The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 15
Fans yang Kesurupan
‘Ya tuhan, apa yang sedang terjadi ini??’ gumam
gadis itu. dia pun segera menegok ke belakangnya. Terlihat dua orang pria
sedang beradu jotos dengan hebat, tak lama penontonpun mulai ricuh dan tak
terkendali. Tias terseret ke sana kemari, dia tak mampu mempertahankan
posisinya.”AAAAAA KAKAK… TOLONG AKU,,,,,,”
“Tias??”
“AAAAAAAAAA…. TOLONGG……!!!” Kini Mahmud tak
dapat lagi berkonsentrasi dengan musiknya. Lalu dia lepaskan begitu saja gitar
yang sedang dimainkannya dan dia pun melompat ke kerumunan penonton. Seketika
musikpun terhenti, hanya terdenganr suara ricuh penonton. Mamhmud berusaha
mengejar Tias yang semakin terseter.
“TIAS…!! TIAS…!!!” Dia terus saja memanggil
nama gadis itu, Mahmud mulai panik, yang ada dipikirannya hanya ada satu yaitu
menyelamatkan Tias. ‘Kemana dia pergi?’ Gumam Mahmud, dia terus menyusuri para
menonton yang ricuh dan dia pun berhasil menemukannya. “Dapat…” Mahmud pun
menangkap tangan Tias dan menariknya. Dia merangkul tubuh Tias agar terhindar
dari serangan yang bisa saja terjadi dan membawanya ke pinggir. “Kau tidak
apa-apa?” Gadis itu pun menggeleng.
“Maaf…” kata Tias dengan lirih. Saat ini
terlihat wajah Tias yang amat sangat ketakutan.
“Mahmud, ulurkan tanganmu..!!” Ujar Ari.
“Tidak, bawa dia dulu.” Ari pun segera memegang
tangan Tias dan menariknya ke atas panggung. Sementara Mahmud dibantu oleh Bayu
dan Yana. Mereka pun segera membawa Tias ke ruangan tadi. Dari kejauhan
terlihat jelas aksi gila sang gitaris ini, terutama saat melompat dari panggung
dan membawa gadis itu kembali ke ruangan peserta lewat panggung juga.
“Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Mahmud. Tias pun
menggeleng, saat ini dia hanya bisa menangis terduduk di kursi itu.
“Tias…” Panggil seseorang yang baru saja
datang. “Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Winda. Lagi-lagi tias menggeleng, gadis
berkucir satu itu pun langsung duduk di sampingnya dan memeluk tias. “Sudah ya,
yang petning saat ini kau selamat.”
“Win, kau jaga dia ya.!” Ujar Mahmud.
“Kau mau kemana?”
“Pertungjukan harus tetap berlangsung, aku tak
mau membuat panitia disini menjadi rugi dengan dihentikannya pertungjukan ini.”
Kata Mahmud. “Deri, kau jaga mereka ya..!!”
“Ya, kau tenang saja.” Jawab Deri. Mahmud dan
anak-anak Espada lainnya pun kembali ke atas panggung dan mengambil posisinya
masing-masing.
“Ok semuanya, kami minta maaf dengan
terhentinya music kami. Kejadian tadi semoga tak terulang lagi untuk yang ke
dua kalinya.” Ujar Ari, tak sengaja Ari membaca suatu tulisan yang dibentakngan
sekumpulan penonton pada suatu kain spanduk yang bertuliskan ‘Para Pecinta
Musik Sejati’. Dia pun memiliki sebuah ide untuk dia bicarakan. “Para Pecinta
Musik Sejati!!!” Ari pun menyerukannya dan mereka yang memegang spanduk itu pun
bersorak. “Yang ada disini semuanya adalah Para Pecinta Musik Sejati, bangkitkan
jiwa music kalian. Saya minta suaranya. Para Pecinta Musik Sejati!!!!” kembali
Ari serukan sambil berkeliling dan hampir semua yang ada disana pun bersorak.
“Sekali lagi, Para Pecinta Musik Sejati!!!!!” sorakan pun kembali terdengar.
“Atas nama jiwa music, kita bangkitkan perdamaian untuk Para Pecinta Musik
Sejati. Mulai!” Musik pun kembali dimainkan, kali ini mereka membawakan lagu
dari Superman is Dead yang berjudul Kuat Kita Bersinar. Penonton kembali
bergoyang dengan irama music yang cepat ini.
Keesokan harinya, terlihat sang gitaris ini baru
saja sampai di sekolah menggunakan sepeda kesayangannya. Tanpa basa-basi, dia
langsung memarkirkannya di tempat biasa, setelah itu dia pun segera masuk ke
area campus lewat gerbang belakang.
‘Aman.’ Gumam Mahmud sambil menengok sana-sini,
sepertinya dia memastika preman-preman sekolah yang sering nongkrong disana
sedang cuti bersama. Dia terus berjalan menyusuri koridor kelas. Saat itu dia
melihat banyak sekali kerumunan anak perempuan yang memperhatikannya di
sepangjang koridor. ‘Mereka itu kenapa sih? Apa hari ini penampilanku aneh?’
dia pun terus berjalan seakan tak menghiraukannya. Tapi pada saat dia melewati
kerumunan anak perempuan yang satu ini, sesuatu pun terjadi.
“KYAAAAA….. GITARIS ESPADA….. KYA KYA KYA……”
Gadis itupun menari-nari gaje di depan Mahmud. Mahmud hanya memandanginya
dengan heran. “Kau adalah gitaris yang paling keren dari semuanya… aku ini
adalah fans mu..” Kata Maya sambil menjabat tangan Mahmud dengan tingkahnya
yang gaje.
“Kau ini kenapa? fans apa?”
“Ya ampun, kau ini kenapa? aksi kerenmu kemarin
sekarang sedang buming di Koran, internet dan sekolah ini. Andai saja yang kau
selamatan itu aku….”
“A-apa?” Mahmud pun berniat untuk menanyakan
hal ini pada teman-temannya dan beranjak dari sana. “Maaf, aku harus pergi.”
“Eh kau mau kemana?” Maya pun meraih kedua
tangan Mahmud dan berusaha menahannya agar tetap tinggal. “Jangan pergi, kau
adalah idolaku…”
“Maaf….” Mahmud pun melepaskan tangan Maya dan
segera tancap gas ke kelasnya.
“Hey, kenapa kau pergi? Padahal aku masih ingin
mengatakan beberapa hal padamu… hey!!!” yah… begitulah aksi salah satu dari
Fans barunya. Mahmud terus berlari menuju kelasnya, tapi saat beberapa langkah
lagi ke kelasnya dia melihat banyak sekali kerumunan siswa perempuan yang
menghalangi pintu masuk.
“Kyaaaaaa!!! Itu Mahmud…” Teriak seseorang.
“Ya ampun….” Terpaksa, mau tidak mau dia harus
menerobos kerumunan itu. “Maaf, aku mau lewat…” Mahmud pun mulai menerobos
sambil ada beberapa orang yang mencoba mencubit pipinya, menarik tangannya dan
bahkan menarik tasnya. “Hey… hey… jangan tarik tasku…!!” Mahmud pun berusaha
menariknya dan dia pun berhasil menerobos lalu segera duduk di bangkunya.
“Gila…. Aku hampir mati, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
“Ini karena aksimu kemarin.” Jawab Ari.
Sepertinya tiga Espada yang ini juga bernasib sama seperti Mahmud. Kancing baju
Ari copot, rambut Bayu terlihat acak-acakan dan terlihat beberapa bekas cubitan
dipipinya dan Yana topinya hilang entah kemana. Sepertinya ada orang yang
mengambilnya waktu dia dikerumuni.
“Apa, tapi kenapa jadi seperti ini?”
“Sepertinya ada yang mengunggah video saat kita
dipanggung dan sepertinya disana ada wartawan yang menyebarkannya dikoran.
Jadi…….” Kata Bayu sabil membereskan rambutnya.
“Topiku…. Topiku hilaaaaaang…. Topiku yang
berharga. Sekarang bagaimana dengan nasib kepalaku??” Sekarang yana mulai
bertingkah gaje seperti orang depresi karena kehilangan sebuah topi.
“Ini, pakai saja punyaku.” Mamhud pun
memberikan topi sekolah pada teman sebangkunya itu.
“Tidak, topinya tidak sama dengan punyaku.
Topiku itu berbeda, kami telah melalui banyak hal bersama. Aku mau topiku….!!!”
Yana pun mengacak-acak kepalanya.
“Cepat pakai saja, lagi pula topimu itu juga
topi seklolah seperti ini kan??”
“TIDAK!!!” Yana membentak Mahmud, lalu Yana pun
membungkukan badannya ke meja dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Topiku yang malang!!! Kepalaku merindukanmu!!!!”
‘Stres!!!!’ Gumam Mahmud. “Lalu sekarang
bagaimana?”
“Entahlah, sepertinya kita biarkan saja ini
mereda dengan sendirinya.” Jawab Ari.
“Haaaaaaaaahhh……” Mahmdu pun mengelah nafas
panjang.
Dikelas Tias.
“Kyaaaa!! Apa benar seperti itu?” Tanya Widiya,
Tias pun menganggukan kepalanya.
“Aku merasa sangat bersalah padanya.” Ujar
tias.
“Sudahlah, yang penting saat ini kau kan
selamat. Lagi pula Espada mendapatkan keuntungan dari itu.” Kata Rina
“Tapi… tapi…..”
“Ya, itu benar. Ini lebih baik dari pada
kemarin kau babak belur karena ikut dipukul orang.” Winda pun menambahkan.
“TAPI TIDAK SEPERTI ITU…..” Tias pun berteriak.
“Keuntungan apa? Apa kalian tidak lihat, anak-anak perempuan di sekolah ini
seperti kesurupan mengejar-ngejar mereka. aku tidak tega melihat mereka seperti
itu.”
“Tapi aku rasa sebentar lagi kau akan jadi primadona
di sekolah ini.” Kata Widiya.
“Primadona apanya? Aku tidak mau.”
“Sudahlah, sekarang kau jangan terlalu
memikirkan hal ini. Aku yakin mereka dapat mengatasinya. Kau tak perlu
menyesalinya, karena aku yakin ini akan menjadi perubahan yang baik untuk
mereka dan juga untukmu.” Ujar Rina.
“Benarkah?” Tanya Tias, Rina pun mengangguk.
Memang ini adalah hari Senin yang sangat berat
untuk anak-anak Espada, Saat pelajaran dimulaipun setiap guru yang mengajar di
kelas mereka pun lagi-lagi membahas hal itu. ada yang memuji, ada juga yang
mengritik mereka. Rasanya memang senang memiliki banyak fans karena aksi heroic
kemarin, tapi sangatlah pusing menghadapi mereka yang seolah-olah seperti
kesurupan.
Saat jam istirahat pun mereka tak bisa kemana-mana,
karena para anak perempuan itu terus saja mengerumuni pintu masuk dan ada juga
yang melihat mereka dari jendela kelas. Yana masih terlihat depresi, bayu masih
mengelus-elus pipinya karena bekas cubitan yang masih merah dan sepertinya akan
membiru. Ari asik sendiri mendengarkan music dari headphonnya dan Mahmud hanya
bisa tiduran dengan posisi membungkuk di meja. Sesekali dia melihat ke pintu
dan mereka masih ada untung saja pintunya ditutup dan mereka tidak masuk. Jika
tidak, pasti Yana akan brutal karena tidak tahan dengan keadaan seperti ini.
‘Semoga Yana tidak apa-apa, mungkin ini hanya
efek dari fans baru dihari pertama. Haaaaah… sudahlah.’ Gumam Mahmdu, dia pun
berusaha menutup matanya. Berharap dia
bisa terlelap sebentas sampai bell masuk berbunyi kembali.
Saat ini kelas mulai sepi, para fans itu mulai
membubarkan dirinya karena idola mereka tak juga mau keluar dari kelas. Hening
pun mulai tercipta, hanya terdengar bunyi gaduh siswa seperti biasa.
‘Akhirnya….’ Gumam Mahmud yang masih memejamkan
matanya. Tak lama, Mahmud mulai merasakan getaran dari saku celananya. Pria itu
pun segera meraih dan mengambil benda itu dari saku celananya. Dia lihat ada
pesan masuk di ponselnya.
From : Intan
Tuan musisi, kau sedang apa?
‘Tak biasanya dia mengirimku pesan saat jam
seperti ini. Aku kira dia sedang sibuk dengan mata kuliahnya.’ Gumam Mahmud,
dia pun mulai memencet-mencet tombol yang ada di ponselnya.
To : Intan
Sedang tiduran. Ada apa?
Biasanya jam segini kau sibuk, kan?
Mahmud pun mengirimkan pesan singkatnya dan
beberapa saat kemudian ponselnya bergetar kembali.
From : Intan
Tiduran? Apa kau sedang tidak enak badan?
Saat ini aku sedang punya waktu luang.
Aku iseng saja meng-SMS mu,
Siapa tahu kau membalasnya.
Ternyata benarkan kau membalasnya. :)
To: Intan
Tidak, aku sedang tidak punya kerjaan saja di kelas.
Iseng ya?
From : Intan
Ya…. Apa hari ini band mu ada jadwal latian?
To : Intan
Tidak. Memangnya ada apa?
From : Intan
Bagus…!! Berarti nanti kau ada di toko kan?
Aku akan mampir ke tokomu.
To : Intan
Ya, silahkan saja kalau mau mampir.
From : Intan
Iya. Ya sudah, sampai nanti.
Mahmud kembali memasukan posel ke saku
celananya. Singkat cerita jam pelajaran hari ini pun berakhir dan semua siswa
pun bubar. Tapi pria muda ini masih tetap di kelas, padahal buku-bukunya sudah
dia bereskan dan kelas pun sudah kosong. Dia kembali mengeluarkan ponselnya dan
memandangi ponsel itu lekat-lekat.
“Dia, cantik.” Ujar Mahmud, ternyata dia sedang
memandangi foto seorang gadis. “Tapi sekarang bukan waktu yang tepat, ku lihat
kau masih terlihat dingin. Tapi aku akan berusaha agar kau menyadarinya walau
aku belum mengatakannya secara langsung.” Mahmud pun kembali memasukan benda
itu ke saku celananya dan menggendong tas hitam yang ada di sampingnya. Dia pun
beranjak dari kelas dan kembali menyusuri koridor kelas. Tapi tiba-tiba
langkahnya terhenti, dia melihat seorang gadis baru saja keluar dari pintu kelasnya.
Rambut tergerai dengan bando pita berwarna putih terpasang di kelapanya.
Jantung pria itu mulai berdegup kencang, kaki yang berdiri kokoh pun mulai
gemetar. Tangannya mulai dingin dan keringat mulai keluar dari tubuhnya. Pria
itu pun menarik nafas panjang dan kembali berjalan menghampiri gadis itu.
“Tias…” Panggil Mahmud, Tias pun menoleh.
“Kak Mahmud..?”
“Kenapa kau sendirian, apa yang lainnya sudah
pulang?”
“Ya begitulah, tadi saat jam pelajaran terakhir
aku dipanggil oleh pak Fadhila.”
“Kenapa?”
“A-anu, karena aku tidak mengumpulkan pekerjaan
rumah yang dia berikan minggu lalu. Sepertinya kemarin malam aku lupa memasukan
buku itu ke dalam tasku.”
“Begitu ya.” Jawab Mahmud, mereka pun mulai
melangkahkan kaki mereka menuju gerbang belakang. “Oh iya, apa sekarang kau
sedang tidak bawa sepeda?”
“Em,, aku bawa. Memangnya kenapa?”
“Wah sayang sekali ya, tadinya aku ingin
mengantarmu pulang.”
“Benarkah?” Tias pun tertawa kecil. “Tapi
sepertinya jika bersepeda berdua itu jauh lebih menyenangkan.”
“Baiklah kalau begitu, aku setuju.”
“Eh, tunggu..!!!” Tias pun menghentikan
langkahnya.
“Ada apa?”
“Tapi kalau fans-mu marah bagaimana?”
“Fans, fans apa?” Mahmdu pun mulai tertawa.
“Fans itu, bukannya tadi di kelas kau
dikerumuni oleh anak perempuan. Itu namanya fans, kan?”
“Hahahaha…. Kau ini ada-ada saja, aku rasa
tidak. Bagiku masih terlalu cepat jika aku memiliki fans seperti itu, ya….
Bukan berarti aku tidak mensyukurinya tapi, bagaimana ya mengatakannya?”
“Apa benar? Biasanya anak laki-aki selalu
senang jika dia tau kalau dirinya mempunyai banyak fans??!!” wajah Tias pun kini
menunjukan raut wajah keraguan yang sangat jelas.
“Ya begitulah,, sudah lupakan saja. Ayo
cepat..!!” Mahmud pun menggenggam tangan Tias dan menariknya agar mereka segera
keluar dari area sekolah.
“Mereka berpegangan tangan…. Apa mereka itu
sepasang kekasih?? Ini benar-benar berita hangat, ternyata bukan semata-mata
alasan biasa waktu itu dia menyelamatkannya.” Kata seseorang, ternyata sedari
tadi ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka.
Semetara itu di halaman toko, terlihat tujuh
sekawan ini baru saja tiba. Tanpa basa-basi mereka langsung saja memasukan
sepeda mereka ke dalam garasi dan segera naik ke lantai dua. Mereka mulai
mengganti baju dan bersiap-siap untuk santap siang.
“Hari ini aku lelah sekali….” Ujar Dika sambil
merebahkan dirinya di karpet. “Dasar penjaga sekolah gila, gara-gara aku
terlambat satu menit aku disuruh lari marathon berkelining lapangan.”
“Memangnya kenapa, itu sudah peraturan kan?”
Tanya Dipa.
“Bukan masalah peraturannya, tapi dia
benar-benar tidak berperasaan. Saat jam terakhir tadi, dia menyuruhku berlari
dilapangan 20 keliling. Mana panas, lalu yang dihukum hanya aku. Ditambah lagi
aku dilihat oleh banyak anak perempuan.”
“Memangnya sudah berapa kali kau terlambat?”
“Lima kali berturut-turut.” Kata Dika dengan
datar.
“Ya tentu saja, dasar bodoh. Siapa pun pasti
akan geram menghukumu beberapa kali secara berturut-turut. Kau sudah tahu
sendirikan, pak Ahmad selain jadi penjaga sekolah dia sudah seperti algojo di
sekolah kita. Badannya yang tinggi besar dan kekar, juga ditambah wajah yang
sangar itu…..” kata-kata Dipa pun terpotong.
“Jangan berlebihan menggambarkan orang.” Kata
Iqbal. “Bukannya dia berbentuk…..” Iqbal pun mulai memutarkan tangannya
membentuk lingkaran yang besar. “Hihihihi…”
“Hey.. hey.. jaga bicaramu.!” Rona pun
ikut-ikutan. “Paling tidak ada sebuah keuntungan juga kan untuk kita.”
“Keuntungan apa? Algojo kok ada untungnya.”
“Dasar kau ini.” Rona pun tertawa kecil. “Kau
tahu sendiri kan dia adalah algojo sekolah. Setiap siswa yang bermasalah akan
berhadapan dengannya, siapa pun itu. untuk sekarang, kita sedang tidak akur
dengan para preman sekolah itukan? Mungkin secara singkatnya, jika mereka
berbuat masalah dengan kita, kita bisa langsung melaporkan hal itu pada pak
ahmad. Jadi baik-baiklah kau Dik padanya..!!”
“Benar juga. Ya mungkin untuk besok aku tak
akan terlambat lagi.” Ujar Dika.
“Sepertinya kita punya tentara barisan depan.”
Kata Dipa.
Dipihak lain, saat ini Mahmud dan Tias dengang
bersepeda menyusuri jalan yang lebih jauh dari pada biasanya. Tak lama,
anginpun berhembus kencang menerpa tiap helai rambut mereka. pantulan cahaya
matahari dari sebuah danau besar menggoda mereka untuk berhenti sejenak.
“Tias, kita berhenti dulu disini bagaimana?”
Tanya Mahmud.
“Boleh juga.” Jemari merekapun langsung meraih
rem dan sepeda pun berhenti. Lalu merekapun turun dari sepeda dan mengambil
tempat duduk yang hanya beralaskan rumput yang tumbuh di pinggir jalan.
“Danaunya sangat luas ya, rasanya sudah lama
sekali aku tidak kesini.” Ujar Tias.
“Memangnya kapan kau terakhir kali kesini?”
Tanya Mahmud.
“Saat umurku 4 tahun, saat ayah dan ibuku masih
bersama.” Tias pun menundukan kepalanya.
“Maaf..”
“Tidak apa-apa. Lagi pula itu hanya cerita
lama, kan?” Tias pun tersenyum yang sukses membuat Mahmud membulatkan matanya.
‘Gadis ini benar-benar tegar, dia berusaha
tetap tersenyum walaupun itu terasa sakit.’ Gumam Mahmud.
“Lalu, kapan terakhir kali kakak kemari?”
“Dua minggu yang lalu, saat aku iseng mencari
jalan ke sini. Ternyata aku menemukan tempat seindah ini.”
“Begitu ya, semua orang pasti akan bilang kalau
tempat ini indah.” Sunyi tercipta kembali, tak ada pembicaraan yang keluar dari
mulut mereka. hanya terdengar suara angin dan air yang mengalir. Kala itu
terlintas suatu pertanyaan dalam pikiran Mahmud, rasa penasaran yang amat
sangat. Biar pun itu adalah pertanyaan serius yang pertama baginya.
“Em Tias..!!”
“Hm..?”
“A-anu, sebenarnya kau suka tipe laki-laki yang
seperti apa?” pipi Mahmud pun mulai merona.
“Kenapa kau tanyakan hal seperti itu?” Pipi
Tias juga ikut-ikutan merona.
“Ti-tidak, aku hanya ingin tahu saja. Bukan meksudku
untuk hehehehe…”
“Oh begitu ya.” Tiaspun tersenyum. Matanya langsung
tertuju pada hamparan air danau yang ada dihadapannya. “Aku suka dengan
laki-laki yang kuat.”
“Kenapa?”
“Karena aku termasuk orang yang lemah. Dulu ayahku
berusaha untuk melindungiku apapun yang terjadi. Tapi sekarang ayahku…..”
Tiaspun kembali tertawa kecil. “Sekarang siapa yang akan melindungiku? Ibuku sangat
sibuk dengan urusan kantornya, haaaaaaahhh…. Ternyata aku ini benar-benar
lemah.”
“Tapi menurutku kau itu sangat kuat.” Tiaspun
membulatkan matanya. “Tak setiap orang mampu tersenyum pada saat dia
membicarakan masalah yang berat baginya. Aku kagum kau bisa tersenyum saat kau
bilang itu adalah cerita lama. Sungguh sosok yang tegar. Sepertinya aku harus
belajar hal itu darimu.”
“Kau sedang mengiburku kan?”
“Tidak.” Jawab Mahmud dengan datar. Tiaspun
kembali tertawa kecil.
“Oh iya, terimakasih. Terimakasih karena telah
menyelamatkanku kemarin, aku senang ternyata masih ada orang yang mau melindungiku.
Kau adalah pahlawanku.” Tias tersenyum dan Mahmud hanya membulatkan matanya dan
pipinya kembali merona.
“I-itu bukan apa-apa, lagi pula aku yang harus
bertanggung jawab jika terjadi apa-apa padamu kan?” ujar Mahmud. ‘Apapun akan
aku lakukan untukmu.’ Gumam Mahmud.
Dipihak lain, di dalam mobil merah muda.
“Kyaaaa sebentar lagi aku akan bertemu dengan
tuam musisi….” Ujar Intan dengan gaje sambil menyetir mobilnya. Saat ini dia
sedang melewati kawasan danau yang sama dengan Mahmud dan Tias. Mobil itu terus
melasju dan melaju. Tapi tiba-tiba intan
membulatkan matanya.
“Tu-tuan musisi….”
Lalu dipihak Mahmud.
“A-anu Tias, aku ingin menawarkan seseuatu
padamu.” Ujar Mahmud.
“Apa?”
“Em, kau bilang kau sedang membutuhkan orang
yang kuat agar bisa melindungimu kan?”
“Lalu.??”
“A-aku… aku..mau…..” ucapan Mahmud terpotong.
TIIIIDDD…. TIIIIDD…..
Seseorang membunyikan klakson mobilnya yang
sukses membuat keduanya melihat ke arah sumber suara itu. mobil itu pun
berhenti dan kaca mobil itu pun terbuka.
“Tuan Musisi sedang apa kau disini?”
---To Be Continued---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar