Jumat, 21 Juni 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 3"



The Shop Nine-Tailed Fox

Chapter 3
Sepiring Berdua

“Hey, boleh ku tahu apa isi kotak pink itu?” Tanya mamahnya. Dipapun membuka kotak itu dan aroma nasi goreng yang bikin ngiler itu tercium di hidung pasangan ibu dan anak itu. Tapi ada yang tidak biasa dengan tampilannya, disana terdapat sayuran yang disusun rapi membentuk sebuah kalimat yang singkat.
“I LOVE U.” Baca dipa dengan pelan dan dia tersenyum simpul. Lalu Dipa mengambil sendok yang berada di tutup kotak itu dan dia pun berniat mencicipinya. Dia mulai mengambil satu sendok penuh lalu dimasukan lah nasi goreng itu ke mulutnya. Tapi……..
“Huk… uhukk……” Dipa batuk, kini air matanya pun mulai keluar.
“Kau tidak apa-apa nak?” Ibu barunya itu mulai panik. Tapi dipa hanya menggelengkan kepalanya. “Apa nasi goreng itu bermasalah?” kemudian sang ibu baru pun mengambilkannya air yang tersedia di depannya. Dipa pun mulai minum.
“Nasi gorengnya asin sekali Mah.”
“Apa? Kalau begitu sebaiknya jangan kau makan! Sini, nanti Mamah yang akan membuangnya.” Dipapun memberikan kotak makanan itu pada mamahnya, tapi bagaimana dengan tindakan ayahnya? Nampaknya ayahnya itu hanya tersenyum melihat kegaduhan yang terjadi di dalam mobilnya.

Satu bulan kemudian, kini hidup Dipa memang sudah berubah. Dulu dia yang tinggal di panti asuhan kini dia tinggal di rumah bertingkat dan mewah sebagai anak tunggal anak pengusaha perumahan elit itu. Sekarang dia juga bersekolah di suatu Sekolah Dasar yang cukup terpandang di sana.
Pukul 12.30 waktunya anak SD pulang. Terlihat seorang anak laki-laki berseragam SD itu berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya. Tak lama kemudian, ada sebuah mobil hitam mewah yang menjemputnya. Anak itu pun masuk ke dalam mobil.
“Bagaimana tadi sekolahmu?” tanya seorang wanita berpakaian rapi sambil menyetir mobilnya.
“Baik mah.”
“Baguslah kalau begitu. Tapi kenapa wajahmu murung seperti itu, apa ada masalah?”
“Tidak Mah, tidak ada apa-apa.’’
“Jangan bohong.” Tegas mamahnya. Dipa pun terdiam sejenak.
“Mah, apa aku boleh main ke panti sekarang?”
“Sekarang?”
“Iya, sekarang.”
“ Tapi kau baru saja pulang dari sekolah, bajumu belum diganti dan kau juga belum makan siang.”
“Aku bawa baju olah raga, tadi aku hanya memakainya sebentar. Jadi aku tinggal pakai ini saja. Nanti aku akan makan siang di panti, aku rindu masakan Bunda Tika. Ya mah, aku mohon.” Rengek Dipa yang berusaha merayu ibu nya itu. Tapi nampaknya sang mamah agak kebingungan dan tak berkomentar apapun.

Dipihak lain, tepatnya diruang makan panti. Seperti biasanya, saat ini anak-anak panti sedang makan siang. Hari ini Bunda tika memasak makanan yang enak, bunda memasak ayam goreng untuk mereka. Ya, bagi mereka ini adalah makanan yang terbilang mewah karena sangat jarang sekali mereka bisa memakan daging. Sudah pasti, makan siang hari ini anak-anak sangat lahap. Tapi ada satu anak yang kelihatannya tak bergairah untuk makan. Dia hanya memainkan nasi dengan sendok di piringnya.
“Hey, kenapa kau tidak memakan makananmu? Apa kau tidak suka dengan daging ayam?” Tanya Rona.
“Tidak, bukan begitu.” Jawab Iqbal.
“Lalu kenapa kau hanya mengacak-ngacak nasimu saja?”
“Aku…. Aku makan ditaman saja.” Iqbal pun beranjak dari kursi sambil mambawa piringnya.
“Kenapa lagi dia?” Tanya Demil.
“Aku tidak tahu.” Jawab Rona.
“Aku lihat, akhir-akhir ini dia sering melamun di kamar.” Kata Dika.
“Oh iya, aku ingat. Bukankah terakhir kali kita makan siang bersama di taman?” Tanya Mahmud. Mereka yang sedang lahap makan kini berhenti, mereka teringat kenangan terakhir kali sebelum Dipa diadopsi. Sebenarnya Iqbal sangan rindu pada Dipa, karena Iqballah yang paling dekat dengan Dipa.
“Aku juga mau makan di taman saja.” Tiba-tiba kata itu terucap dari mulut Winda, Winda pun beranjak dari tempat duduknya. “Aku rindu Kak Dipa, apa Kak Yogi dan Kak Yuda mau ikut?” dan gadis kecil itu pun berjalan ke luar ruang makan sambil membawa piringnya. Tapi sesampainya dia di tengah taman, alangkah kagetnya dia. Dia sedang mendapati Iqbal dan seorang anak laki-laki berbaju seragam olahraga makan sepiring berdua di kursi taman.
“KAK DIPA…..” Teriak gadis kecil itu yang kegirangan, lalu dia pun berlari-lari kecil. “Kak dipa sudah pulang? Kenapa tidak mengirim kabar akan pulang?”
“Maaf, aku sama sekali tidak merencanakannya.”
“Aku sangat merindukanmu.”
“Aku juga.” Jawab Dipa. Kemudian gadis kecil itu melihat piring yang yang sedang digunakan mereka. Nampaknya nasi dan lauknya sudah hampir habis.
“Kak Dipa, kau lapar ya? Sebentar aku akan ambilkan nasi dan lauknya.” Lalu winda meletakan piring yang dari tadi dipegangnya dan beranjak kembali ke ruang makan.
“Hey, tunggu dulu. Tolong kau ambilkan yang banyak ya, aku juga masih lapar.” Pinta Iqbal.
“Tentu.” Gadis kecil berkepang dua itupun kembali berlari-lari kecil menuju ruang makan. Sesampainya di sana, dia langsung berjalan mendekati Bunda Tika yang masih terlihat sibuk membagikan makanan untuk anak-anak yang lain.
“Bunda, apa aku boleh meminta sepiring penuh nasi dengan lauknya lagi?”
“Apa itu untukmu? Makanmu banyak sekali.” Kata Bunda Tika.
“Bukan, itu bukan untukku. Itu untuk Kak Iqbal dan Kak Dipa. Mereka sekarang sedang makan bersama di taman.”
“Benarkah? Kalau begitu ini, Bunda berikan yang banyak.” Lalu Bunda Tika pun menyerahkan sepiring penuh nasi dan lauk pada Winda.
“Terimakasih, bunda.”
“Iya, sama-sama.” Lalu gadis kecil itu beranjak pergi ke taman.
“Hey Kakak, apa kalian mau makan siang bersama di taman? Hari ini Kak Dipa pulang, dia ada di taman sekarang.” Kata Winda yang agak berteriak pada kakak-kakaknya yang sedang makan.
“Apa benar?” Tanya Yuda.
“Iya, dia sedang makan siang bersama Kak Iqbal.” Jawab Winda, tanpa pikir panjang lagi Yuda, Yogi, Rona, Dika, Demil dan Mahmud pun segera megikutinya sambil membawa piring-piring mereka.
Tapi, disisi lain ada seseorang yang dari tadi menguping pembicaraan mereka. Dia pun senyum-senyum sendiri dan bertingkah gaje sekali setelah mendengar kabar itu. Sekarang matanya lirik kanan dan kiri mengamati keadaan, dia menunggu kawan-kawan Dipa keluar dari ruangan dan……..
“WAAAAAAAAAAAAAAAA….    WAAAAAHAHAHAHHAHA…….” Teriak Ochi kegirangan dengan mulut penuh dengan makanan dan sukses membuat membuat dirinya menjadi pusat perhatian. “Maaf…. Maaf…. Aku menginjak kakiku sendiri.” Kata ochi dengan perasaan yang sangat malu. Menginjak kaki sendiri? Apa itu maksudnya????
“Apa yang kau lakukan, kau sudah gila berteriak-teriak saat makan?” gerutu Santi.
“Santiiiiiii……. Santi santi santi………”
“Dia benar-benar kehilangan akalnya.”
“Santi, kau tahu? Dipa pulaaaaaang,, dipa pulang…..” teriak  Ochi lagi dengan mulut penuh makanan.
“Iya aku tahu. Diamlah! Nampaknya Dipa telah membuatmu benar-benar gila” kata Santi, tapi Ochi tidak memperdulikannya.
“Dipa pulaaaaaaaang….. Dipa pulaaaaaaaaaaaa Uhuk…..Uhukk.. Uhukk….” Ochipun batuk karena tersendat makanan yang ada di mulutnya.
“Hahahahhaha, rasakan.” Kini giliran Santi yang kegirangan.

Di taman panti, terlihat dua anak yang tadi makan sepiring berdua itu kini telah menunggu makanan yang diambil oleh sodara mereka yang paling muda.
“Makanannya lama sekali.” Kata Dipa.
“Lama? Baru saja dia pergi ke ruang makan kau bilang lama? Apa kau ini sedang kelaparan?” Tanya Iqbal.
“Tadi pagi aku hanya makan roti dan susu saja, di sekolah juga aku tidak sempat makan. Jadi…… hehehehe.”
“Ya ampun, anak orang kaya sepertimu masih saja kelaparan.”
“KAKAK…… AKU BAWA NASI……..” Teriak Winda dari pintu panti.
“Ayo cepat bawa kemari! kakakmu yang satu ini sedang terserang lapar gila.” pinta Iqbal. Winda pun mempercepat langkahnya. Tapi kini Winda tidak sendirian membawa piring ke sana, dia diikuti beberapa anak laki-laki di belakangnya.
“HEY, APA KAMI JUGA BOLEH IKUT AKAN DI SANA?” teriak Mahmud.
“Kalian. Ya, cepat kemari.”Jawab Dipa. Sesampainya mereka di dana, mereka pun langsung duduk dengan beralaskan rumput. Dipa dan Iqbal juga mengikutinya.
“Bagaimana kabarmu?” Tanya Yogi.
“Sangat baik.”
“Kenapa kau tidak memberi kabar akan datang ke mari?”
“Maaf, aku tidak merencanakannya.”
“Ya sudah, sebaiknya kita lanjutkan makan. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi.” Kini mereka melanjutkan makan siangnya. Bagi 9 sekawan ini, makan siang kali ini adalah makan siang yang istimewa. Bukan hanya karena makanannya yang enak, tapi karena mereka bisa berkumpul seperti dulu.
Beberapa saat kemudian rasa lapar mereka sudah terobati, tapi rasa haus mereka yang kini belum hilang.
“Sebentar, aku mau bawa air dulu.” Kata Yogi.
“Apa kau akan bawakan air gallon lagi?” sindir Demil dan mereka semua yang ada si sanapun tersenyum dengan perkataan itu.
“Awas kau nanti.” Yogipun beranjak dari sana. Beberapa saat kemudian bukan Yogi yang muncul, tapi Ochi. Dia datang sambil membawa segelas jus jeruk.
“DIPAAAAAA…” teriak Ochi, dia pun berjalan mendekati mereka.
“Ya ampun…..” kata demil, rona dan Mahmud secara bersamaan.
“Tingkahnya semakin hari semakin aneh saja.” Komen Yuda.
“Dipa, kau pasti haus kan? Lihat apa yang aku bawa untukmu?” kata anak perempuan itu yang kini berdiri di samping Dipa.
“Apa itu?”
“Jus jeruk, kau mau kan?”
“Aku…. Aku….”
“Aku tahu kau pasti mau, ini coba. Rasanya manis, semanis diriku.” Ochi kemudian berjongkok dan menyerahkan gelas itu padanya. Tapi Dipa tidak langsung meminumnya, dia hanya memandanginya. Sebenarnya dia masih merasa kapok dengan nasi goreng buatan Ochi waktu itu. Nasi goreng saja bisa asin sekali seperti itu, bagaimana dengan minumannya? Apa akan asin juga? “Kenapa kau tidak meminumnya? Ayo diminum!”
“I-iya, aku minum.” Lalu Dipa meminumnya. ‘Ya ampun, rasanya asam. Apa dia lupa tidak manambahkan gula di dalamnya?’ gumam Dipa.
“Bagaimana?”
“Rasanya a….”
“EHEM.” Ucapan Dipa terpotong dengan tanda yang diberikan Dika barusan.
“A-aduh….Manis… iya benar. Rasanya sangat manis sekali.”
“Benarkah?” kini ekspesi Ochi berseri-seri sekali dengan pujian darinya.
“Iya, tapi aku kurang suka jika habis makan langsung minum yang manis-manis seperti ini. Aku lebih suka minum itu.” Kata Dipa sambil menunjuk Yogi yang membawa seteko penuh air putih. “Apa kau mau meminumnya sampai habis untukku?” kata Dipa dengan sedikit merayu.
“Oh, begitu ya, ya sudah aku akan meminumnya sampai habis untukmu.” Tanpa pikir panjang, Ochi mulai meneguk minuman itu. Tiba-tiba saja dia membulatkan matanya dan mengerut kan keningnya.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” Tanya Dipa.
“Tidak apa-apa.  Aku hanya….. hanya…” ucapannya terpotong oleh Dipa.
“Ayo habiskan, tadi kau bilang akan menghabiskan semuannya untukku.”
“Tapi… ini…”
“Ayo cepat!” kata Dipa sambil senyum-senyum.
“………” tapi Ochi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memandangi Dipa dengan perasaan kesal. Diapun berdiri, dan membuang muka darinya lalu dia pergi dari sana.
“Sekarang dia benar-benar-benar marah.” Kata Iqbal.
“Biarkan saja dia marah, itu kan salahnya sendiri.”
“Oh iya, aku ingat. Waktu itu dia pernah memberikanmu nasi goreng, kan?”
“Ya, memangnya kenapa?”
“Bagaimana rasanya?”
“Asin…… sangat asin….. aku hampir mati dibuatnya.”
“Hahahahaha, sudah ku kira.”

Ya… begitulah cara mereka menghabiskan sore mereka. Berbincang-bincang tentang ini dan itu tertawa bersama dan mengerjakan hal-hal yang menyenangkan bagi mereka. Tak terasa waktu pun cepat berlalu, kini tiba saatnya Dipa pulang. Dia berpamitan pada teman-temannya dan berjanji akan seing-sering datang ke panti.
Hari demi hari, waktu demi waktu kian berlalu. Entah apa yang membuat Dewi Fortuna tersasar ke panti itu dan berlama-lama di sana sehingga membuat delapan sekawan yang tersisa satu persatu di adopsi dalam waktu yang cepat. Mulai dari Yuda, Mahmud, Demil, Dika, Rona, Iqbal dan terakhir Winda dan Yogi yang diadopsi oleh pasangan suami istri yang sama.
Kini 6 tahun sudah berlalu, tapi 3 tahun terakhir ini mereka benar-benar tidak berkomunikasi karena kesibukan mereka masing-masing.
Dikediaman keluarga Rona, terlihat seorang anak laki-laki sedang melamun sedari di kamarnya. Dia berbaring di kasur empuknya dan memandangi foto kenangan di panti saat mereka bersama.
‘Apa kita akan bertemu lagi? Sudah hampir 3 tahun ini kalian menghilang satu persatu. Apa kalian masih memegang janji kalian?. Aku rindu kalian.’ Gumam Rona sambil mendekap foto berpigura biru itu.
“KRIIIIIIIIIIING…… KRIIIIIIING…….” Tiba-tiba saja ponselnya berdering, tapi entah siapa yang menelponya, karena tidak tercantum namanya.
“Halo.” Kata Rona yang mengangkat telphonnya.
“Halo, apa bisa bicara dengan Rona?” terdengar suara yang tak asing lagi dari telpon itu.
“Ya, saya sendiri. Maaf, kau siapa?”
“Ini aku..”
“Aku siapa?”
“Aku…….”
-----To Be Continued-----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar