The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 3
Sepiring Berdua
“Hey, boleh ku
tahu apa isi kotak pink itu?” Tanya mamahnya. Dipapun membuka kotak itu dan
aroma nasi goreng yang bikin ngiler itu tercium di hidung pasangan ibu dan anak
itu. Tapi ada yang tidak biasa dengan tampilannya, disana terdapat sayuran yang
disusun rapi membentuk sebuah kalimat yang singkat.
“I LOVE U.”
Baca dipa dengan pelan dan dia tersenyum simpul. Lalu Dipa mengambil sendok
yang berada di tutup kotak itu dan dia pun berniat mencicipinya. Dia mulai
mengambil satu sendok penuh lalu dimasukan lah nasi goreng itu ke mulutnya.
Tapi……..
“Huk… uhukk……”
Dipa batuk, kini air matanya pun mulai keluar.
“Kau tidak
apa-apa nak?” Ibu barunya itu mulai panik. Tapi dipa hanya menggelengkan
kepalanya. “Apa nasi goreng itu bermasalah?” kemudian sang ibu baru pun
mengambilkannya air yang tersedia di depannya. Dipa pun mulai minum.
“Nasi gorengnya
asin sekali Mah.”
“Apa? Kalau
begitu sebaiknya jangan kau makan! Sini, nanti Mamah yang akan membuangnya.”
Dipapun memberikan kotak makanan itu pada mamahnya, tapi bagaimana dengan
tindakan ayahnya? Nampaknya ayahnya itu hanya tersenyum melihat kegaduhan yang
terjadi di dalam mobilnya.
Satu bulan
kemudian, kini hidup Dipa memang sudah berubah. Dulu dia yang tinggal di panti
asuhan kini dia tinggal di rumah bertingkat dan mewah sebagai anak tunggal anak
pengusaha perumahan elit itu. Sekarang dia juga bersekolah di suatu Sekolah
Dasar yang cukup terpandang di sana.
Pukul 12.30
waktunya anak SD pulang. Terlihat seorang anak laki-laki berseragam SD itu
berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya. Tak lama kemudian, ada sebuah mobil
hitam mewah yang menjemputnya. Anak itu pun masuk ke dalam mobil.
“Bagaimana tadi
sekolahmu?” tanya seorang wanita berpakaian rapi sambil menyetir mobilnya.
“Baik mah.”
“Baguslah kalau
begitu. Tapi kenapa wajahmu murung seperti itu, apa ada masalah?”
“Tidak Mah,
tidak ada apa-apa.’’
“Jangan
bohong.” Tegas mamahnya. Dipa pun terdiam sejenak.
“Mah, apa aku
boleh main ke panti sekarang?”
“Sekarang?”
“Iya, sekarang.”
“ Tapi kau baru
saja pulang dari sekolah, bajumu belum diganti dan kau juga belum makan siang.”
“Aku bawa baju
olah raga, tadi aku hanya memakainya sebentar. Jadi aku tinggal pakai ini saja.
Nanti aku akan makan siang di panti, aku rindu masakan Bunda Tika. Ya mah, aku
mohon.” Rengek Dipa yang berusaha merayu ibu nya itu. Tapi nampaknya sang mamah
agak kebingungan dan tak berkomentar apapun.
Dipihak lain,
tepatnya diruang makan panti. Seperti biasanya, saat ini anak-anak panti sedang
makan siang. Hari ini Bunda tika memasak makanan yang enak, bunda memasak ayam goreng
untuk mereka. Ya, bagi mereka ini adalah makanan yang terbilang mewah karena
sangat jarang sekali mereka bisa memakan daging. Sudah pasti, makan siang hari
ini anak-anak sangat lahap. Tapi ada satu anak yang kelihatannya tak bergairah
untuk makan. Dia hanya memainkan nasi dengan sendok di piringnya.
“Hey, kenapa
kau tidak memakan makananmu? Apa kau tidak suka dengan daging ayam?” Tanya
Rona.
“Tidak, bukan
begitu.” Jawab Iqbal.
“Lalu kenapa
kau hanya mengacak-ngacak nasimu saja?”
“Aku…. Aku
makan ditaman saja.” Iqbal pun beranjak dari kursi sambil mambawa piringnya.
“Kenapa lagi
dia?” Tanya Demil.
“Aku tidak
tahu.” Jawab Rona.
“Aku lihat,
akhir-akhir ini dia sering melamun di kamar.” Kata Dika.
“Oh iya, aku
ingat. Bukankah terakhir kali kita makan siang bersama di taman?” Tanya Mahmud.
Mereka yang sedang lahap makan kini berhenti, mereka teringat kenangan terakhir
kali sebelum Dipa diadopsi. Sebenarnya Iqbal sangan rindu pada Dipa, karena
Iqballah yang paling dekat dengan Dipa.
“Aku juga mau
makan di taman saja.” Tiba-tiba kata itu terucap dari mulut Winda, Winda pun
beranjak dari tempat duduknya. “Aku rindu Kak Dipa, apa Kak Yogi dan Kak Yuda
mau ikut?” dan gadis kecil itu pun berjalan ke luar ruang makan sambil membawa
piringnya. Tapi sesampainya dia di tengah taman, alangkah kagetnya dia. Dia
sedang mendapati Iqbal dan seorang anak laki-laki berbaju seragam olahraga
makan sepiring berdua di kursi taman.
“KAK DIPA…..”
Teriak gadis kecil itu yang kegirangan, lalu dia pun berlari-lari kecil. “Kak
dipa sudah pulang? Kenapa tidak mengirim kabar akan pulang?”
“Maaf, aku sama
sekali tidak merencanakannya.”
“Aku sangat
merindukanmu.”
“Aku juga.”
Jawab Dipa. Kemudian gadis kecil itu melihat piring yang yang sedang digunakan
mereka. Nampaknya nasi dan lauknya sudah hampir habis.
“Kak Dipa, kau
lapar ya? Sebentar aku akan ambilkan nasi dan lauknya.” Lalu winda meletakan
piring yang dari tadi dipegangnya dan beranjak kembali ke ruang makan.
“Hey, tunggu
dulu. Tolong kau ambilkan yang banyak ya, aku juga masih lapar.” Pinta Iqbal.
“Tentu.” Gadis
kecil berkepang dua itupun kembali berlari-lari kecil menuju ruang makan.
Sesampainya di sana, dia langsung berjalan mendekati Bunda Tika yang masih
terlihat sibuk membagikan makanan untuk anak-anak yang lain.
“Bunda, apa aku
boleh meminta sepiring penuh nasi dengan lauknya lagi?”
“Apa itu
untukmu? Makanmu banyak sekali.” Kata Bunda Tika.
“Bukan, itu
bukan untukku. Itu untuk Kak Iqbal dan Kak Dipa. Mereka sekarang sedang makan
bersama di taman.”
“Benarkah?
Kalau begitu ini, Bunda berikan yang banyak.” Lalu Bunda Tika pun menyerahkan
sepiring penuh nasi dan lauk pada Winda.
“Terimakasih,
bunda.”
“Iya,
sama-sama.” Lalu gadis kecil itu beranjak pergi ke taman.
“Hey Kakak, apa
kalian mau makan siang bersama di taman? Hari ini Kak Dipa pulang, dia ada di
taman sekarang.” Kata Winda yang agak berteriak pada kakak-kakaknya yang sedang
makan.
“Apa benar?”
Tanya Yuda.
“Iya, dia
sedang makan siang bersama Kak Iqbal.” Jawab Winda, tanpa pikir panjang lagi
Yuda, Yogi, Rona, Dika, Demil dan Mahmud pun segera megikutinya sambil membawa
piring-piring mereka.
Tapi, disisi
lain ada seseorang yang dari tadi menguping pembicaraan mereka. Dia pun
senyum-senyum sendiri dan bertingkah gaje sekali setelah mendengar kabar itu.
Sekarang matanya lirik kanan dan kiri mengamati keadaan, dia menunggu
kawan-kawan Dipa keluar dari ruangan dan……..
“WAAAAAAAAAAAAAAAA…. WAAAAAHAHAHAHHAHA…….” Teriak Ochi
kegirangan dengan mulut penuh dengan makanan dan sukses membuat membuat dirinya
menjadi pusat perhatian. “Maaf…. Maaf…. Aku menginjak kakiku sendiri.” Kata
ochi dengan perasaan yang sangat malu. Menginjak kaki sendiri? Apa itu
maksudnya????
“Apa yang kau
lakukan, kau sudah gila berteriak-teriak saat makan?” gerutu Santi.
“Santiiiiiii…….
Santi santi santi………”
“Dia
benar-benar kehilangan akalnya.”
“Santi, kau
tahu? Dipa pulaaaaaang,, dipa pulang…..” teriak
Ochi lagi dengan mulut penuh makanan.
“Iya aku tahu.
Diamlah! Nampaknya Dipa telah membuatmu benar-benar gila” kata Santi, tapi Ochi
tidak memperdulikannya.
“Dipa
pulaaaaaaaang….. Dipa pulaaaaaaaaaaaa Uhuk…..Uhukk.. Uhukk….” Ochipun batuk
karena tersendat makanan yang ada di mulutnya.
“Hahahahhaha,
rasakan.” Kini giliran Santi yang kegirangan.
Di taman panti,
terlihat dua anak yang tadi makan sepiring
berdua itu kini telah menunggu makanan yang diambil oleh sodara mereka yang
paling muda.
“Makanannya
lama sekali.” Kata Dipa.
“Lama? Baru
saja dia pergi ke ruang makan kau bilang lama? Apa kau ini sedang kelaparan?”
Tanya Iqbal.
“Tadi pagi aku
hanya makan roti dan susu saja, di sekolah juga aku tidak sempat makan. Jadi……
hehehehe.”
“Ya ampun, anak
orang kaya sepertimu masih saja kelaparan.”
“KAKAK…… AKU
BAWA NASI……..” Teriak Winda dari pintu panti.
“Ayo cepat bawa
kemari! kakakmu yang satu ini sedang terserang lapar gila.” pinta Iqbal. Winda
pun mempercepat langkahnya. Tapi kini Winda tidak sendirian membawa piring ke
sana, dia diikuti beberapa anak laki-laki di belakangnya.
“HEY, APA KAMI
JUGA BOLEH IKUT AKAN DI SANA?” teriak Mahmud.
“Kalian. Ya,
cepat kemari.”Jawab Dipa. Sesampainya mereka di dana, mereka pun langsung duduk
dengan beralaskan rumput. Dipa dan Iqbal juga mengikutinya.
“Bagaimana
kabarmu?” Tanya Yogi.
“Sangat baik.”
“Kenapa kau
tidak memberi kabar akan datang ke mari?”
“Maaf, aku
tidak merencanakannya.”
“Ya sudah,
sebaiknya kita lanjutkan makan. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi.” Kini mereka
melanjutkan makan siangnya. Bagi 9 sekawan ini, makan siang kali ini adalah
makan siang yang istimewa. Bukan hanya karena makanannya yang enak, tapi karena
mereka bisa berkumpul seperti dulu.
Beberapa saat
kemudian rasa lapar mereka sudah terobati, tapi rasa haus mereka yang kini
belum hilang.
“Sebentar, aku
mau bawa air dulu.” Kata Yogi.
“Apa kau akan
bawakan air gallon lagi?” sindir Demil dan mereka semua yang ada si sanapun
tersenyum dengan perkataan itu.
“Awas kau
nanti.” Yogipun beranjak dari sana. Beberapa saat kemudian bukan Yogi yang
muncul, tapi Ochi. Dia datang sambil membawa segelas jus jeruk.
“DIPAAAAAA…”
teriak Ochi, dia pun berjalan mendekati mereka.
“Ya ampun…..”
kata demil, rona dan Mahmud secara bersamaan.
“Tingkahnya
semakin hari semakin aneh saja.” Komen Yuda.
“Dipa, kau
pasti haus kan? Lihat apa yang aku bawa untukmu?” kata anak perempuan itu yang
kini berdiri di samping Dipa.
“Apa itu?”
“Jus jeruk, kau
mau kan?”
“Aku…. Aku….”
“Aku tahu kau
pasti mau, ini coba. Rasanya manis, semanis diriku.” Ochi kemudian berjongkok
dan menyerahkan gelas itu padanya. Tapi Dipa tidak langsung meminumnya, dia
hanya memandanginya. Sebenarnya dia masih merasa kapok dengan nasi goreng
buatan Ochi waktu itu. Nasi goreng saja bisa asin sekali seperti itu, bagaimana
dengan minumannya? Apa akan asin juga? “Kenapa kau tidak meminumnya? Ayo
diminum!”
“I-iya, aku
minum.” Lalu Dipa meminumnya. ‘Ya ampun, rasanya asam. Apa dia lupa tidak
manambahkan gula di dalamnya?’ gumam Dipa.
“Bagaimana?”
“Rasanya a….”
“EHEM.” Ucapan
Dipa terpotong dengan tanda yang diberikan Dika barusan.
“A-aduh….Manis…
iya benar. Rasanya sangat manis sekali.”
“Benarkah?”
kini ekspesi Ochi berseri-seri sekali dengan pujian darinya.
“Iya, tapi aku
kurang suka jika habis makan langsung minum yang manis-manis seperti ini. Aku
lebih suka minum itu.” Kata Dipa sambil menunjuk Yogi yang membawa seteko penuh
air putih. “Apa kau mau meminumnya sampai habis untukku?” kata Dipa dengan
sedikit merayu.
“Oh, begitu ya,
ya sudah aku akan meminumnya sampai habis untukmu.” Tanpa pikir panjang, Ochi
mulai meneguk minuman itu. Tiba-tiba saja dia membulatkan matanya dan mengerut
kan keningnya.
“Kenapa wajahmu
seperti itu?” Tanya Dipa.
“Tidak
apa-apa. Aku hanya….. hanya…” ucapannya
terpotong oleh Dipa.
“Ayo habiskan,
tadi kau bilang akan menghabiskan semuannya untukku.”
“Tapi… ini…”
“Ayo cepat!”
kata Dipa sambil senyum-senyum.
“………” tapi Ochi
tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memandangi Dipa dengan perasaan kesal.
Diapun berdiri, dan membuang muka darinya lalu dia pergi dari sana.
“Sekarang dia
benar-benar-benar marah.” Kata Iqbal.
“Biarkan saja
dia marah, itu kan salahnya sendiri.”
“Oh iya, aku
ingat. Waktu itu dia pernah memberikanmu nasi goreng, kan?”
“Ya, memangnya
kenapa?”
“Bagaimana
rasanya?”
“Asin…… sangat
asin….. aku hampir mati dibuatnya.”
“Hahahahaha,
sudah ku kira.”
Ya… begitulah
cara mereka menghabiskan sore mereka. Berbincang-bincang tentang ini dan itu
tertawa bersama dan mengerjakan hal-hal yang menyenangkan bagi mereka. Tak
terasa waktu pun cepat berlalu, kini tiba saatnya Dipa pulang. Dia berpamitan
pada teman-temannya dan berjanji akan seing-sering datang ke panti.
Hari demi hari,
waktu demi waktu kian berlalu. Entah apa yang membuat Dewi Fortuna tersasar ke
panti itu dan berlama-lama di sana sehingga membuat delapan sekawan yang
tersisa satu persatu di adopsi dalam waktu yang cepat. Mulai dari Yuda, Mahmud,
Demil, Dika, Rona, Iqbal dan terakhir Winda dan Yogi yang diadopsi oleh
pasangan suami istri yang sama.
Kini 6 tahun sudah
berlalu, tapi 3 tahun terakhir ini mereka benar-benar tidak berkomunikasi
karena kesibukan mereka masing-masing.
Dikediaman
keluarga Rona, terlihat seorang anak laki-laki sedang melamun sedari di
kamarnya. Dia berbaring di kasur empuknya dan memandangi foto kenangan di panti
saat mereka bersama.
‘Apa kita akan
bertemu lagi? Sudah hampir 3 tahun ini kalian menghilang satu persatu. Apa
kalian masih memegang janji kalian?. Aku rindu kalian.’ Gumam Rona sambil
mendekap foto berpigura biru itu.
“KRIIIIIIIIIIING……
KRIIIIIIING…….” Tiba-tiba saja ponselnya berdering, tapi entah siapa yang
menelponya, karena tidak tercantum namanya.
“Halo.” Kata
Rona yang mengangkat telphonnya.
“Halo, apa bisa
bicara dengan Rona?” terdengar suara yang tak asing lagi dari telpon itu.
“Ya, saya
sendiri. Maaf, kau siapa?”
“Ini aku..”
“Aku siapa?”
“Aku…….”
-----To Be
Continued-----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar