The Shop Nine-Tailed Fox
Chapter 10
Toko Kami
Hi, Winda. Namamu
Winda kan?
Kemarin kau sangat
SADIS sekali,
Menghajar kakak kelas
Sampai babak belur
begitu.
Tapi kau tidak apa-apa
kan? ya mudah-mudahan saja tidak.
From : X
“Siapa X itu?”
Tanya Yuda, ternyata dia juga ikut membaca surat itu dari belakang Winda.
“A-anu…”
“Em…???”
“Aku tidak
tahu. Kakak tadi membacanya ya?”
“Hn….” Kata
Yuda dengan singkat, kini wajahnya menunjukan sedikit rasa sebal.
“Kenapa?”
“Kenapa
apanya?”
“Kenapa wajahmu
jadi…” kata-kata Winda terpotong oleh Yuda.
“Aku ngantuk.
Bangunkan aku jika ada yang harus aku kerjakan.” Lalu Yuda pun berbaring di karpet
yang di gelar itu.
‘Kenapa dia?
apakah suatu hal yang salah jika ada yang mengirim surat padaku? Dan dia juga,
siapa itu X dan apa maksudnya aku sadis?’ gumam gadis itu dan dia pun memasukan
kembali secarik kertas biru itu pada kotak pensilnya.
“Hey apa itu
yang kau masukan dalam kotak pensilmu?” Tanya Rona.
“Bekas bungkus
bala-bala.” Jawab Winda dengan dingin.
“A-apa?”
“Demil,
bagaimana dengan pamlpetnya?” Tanya Dipa.
“Ya, aku rasa
konsepnya sudah bagus. Kita tinggal memasukan nama-nama barangnya saja.” Jawab
Demil.
“Aku juga sudah
menemukan dekorasi ruangan yang pas untuk tempat ini dan aku juga sudah menyesuaikannya
pada sketsa ini.” Kata Dika.
“Oh iya, aku
punya ide. Jika kita bergerak di bidang seperti ini, bagaimana jika kita
mempromosikan pada anak-anak band yang ada di lingkungan ini dan yang ada di
sekolah.” Kata Mahmud.
“Memangnya kita
mau jualan apa sih?” Tanya Yuda yang tiba-tiba saja bangun.
“Kau ini, kita
ini membuka toko aksesoris dan pakaian remaja.”
“Ooooh….
Seperti apa?”
“Makannya
jangan cuma tidur saja. Untuk laki-laki kita akan menjual beberapa baju kaos
dan beberapa aksesoris seperti gelang dan jam tangan. Untuk perempuan juga
sama, oh iya aku ingin Tanya apa ayahmu masih menggeluti usaha baju sablon?”
“Tentu saja,
memangnya kenapa?”
“Bagus kalau
begitu. Hahahaha” Mahmud pun tertawa sendiri.
“Hey jika kau
punya ide, jangan kau simpan sendiri.” Tegur Rona.
“Ya iya. Aku
beri tahu, begini…..” Mahmud pun menjelaskan apa idenya itu pada semua. Hari
ini mereka semua bekerja cukup keras. Mempersiapkan segala keperluan dan juga
barang-barang yang akan mereka jajakan di toko mereka.
“Baiklah kalau begitu,
kita semua sudah putuskan barang yang akan dijual untuk anak laki-laki.” Kata
Yogi sambil memegang secarik kertas seperti Ir. Soekarno akan membacakan Teks
Proklamasi. “Untuk yang pertama adalah pakaian, kita akan menjual kaos-kaos dan
jaket. Untuk aksesorisnya kita akan mejual jam tangan sebagai percobaan kita
simpan dulu 10 buah, topi 5 buah, gelang-gelang 10 set. Lalu yang di usulkan
Mahmud tadi kita akan menjual pesanan kaos sablon couple, sweeter couple, dan
jika ada kita juga akan menerima pesanan kaos sablon dengan tulisan-tulisan
yang diinginkan oleh pelanggan.”
“Apa aku boleh
menembahkan?” kata Yuda.
“Ya.”
“Dirumah aku
memiliki beberapa contoh sepatu yang kulukis sendiri dan juga aku jual sendiri.
Aku juga ingin memasukan barangku ke toko ini?”
“Tentu saja,
apa ada lagi?” Tanya Yogi, tapi mereka semua hanya diam. “Ya baiklah, aku rasa
sudah tidak ada yang akan menambahkannya. Winda besok ajak teman-temamu itu ya,
aku rasa kita akan membutuhkan mereka.”
“Ya baik lah,
tapi sebelumnya… senyuuuum…”
Ckreek..!!
Winda pun memfoto mereka yang berada tepat di depannya. Terlihatlah wajah-wajah
mereka yang kaget dengan sinar yang keluar dari kamera Winda. “Hahahahha….
Kalian semua lucu sekali….. hahhahaha”
“Apa yang kalu
lakukan? Cepat hapus!” kata Iqbal.
“Tidak mau, ini
kan dokumentasi.”
“Dokumentasi
apanya? Cepat!!” Iqbal pun berusaha merebut kameranya.
“Enak saja.”
“Aku rasa aku
dapat ide dari kamera itu.” Kata Rona dan tiba-tiba saja ada lampu menyala di
atas kepalanya. [SILLLAU MAN]
“Hey matikan
lampumu itu.! Besok saja idenya, ini sudah sore.” Kata Yuda, mereka semua pun
pamit pulang pada si tuan rumah.
Ya, begitu lah
usaha mereka yang begitu keras mendirikan toko kecil-kecilan di sana. Jelas ini
adalah usaha yang mereka bangun betul-betul dari nol. Sebenarnya pasti ada
fikiran negative tentang usaha ini, yaitu sebuah resiko kebangkrutan. Tapi,
jika kita hanya berfikir tanpa melakukan apa-apa, kita tidak akan tahu
bagaimana hasilnya kan?
Keesokan
harinya, di ruang kelas X-1
“Widiya, kau
sudah diberi tahu Kak Iqbal belum?” Tanya gadis berkucir satu itu.
“Beri tahu
apa?” Widiya pun bertanya balik.
“Itu, yang hari
ini kita akan….” Kata-kata Winda terpotong oleh Widiya.
“Oh, iya sudah,
dia sudah memberi tahunya.” Kata Gadis berbando pink sambil mengacungkan
telunjuknya itu. “Hey kalian, kalian juga ikut ya.”
“Ikut ke mana?”
Tanya Rina.
“Ke rumah Kak
Dipa, mereka mengundang kita.”
“Mengundang
kita untuk apa? Apa ada acara ulang tahun?” Tanya Tias dengan polos.
“Bukaaaan,
mereka meminta bantuan kita. Katanya mereka akan mendirikan sebuah toko di
rumahnya.”
“Apa di sana
ada Kak Mahmud juga.”
“Tentu saja
ada.”
“Kyyaaaaa….”
Kini Tias mulai menjerit-jerit gaje. “Kalau begitu aku akan ikut, Rina, kau
juga ikut ya!”
“Ya, baiklah
aku juga akan ikut.”
“Bagus kalau
begitu, apa kalian bawa sepeda? Tanya Winda.
“Tentu…” kata
Rina dan Tias dengan sangat kompak.
“Ta-tapi aku…”
kata Widiya yang kelihatannya dia sama sekali tidak membawa sepeda.
“Kau kan bisa
dibonceng kak Iqbal.”
“Kak Iqbal,
mereka sudah jadian?” Tanya Rina.
“Tentu saja
sudah, sejak kejadian hari itu mereka kan….” kata-kata Winda terpotong oleh
Widiya.
“Ssssttt…. Aku
mohon, pelan kan suaramu!”
“Kkyyaaaaaa!!
Kenapa kau tidak beri tahu kami?” Tias pun kembali menjerit-jerit gaje.
“Ka-karena
aku……….”
“Aaah, ya sudah
kalau begitu. Kami bertiga menunggu PJ-mu ya.” Ucap Rina.
“PJ, apa itu
PJ?” Ternyata Tias masih polos, pemirsa.
“Pajak
Jadian,.”
“Oooooh….”
Tteeeett..!!
nampaknya bel puang sudah di bunyikan, mereka pun membereskan buku mereka yang
masih berantakan di meja. Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung saja pergi
menuju gerbang belakang, ternyata di sana sudah ada Iqbal yang menunggu mereka.
“Chieeee…..
Chieee…” kata Rina dan Tias
“Kalian berdua,
diam lah…” kini Pipi Widiya sudah seperti kepiting rebus karena diejek mereka.
“Ayo, kita
langsung ke sana saja. Mereka telah menunggu kalian di parkiran.” Kata Iqbal
dan merekapun menuju ke tempat di mana mereka memparkirkan sepeda mereka. Tanpa
basa basi lagi mereka pun pergi ke lokasi.
Di rumah
Dipa…..
“Kakak,
barang-barang yang dibawa kak Yogi kemarin mana??” Tanya Winda.
“Ada di sana.”
Dipa pun menunjuk suatu ruangan yang bersebelahana dengan kamarnya. “ Ambil
saja, ruangannya tidak aku kunci.” Winda pun beranjak dari tempat duduknya dan
pergi ke ruangan itu, tak lama dia pun kembali dengan beberapa barang di
tangannya.
“Win, apa itu?”
Tanya Rina.
“Ini, ini
baju-baju, aksesoris dan beberapa brosur.” Lalu Winda pun menaruh barang-barang
itu di depan mereka. “Tolong pilihkan model-model yang bagus ya!”
“Serahkan saja
pada kami.”
“Oh iya,
memangnya kalian ini mau buat toko apa?” Tanya Tias.
“Kami ingin
buat toko baju dan aksesoris, oh iya jika ada yang modelnya bagus, tolong
lingkari dengan pensil dulu!.”
“Iya, tenang
saja.”
“Tapi kenapa
kau mengundang kami kemari.” Tanya Rina.
“So-soal itu……”
“Soalnya Winda
tidak bisa memilih model pakaian dan aksesoris utnuk perempuan.” Kata Iqbal
yang memotong ucapan Winda.
“Apa?? Tapi kau
ini kan perempuan?” Ternyata Rina kaget dengan alasan itu.
“Apa
kelihatannya dia seperti peremuan?? Aku ragu dia itu perempuan.”
“Diam kau!!!”
ucap Winda.
“Itu benar
kan?”
“Aku bilang
DIAAAAAM!!!” Teriak Winda, ternyata setelah sekian tahun terpisah mereka ini
belum juga bisa akur. Tetap saja saling ejek.
“Kalian berdua,
diamlah! Kalian ini berisik sekali.” Tegur Yuda, seketika mereka berdua pun
berhenti.
“Winda, apa kau
bawa kamera yang kemarin?” Tanya Rona.
“Iya bawa,
sebentar.” Lalu Winda mengambil kamera dalam tansnya. “Ini.” Winda pun
memberikan kamera itu pada rona. Tapi nampaknya ada sebuah benda yang jatuh
tepat di hadapan gadis berkucir satu itu.
“Apa itu?”
Tanya Rona.
“Haaaaaah….Sepertinya
ada yang mengirim bungkus bala-bala lagi.” Kata Winda yang langsung memungut
secarik kertas biru yang terlipat rapi itu. Winda pun memasukan kembali kertas
itu ke dalam tasnya. “Bukan apa-apa. Memangnya kau mau memotret apa?”
“Tidak, aku
hanya ingin melihat seberapa bagus hasil gambar dari kameramu.”
“Oh..”
Kini mereka pun mengerjakan tugas mereka
masing-masing. Tapi, beberapa jam bekerja dengan serius membuat gadis berkucir
satu itu menjadi jenuh. Dia pun mulai memikirkan apa isi dari secarik kertas
biru itu. Karena penasaran, diapun mengeluarkannya dan membacanya.
Hi, Winda.
Penampilanmu hari ini
sangat simple dan menarik.
Tapi aku lebih suka
penampilanmu pada saat hari pertama itu.
Coba uraikan lagi
rambut panjangmu!
Pasti sangat manis.
From : X
“Memang
benar-benar manis.” Kata sesorang yang berada tepat di belakang Winda.
“Kakak??” Winda
pun terkejut dan segera menurunkan kertas itu.
“……….” Tak ada
kata-kata yang di ucapkan Yuda, dia hanya memandanginya dengan dingin.
“Jangan
menatapku seperti itu.”
“Hn….” Kata
Yuda dengan singkat dan lagi-lagi Yuda pun berbaring seperti biasa biasa.
“Bangunkan jika ada yang harus aku kerjakan!”
“Lagi-lagi…..”
“Winda, ini
kami sudah selesai.” Kata Widiya sambil memberikan brosur itu.
“Terimakasih.”
“Hey, kakakmu
itu kenapa?”
“Aku juga tidak
tahu, akhir-akhir ini dia seperti itu. Mungkin dia tidak suka dengan ini.”
Winda pun memberikan secarik kertas yang sering dia sebut bungkus bala-bala
itu.
“Apa ini?”
Widiya pun mengambilnya dan segera membaca surat itu. “KYAAAAA ini kan….”
“Jangan
berteriak-teriak seperti itu!!!” Winda pun menutup mulut Widiya.
“Maaf. Siapa itu
X?”
“Aku juga tidak
tahu. Dia sudah dua kali mengirimiku surat seperti ini dan lagi-lagi kak Yuda
membacanya dari belakang. Jadi dia…..”
“Oh…. Aku tahu.
Kemari!” Widiya pun berbaksud membisikan sesuatu pada Winda. “Pada saat
istirahat tadi, aku lihat ada anak laki-laki yang mondar-mandir di depan pintu
kelas kita.”
“Hah?? Apa benar,
siapa?”
“Aku tidak tahu
dan aku rasa kakakmu itu ……….” Widiya pun kembali membisikan seseuatu.
“A-apa?? Itu tidak
mungkin… mana mungkin dia….” kata-kata Winda terpotong oleh Iqbal.
“Hey kalian,
kalian ini sedang apa sih. Dari tadi bisik-bisik terus?” Tanya Iqbal.
“Bukan
urusanmu. Ayo cepat teruskan!” kata Winda, lalu Widiya pun kembali membisikan
sesuatu pada telinga Winda.
Sekarang sudah
jam 5.30 sore, ketiga gadis itu berniat untuk pamit pulang. Tapi hari ini 8
sekawan yang ada di sana enggan untuk pulang, mereka berencana akan berbenah
toko nanti malam karena barang-barang yang kemarin di pesan sudah datang, dan
sisanya akan di ambil malam ini. Malam ini juga mereka berencana untuk menginap
karena kebetulan besok adalah tanggal merah.
Keesokan harinya.
TIID..TIID….
Terdengat klakson mobil Yogi dari halaman rumah, tapi namaknya di toko terlihat
sepi-sepi saja. Yogi pun berniat untuk melihat toko yang mereka tata kemarin
dan hasilnya sangat mengejutkan. Semuanya tertata rapi, hanya saja ada beberapa
kardus yang belum di bereskan di lantai. Yogi pun penasaran kenapa tak ada
orang di lantai 1 padahal ini sudah hampir tengah hari. Dia pun beranjak ke
lantai 2, alangkah terkejutnya dia melihat semuanya masih tidur di kasur lantai
yang mereka gelar.
“Ya ampun, hey
bangun! Ayo cepat bangun, sudah jam berapa ini?”
“Kakak, aku
masih ngantuk…” kata Winda sambil mengucek matanya.
“Memangnya
kalian membereskan semuanya sampai jam berapa?”
“Jam 2 malam.”
Jawab Mahmud.
“Apa? Cepat bangu,
ayo bangun. Ini sudah hampir tengah hari.” Kata Yogi dan mereka semua pun
terbangun. Satu per satu dari mereka pun segera pergi mandi.
“Rona, mana
model-modelnya?” Tanya Yogi.
“Model apa?”
Dipa pun terkejut mendengar kata model yang di ucapkan Yogi.
“Tenang saja,
sebentar lagi mereka akan datang.” Jawab Rona.
“Memangnya
untuk apa?” Tanya Winda.
Ting tong…. Bell
pun berbunyi dan bu Hesti pun segera membukakan pintunya,
“Nah itu mereka
datang.” Kata Rona, ternyata mereka yang di maksud adalah teman-teman Winda
yang kemarin.
“Selamat siang
semuanya.” Kata Tias.
“Ka-kalian? Kalian
modelnya?”
“Sebenarnya aku
hanya tukang make up saja.”
“Iya benar,
kemarin Kak Rona meminta kami untuk datang lagi. Yang mana modelnya?”
“A-apa
maksudnya ini?” Tanya Winda
“Lihat dan
saksikan saja. Baiklah semuanya, segera berkumpul!” kata Rona, mereka semua pun
berkumpul dan mendengarkan rencana Rona untuk hari ini.
“Baik lah,
sudah di putuskan. Untuk juru Maku Up dan kostum adalah Tias dan Rina, utnuk
editor foto adalah Demil, untuk Couple model adalah Widiya dan Iqbal.”
“Hey, hey, hey…
apa maksudnya aku?” Tanya Iqbal yang kaget dengan keputusan itu.
“Diam! Untuk
model laki-lakinya adalah Rona, Dika, Dipa, Mahmud dan Yuda, Untuk model
perempuan Winda dan Widiya.”
“Kakak apa kau
bercanda?” Kini Winda ikut-ikutan kaget.
“Aku bilang
diam! Jika diperlukan Rina dan Tias juga akan menjadi model. Untuk juru
potretnya tentu saja aku. Aku sudah berpengalaman di beberapa acara di kampus.”
“Maaf, aku rasa
kita harus menambah untuk couple model.” Usul Demil
“Aku rasa kau
benar. Rina kau juga ikut ya, kau dipasangkan dengan Rona. Tias juga, kau dipasangkan
dengan Mahmud dan terakhir Winda dipasangkan dengan Yuda.”
“Yaaaa…
baiklah. Terserah padamu saja.” Kata Winda dengan pasrah. Mereka pun mulai
mengerjakan tugas mereka masing masing. Saat ini Rina dan Tias lah yang paling
sibuk mendandani para model dadakan tersebut.
“Winda kau
sudah pakai bajumu belum?” teriak Tias.
“Iya sudah.”
Jawab Winda yang sedang asik makan cemilan.
“Sekarang
giliranmu, ayo cepat!”
“Yang lain saja
dulu!” kelihatannya dia sedikit malas untuk didandani seperti boneka.
“Kau yang
berakhir, ayo cepat!”
“Haaaaah. Iya-iya
aku datang.” Winda pun beranjak dari tempatnya dan menuju ruangan yang Tias pakai
sebagai tempat riasnya. Lalu Tias pun segera mendandaninya ala Barbie.
Di tempat
pemotretan.
“Winda! Ayo cepat
giliranmu! Kemana anak itu?” gerutu Yogi.
“Iya sebentar,
aku datang.” Lalu Winda pun datang sambil menjinjing sepatu hak tingginya dan
pada saat dia datang, seuanya kaget dengan apa yang mereka lihat. Gadis yang
selama ini mereka kenal sangat tomboy dan enggan sekali berdandan ini kini
benar-benar berubah total. “Kalian Lihat apa?”
“Kau ini anak
perempuan?” Tanya Iqbal.
“Dari dulu aku
ini anak perempuan.”
“Apa benar? Ya
ampun…. Nona keranjang bunga, aku sekarang benar-benar bingung. Dia itu
perempuan atau bukan? Jika dia perempuan kenapa dia menjinjing sepetunya
seperti itu?” Tanya Iqbal pada pacarnya itu, tapi pacarnya hanya senyum-senyum
saja tak mengatakan apa-apa.
“TUTUP MULUTMU
ITU, ATAU AKU AKAN MELEMPARMU DENGAN CEMILAN!!!!!”
“Sudah-sudah
hentikan! Cepat pakai sepatumu, sekarang giliranmu.” Kata Yogi.
“Apa kau gila? Aku
tidak mau memakai sepatu yang tinggi ini. Nanti aku bisa….”
“Sudah pakai
saja, ini hanya sebentar.” Apa boleh buat, jika sang tertua sudah bicara sangat
susah sekali dilawan.
Begitulah suasana pemotretan amatir itu
berlangsung. Serius tapi santai dan penuh dengan candaan-candaan khas mereka. Kini
sore mulai menjelang, mereka semua beristirahat dari hari melelahkan ini. Dan untuk
merayakan kesuksesan hari ini, mereka menutup hari dengan sebuah makan malam
yang sederhana di sana.
Keesokan harinya,
saatnya membagikan pamphlet. Mereka semua membagi tugas utntuk membagikan pamphlet
ini, ada yang membagikannya pada anak-anak band, para pasangan-pasangan dan
murid-murid yang ada di kantin. Sementara Winda CS. membagi kannya di taman
sekolah.
“Hey, sekarang
giliranmu.” Kata Rina.
“Iya-iya aku
tahu.” Lalu Winda pun mendekati anak laki-laki yang sedang duduk santai di
kursi taman itu. “Permisi, boleh aku duduk?”
“Si-silahkan.” Anak
itu pun menoleh dan memandang Winda dengan tatapan sedikit terkejut. Lalu tanpa
basa-basi lagi, Winda pun segera duduk di sebelahnya.
“Kakak, maaf
aku menggamnggu waktumu sebentar. Aku hanya ingin memberikan ini.” Winda pun
memberikan selembar pamphlet pada anak itu dan dia pun mendemonstrasiknannya. Anak
laki-laki itu terus saja menganggukan kepalanya sambil membaca kertas di
hadapannya, tapi…..
“Hey, yang baju
merah ini kau?”
“I-iya
memangnya kenapa?”
“Aku sampai
tidak mengenalinya. Sudah kubilangkan kau lebih manis jika rambutmu di urai
seperti itu.”
“A-apa?” Winda
pun sangat kaget mendengar apa yang dia ucapkan. “Jadi kau……”
---To Be Continued---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar