komik, novel ataupun pengetahuan umum dia sangat suka. Setiap sore dia selalu mengganti ayahnya menjaga toko. Benar-benar anak yang beruntung.

Di kamar Tira.
“Selamat…. Selamat.” Kata Tria sambil mengelah nafas.
“Bagaimana?” Tanya Silvi yang sedari tadi berusaha menguping pembicaraan mereka.
“Em…. Kita berhasil. Hahahaha” kini Tria sambil menari-nari gaje.
“Lalu apa langkah selanjutnya?”
“Nanti sore kita ke tokonya. Kau mau ikut?”
“Tentu. Emmmmm tapi…. Sepertinya tidak bisa hehe.. maaf ya.”
“Kau ini. Ternyata buku ini berhasil juga ya untuk langkah yang ke 2. Haha” dia pun menunjukan buku berwarna pink itu pada Silvi sambil melabai-lambai seperti Putri Indonesia.
“APA? 9 LANGKAH UNTUK MENDAPATKAN PERHATIAN DIA???? Ya ampun,, kau dapat dari mana buku itu?”
“Dari perpustakaan sekolah.”
“ Sini aku pinjam, ternyata di perpustakaan sekolah ada juga buku yang seperti ini.” Lalu dia mulai membuka lembaran halaman ke-1 buku itu. Diapun mulai membaca satu demi satu petunjuk yang tertulis disana dan menganguk-anggukan kepalanya. “Em.. cukup menarik juga untuk seumuran kita.”
“Memangnya kau mengeri?”
“Tidak..”
“Ya ampun… lalu tadi kau baca apa?”
“Baca otakmu yang penuh dengan kakak toko buku mu itu. Tentu saja aku mengerti.” Kata Silvi sambil menunjuk-nujuk kepala Tria. “Pantas saja akhir-akhir ini kau bertingkah sedikit aneh di sekolah, kau mencoba langkah yang pertama ‘Sapa lah dan berikan senyumanmu pada orang yang kau sukai.’ Ya, cukup berhasil juga saat kau sapa di sekolah dia tersenyum padamu. Padahal dia adalah orang yang cuek sekali, kau memang beruntung. Lalu yang ke dua ‘buatlah kau mengobrol denganya walaupun sebentar. Jika obrolan itu terjadi singkat, buatlah semacam janji agar kalian bisa lebih lama mengobrol dan menjadi lebih dekat.’ Menarik kau hampir berhasil. Lalu yang ke tiga…..”
“Sudah…. Sudah cukup, yang ke tiga kau baca saja nanti. Sekarang kau bantu aku memilih baju yang cocok untuk nanti sore. Aku ingin terlihat cantik di depannya.”
“Ya.. baiklah. Mau menukarkan buku saja harus repot-repot memilih baju.”
“Hey.. aku bisa mendengar apa yang kau bilang barusan.” Kata Tria yang kini suaranya terdengar sedikit kesal.
“Iya… iya maaf. Aku bantu kau memilih baju.”

Di toko buku, terlihat seorang pria paruh baya yang dari tadi terus melirik jam di niding. Nampaknya sudah jam 3 sore, tapi orang yang dia tunggu belum kunjung datang.
‘Kemana anak itu, biasanya jam segini dia sudah ada.’ Gumam bapak pemilik toko.
“cklek… brug…”terdengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang.
“Maaf Yah, aku terlambat hari ini.” Kata Rona.
“Memangnya kau dari mana?”
“Tadi ibu menyuruhku untuk mengantar pesanan kue.”
“Em…. Ibu mu itu rupanya keras kepala sekali. Sudah ku bilang satu minggu ini dia harus istrahat, masih saja memikirkan pesanan kue. Ya sudah, kau simpan dulu jaketmu itu, dan segera gantikan Ayah menjaga toko ini!”
“Baik Yah.” Lalu Rona pun segera menaruh jaketnya itu ke belakang kasir dan segera berdiri di samping Ayahnya.
“Ya sudah, Ayah akan pulang dan menengok ibumu di rumah. Kau jaga toko ini baik-baik.”
“Iya, Yah.”
“Oh, satu hal lagi. Jika kau lapar, ayah telah menyiapkan mie ramen kesukaanmu di dalam laci. Nanti kau tinggal menyeduhnya dengan air panas.”
“Iya, terimakasih.” Kata Rona dengan senyum. Pria seterngah baya itupun keluar dari toko dan Rona segera duduk di kursi kasir itu. Lalu dia menatap jam yang ada di samping kirinya. “Baru jam 03.15.” lalu dia mengeluarkan sesuatu dari tas yang dia simpan di bawah meja kasir. ‘mungkin lebih baik aku teruskan saja.’ Gumamnya sambil membuka buku berwarna abu-abu itu dan dia membacanya dengan wajah serius.
Beberapa saat kemudian.
“Cklek brug.” Nampaknya ada orang yang masuk ke dalam toko, langkah kakinya terdengar mendekat ke arah meja kasir.
“Selamat sore.” Ucap orang itu, Rona yang dari tadi asik itu kini dia menurunkan bukunya dan melihat ke arah depan.
“Selamat sore, ada yang bisa dibantu?”Jawabnya yang sambil memperhatikan gadis berambut sebahu di hadapannya.
“Em,, anu. Aku mau menukarkan buku ini.” Kata gadis itu sambil menujukan kantong plastic berisi buku yang dia pegang.
“Bisa aku lihat.” Lalu rona mengambilnya dan melihat buku dan bukti pembayarannya. “Baiklah, kau mau tukar dengan buku apa?”
“Apa di sini ada buku tentang seni lukis?”
“Tentu ada, mari aku tunjukan.” Rona pun beranjak dari tempatnya diikuti oleh Tira di belakanya. “Di sini, disini banyak sekali buku-buku tentang seni lukis. Apa kau ini baru belajar melukis?”
“Iya, kebetulan aku diberi tugas melukis kemarin.”
“Oh, begitu.” Lalu diambillah salah satu buku dari rak itu. “Apa buku ini yang kau maksud?”
“Iya, benar.” Gadis itupun mengamgbil bukunya dari tangan rona dan melihatnya dengan seksama. “Oh iya, apa aku boleh membacanya di sini?”
“Tentu boleh, tapi kau  harus membayarnya dulu.”
“Begitu ya, ya sudah aku beli yang ini saja.” kata gadis itu dan mereka pun pergi ke meja kasir.
“Harganya 20.000 rupiah.”
“Iya.” Diapun memberikan sejumlah uang yang diminta Rona, tanpa sengaja dia melirik buku berwarna abu-abu itu. “Biarlah Aku Menunggumu di Surga.”
“Apa?”
“A-anu, itu bukumu.”
“Oh.”
“Kak, kau suka baca buku ya?”
“Ya begitulah. Kalau tidak suka, mana mungkin aku ada di sini.”
“Begitu ya, sepertinya menarik. Boleh aku tahu siapa isinya?”
“Ya, buku itu menceritakan sepasang kekasih, dimana sang gadis mengidap penyakit berat. Karena kesetiaan kekasihnya yang membuat gadis itu bahagia di saat-saat terakhir, gadis itupun pergi dengan wajah yang tersenyum.”
“Aku kira anak laki-laki hanya suka artikel olahraga saja.”
“Tidak.” Kata Rona sambil tersenyum dan sukses membuat pipi Tria memerah. “Pipimu kenapa?”
“Tidak, tidak papa.”
“Ini bukumu.” Kata rona sambil menyerahkan buku itu pada Tria. “Oh iya, dua hari yang lalu kau meminjam buku di perpustakaan sekolah kan?”
“Buku yang mana?” kini Tria berlaga seperti orang yang pikun. ‘Gawat apa dia tahu?’ gumamnya.
“Kau pura-pura lupa ya? Apa aku harus menyebutkan judulnya?” kini senyum yang dilihat gadis itu berubah menjadi tatapan yang sedikit menakutkan baginya.
“Apa maksudnya?”
“Kau mempraktekan apa yang dituliskan dalam buku itu, kan?”
“…………….” Kini persaannya mulai harap-harap cemas.
“Dengar, aku tidak mau jadi kelinci percobaan dalam buku itu.”
“Maaf, tapi aku tidak….”
“Hentikan semua ini!” nada yang sedikit tinggi ini membuat matanya mulai berair.
 “A-apa”
“Aku bilang hentikan semua omong kosong ini. Aku tau, semua orang yang membaca buku itu akan mencari orang untuk dijadikan percobaan. Tapi aku tidak mau bernasib sama dengan orang-orang itu. Kini mereka ditinggalkan begitu saja.”
“Kak, dengar aku tidak sama dengan pembaca-pembaca lain. Aku hanya ingin menunjukan perasaanku saja.”
“Perasaan?”
“Ya, benar. Aku menyukaimu, AKU BENAR-BENAR MENYUKAIMU KAK.” Teriak Tria, untung saja di sana hanya ada 1 pelanggan yang sedang membaca sambil mendengarkan music dari earphonnya.  Kini Tria sukses membuat Rona tercengan dengan ucapannya dan pipi gadis itu kini telah basa dengan air mata.
“Apa maksudmu?”
“Aku, aku menyukaimu dari pertama kali kita bertemu di koridor sekolah. Dan buku itu gunakan sebagai caraku mengutarakan perasaanku. Aku tak tahu harus bagaimana, karena hatiku selalu tidak tenang.”
“Lalu apa yang membuat hatimu tenang?”
“Kau mengetahuinya pun itu sudah cukup.”
“Sekarang aku sudah mengetahuinya, lalu apa?”
“……..” gadis itu terdiam mendengar kata-kata yang dirasanya tidak berperasaan itu.
“Lagi pula ini bukan waktu yang tepat untukku, aku masih terlalu muda untuk ini semua. Sebaiknya kau simpan saja perasaanmu itu.!” [adaw kejam bangetzzsz!!!]
“Ya, kakak memang benar.” Gadis itupun tertawa kecil sambil mengusap air matanya. “Aku benar-benar minta maaf.” Gadis itupun pergi sambil membawa buku yang tadi dia beli. Dia tak henti-hentinya mengusap air matanya itu.

“SIAL, apa yang aku lakukan? Aku membuatnya menangis.” Ucap rona, lalu dia pun duduk di kursi kasir sambil memegang dan menundukan kepalanya. ‘Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan.

Flashback
Di lapangan sekolah, terlihat beberapa anak sedang duduk berselonjor ria di bawah pohon beringin itu. Mereka tampak kelelahan sehabis bermain sepak bola barusan. [pohon beringin…. Jadi inget waktu SMP].
“Apa ada yang membawa air minum?” Tanya Wisnu dengan nafas yang terengah-engah.
“Ya, aku bawa. Sebentar….” Lalu Rona beranjak dari sana. Dia berjalan menuju ruang kelas yang lumayan jauh karena harus melewati koridor lantai 1 itu.

Dipihak lain, nampaknya di koridor ini selalu dijadikan tongkrongan bagi murid perempuan kelas VIII. Tak lama ada murid kelas VII yang melewati tempat itu dengan terburu-buru.
“PLOK….PLOK…PLOK….” Suara langkah kaki gadis itu dengan terburu-buru. ‘Ya ampun. Lagi-lagi mereka, sebaiknya aku jangan hiraukan saja.’ Gumam gadis itu. Tapi kini usahanya sia-sia. Satu dari tiga murid kelas VIII itu bangu dan menghalangi jalannya.
“Eeet, berhenti! Mau ke mana kau berlari-lari seperti itu?” Tanya Anisa.
“Kau tidak lihat apa ada orang di sini?” Mila pun berdiri dan berjalan mendekati mereka.
“Maaf kak, saya sedang teburu-buru.” Jawab Tria.
“Oh, sedang terburu-buru? Sini kau!” Latifah pun menarik tangan Tria sampai dia terpokok di pinggir koridor.
“Aduh, kak ampun. Aku hanya ingin lewat saja.”
“Ou, kau ingin lewat ya? Makanya kalau kau lewat sini, kau harus lihat-lihat dulu.” Kata Anisa sambil mendorong kepalanya.
“HEY, HENTIKAN!” teriak anak laki-laki itu, ternyata dari tadi dia melihat semuanya. Diapun berjalan mendekati mereka. “Apa yang kalian lakukan?”
“Itu bukan urusanmu!” kata Mila.
“Tentu saja ini urusanku, karena kalian telah berurusan dengan anak ini.” Lalu Rona memegang tangan Tria dan membawanya pergi. “Ayo ikut aku, seharusnya kau tidak disini.”
“Awas kau!!!” ancam Anisa. Rona pun menghentikan langkahnya, tapi sama sekali tidak menoleh pada Anisa.
“Dengar, aku melihat apa yang kalian lakukan padanya tadi. Jika kalian berani macam-macam lagi, aku tidak akan segan-segan menyeret kalian semua ke ruangan kepala sekolah!”
“Kakak, apa….”ucapan Tria terpotong oleh Rona.
“Sudah diam, ayo!” merekapun kembali berjalan meninggalkan lorong itu.
“SIAL!!!” Terik latifah sambil menendang tembok di depannya.
Kini mereka berdua telah sampai de kelas Tria. “Kakak, terimkasih.” Ucap Tria.
“Ya, sama-sama. Lain kali kau jangan lewat koridor itu.”
“Iya, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Kata Tria dengan perasaan yang sedikit menyesal dan Ronapun beranjak dari sana. “Kakak.” Rona pun menoleh. “Siapa namamu?”
“Aku Rona.” Diapun tersenyum, kini pipi Tria mulai memerah. “Kau Tria kan?”
“I-iya. Terimakasih, Kak Rona.”

Ends flashback.
“Hey, kakak….. kaka…. Kau melamun ya?” Kata pelanggan yang memakai earphone itu sambil mendadah-dadahkan tangan pada muka Rona.
“A-apa?” kata Rona yang beru sadar dari lamunannya.
“Aku ingin beli buku ini.”
“Iya, harganya 25.000” lalu pelanggan itu pun membayar. Nampaknya sudah hampir jam 9 malam, saatnya Toko buku ini tutup. Lalu Rona membereskan tempat itu, menutupnya dan segera pulang.
Sudah hampir 1 bulan kejadian itu berlalu, di sekolah dia tak pernah lagi melihat gadis itu tersenyum padanya. Bahkan gadis itu pur-pura tidak melihatnya, hal itu menambah rasa bersalahnya. Ternyata sikapnya malam itu sudah sangat keterlaluan sekali.
‘Maaf… aku benar-benar minta maaf. Aku janji suatu saat nanti aku akan menebusnya.’ Gumam Rona yang saat ini sedang duduk berselonjor Tria di bawah pohon beringin sekolah.

4 TAHUN KEMUDIAN. Saat ini tentu Dipa, Rona Yuda dan kawan-kawan sudah masuk SMA terkecuali Yogi yang sudah masuk kuliah di salah saru universitas di kota ini.
Pagi ini adalah pagi senin yang cerah, saatnya anak-anak berangkat sekolah.
“Bu, aku berangkat sekolah dulu ya.” Gadis berambut panjang terurai itupun pamit pada ibunya.
“Kau tidak berangkat dengan kakakmu?” Tanya ibu gadis itu.
“Tidak, aku berangkat naik sepeda saja.”
“Kenapa naik sepeda? Kau kan bisa naik mobil dengan ku.” Kata Yogi. [cie-cie…. Yogi sekrang punya mobil]
“Tidak…. Aku ingin sekalian berolahraga saja. Akhir-akhir ini aku jarang sekali berolahraga.”
“Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalah ya!”
“Iya kak, aku berangkat dulu.”
“Ya..”

Tak lama gadis itupun sampai di sekolah, dia segera memarkirkan sepedanya di sana.
‘Ternyata yang bawa sebeda bukan aku saja.’ Gumam gadis itu sambil memperharikan deretan sepeda di kanan dan kirinya. Gadis itupun masuk melalui gerbang belakang, tapi…
“Hey kalau kau ingin lewat sini, kau harus bayar dulu 2000.” Kata salah satu preman sekolah pada siswa lain yang berada di depan Winda.
“Tapi kakak, saya….”
“Alah, gak usah tapi-tapi. Mana?” Lalu siswa itu membayar sejumlah uang yang diminta Preman sekolah itu.
‘Ya ampun preman sekolah. Aku harus pergi dari sini.’ Gumam Winda sambil melangkah pergi dari sana, tapi…. Salah satu dari 3 preman itu menepuk pundaknya.
“Hey kau mau ke mana?” Tanya Trisna.
“Mati aku.” Lalu gadis itu berbalik badan. “Em… anu kak. Saya mau mengambil pensilku yang terjatuh di sana…” kata Winda sambil menunjuk ke luar gerbang.
“Ah, kau bohong kan?”
“Ti-tidak aku tidak bohong.”
“Benarkah, tadi aku mau lewat sini kan? Jadi kau harus bayar dulu 2000”
“Tapi, tapi…..”
“Tak usah Tapi-tapian, kau mau aku panggilkan temanku yang itu?” lalu Trisana menunujuk temannya yang berpostur Tinggi besar dan berkulit gelap itu.
“Ti…Tidak kak,, ampun.”
“Kalau begitu bayar….! Mana??!!”
‘Bagaimana ini?????’


---To Be Continued---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar