Jumat, 27 September 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 15"



The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 15
Fans yang Kesurupan

‘Ya tuhan, apa yang sedang terjadi ini??’ gumam gadis itu. dia pun segera menegok ke belakangnya. Terlihat dua orang pria sedang beradu jotos dengan hebat, tak lama penontonpun mulai ricuh dan tak terkendali. Tias terseret ke sana kemari, dia tak mampu mempertahankan posisinya.”AAAAAA KAKAK… TOLONG AKU,,,,,,”
“Tias??”
“AAAAAAAAAA…. TOLONGG……!!!” Kini Mahmud tak dapat lagi berkonsentrasi dengan musiknya. Lalu dia lepaskan begitu saja gitar yang sedang dimainkannya dan dia pun melompat ke kerumunan penonton. Seketika musikpun terhenti, hanya terdenganr suara ricuh penonton. Mamhmud berusaha mengejar Tias yang semakin terseter.
“TIAS…!! TIAS…!!!” Dia terus saja memanggil nama gadis itu, Mahmud mulai panik, yang ada dipikirannya hanya ada satu yaitu menyelamatkan Tias. ‘Kemana dia pergi?’ Gumam Mahmud, dia terus menyusuri para menonton yang ricuh dan dia pun berhasil menemukannya. “Dapat…” Mahmud pun menangkap tangan Tias dan menariknya. Dia merangkul tubuh Tias agar terhindar dari serangan yang bisa saja terjadi dan membawanya ke pinggir. “Kau tidak apa-apa?” Gadis itu pun menggeleng.
“Maaf…” kata Tias dengan lirih. Saat ini terlihat wajah Tias yang amat sangat ketakutan.
“Mahmud, ulurkan tanganmu..!!” Ujar Ari.
“Tidak, bawa dia dulu.” Ari pun segera memegang tangan Tias dan menariknya ke atas panggung. Sementara Mahmud dibantu oleh Bayu dan Yana. Mereka pun segera membawa Tias ke ruangan tadi. Dari kejauhan terlihat jelas aksi gila sang gitaris ini, terutama saat melompat dari panggung dan membawa gadis itu kembali ke ruangan peserta lewat panggung juga.

“Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Mahmud. Tias pun menggeleng, saat ini dia hanya bisa menangis terduduk di kursi itu.
“Tias…” Panggil seseorang yang baru saja datang. “Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Winda. Lagi-lagi tias menggeleng, gadis berkucir satu itu pun langsung duduk di sampingnya dan memeluk tias. “Sudah ya, yang petning saat ini kau selamat.”
“Win, kau jaga dia ya.!” Ujar Mahmud.
“Kau mau kemana?”
“Pertungjukan harus tetap berlangsung, aku tak mau membuat panitia disini menjadi rugi dengan dihentikannya pertungjukan ini.” Kata Mahmud. “Deri, kau jaga mereka ya..!!”
“Ya, kau tenang saja.” Jawab Deri. Mahmud dan anak-anak Espada lainnya pun kembali ke atas panggung dan mengambil posisinya masing-masing.
“Ok semuanya, kami minta maaf dengan terhentinya music kami. Kejadian tadi semoga tak terulang lagi untuk yang ke dua kalinya.” Ujar Ari, tak sengaja Ari membaca suatu tulisan yang dibentakngan sekumpulan penonton pada suatu kain spanduk yang bertuliskan ‘Para Pecinta Musik Sejati’. Dia pun memiliki sebuah ide untuk dia bicarakan. “Para Pecinta Musik Sejati!!!” Ari pun menyerukannya dan mereka yang memegang spanduk itu pun bersorak. “Yang ada disini semuanya adalah Para Pecinta Musik Sejati, bangkitkan jiwa music kalian. Saya minta suaranya. Para Pecinta Musik Sejati!!!!” kembali Ari serukan sambil berkeliling dan hampir semua yang ada disana pun bersorak. “Sekali lagi, Para Pecinta Musik Sejati!!!!!” sorakan pun kembali terdengar. “Atas nama jiwa music, kita bangkitkan perdamaian untuk Para Pecinta Musik Sejati. Mulai!” Musik pun kembali dimainkan, kali ini mereka membawakan lagu dari Superman is Dead yang berjudul Kuat Kita Bersinar. Penonton kembali bergoyang dengan irama music yang cepat ini.

Keesokan harinya, terlihat sang gitaris ini baru saja sampai di sekolah menggunakan sepeda kesayangannya. Tanpa basa-basi, dia langsung memarkirkannya di tempat biasa, setelah itu dia pun segera masuk ke area campus lewat gerbang belakang.
‘Aman.’ Gumam Mahmud sambil menengok sana-sini, sepertinya dia memastika preman-preman sekolah yang sering nongkrong disana sedang cuti bersama. Dia terus berjalan menyusuri koridor kelas. Saat itu dia melihat banyak sekali kerumunan anak perempuan yang memperhatikannya di sepangjang koridor. ‘Mereka itu kenapa sih? Apa hari ini penampilanku aneh?’ dia pun terus berjalan seakan tak menghiraukannya. Tapi pada saat dia melewati kerumunan anak perempuan yang satu ini, sesuatu pun terjadi.
“KYAAAAA….. GITARIS ESPADA….. KYA KYA KYA……” Gadis itupun menari-nari gaje di depan Mahmud. Mahmud hanya memandanginya dengan heran. “Kau adalah gitaris yang paling keren dari semuanya… aku ini adalah fans mu..” Kata Maya sambil menjabat tangan Mahmud dengan tingkahnya yang gaje.
“Kau ini kenapa? fans apa?”
“Ya ampun, kau ini kenapa? aksi kerenmu kemarin sekarang sedang buming di Koran, internet dan sekolah ini. Andai saja yang kau selamatan itu aku….”
“A-apa?” Mahmud pun berniat untuk menanyakan hal ini pada teman-temannya dan beranjak dari sana. “Maaf, aku harus pergi.”
“Eh kau mau kemana?” Maya pun meraih kedua tangan Mahmud dan berusaha menahannya agar tetap tinggal. “Jangan pergi, kau adalah idolaku…”
“Maaf….” Mahmud pun melepaskan tangan Maya dan segera tancap gas ke kelasnya.
“Hey, kenapa kau pergi? Padahal aku masih ingin mengatakan beberapa hal padamu… hey!!!” yah… begitulah aksi salah satu dari Fans barunya. Mahmud terus berlari menuju kelasnya, tapi saat beberapa langkah lagi ke kelasnya dia melihat banyak sekali kerumunan siswa perempuan yang menghalangi pintu masuk.
“Kyaaaaaa!!! Itu Mahmud…” Teriak seseorang.
“Ya ampun….” Terpaksa, mau tidak mau dia harus menerobos kerumunan itu. “Maaf, aku mau lewat…” Mahmud pun mulai menerobos sambil ada beberapa orang yang mencoba mencubit pipinya, menarik tangannya dan bahkan menarik tasnya. “Hey… hey… jangan tarik tasku…!!” Mahmud pun berusaha menariknya dan dia pun berhasil menerobos lalu segera duduk di bangkunya. “Gila…. Aku hampir mati, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
“Ini karena aksimu kemarin.” Jawab Ari. Sepertinya tiga Espada yang ini juga bernasib sama seperti Mahmud. Kancing baju Ari copot, rambut Bayu terlihat acak-acakan dan terlihat beberapa bekas cubitan dipipinya dan Yana topinya hilang entah kemana. Sepertinya ada orang yang mengambilnya waktu dia dikerumuni.
“Apa, tapi kenapa jadi seperti ini?”
“Sepertinya ada yang mengunggah video saat kita dipanggung dan sepertinya disana ada wartawan yang menyebarkannya dikoran. Jadi…….” Kata Bayu sabil membereskan rambutnya.
“Topiku…. Topiku hilaaaaaang…. Topiku yang berharga. Sekarang bagaimana dengan nasib kepalaku??” Sekarang yana mulai bertingkah gaje seperti orang depresi karena kehilangan sebuah topi.
“Ini, pakai saja punyaku.” Mamhud pun memberikan topi sekolah pada teman sebangkunya itu.
“Tidak, topinya tidak sama dengan punyaku. Topiku itu berbeda, kami telah melalui banyak hal bersama. Aku mau topiku….!!!” Yana pun mengacak-acak kepalanya.
“Cepat pakai saja, lagi pula topimu itu juga topi seklolah seperti ini kan??”
“TIDAK!!!” Yana membentak Mahmud, lalu Yana pun membungkukan badannya ke meja dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Topiku yang malang!!! Kepalaku merindukanmu!!!!”
‘Stres!!!!’ Gumam Mahmud. “Lalu sekarang bagaimana?”
“Entahlah, sepertinya kita biarkan saja ini mereda dengan sendirinya.” Jawab Ari.
“Haaaaaaaaahhh……” Mahmdu pun mengelah nafas panjang.

Dikelas Tias.
“Kyaaaa!! Apa benar seperti itu?” Tanya Widiya, Tias pun menganggukan kepalanya.
“Aku merasa sangat bersalah padanya.” Ujar tias.
“Sudahlah, yang penting saat ini kau kan selamat. Lagi pula Espada mendapatkan keuntungan dari itu.” Kata Rina
“Tapi… tapi…..”
“Ya, itu benar. Ini lebih baik dari pada kemarin kau babak belur karena ikut dipukul orang.” Winda pun menambahkan.
“TAPI TIDAK SEPERTI ITU…..” Tias pun berteriak. “Keuntungan apa? Apa kalian tidak lihat, anak-anak perempuan di sekolah ini seperti kesurupan mengejar-ngejar mereka. aku tidak tega melihat mereka seperti itu.”
“Tapi aku rasa sebentar lagi kau akan jadi primadona di sekolah ini.” Kata Widiya.
“Primadona apanya? Aku tidak mau.”
“Sudahlah, sekarang kau jangan terlalu memikirkan hal ini. Aku yakin mereka dapat mengatasinya. Kau tak perlu menyesalinya, karena aku yakin ini akan menjadi perubahan yang baik untuk mereka dan juga untukmu.” Ujar Rina.
“Benarkah?” Tanya Tias, Rina pun mengangguk.

Memang ini adalah hari Senin yang sangat berat untuk anak-anak Espada, Saat pelajaran dimulaipun setiap guru yang mengajar di kelas mereka pun lagi-lagi membahas hal itu. ada yang memuji, ada juga yang mengritik mereka. Rasanya memang senang memiliki banyak fans karena aksi heroic kemarin, tapi sangatlah pusing menghadapi mereka yang seolah-olah seperti kesurupan.
Saat jam istirahat pun mereka tak bisa kemana-mana, karena para anak perempuan itu terus saja mengerumuni pintu masuk dan ada juga yang melihat mereka dari jendela kelas. Yana masih terlihat depresi, bayu masih mengelus-elus pipinya karena bekas cubitan yang masih merah dan sepertinya akan membiru. Ari asik sendiri mendengarkan music dari headphonnya dan Mahmud hanya bisa tiduran dengan posisi membungkuk di meja. Sesekali dia melihat ke pintu dan mereka masih ada untung saja pintunya ditutup dan mereka tidak masuk. Jika tidak, pasti Yana akan brutal karena tidak tahan dengan keadaan seperti ini.
‘Semoga Yana tidak apa-apa, mungkin ini hanya efek dari fans baru dihari pertama. Haaaaah… sudahlah.’ Gumam Mahmdu, dia pun berusaha  menutup matanya. Berharap dia bisa terlelap sebentas sampai bell masuk berbunyi kembali.
Saat ini kelas mulai sepi, para fans itu mulai membubarkan dirinya karena idola mereka tak juga mau keluar dari kelas. Hening pun mulai tercipta, hanya terdengar bunyi gaduh siswa seperti biasa.
‘Akhirnya….’ Gumam Mahmud yang masih memejamkan matanya. Tak lama, Mahmud mulai merasakan getaran dari saku celananya. Pria itu pun segera meraih dan mengambil benda itu dari saku celananya. Dia lihat ada pesan masuk di ponselnya.

From : Intan
Tuan musisi, kau sedang apa?

‘Tak biasanya dia mengirimku pesan saat jam seperti ini. Aku kira dia sedang sibuk dengan mata kuliahnya.’ Gumam Mahmud, dia pun mulai memencet-mencet tombol yang ada di ponselnya.

To : Intan
Sedang tiduran. Ada apa?
Biasanya jam segini kau sibuk, kan?

Mahmud pun mengirimkan pesan singkatnya dan beberapa saat kemudian ponselnya bergetar kembali.

From : Intan
Tiduran? Apa kau sedang tidak enak badan?
Saat ini aku sedang punya waktu luang.
Aku iseng saja meng-SMS mu,
Siapa tahu kau membalasnya.
Ternyata benarkan kau membalasnya. :)

To: Intan
Tidak, aku sedang tidak punya kerjaan saja di kelas.
Iseng ya?

From : Intan
Ya…. Apa hari ini band mu ada jadwal latian?

To : Intan
Tidak. Memangnya ada apa?

From : Intan
Bagus…!! Berarti nanti kau ada di toko kan?
Aku akan mampir ke tokomu.

To : Intan
Ya, silahkan saja kalau mau mampir.

From : Intan
Iya. Ya sudah, sampai nanti.

Mahmud kembali memasukan posel ke saku celananya. Singkat cerita jam pelajaran hari ini pun berakhir dan semua siswa pun bubar. Tapi pria muda ini masih tetap di kelas, padahal buku-bukunya sudah dia bereskan dan kelas pun sudah kosong. Dia kembali mengeluarkan ponselnya dan memandangi ponsel itu lekat-lekat.
“Dia, cantik.” Ujar Mahmud, ternyata dia sedang memandangi foto seorang gadis. “Tapi sekarang bukan waktu yang tepat, ku lihat kau masih terlihat dingin. Tapi aku akan berusaha agar kau menyadarinya walau aku belum mengatakannya secara langsung.” Mahmud pun kembali memasukan benda itu ke saku celananya dan menggendong tas hitam yang ada di sampingnya. Dia pun beranjak dari kelas dan kembali menyusuri koridor kelas. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, dia melihat seorang gadis baru saja keluar dari pintu kelasnya. Rambut tergerai dengan bando pita berwarna putih terpasang di kelapanya. Jantung pria itu mulai berdegup kencang, kaki yang berdiri kokoh pun mulai gemetar. Tangannya mulai dingin dan keringat mulai keluar dari tubuhnya. Pria itu pun menarik nafas panjang dan kembali berjalan menghampiri gadis itu.

“Tias…” Panggil Mahmud, Tias pun menoleh.
“Kak Mahmud..?”
“Kenapa kau sendirian, apa yang lainnya sudah pulang?”
“Ya begitulah, tadi saat jam pelajaran terakhir aku dipanggil oleh pak Fadhila.”
“Kenapa?”
“A-anu, karena aku tidak mengumpulkan pekerjaan rumah yang dia berikan minggu lalu. Sepertinya kemarin malam aku lupa memasukan buku itu ke dalam tasku.”
“Begitu ya.” Jawab Mahmud, mereka pun mulai melangkahkan kaki mereka menuju gerbang belakang. “Oh iya, apa sekarang kau sedang tidak bawa sepeda?”
“Em,, aku bawa. Memangnya kenapa?”
“Wah sayang sekali ya, tadinya aku ingin mengantarmu pulang.”
“Benarkah?” Tias pun tertawa kecil. “Tapi sepertinya jika bersepeda berdua itu jauh lebih menyenangkan.”
“Baiklah kalau begitu, aku setuju.”
“Eh, tunggu..!!!” Tias pun menghentikan langkahnya.
“Ada apa?”
“Tapi kalau fans-mu marah bagaimana?”
“Fans, fans apa?” Mahmdu pun mulai tertawa.
“Fans itu, bukannya tadi di kelas kau dikerumuni oleh anak perempuan. Itu namanya fans, kan?”
“Hahahaha…. Kau ini ada-ada saja, aku rasa tidak. Bagiku masih terlalu cepat jika aku memiliki fans seperti itu, ya…. Bukan berarti aku tidak mensyukurinya tapi, bagaimana ya mengatakannya?”
“Apa benar? Biasanya anak laki-aki selalu senang jika dia tau kalau dirinya mempunyai banyak fans??!!” wajah Tias pun kini menunjukan raut wajah keraguan yang sangat jelas.
“Ya begitulah,, sudah lupakan saja. Ayo cepat..!!” Mahmud pun menggenggam tangan Tias dan menariknya agar mereka segera keluar dari area sekolah.

“Mereka berpegangan tangan…. Apa mereka itu sepasang kekasih?? Ini benar-benar berita hangat, ternyata bukan semata-mata alasan biasa waktu itu dia menyelamatkannya.” Kata seseorang, ternyata sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka.

Semetara itu di halaman toko, terlihat tujuh sekawan ini baru saja tiba. Tanpa basa-basi mereka langsung saja memasukan sepeda mereka ke dalam garasi dan segera naik ke lantai dua. Mereka mulai mengganti baju dan bersiap-siap untuk santap siang.
“Hari ini aku lelah sekali….” Ujar Dika sambil merebahkan dirinya di karpet. “Dasar penjaga sekolah gila, gara-gara aku terlambat satu menit aku disuruh lari marathon berkelining lapangan.”
“Memangnya kenapa, itu sudah peraturan kan?” Tanya Dipa.
“Bukan masalah peraturannya, tapi dia benar-benar tidak berperasaan. Saat jam terakhir tadi, dia menyuruhku berlari dilapangan 20 keliling. Mana panas, lalu yang dihukum hanya aku. Ditambah lagi aku dilihat oleh banyak anak perempuan.”
“Memangnya sudah berapa kali kau terlambat?”
“Lima kali berturut-turut.” Kata Dika dengan datar.
“Ya tentu saja, dasar bodoh. Siapa pun pasti akan geram menghukumu beberapa kali secara berturut-turut. Kau sudah tahu sendirikan, pak Ahmad selain jadi penjaga sekolah dia sudah seperti algojo di sekolah kita. Badannya yang tinggi besar dan kekar, juga ditambah wajah yang sangar itu…..” kata-kata Dipa pun terpotong.
“Jangan berlebihan menggambarkan orang.” Kata Iqbal. “Bukannya dia berbentuk…..” Iqbal pun mulai memutarkan tangannya membentuk lingkaran yang besar. “Hihihihi…”
“Hey.. hey.. jaga bicaramu.!” Rona pun ikut-ikutan. “Paling tidak ada sebuah keuntungan juga kan untuk kita.”
“Keuntungan apa? Algojo kok ada untungnya.”
“Dasar kau ini.” Rona pun tertawa kecil. “Kau tahu sendiri kan dia adalah algojo sekolah. Setiap siswa yang bermasalah akan berhadapan dengannya, siapa pun itu. untuk sekarang, kita sedang tidak akur dengan para preman sekolah itukan? Mungkin secara singkatnya, jika mereka berbuat masalah dengan kita, kita bisa langsung melaporkan hal itu pada pak ahmad. Jadi baik-baiklah kau Dik padanya..!!”
“Benar juga. Ya mungkin untuk besok aku tak akan terlambat lagi.” Ujar Dika.
“Sepertinya kita punya tentara barisan depan.” Kata Dipa.


Dipihak lain, saat ini Mahmud dan Tias dengang bersepeda menyusuri jalan yang lebih jauh dari pada biasanya. Tak lama, anginpun berhembus kencang menerpa tiap helai rambut mereka. pantulan cahaya matahari dari sebuah danau besar menggoda mereka untuk berhenti sejenak.
“Tias, kita berhenti dulu disini bagaimana?” Tanya Mahmud.
“Boleh juga.” Jemari merekapun langsung meraih rem dan sepeda pun berhenti. Lalu merekapun turun dari sepeda dan mengambil tempat duduk yang hanya beralaskan rumput yang tumbuh di pinggir jalan.
“Danaunya sangat luas ya, rasanya sudah lama sekali aku tidak kesini.” Ujar Tias.
“Memangnya kapan kau terakhir kali kesini?” Tanya Mahmud.
“Saat umurku 4 tahun, saat ayah dan ibuku masih bersama.” Tias pun menundukan kepalanya.
“Maaf..”
“Tidak apa-apa. Lagi pula itu hanya cerita lama, kan?” Tias pun tersenyum yang sukses membuat Mahmud membulatkan matanya.
‘Gadis ini benar-benar tegar, dia berusaha tetap tersenyum walaupun itu terasa sakit.’ Gumam Mahmud.
“Lalu, kapan terakhir kali kakak kemari?”
“Dua minggu yang lalu, saat aku iseng mencari jalan ke sini. Ternyata aku menemukan tempat seindah ini.”
“Begitu ya, semua orang pasti akan bilang kalau tempat ini indah.” Sunyi tercipta kembali, tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka. hanya terdengar suara angin dan air yang mengalir. Kala itu terlintas suatu pertanyaan dalam pikiran Mahmud, rasa penasaran yang amat sangat. Biar pun itu adalah pertanyaan serius yang pertama baginya.
“Em Tias..!!”
“Hm..?”
“A-anu, sebenarnya kau suka tipe laki-laki yang seperti apa?” pipi Mahmud pun mulai merona.
“Kenapa kau tanyakan hal seperti itu?” Pipi Tias juga ikut-ikutan merona.
“Ti-tidak, aku hanya ingin tahu saja. Bukan meksudku untuk hehehehe…”
“Oh begitu ya.” Tiaspun tersenyum. Matanya langsung tertuju pada hamparan air danau yang ada dihadapannya. “Aku suka dengan laki-laki yang kuat.”
“Kenapa?”
“Karena aku termasuk orang yang lemah. Dulu ayahku berusaha untuk melindungiku apapun yang terjadi. Tapi sekarang ayahku…..” Tiaspun kembali tertawa kecil. “Sekarang siapa yang akan melindungiku? Ibuku sangat sibuk dengan urusan kantornya, haaaaaaahhh…. Ternyata aku ini benar-benar lemah.”
“Tapi menurutku kau itu sangat kuat.” Tiaspun membulatkan matanya. “Tak setiap orang mampu tersenyum pada saat dia membicarakan masalah yang berat baginya. Aku kagum kau bisa tersenyum saat kau bilang itu adalah cerita lama. Sungguh sosok yang tegar. Sepertinya aku harus belajar hal itu darimu.”
“Kau sedang mengiburku kan?”
“Tidak.” Jawab Mahmud dengan datar. Tiaspun kembali tertawa kecil.
“Oh iya, terimakasih. Terimakasih karena telah menyelamatkanku kemarin, aku senang ternyata masih ada orang yang mau melindungiku. Kau adalah pahlawanku.” Tias tersenyum dan Mahmud hanya membulatkan matanya dan pipinya kembali merona.
“I-itu bukan apa-apa, lagi pula aku yang harus bertanggung jawab jika terjadi apa-apa padamu kan?” ujar Mahmud. ‘Apapun akan aku lakukan untukmu.’ Gumam Mahmud.

Dipihak lain, di dalam mobil merah muda.
“Kyaaaa sebentar lagi aku akan bertemu dengan tuam musisi….” Ujar Intan dengan gaje sambil menyetir mobilnya. Saat ini dia sedang melewati kawasan danau yang sama dengan Mahmud dan Tias. Mobil itu terus melasju dan melaju. Tapi tiba-tiba  intan membulatkan matanya.
“Tu-tuan musisi….”

Lalu dipihak Mahmud.
“A-anu Tias, aku ingin menawarkan seseuatu padamu.” Ujar Mahmud.
“Apa?”
“Em, kau bilang kau sedang membutuhkan orang yang kuat agar bisa melindungimu kan?”
“Lalu.??”
“A-aku… aku..mau…..” ucapan Mahmud terpotong.
TIIIIDDD…. TIIIIDD…..
Seseorang membunyikan klakson mobilnya yang sukses membuat keduanya melihat ke arah sumber suara itu. mobil itu pun berhenti dan kaca mobil itu pun terbuka.
“Tuan Musisi sedang apa kau disini?”

---To Be Continued---


Tidak ada komentar:

Posting Komentar