Rabu, 10 Juli 2013

The Shop Nine-Tailed Fox "Chapter 8"



The Shop Nine-Tailed Fox

Chapter 8
Plester Cinta

“Tapi kau sama sekali tidak pantas melakukan semua ini padanya.” Kata Iqbal.
“………” latifah terdiam mendengar kata-kata dari Iqbal.
“Aku benar-benar kecewa padamu. Mulai sekarang, siapapun yang berurusan dengan Widiya harus berurusan dulu denganku.”
“A-apa? Kenapa kau bicara seperti itu, memangnya siapa dia?”
“Dia, dia….”
“Siapa dia? kau tidak bisa menjawab kan, aku beri tahu ya dia itu tidak lain hanya …..”
“Dia pacarku.” Kata Iqbal dengan datar dan Latifah pun tercengang mendengar semua itu. Widiya juga terkejut mendengar apa yang Iqbal katakana, tangisannya kini berhenti dan dia pun berusaha melepaskan rangkulan Iqbal. Tapi sayang tangan kiri Iqbal terus saja merangkulnya.
“A-apa kau bilang, dia pacarmu? Mudah sekali kau bilang seperti itu, lalu apa artinya semua kebaikanmu padaku selama ini?”
“Apa menurutmu membantu orang itu suatu hal yang salah? Bukan berarti aku banyak membantumu, aku mengharapkan sesuatu yang lebih dari mu.”
“Ta-tapi dia….” kata-kata Latifah kini terpotong kembali.
“SUDAH CUKUP..!” Nampaknya bentakan Iqbal ini terdengar sangat menyayat hatinya. “Kita pergi dari sini sebelum ada yang melihat, ayo cepat!” Lalu mereka semua beranjak pergi dari sana, terkeuali Latifah CS.
“A-anu kak, aku…. Aku….” Kata Widiya sambil melepaskan rangkulan Iqbal.
“Sudah, aku akan mengobati lukamu nanti. Sekarang kau ikut denganku, nanti ku antar kau pulang.” Iqbal pun menarik tangan Widiya dan mereka pun keluar dari gerbang belakang itu. “Ayo naik!” kata Iqbal yang mengajak Widiya naik ke sepedanya.
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Aku bilang naik! Sini tas mu biar aku yang pegang.” Lalu Widiya pun menyerahkan tasnya dan segera duduk tepat di depan Iqbal, ternyata dia masih terbawa emosi yang tadi. Iqbal pun mulai mengayuh sepedanya.
“Winda, aku bonceng kau sampai sana ya. Mana sepeda mu?” Kata Yuda.
“Iya. Yang ini.” Lalu  Yuda dan Winda segera naik. Sedangkan Rona berboncengan dengan Dika, Dipa berboncengan dengan Demil dan Mahmud sendirian.
“Hey, aku mau membeli obat untuk mereka dulu, kalian duluan saja!” Kata Mahmud.
“Ya, tapi jangan lama-lama.” Kata Demil dan merekapun meninggalkan sekolah itu.

Sementara itu, di sepeda yang paling depan……
“Kak, sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Widiya.
“Mau ke tempat kami.” Jawab Iqbal.
“Tempat kami?”
“Ya….” Widiya terdiam sebentar mendengar kata yang Iqbal bilang.
“Kenapa kau begitu peduli denganku, dan kenapa tadi kau bilang aku ini pacarmu?” Tanya Widiya dengan lirih.
“Karena…… karena aku sudah berjanji kan, akan melindungimu?”
“Kenapa harus aku yang kau lindungi, kenapa bukan orang lain saja?”
“Karena kau berharga bagi ku.”
“Tapi sayang….. tak ada satu pun yang terbilang berharga dari yang aku miliki.”
“Bagiku kau adalah harta berharga yang belum aku miliki.”
“Harta yang belum kau miliki?”
“Kau pasti mengerti kan?” kata Iqbal dengan sedikit semyuman di wajahnya dan pipi Widiya kini mulai memerah kembali.
“Hey, pelan sekali sepedamu itu….” Kata Yuda yang tiba-tiba saja berada di samping Iqbal dan Widiya.
“Kami duluan ya…..” Kata dika yang menyusul mereka.
“Ayo cepat, pacarannya di sana saja!” kata Dipa yang juga menyusul.
“Kak Yuda kita juga harus cepat, aku tidak mau jadi orang ke 3 (setan) untuk mereka.” Kata Winda.
“Ya baiklah, Iqbal aku juga duluan ya. Aku juga tidak mau jadi orang ke 3. Hahaha” kata Yuda sambil memercepat laju sepedanya.
“Awas kalian…..” Kata Iqbal dan dia juga mempercepat sepedanya menyusul mereka. Tak lama kemudian mereka pun sampai di tempat yang mereka tuju. Terlihat di depan, seorang pria memakai blangkon membuka kan pintu gerbang untuk mereka dan mereka pun segera masuk dan memarkirkan sepeda mereka.
“Kak, ini rumah siapa?” Tanya Widiya yang terheran-heran melihat keindahan rumah itu.
“Rumah Dipa.” Kata Iqbal sambil turun dari sepedanya.
“Kenapa sepi?”
“Ini rumah yang ayahnya berikan padanya, di sini hanya ada Mas Devis, bu Hesti dan Dipa.”
“Kenapa Dipa tidak tinggal dengan orang tuanya saja?”
“Dia masih tinggal dengan mereka, ku dengar rumah ini adalah hadiah ulang tahun Dipa yang ke 17. Ayahnya kan pengusaha rumah elit, sudah dari tadi kau penasaran sekali. Lebih baik kita ke dalam saja.” Jelas Iqbal, lalu merekapun menyusul yang lainnya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Sebenarnya Widiya masih bingun dengan keadaan saat ini, Dipa adalah seorang anak pengusaha rumah elit, Iqbal dan teman-temannya juga termasuk keluarga yang cukup mampu, tapi kenapa mereka masih menggunakan sepeda ke sekolah? Kenapa tidak menggunakan motor atau mobil mewah saja yang lebih serasi dengan keadaan mereka.
“Mana mereka, kenapa di dalam sepi?”
“Mereka ada di atas, ayo kita kesana!” mereka pun segera naik ke lantai 2. Ternyata benar saja, terlihat mereka sedang duduk dan berbaring di atas karpet yang di gelar di sana. Mereka berdua pun segera bergabung dengan mereka, Widiya duduk di samping Winda dan Iqbal duduk di samping Widiya.
“Winda…” sapa Widiya.
“Apa?”
“Em… kau sering ke sini?”
“Tidak, ini baru pertama kali aku ke sini.”
“Begitu ya, memangnya mereka suka melakukan apa di sini?”
“Katanya mereka akan membangun bisnis kecil-kecilan di sini, sekarang ini mereka sedang mempersiapkan semuanya. Aku di minta ke sini untuk membantu mereka.”
“Begitu ya, eh… ujung bibirmu berdarah.”
“Iya, tapi sudah tidak apa-apa. Apa keningmu masih mengeluarkan darah?”
“Sekarang sudah tidak apa-apa.”
“Sukurlah kalau begitu.”

“Hey, semuanya…. Maaf ya aku lama.” Kata Mahmud yang baru datang dari tangga. “Ini, aku bawa obat untuk kalian.” Lalu Mahmud mengeluarkan sebuah kantong plastic putih berisi obat dan plestier dari tasnya.
“Terimakasih, pantas saja tadi mengilang.” Kata Winda sambil menerima kantong plastik itu.
“Maaf, aku jadi merepotkan kalian…” kata Widiya.
“Jangan bilang begitu, temannya Winda teman kami juga.” Kata Mahmud.
“Tapi, kalian kan baru saja mengenalku.”
“Dengar, Winda membelamu sampai seperti itu berarti kau ini orang baik-baik. Dan kami percaya itu.”
“Terimakasih….. aku benar-benar berterimakasih.”
“Jangan berterimakasih sampai seperti itu. Sini, aku obati lukamu.” Kata Iqbal sambil mengambil kantong obat itu dari Winda.
“Sebentar, aku bawakan air dulu untuk membersihkan lukanya.” Kata Mahmud, dia pun menaruh tasnya dan segera beranjak dari sana.

“Winda..” panggil Yuda yang sedang tiduran di dekatnya.
“Apa?”
“Lihat lukamu!” lalu Yuda pun segera duduk, diapun memegang dagunya dan memperhatikan luka di ujung bibirnya . “Kau ini benar-benar nakal, mana ada anak perempuan yang berani berkelahi sampai seperti ini.”
“Ada, aku…”
“Lain kali kau harus berkelahi juga denganku!”
“A-apa?”
“Tidak, aku bercanda…”

“Ini airnya.” Kata Mahmud yang datang membawa semangkuk air. “Hey win, mana makanan yang kau beli di sekolah?”
“Ada di tas ku, ambil saja!” kata Winda, Mahmud pun segera mengambil tas Winda yang berada di atas karpet dan dia pun mengeluarkan isinya. Sedangkan Winda langsung mengambil kapas dalam kantong plastic itu dan mencelupkannya dalam air.
“Sini, biar aku saja yang mengobati lukamu!” kata Yuda.
“Aku bisa sendiri.” Jawab Winda sambil mengusap-ngusapkan kapas itu pada lukanya.
“Kau ini, berikan padaku. Caramu membersihkannya saja seperti itu.”
“Memangnya seperti apa?”
“Seperti ini…” lalu Yuda pun mengambil kapas ditangan Winda dan mulai mengusapkannya pada luka winda.
“AAW…. Pelan-pelan…..”
“Iya maaf..” lalu Yuda pun mengobati Winda sampai selesai. Saat ini sepertinya Iqbal sudah hampir selesai mengobati luka Widiya.
“Kau tahan sebentaar ya!” kata Iqbal sambil mengoleskan obat pada luka Widiya.
“Aw…”
“Perih ya, sebentar lagi ya….” Lalu Iqbal menempelkan sebuah plester di dahinya. “Sudah, sekarang sudah selesai.”
“Em, kakak aku ingin pulang sekarang.”
“Sekarang?”
“Kenapa buru-buru? Tunggu sebentar lagi, bu Hesti sedang memasak makan siang untuk kita.” Kata Dipa
“Tapi, Ayahku pasti khawatir.”
“Wid, tinggal lah sebentar lagi!” bujuk Winda.
“Maaf, sepertinya tidak bisa.”
“Ya sudah, ayo aku antar kau pulang.” Kata Iqbal, lalu Widiya pun mengambil tasnya dan merek berdua pun segera berdiri.
“Semuanya, terimakasih. Aku pulang dulu.”
“Ya… jangan bosan datang kemari ya.” Kata Dipa sambil melambaikan tangannya.
“Hey, apa yang kau lakukan?” kata Rona yang keheranan melihat tingkah Dipa.
“Hahaha ternyata dia kekar melambai, hahahaha” kata dika sambil menertawakan Dipa.
“Diam kau..!” kata Dipa dengan ketus. Widiya dan Iqbal pun sempat tersenyum melihatnya dan mereka berduapun segera menuruni tangga lalu menuju ke luar. Lalu Widiya pun kembali dia bonceng.
“Mereka berdua itu pacaran?” Tanya Demil.
“Entah lah, mungkin ya benar mereka pacaran.” Jawab Rona.
“Belum….” Kata Winda.
“Apa, aku kira mereka pacaran.” Kata rona dengan terkejut.
“Tapi, jika nanti mereka jadi sepasang kekasih sepertinya serasi juga.” Kata demil.

Sementara itu Iqbal dan Widiya, manpaknya mereka sudah hampir setengah jalan. Saat ini mereka sedang melewati sebuah taman, disana terlihat sebuah jembatan kecil dan dibawah jembatan itu terdapat sebuah kolam kecil.
“Kita kesana sebentar ya.” Kata Iqbal, dia pun memberhentikan sepedanya di pinggir taman. “Kau suka melihat ikan Koi?”
“Ya, aku suka.” Jawab widiya.
“Ayo turun.!” Kata Iqbal, lalu mereka berdua pun segera turun dari sepeda dan mereka berdua pun berjalan menuju jembatan kecil itu.
“Wah, ikan Koi… banyak sekali.” Kata Widiya dengan girang dan sekarang mereka pun berdiri di terngah jembatan sambil memperhatikan ikan yang berenang ke sana ke mari.
“Kau sangat suka Ikan Koi ya?”
“Tentu saja. Sebenarnya bukan ikan Koi saja, aku juga suka hampir semua jenis ikan hias.”
“Begitu ya.”
“sepertinya ikan-ikan ini lapar, aku beri makan ah.” Lalu Widiya mengeluarkan sebuah roti sisa dari tasnya, memotong-motongnya sampai kecil dan menebarkannya ke kolam. Ternyata menar saja ikan-ikan itu langsung berebut roti yang ditebarkan Widiya, dan widiya pun tersenyum senang melihatnya. Sedangkan Iqbal, dia hanya memperhatikan Widiya yang sedang memberi makan ikan-ikan itu. “Kakak, kau tidak mau member makan mereka?” Tanya Widiya, tapi tak ada sahutan dari Iqbal. “Kakak…!”
“A-apa?”
“Kau mau ikut member makan mereka tidak?”
“Tidak, kau saja. Aku lebih suka memandangimu saja.?”
“Apa? Kenapa?”
“Melihatmu tersenyum saja aku sangat senang.”
“Em… kau ini.”
“oh iya, aku mau Tanya. Apa kau sudah punya seseorang yang istimewa?”
“Rasanya belum.”
“Apa boleh aku jadi yang istimewa untukmu?” kini kata-kata Iqbal sukses membuat Widiya tak bisa berkata-kata. “kenapa diam saja?”
“A-anu…. Aku.. begini…. Aduh bagai mana ya?” sekarang Widiya mulai salting.
“jujur saja, sejak pernemuan pertama kali di toko mu itu aku menemukan sesuatu yang berbeda dari mu. Dari sinar mata mu, tatapanmu, caramu bicara, senyumu dan semuanya memberikan kesan sesuatu yang sangat berharga.” Lalu Iqbal mulai memegang tangan Widiya. “Mungkin bagi mu ini terlalu cepat, tapi aku sudah memendamnya cukup lama. Jadilah milikku, jadilah harta berharga milikku. Aku berjanji akan selalu menjagamu.”
“A-aku… aku…” kini gadis itu benar-benar bingung harus menjawab apa.
“Bagaimana?”
“………….”
“Begini saja.” Lalu Iqbal melepaskan genggaman tangannya dan mengeluarkan dua buah spidol dari sakunya. “ Pegang ini.!”
“Untuk apa ini?”
“Pegang saja dulu! Baiklah, aku tahu kau bingung akan bilang apa, jadi kau tak perlu mengungkapkannya dengan kata-kata. Kau hanya tinggal menulis namamu di tanganku, tapi jika kau menerimaku tulis dengan spidol warna merah dan jika sebaliknya kau tulis dengan warna hitam.”
“Apa harus sekarang?”
“Jika kau tidak mau sekarang juga tidak apa-apa. Tapi aku…”
“Baiklah, tolong pejamkan matamu.!”
“Kau serius?” Tanya Iqbal yang sedikit heran, karena biasanya di saat seperti ini perempuan akan sedikit mengulur waktu. Tapi ini……
“Pejamkan matamu!” lalu Iqba mulai memejamkan matanya dan Widiya mulai menuliskan namanya di tangan Iqbal. Jantung Iqbal mulai dag-dig-dug sekali dibuatnya, tapi…..
“Kena kau….” Kata Widiya yang mengagetkan Iqbal sambil menitikan spidol hitam di dagu kanannya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Searang kau terlihat seperti Rano Karno ya? Hahahaha”
“Ya ampun wajah gantengku…..” kata Iqbal sambil mengusap-ngusap tinta spidol di wajahnya, tapi tak lama pada saat dia melihat tinta di tangannya..... “Ya ampun tinta merah, kau serius?”
“Ya,, aku serius. Asal kau memegang janjimu yang akan selalu menjagaku.”
“Tentu, aku berjanji.” Lalu Iqbal mengambil spidol merah yang ada di tangan Widiya. “sekarang kau diam ya!”
“Kau mau apa??”
“Diam saja!” lalu Iqbal mulai menggambar hati di plester Widi.
“apa yang kau lakukan?”
“Menggambar hatiku. Nona, terimakasih ya untuk hari ini.”
“Iya.” Kata Widiya sambil tersenyum, tapi entah setan mana yang tiba-tiba saja datang ke sana sampai-sampai Iqbal akan Widiya. “Kakak….. jangan….” Teriak Widiya sambil menutupi wajahnya dengan tangan yang memegang spido hitam yang masih terbuka. Dan pada saat Iqbal mendekat….
“Aduh…..”seperinya spidol hitam itu mencoret pipi Iqbal.
“Ya ampun aku minta maaf…. Pipimu…”
“APA? Apa spidol nya permanen?” Tanya Iqbal dengan panic.
“Sebentar… wah… iya, kakak bagai mana ini?”
“APA???” Lalu Iqbal segera berlari ke pinggir kolam itu dan membasuh mukanya. “Sudah hilang belum?”
“Belum…. Coba basuh lagi!” dan Iqbal pun membasuhnya lagi.
“Sekarang?”
“Mana, jangan tutupi wajahmu terus dong, aku tidak bisa melihatnya.”
“Aku malu….”
“jangan begitu… mana cepat….”
“Tapi….”

---To Be Continued---


Tidak ada komentar:

Posting Komentar