The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 8
Plester Cinta
“Tapi kau sama
sekali tidak pantas melakukan semua ini padanya.” Kata Iqbal.
“………” latifah
terdiam mendengar kata-kata dari Iqbal.
“Aku
benar-benar kecewa padamu. Mulai sekarang, siapapun yang berurusan dengan
Widiya harus berurusan dulu denganku.”
“A-apa? Kenapa
kau bicara seperti itu, memangnya siapa dia?”
“Dia, dia….”
“Siapa dia? kau
tidak bisa menjawab kan, aku beri tahu ya dia itu tidak lain hanya …..”
“Dia pacarku.”
Kata Iqbal dengan datar dan Latifah pun tercengang mendengar semua itu. Widiya
juga terkejut mendengar apa yang Iqbal katakana, tangisannya kini berhenti dan
dia pun berusaha melepaskan rangkulan Iqbal. Tapi sayang tangan kiri Iqbal
terus saja merangkulnya.
“A-apa kau
bilang, dia pacarmu? Mudah sekali kau bilang seperti itu, lalu apa artinya
semua kebaikanmu padaku selama ini?”
“Apa menurutmu
membantu orang itu suatu hal yang salah? Bukan berarti aku banyak membantumu,
aku mengharapkan sesuatu yang lebih dari mu.”
“Ta-tapi dia….”
kata-kata Latifah kini terpotong kembali.
“SUDAH
CUKUP..!” Nampaknya bentakan Iqbal ini terdengar sangat menyayat hatinya. “Kita
pergi dari sini sebelum ada yang melihat, ayo cepat!” Lalu mereka semua
beranjak pergi dari sana, terkeuali Latifah CS.
“A-anu kak,
aku…. Aku….” Kata Widiya sambil melepaskan rangkulan Iqbal.
“Sudah, aku
akan mengobati lukamu nanti. Sekarang kau ikut denganku, nanti ku antar kau
pulang.” Iqbal pun menarik tangan Widiya dan mereka pun keluar dari gerbang
belakang itu. “Ayo naik!” kata Iqbal yang mengajak Widiya naik ke sepedanya.
“Aku bisa
pulang sendiri.”
“Aku bilang
naik! Sini tas mu biar aku yang pegang.” Lalu Widiya pun menyerahkan tasnya dan
segera duduk tepat di depan Iqbal, ternyata dia masih terbawa emosi yang tadi.
Iqbal pun mulai mengayuh sepedanya.
“Winda, aku
bonceng kau sampai sana ya. Mana sepeda mu?” Kata Yuda.
“Iya. Yang ini.”
Lalu Yuda dan Winda segera naik.
Sedangkan Rona berboncengan dengan Dika, Dipa berboncengan dengan Demil dan
Mahmud sendirian.
“Hey, aku mau
membeli obat untuk mereka dulu, kalian duluan saja!” Kata Mahmud.
“Ya, tapi
jangan lama-lama.” Kata Demil dan merekapun meninggalkan sekolah itu.
Sementara itu,
di sepeda yang paling depan……
“Kak,
sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Widiya.
“Mau ke tempat
kami.” Jawab Iqbal.
“Tempat kami?”
“Ya….” Widiya
terdiam sebentar mendengar kata yang Iqbal bilang.
“Kenapa kau
begitu peduli denganku, dan kenapa tadi kau bilang aku ini pacarmu?” Tanya
Widiya dengan lirih.
“Karena……
karena aku sudah berjanji kan, akan melindungimu?”
“Kenapa harus
aku yang kau lindungi, kenapa bukan orang lain saja?”
“Karena kau
berharga bagi ku.”
“Tapi sayang…..
tak ada satu pun yang terbilang berharga dari yang aku miliki.”
“Bagiku kau
adalah harta berharga yang belum aku miliki.”
“Harta yang
belum kau miliki?”
“Kau pasti
mengerti kan?” kata Iqbal dengan sedikit semyuman di wajahnya dan pipi Widiya
kini mulai memerah kembali.
“Hey, pelan
sekali sepedamu itu….” Kata Yuda yang tiba-tiba saja berada di samping Iqbal
dan Widiya.
“Kami duluan
ya…..” Kata dika yang menyusul mereka.
“Ayo cepat,
pacarannya di sana saja!” kata Dipa yang juga menyusul.
“Kak Yuda kita
juga harus cepat, aku tidak mau jadi orang ke 3 (setan) untuk mereka.” Kata
Winda.
“Ya baiklah,
Iqbal aku juga duluan ya. Aku juga tidak mau jadi orang ke 3. Hahaha” kata Yuda
sambil memercepat laju sepedanya.
“Awas
kalian…..” Kata Iqbal dan dia juga mempercepat sepedanya menyusul mereka. Tak
lama kemudian mereka pun sampai di tempat yang mereka tuju. Terlihat di depan,
seorang pria memakai blangkon membuka kan pintu gerbang untuk mereka dan mereka
pun segera masuk dan memarkirkan sepeda mereka.
“Kak, ini rumah
siapa?” Tanya Widiya yang terheran-heran melihat keindahan rumah itu.
“Rumah Dipa.”
Kata Iqbal sambil turun dari sepedanya.
“Kenapa sepi?”
“Ini rumah yang
ayahnya berikan padanya, di sini hanya ada Mas Devis, bu Hesti dan Dipa.”
“Kenapa Dipa
tidak tinggal dengan orang tuanya saja?”
“Dia masih
tinggal dengan mereka, ku dengar rumah ini adalah hadiah ulang tahun Dipa yang
ke 17. Ayahnya kan pengusaha rumah elit, sudah dari tadi kau penasaran sekali.
Lebih baik kita ke dalam saja.” Jelas Iqbal, lalu merekapun menyusul yang
lainnya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Sebenarnya Widiya masih
bingun dengan keadaan saat ini, Dipa adalah seorang anak pengusaha rumah elit,
Iqbal dan teman-temannya juga termasuk keluarga yang cukup mampu, tapi kenapa
mereka masih menggunakan sepeda ke sekolah? Kenapa tidak menggunakan motor atau
mobil mewah saja yang lebih serasi dengan keadaan mereka.
“Mana mereka,
kenapa di dalam sepi?”
“Mereka ada di
atas, ayo kita kesana!” mereka pun segera naik ke lantai 2. Ternyata benar
saja, terlihat mereka sedang duduk dan berbaring di atas karpet yang di gelar
di sana. Mereka berdua pun segera bergabung dengan mereka, Widiya duduk di
samping Winda dan Iqbal duduk di samping Widiya.
“Winda…” sapa
Widiya.
“Apa?”
“Em… kau sering
ke sini?”
“Tidak, ini
baru pertama kali aku ke sini.”
“Begitu ya,
memangnya mereka suka melakukan apa di sini?”
“Katanya mereka
akan membangun bisnis kecil-kecilan di sini, sekarang ini mereka sedang
mempersiapkan semuanya. Aku di minta ke sini untuk membantu mereka.”
“Begitu ya, eh…
ujung bibirmu berdarah.”
“Iya, tapi
sudah tidak apa-apa. Apa keningmu masih mengeluarkan darah?”
“Sekarang sudah
tidak apa-apa.”
“Sukurlah kalau
begitu.”
“Hey,
semuanya…. Maaf ya aku lama.” Kata Mahmud yang baru datang dari tangga. “Ini,
aku bawa obat untuk kalian.” Lalu Mahmud mengeluarkan sebuah kantong plastic
putih berisi obat dan plestier dari tasnya.
“Terimakasih,
pantas saja tadi mengilang.” Kata Winda sambil menerima kantong plastik itu.
“Maaf, aku jadi
merepotkan kalian…” kata Widiya.
“Jangan bilang
begitu, temannya Winda teman kami juga.” Kata Mahmud.
“Tapi, kalian
kan baru saja mengenalku.”
“Dengar, Winda
membelamu sampai seperti itu berarti kau ini orang baik-baik. Dan kami percaya
itu.”
“Terimakasih…..
aku benar-benar berterimakasih.”
“Jangan berterimakasih
sampai seperti itu. Sini, aku obati lukamu.” Kata Iqbal sambil mengambil
kantong obat itu dari Winda.
“Sebentar, aku
bawakan air dulu untuk membersihkan lukanya.” Kata Mahmud, dia pun menaruh
tasnya dan segera beranjak dari sana.
“Winda..” panggil
Yuda yang sedang tiduran di dekatnya.
“Apa?”
“Lihat lukamu!”
lalu Yuda pun segera duduk, diapun memegang dagunya dan memperhatikan luka di
ujung bibirnya . “Kau ini benar-benar nakal, mana ada anak perempuan yang
berani berkelahi sampai seperti ini.”
“Ada, aku…”
“Lain kali kau
harus berkelahi juga denganku!”
“A-apa?”
“Tidak, aku
bercanda…”
“Ini airnya.”
Kata Mahmud yang datang membawa semangkuk air. “Hey win, mana makanan yang kau
beli di sekolah?”
“Ada di tas ku,
ambil saja!” kata Winda, Mahmud pun segera mengambil tas Winda yang berada di
atas karpet dan dia pun mengeluarkan isinya. Sedangkan Winda langsung mengambil
kapas dalam kantong plastic itu dan mencelupkannya dalam air.
“Sini, biar aku
saja yang mengobati lukamu!” kata Yuda.
“Aku bisa
sendiri.” Jawab Winda sambil mengusap-ngusapkan kapas itu pada lukanya.
“Kau ini,
berikan padaku. Caramu membersihkannya saja seperti itu.”
“Memangnya
seperti apa?”
“Seperti ini…”
lalu Yuda pun mengambil kapas ditangan Winda dan mulai mengusapkannya pada luka
winda.
“AAW….
Pelan-pelan…..”
“Iya maaf..”
lalu Yuda pun mengobati Winda sampai selesai. Saat ini sepertinya Iqbal sudah
hampir selesai mengobati luka Widiya.
“Kau tahan
sebentaar ya!” kata Iqbal sambil mengoleskan obat pada luka Widiya.
“Aw…”
“Perih ya,
sebentar lagi ya….” Lalu Iqbal menempelkan sebuah plester di dahinya. “Sudah,
sekarang sudah selesai.”
“Em, kakak aku
ingin pulang sekarang.”
“Sekarang?”
“Kenapa
buru-buru? Tunggu sebentar lagi, bu Hesti sedang memasak makan siang untuk
kita.” Kata Dipa
“Tapi, Ayahku
pasti khawatir.”
“Wid, tinggal
lah sebentar lagi!” bujuk Winda.
“Maaf,
sepertinya tidak bisa.”
“Ya sudah, ayo
aku antar kau pulang.” Kata Iqbal, lalu Widiya pun mengambil tasnya dan merek
berdua pun segera berdiri.
“Semuanya,
terimakasih. Aku pulang dulu.”
“Ya… jangan bosan
datang kemari ya.” Kata Dipa sambil melambaikan tangannya.
“Hey, apa yang
kau lakukan?” kata Rona yang keheranan melihat tingkah Dipa.
“Hahaha
ternyata dia kekar melambai, hahahaha” kata dika sambil menertawakan Dipa.
“Diam kau..!”
kata Dipa dengan ketus. Widiya dan Iqbal pun sempat tersenyum melihatnya dan
mereka berduapun segera menuruni tangga lalu menuju ke luar. Lalu Widiya pun
kembali dia bonceng.
“Mereka berdua
itu pacaran?” Tanya Demil.
“Entah lah,
mungkin ya benar mereka pacaran.” Jawab Rona.
“Belum….” Kata Winda.
“Apa, aku kira
mereka pacaran.” Kata rona dengan terkejut.
“Tapi, jika
nanti mereka jadi sepasang kekasih sepertinya serasi juga.” Kata demil.
Sementara itu
Iqbal dan Widiya, manpaknya mereka sudah hampir setengah jalan. Saat ini mereka
sedang melewati sebuah taman, disana terlihat sebuah jembatan kecil dan dibawah
jembatan itu terdapat sebuah kolam kecil.
“Kita kesana
sebentar ya.” Kata Iqbal, dia pun memberhentikan sepedanya di pinggir taman. “Kau
suka melihat ikan Koi?”
“Ya, aku suka.”
Jawab widiya.
“Ayo turun.!” Kata
Iqbal, lalu mereka berdua pun segera turun dari sepeda dan mereka berdua pun
berjalan menuju jembatan kecil itu.
“Wah, ikan Koi…
banyak sekali.” Kata Widiya dengan girang dan sekarang mereka pun berdiri di
terngah jembatan sambil memperhatikan ikan yang berenang ke sana ke mari.
“Kau sangat
suka Ikan Koi ya?”
“Tentu saja. Sebenarnya
bukan ikan Koi saja, aku juga suka hampir semua jenis ikan hias.”
“Begitu ya.”
“sepertinya
ikan-ikan ini lapar, aku beri makan ah.” Lalu Widiya mengeluarkan sebuah roti
sisa dari tasnya, memotong-motongnya sampai kecil dan menebarkannya ke kolam. Ternyata
menar saja ikan-ikan itu langsung berebut roti yang ditebarkan Widiya, dan
widiya pun tersenyum senang melihatnya. Sedangkan Iqbal, dia hanya
memperhatikan Widiya yang sedang memberi makan ikan-ikan itu. “Kakak, kau tidak
mau member makan mereka?” Tanya Widiya, tapi tak ada sahutan dari Iqbal. “Kakak…!”
“A-apa?”
“Kau mau ikut member
makan mereka tidak?”
“Tidak, kau
saja. Aku lebih suka memandangimu saja.?”
“Apa? Kenapa?”
“Melihatmu
tersenyum saja aku sangat senang.”
“Em… kau ini.”
“oh iya, aku
mau Tanya. Apa kau sudah punya seseorang yang istimewa?”
“Rasanya belum.”
“Apa boleh aku
jadi yang istimewa untukmu?” kini kata-kata Iqbal sukses membuat Widiya tak
bisa berkata-kata. “kenapa diam saja?”
“A-anu…. Aku..
begini…. Aduh bagai mana ya?” sekarang Widiya mulai salting.
“jujur saja,
sejak pernemuan pertama kali di toko mu itu aku menemukan sesuatu yang berbeda
dari mu. Dari sinar mata mu, tatapanmu, caramu bicara, senyumu dan semuanya
memberikan kesan sesuatu yang sangat berharga.” Lalu Iqbal mulai memegang
tangan Widiya. “Mungkin bagi mu ini terlalu cepat, tapi aku sudah memendamnya
cukup lama. Jadilah milikku, jadilah harta berharga milikku. Aku berjanji akan
selalu menjagamu.”
“A-aku… aku…”
kini gadis itu benar-benar bingung harus menjawab apa.
“Bagaimana?”
“………….”
“Begini saja.” Lalu
Iqbal melepaskan genggaman tangannya dan mengeluarkan dua buah spidol dari
sakunya. “ Pegang ini.!”
“Untuk apa ini?”
“Pegang saja
dulu! Baiklah, aku tahu kau bingung akan bilang apa, jadi kau tak perlu
mengungkapkannya dengan kata-kata. Kau hanya tinggal menulis namamu di
tanganku, tapi jika kau menerimaku tulis dengan spidol warna merah dan jika
sebaliknya kau tulis dengan warna hitam.”
“Apa harus
sekarang?”
“Jika kau tidak
mau sekarang juga tidak apa-apa. Tapi aku…”
“Baiklah,
tolong pejamkan matamu.!”
“Kau serius?” Tanya
Iqbal yang sedikit heran, karena biasanya di saat seperti ini perempuan akan
sedikit mengulur waktu. Tapi ini……
“Pejamkan
matamu!” lalu Iqba mulai memejamkan matanya dan Widiya mulai menuliskan namanya
di tangan Iqbal. Jantung Iqbal mulai dag-dig-dug sekali dibuatnya, tapi…..
“Kena kau….” Kata
Widiya yang mengagetkan Iqbal sambil menitikan spidol hitam di dagu kanannya.
“Apa yang kau
lakukan?”
“Searang kau
terlihat seperti Rano Karno ya? Hahahaha”
“Ya ampun wajah
gantengku…..” kata Iqbal sambil mengusap-ngusap tinta spidol di wajahnya, tapi
tak lama pada saat dia melihat tinta di tangannya..... “Ya ampun tinta merah,
kau serius?”
“Ya,, aku
serius. Asal kau memegang janjimu yang akan selalu menjagaku.”
“Tentu, aku
berjanji.” Lalu Iqbal mengambil spidol merah yang ada di tangan Widiya. “sekarang
kau diam ya!”
“Kau mau apa??”
“Diam saja!”
lalu Iqbal mulai menggambar hati di plester Widi.
“apa yang kau
lakukan?”
“Menggambar
hatiku. Nona, terimakasih ya untuk hari ini.”
“Iya.” Kata Widiya
sambil tersenyum, tapi entah setan mana yang tiba-tiba saja datang ke sana
sampai-sampai Iqbal akan Widiya. “Kakak….. jangan….” Teriak Widiya sambil
menutupi wajahnya dengan tangan yang memegang spido hitam yang masih terbuka. Dan
pada saat Iqbal mendekat….
“Aduh…..”seperinya
spidol hitam itu mencoret pipi Iqbal.
“Ya ampun aku
minta maaf…. Pipimu…”
“APA? Apa spidol
nya permanen?” Tanya Iqbal dengan panic.
“Sebentar… wah…
iya, kakak bagai mana ini?”
“APA???” Lalu Iqbal
segera berlari ke pinggir kolam itu dan membasuh mukanya. “Sudah hilang belum?”
“Belum…. Coba basuh
lagi!” dan Iqbal pun membasuhnya lagi.
“Sekarang?”
“Mana, jangan
tutupi wajahmu terus dong, aku tidak bisa melihatnya.”
“Aku malu….”
“jangan begitu…
mana cepat….”
“Tapi….”
---To Be Continued---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar